Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Merebut hati sang orang tua angkat


__ADS_3

Karena Aprilia merasa sedikit tidak nyaman dengan situasinya dengan Arsya, ia meminta Dewa untuk menurunkannya di halte terdekat, ia tahu betul bahwa Caca pasti akan kembali ke rumah Arsya.


"Dewa! Kau bisa menurunkanku d depan, aku harus kembali ke apartemen". ucap Aprilia yang sebelumnya ia sempat mengecek hpnya.


" Kau ada urusan mendesak? ". Caca.


" Iya, Malik bilang akan datang untuk mengajakku makan bersama ". Ucap Aprilia yang 0 tidak begitu, ia sudah menyiapkan jawaban lain tadinya jika Arsya yang bertanya, tapi ia tiba-tiba malah mengatakan hal tersebut pada Caca. "Ya ampun, kenapa pikiranku seperti ini, apa aku berharap dia cemburu".


Mobil tiba-tiba berhenti. " Apa kau yakin akan turun di sini, aku bisa saja mengantarmu". Ucap Dewa.


"Tidak, jika Malik melihatnya itu akan tidak nyaman, Malik sangat sensitif". Ucap Aprilia lagi dan kembali melihat reaksi Caca.


Seperti biasanya Caca hanya menoleh dan mendengarkan, tidak ada reaksi atau raut wajah tidak senang. Ia kemudian meminta Dewa untuk segera pergi dan melambaikan tangannya.


"Tidakkah menurut kalian Aprilia aneh". Tanya Arsya.


" Maksud kamu? ". Ucap Dewa.


" Kau juga aneh, sejak tadi kau terus berusaha menghindari tatap mata denganku". Ucap Caca.


"Ah apa yang kau katakan, itu hanya karena aku terlalu fokus dengan Aprilia jadi aku tidak memperhatikanmu". ucap Arsya gelagapan. "Apa aku terlalu nampak, aku bingung harus melaporkan kejadian itu atau tidak pada Bunda, tapi kalau aku tidak beritahu Aqifa bisa saja nekat mempostingnya ke media".


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di rumah Arsya, mereka bertiga masuk ke dalam dan duduk di ruang keluarga.


"Aku bingung, kok Aprilia kayak ada yang di sembunyiin gitu, apa dia bertengkar dengan Malik". Ucap Arsya.


" Mungkin lagi ada masalah sama Malik". Ucap Dewa.


Mereka berdua menoleh pada Caca seolah minta pendapatnya juga.


"Ah mungkin seperti itu". Caca hanya meyetujui apa yang mereka perkirakan dan tidak berniat mau membahas lebih lanjut.


***

__ADS_1


Caca hendak akan masuk ke kamarnya tetapi ia menyempatkan untuk ke kamar orang tuanya dulu. Caca mengetuk tapi tidak ada jawaban dari orang tuanya ia kemudian masuk begitu saja. Ternyata ia melihat Ibu dan Ayahnya sedang sibuk menereskan barang-barangnya.


"loh ibu sama ayah kenapa beres-beres? ". ucap caca.


" Kita harus balik ke kampung nak, kasihan adik-adikmu". ucap ayah caca.


"Oh iya juga sih, ya sudah Caca bantuin".


Mereka kemudian beres-beres kamar seperti semula sebelum mereka pakai,mereka harus cepat karena orang tuanya ingin berangkat sore ini juga. Caca melihat mata ibunya sembab. " Loh ibu habis nangis? ". Caca segera mendekati ibunya.


" Ah tadi kelilipan, taukan kita beres-beres". ucap ibunya.


Caca sangat ingin menanyakan banyak hal, mengapa mereka ingin kembali secepat ini, setidaknya tunggu pagi esok. Tapi ia urungkan, mungkin memang ibu khawatir pada adik-adiknya.


***


Ibu Maya sampai di sebuah hotek mewah dimana Nyonya dan Tuan Arthur menginap, ia menaiki lift dan memencet tombol dimana mereka menginap.


Salah seorang pengawal langsung saja menghubungi Denis yang saat ini kebetulan berada di dalam.


Maya di persilahkan untuk masuk, ia segera menemui Tuan Arthur dan memberi tahu bahwa orang tua Caca akan segera kembali sore ini.


"Apa ini pah? Mereka berniat menghindari kami, dia ingin mengambil anakku". Ucap Nyonya Selena dengan napas naik turun.


" Tenang mah, mungkin memang ada hal mendesak". Tuan Arthur tidak ingin terbawa suasana dan berusaha menetralkan pikirannya.


"Aku harus bicara dengannya". Nyonya Selena hendak pergi tetapi dia di tahan oleh Tuan Arthur.


" Mama mau ngapain? Jangan buat yang aneh-aneh". Tuan Arthur menyadarkan istrinya.


"Mereka akan membawa anakku pergi, mereka akan memisahkan aku lagi dengan Diandra". Ucap Nyonya Selena dengan mata yang memerah.


" MAH! Apa yang mama katakan, mereka memisahkan? Mereka justru yang merawatnya dengan baik, justru kita yang jahat jika harus memisahkan mereka". Ucap Tuan Arthur.

__ADS_1


"Jadi maksud papa kita harus merelakannya? ". Nyonya Selena memandang suaminya dengan air mata yang mulai berjatuhan.


" Tidak, bukan itu maksudku". Tuan Arthur terdiam, ia bingung harus mengatakan apa pada istrinya.


"Tenanglah Selena, kita harus memikirkannya dengan kepala dingin, kau tidak boleh gegabah bisa saja itu menyebabkan kau kehilangan Caca. Bukan karena mereka tapi Caca yang tidak mau menerima mu. Apa yang akan ia pikirkan jika kau merampasnya dari orang yang sudah membesarkannya". Ibu Maya menyadarkan mereka berdua tentang keberadaannya.


Mereka memikirkan perkataan Ibu Maya, benar ungkap Tuan Arthur bisa saja Caca menolak mereka dengan alasan siapa yang sudah merawatnya maka ia lebih berhak.


"Tapi kita berbeda, kita bisa memenuhi keperluannya, apapun yang ia inginkan akan kami penuhi. Apapun yang ia inginkan, ia akan menjadi layaknya seorang putri bila bersama kami". Ucap Nyonya Selena.


" Stop! Pikiranmu sedang tidak baik-bqik saja, Maya kita lanjutkan ini nanti, aku akan menghubungi mu kembalilah dulu". Ucap Tuan Arthur.


Ibu Maya kemudian pergi meninggalkan mereka dan memberi tahu Denis untuk segera menyiapkan mobil - pesan dari Tuan Arthur.


***


"Kak Danar, ayo kita ikut papa dan Kak Denis". Ucap Arfa setelah melihat ayahnya keluar dari penginapan.


Danar hanya mengikuti kemauan Arfa tetapi dalam hati. " Pasti kakak akan mengelabui kita atau tidak dia akan berhenti dan memarahiku".Baru saja Danar berpikir demikian mobil yang mereka ikuti itu berhenti dan memutar arah tiba-tiba.


"Yah kita ketahuan". Ucap Arfa.


Danar menoleh sedikit, yah kali gak ketahuan sama Kak Denis, ini tuh sudah pasti akan terjadi.


Melihat kakaknya turun, Danar ikut turun begitupun Arfa. Mereka berbincang sedikit kemudian Tuan Arthur menjelaskan semua yang terjadi pada Arfa dan Danar. Tuan Arthur meminta agar Arfa tidak ikut, ia akan berbicara sendiri dengan orang tua Caca itu akan lebih baik dan mereka harus berusaha mencari kenyamanan orang tua Caca.


Kemarin saat Nyonya Selena menghubungi mereka secara blak-blakkan minta bertemu sepertinya mengusik ketenangan mereka, lebih baik pikir Tuan Arthur jika harus mengikuti kemauan hati mereka, pointnya merebut hati mereka. Hal ini Bukan saja membawa Caca kembali tapi mereka harus mencari benang merah mengapa Caca bisa di culik saat lahir.


Mendengar maksud ayahnya arfa mengangguk dan segera akan kembali ke hotel untuk menemani ibunya. "Aku harus tenang" . Arfa menoleh pada Danar mengangguk memberi tanda.


Melihat gerak-gerik adiknya dan Tuan mudanya ini, Denis memiliki feelling aneh. Kalau di pikir-pikir Arfa terlalu tenang selama kejadian Caca berniat di celakai. Apapun menyangkut Caca, Arfa terlihat tenang.


Menyadari tatapan Denis, Arfa segera mengalihkan pembucaraan dan segera kembali ke penginapan.

__ADS_1


__ADS_2