Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Hari yang membosankan


__ADS_3

Arsya duduk di kamarnya sambil membaca buku. Ia sedang berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari apa yang di tunjukkan Aqifa. Tepi tetap saja, pikirannya selalu mengarah ke hal tersebut.


"Dari mana Aqifa memperoleh video itu? " Arsya berbicara sendiri.


Arsya sedang sibuk memikirkan apakah harus memberi tahu Bunda nya atau tidak. Lagi, apakah Ia harus bertemu Ronal dulu. Selain itu, Ia sangat ingin tahu dari mana Arsya mendapatkan video itu.


Setelah memikirkan hal itu baik-baik, Arsya memutuskan untuk menemui Ronal. Ia ingin melabraknya sebenarnya, tetapi Ia memutuskan untuk lebih fokus pada orang yang memberi video itu.


"Lagipula Caca sepertinya sudah memaafkan Ronal, toh selama ini mereka baik-baik saja. Atau jangan-jangan mereka menjalin hubungan diam-diam, " Arsya membuat tebak-tebakannya sendiri. " Hus Arsya, jangan sembarangan. Sebaiknya aku menemuinya dulu."


***


Caca mengemasi pakaiannya dan merapikan kamar yang Ia gunakan itu. Berhubung orang tuanya akan pulang sore nanti, Ia juga harus kembali ke kosannya. Sudah cukup lama Ia tinggal di rumah itu.


"Apa kabar Rani yah?" pikir Caca.


Setelah membereskan semuanya, Ia berbaring di ranjang sambil memandangi langit-langit kamar.


"Kenapa hari ini orang-orang sibuk semua yah, Ayah sama Ibu lagi ngobrol sama Bunda. Aprilia sama Malik, terus Arsya sejak tadi gak keluar dari kamarnya, " Caca berbicara sendiri.

__ADS_1


Akhirnya Ia memutuskan untuk ke kamar Arsya, Dia benar-benar bosan saat ini. Akan tetapi, baru saja Ia keluar kamar, Arsya juga sudah keluar dengan pakaian rapi.


"Kau mau ke mana?" tanya Caca.


"Ah aku ada urusan mendesak, sorry yah. Aku pergi, " ucap Arsya yang nampak tergesa-gesa.


Caca hanya memonyongkan bibirnya, Ia sekarang benar-benar bosan. Tidak lama kemudian pintu ruang kerja Ayah Arsya yang berada di lantai 2 terbuka. Caca melihat Tuan Arthur keluar dari ruangan itu.


"Loh, kok ada Tuan Arthur. Bukannya tadi Ayah, Ibu sama Bunda aja, " pikir Caca.


Ia bersembunyi di balik tembok dan memperhatikan Tuan Arthur. Tidak lama kemudian Orang tuanya keluar dari ruangan itu dan berjabat tangan dengan Tuan Arthur. Terlihat Tuan Arthur menunduk tanda terima kasih.


Caca masuk ke kamar yang di gunakan orang tuanya, menunggu mereka masuk. Caca ingin tahu apa yang di lakukan Tuan Arthur.


"Loh, kamu sejak kapan di sini, Nak?" ucap Ayah Caca.


"Ayah, Ibu. Tadi Caca lihat ada Tuan Arthur keluar dari ruang kerja Ayah Arsya. Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Caca penasaran.


"Ah, dia ada sedikit urusan dengan Ibu Maya. Kebetulan tadi Ibu dan Ayahmu sedang bersama Ibu Maya, " ucap Ibu Caca dengan tenang.

__ADS_1


Caca merasa pertanyaannya belum terjawab, entah apa pikirnya yang membuat Ia begitu penasaran. Tetapi setelah memandangi wajah Ibunya cukup lama, Ia tidak melihat ada hal yang di tutupi.


"Baiklah, kalian istirahatlah dulu. Sore nanti kan mau balik, " ucap Caca.


"Iya, Nak."


Caca masuk ke kamarnya, pikirannya masih tertuju pada Tuan Arthur. Tetapi ada 1 bayangan wajah yang terlintas di kepalanya.


"Oh ya ampun, kenapa wajahnya ada di sini? " Caca menusuk-nusuk kepalanya dengan jarinya.


" Aku sudah gila," pikirnya.


bersambung……


...****************...


...----------------...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2