
Denis
Pria berusia 27 tahun, ia menjadi kaki dan juga tangan bagi Tuan Arthur, ia berada di sisi Tuan Arthur sejak usia 21 tahun, hal ini terjadi karena kepergian Ayah nya yang sebelumnya merupakan sahabat baik Tuan Arthur juga sebagai sekretaris pribadinya, ayahnya adalah orang paling terpercaya di keluarga ternama itu. Hingga akhirnya Ia menggantikan posisi ayahnya yang karena kecelakaan dan kehilangan nyawanya di tempat.
"Kenapa orang itu muncul lagi? aku akan membunuhmu". Denis sangat marah, mukanya memerah menahan amarah. " Aku tidak akan memaafkan mu, haaaa". Denis sangat marah, pengawal yang berada di sekitarnya gemetar ketakutan melihat kondisi Tuannya.
Mereka hanya saling melirik kemudian menunduk.
"Denis, Denis". Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat Denis sedikit meredahkan amarahnya.
Denis menoleh, ia terbelalak melihat orang yang berdiri di belakangnya. " Apa yang kau lakukan di sini, kenapa kau di sini? di mana Tuan Muda, kau meninggalkannya, apa kau sudah gila, kembali sekarang juga, kembali! ". Denis memarahi pria tersebut.
" Tenanglah Aku……". Belum selesai ia berbicara, seseorang memotong perkataannya.
"Kak Danar datang bersamaku". Pria tinggi dan berotot muncul dari arah berlawanan.
" Tuan Muda, apa yang membawa Tuan ke sini? ". Denis bingung dengan kehadiran Arfa kemari.
Danar
Saudara kembar tidak identik dari Denis, Danar mempunyai posisi sebagai sekretaris pribadi Arfa. Arfa 2 tahun lebih muda dari mereka berdua.
" Ayolah, kita sedang tidak di kantor kak, jangan memanggilku seperti itu".Arfa tidak menyukai panggilan itu keluar dari 2 teman baiknya ini, bahkan seperti saudaranya.
Denis tidak menghiraukan nya, ia meminta Arfa dan Danar mengikutinya." Ayo kita harus ketemu Tuan Arthur".
"Benar, ada sesuatu yang ingin kusampaikan juga ". Arfa.
Denis jalan lebih dulu.
" Ada apa dengan Kak Denis? ". Tanya Arfa pada Danar.
" Entahlah, tadi dia sangat marah, apapun itu kita akan tahu di dalam nanti". Danar.
***
Nyonya Selena baru saja selesai mandi dan berdandan, ia sekarang sudah sangat cantik dan segar.
"Mau kemana ma? kenapa gayanya seperti anak muda".Tuan Arthur bingung melihat istrinya berdandan layaknya anak muda.
" Papa, mama mau jalan-jalan hari ini, mama mau ajak Diandra dan teman-temannya, kan kemarin malam udah di bilangin ". Nyonya Selena.
Tuan Arthur mendekat dan meletakkan telapak tangannya di dahi istrinya dan memperhatikan wajah istrinya. " Tidak ada keriput".
"PAPA".Nyonya Selena memasang wajah kesal.
__ADS_1
" Haha, mama sayang ini masih pagi, mereka masih kuliah, kan janjiaannya sore sayang". Tuan Arthur meninggalkan Nyonya Selena sambil tertawa.
Nyonya Selena mengingat-ingat kembali percakapan mereka di rumah Ibu Maya.
"Haha, Selena kau terlalu bersemangat". Ia menertawakan dirinya sendiri.
***
Tuan Arthur dan Nyonya Selena keluar dari kamarnya, mereka memutuskan untuk makan di restoran hotel.
" Mama! ". Panggilan itu membuat Nyonya Selena membalik badan.
" Hah putraku". Dia berlari menghampiri putranya dan menciummi dahinya.
Tuan Arthur terdiam melihat Arfa dan Danar berada di kota ini, ia merasa pasti ada sesuatu. "Arfa kau di sini, lalu siapa yang di perusahaan".
" Ah maaf pa, aku melakukan perjalanan bisnis, aku akan bertemu klien di kota ini ". Jawab Arfa.
" Tuan ada yang harus kita bicarakan". Denis menengahi dan Danar juga ikut mengangguk.
"Baiklah ayo kita ke dalam, Mama dan Arfa duluan saja ke bawah". Tuan Arthur.
" Tapi pa……". Arfa.
"Tidak apa-apa biar saya yang sampaikan". Danar tahu apa yang ingin di katakan Arfa.
***
Danar duduk di depan Tuan Arthur di samping kakaknya.
"Kakak ada apa? ". Danar sedari tadi ingin bertanya.
" Ada apa Denis?". Tuan Arthur ikut penasaran melihat kondisi Denis.
"Dia muncul Tuan, Dia muncul, Dia pelakunya". Denis mengertakkan giginya, ia gemetar, ia seperti harimau kelaparan yang melihat mangsa di depannya.
" Danar, tenang kan kakakmu, aku mengerti apa yang dia maksud". Tuan Arthur tidak ingin tersulut emosi seperti Denis. Tetapi pikirnya Denis tidak mudah tersulut emosi, apa yang membuatnya seperti ini.
Tuan Arthur sedikit menjauh dari saudara kembar itu untuk menenangkan pikirannya, berusaha agar berpikir jernih. "Damar, kau lah yang selalu menenangkanku di keadaan seperti ini, aku berjanji akan menjaga kedua putramu jika kau tiada, tapi aku mempersulit mereka". Tanpa sadar Tuan Arthur meneteskan air mata. " Entah apa yang ku lakukan di masa lalu, mengapa Tuhan begitu menghukumku".
Danar tak kuasa melihat keadaan ini, Kakaknya yang emosi seperti orang gila, dan keadaan Tuan Arthur yang bersedih.
"Kakak tenanglah, aku tahu kakak ingin balas dendam, tapi jika kakak mudah terprovokasi seperti ini, semua tidak akan berjalan lancar".
Danar dengan sabar menenangkan saudaranya itu, hingga akhirnya Denis mulai tenang, pelan-pelan Danar bertanya apa yang membuatnya semarah ini. Denis menceritakan kejadian saat salah satu anggota pengawalnya meninggal, penyebab ia meninggal dan pesan sebelum ia meninggal. Tuan Arthur mengerti, hal yang membuat Denis tersulut emosi adalah pengawalnya yang meninggal. Denis tidak bisa melihat orang yang di sekitarnya meninggal karena kesengajaan. Ia akan sangat marah karena itu persis dengan kematian ayahnya.
__ADS_1
"Kau tenanglah, Danar keluarlah dan perintahkan beberapa pengawal untuk menghubungi keluarganya, dan pastikan mereka di tanggung sampai bisa menghidupi diri mereka sendiri".Tuan Arthur memperlakukan semua pelayan dan pengawalnya dengan baik, oleh karena itu yang bekerja padanya terkenal sangat setia.
***
Restoran Hotel
" Mama, dimana Diandra? " . Arfa memasang wajah berbinar.
Nyonya Selena menjelaskan mengenai Diandra, mengenai perkuliahannya, orang tua angkatnya dan hal-hal yang ia lalui bersamanya.
"Mama aku ikut yah! ". Arfa memegang tangan Ibunya berharap Nyonya Selena akan mengizinkan nya ikut bersamanya sore nanti.
" Bukannya kau akan bertemu klien? ". Nyonya Selena mencari celah agar Arfa tidak ikut.
" pertemuannya malam kok, sekalian makan malam katanya". Arfa.
"Sayang, mama akan mengizinkan mu ikut, tapi kau harus benar-benar bisa mengendalikan dirimu, jangan sampai kau melakukan hal yang membuatnya curiga". Nyonya Selena.
Arfa mengangguk mantap, ia berhasil meyakinkan ibunya. Mereka kemudian memesan beberapa makanan dan minuman, sambil menunggu kehadiran Tuan Arthur, Denis dan Danar.
***
Danar berpikir bagaimana ia akan memberi tahu masalah yang terjadi di perusahaan, ia ingin memberi tahu Tuan Arthur, tapi melihat kondisinya ia berpikir kembali.
"Ada apa Danar, kau terlihat ingin menyampaikan sesuatu". Tuan Arthur.
" Benar, di luar tadi kau bilang ada yang mau di sampaikan". Denis menambahi.
"Tuan, maaf jika yang saya katakan ini akan mendapat masalah". Danar
" Katakanlah". Tuan Arthur tidak sabar mendengar nya, apalagi itu sebuah masalah.
"Saudara sepupu Tuan, sepertinya mengincarnya kursi tertinggi perusahaan". Danar.
" APA? ". Tuan Arthur kaget mendengarnya. " Apa kau yakin? ".
" Iya Tuan, saat akan membawakan beliau dokumen bersama Tuan Arfa, kami tak sengaja melihat nya keluar perusahaan, kami mengikutinya dan dia masuk ke sebuah restoran. Saya melihat itu reservasi atas nama perusahaan. Saya memang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, tapi saat melihat tamunya, semua adalah beberapa petinggi perusahaan". Danar.
"Tapi mungkin saja ada pekerjaan yang penting".
" Iya, awalnya saya juga berpikir begitu". Danar mengeluarkan ponselnya. "Ini saya rekam diam-diam saat pelayan masuk ke ruangan mereka".
Danar memutarkan video tersebut. Video itu berisi bagaimana tak tiknya untuk mencuri perusahaan dari Tuan Arthur. Untuk apa dia mengincar kursi tertinggi, perusahaan itu darmiliki awal memang miliku. Pikir Tuan Arthur
***
__ADS_1
...****************...
...----------------...