
Sore hari di Mall XX
Pukul 15:30 perkuliahan selesai, 3 gadis cantik yang tidak lain adalah Caca, Aprilia dan Arsya saling bergandengan.
"Tunggu bentar yah,aku udah nyuruh sopir buat bawain mobil aku". Arsya.
" Iya". Caca dan Aprilia.
Tidak lama kemudian sopir Arsya datang menghampiri mereka dan menyerahkan kunci mobil pada Arsya. Tidak menunggu lama pula mereka melajukan mobil itu ke arah Mall XX.
Sesampainya di Mall mereka bertiga berkeliling mencari pakaian, tas, sepatu dan berbagai pernak-pernik wanita lainnya.
***
Di tempat yang sama (Mall XX)
Tuan Arthur menemani istrinya Nyonya Selena berbelanja berbagai pakaian gadis.
"Mah, kenapa banyak sekali belanjanya? ". Tanya Tuan Arthur.
" Biarin, nanti kalau Diandra sudah ketemu dia sudah punya pakaian, ini sedikit kok, nanti kalau dia udah balik ke rumah baru belanja lagi". Nyonya Selena.
"Mah, Papa kan sudah bilang kalau sekarang kita masih melakukan penyelidikan soal anak itu, itu belum tentu Diandra Mah, lagi pula memangnya Mama tau ukuran Diandra dari mana sampai membeli pakaian begitu banyak". Tuan Arthur.
Nyonya Selena terdiam, dia merasa dirinya terhanyut karena terlalu bahagia mendengar kabar putrinya. " Maaf Pa, Mama berlebihan".
Melihat Nyonya Selena yang tiba-tiba muram, Tuan Arthur merasa bersalah sudah meruntuhkan harapan Nyonya Selena, Ia hendak meraih tangan Nyonya Selena, tetapi Nyonya Selena beralih pergi ke arah toilet.
"Papa tunggu di sini". Nyonya Selena kemudian pergi.
Tuan Arthur menunggu Nyonya Selena dengan tenang, sambil mengecek informasi di handphone nya, berharap ada kabar baik mengenai putrinya. Ia kemudian mendongak, sepintas ia melihat seorang wanita seperti istrinya. " Mama! kenapa ia mengganti dress nya". Tuan Arthur berdiri dan menghampiri Wanita itu, Tuan Arthur menyapa wanita itu. "Mah.... Ah maaf saya pikir... ". Tuan Arthur terdiam melihat wanita itu, " Ha wajahnya persis dengan Selena". Pikir Tuan Arthur.
"Ah iya tidak ap..... ".kalimat gadis itu menggantung.
" Caca, ngapain di sini? ". Rupanya gadis itu adalah Caca, Aprilia menarik tangan Caca untuk pergi menyusul Arsya.
" Ah, maaf ya Pak, saya ke sana dulu". Caca tersenyum pada Tuan Arthur.
"I... iya". Tuan Arthur tergagap, dia merasa hatinya tiba-tiba merasa sedih melihat Caca pergi. " Ada apa ini? ". Tuan Arthur merasa aneh pada dirinya sendiri.
" Papa! ". Suara Nyonya Selena menyadarkan Tuan Arthur. " Papa kenapa? "
__ADS_1
"Ha.... tidak apa-apa". Jawab Tuan Arthur.
Mereka berdua kemudian memutuskan untuk kembali ke hotel penginapan mereka.
***
Setelah berbelanja Arsya mengajak Aprilia dan Caca untuk ke salon. Pada awalnya Caca menolak begitupun Aprilia, tetapi Arsya memaksa, membuat mereka sulit untuk menolak.
Setibanya mereka di salon, mereka memutuskan untuk melakukan perawatan rambut Arsya memilih tempat di sebelah Caca, ia menunggu kesempatan untuk mengambil rambut Caca.
Mereka melakukan perawatan, Arsya sengaja meminta Aprilia dan Caca untuk di layani lebih dulu, dia tidak ingin Aprilia curiga saat melihatnya mengambil rambut Caca.
Hingga saatnya tiba, Arsya berhasil mengambil rambut Caca.
Arsya menyembunyikan rambut itu baik-baik, kemudian meminta pelayan untuk segera melakukan perawatan padanya.
***
malam hari, asrama Caca.
"What? ". Rani membalik badannya tidak mau melihat wajah Caca.
" Kau semakin cantik, kau ke salon, kenapa tidak mengajakku? kau mau cantik sendiri, akukan juga mau". Rani berbicara seolah akan menangis.
"Hey, aku tidak ingin ke sana tadi, tapi Arsya memaksa, ya sudah aku mengikutinya saja, di membayar semuanya". Caca.
" Emang anak orang kaya yah". Rani mengagumi Arsya..
"Yah iya sih, aku kadang bingung dia gimana, sulit di tebak pokoknya". Caca.
" Humm kau cantik sekali, padahal hanya menata rambut dan memakai riasan ringan tapi cantik begini". Rani mengagumi kecantikan Caca.
"Idih, udah ah, aku mau baca buku". Caca kemudian naik ke ranjangnya dan membaca buku.
" Humm oke". Rani juga beralih ke ranjangnya dan membaca buku.
Malam itu berlangsung hening, kedua gadis itu sangat fokus membaca.
***
Hotel Luxury
__ADS_1
Tuan Arthur memasuki kamar presidential suite, Nyonya Selena masih bingung dengan keadaan suaminya yang seolah sedang memikirkan hal penting.
"Pah, papa kenapa? dari Mall tadi, di restoran Papa kelihatannya sedang memikirkan sesuatu". Nyonya Selena mendekati suaminya.
" Haa, kenapa belum ada kabar". Tuan Arthur.
Baru saja Tuan Arthur berbicara, handphonenya tiba-tiba berbunyi, mereka berdua buru-buru mengeceknya berharap itu informasi tentang Caca, sayangnya setelah mereka melihat handphone Tuan Arthur dengan begitu antusias rupanya itu pesan daru perusahaan, keduanya sontak menghela napas dan saling memandang satu sama lain.
Nyonya Selena bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama begitupun Tuan Arthur. Keduanya berbaring di ranjang extra bad itu dan saling diam, tidak ada yang mencoba untuk membuka pembicaraan.
Tuan Arthur masih terus memikirkan gadis yang ia temui hari ini, mengingat wajahnya begitu mirip dengan Selena dia memiliki firasat bahwa dia adalah Diandra. Tuan Arthur tiba-tiba mengingat saat teman wanita itu memanggilnya dengan nama Caca. Ia ingin mencari tahu tapi ia bingung bagaimana mencarinya, tidak hanya satu orang yang bernama Caca. Tuan Arthur bangkit dan duduk di pinggiran bad, dia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Denis, carikan orang-orang bernama Caca di kota ini, berikan foto-fotonya padaku, berikan foto yang sekarang ini, yang jelas wajahnya". Pinta Tuan Arthur.
^^^" Baik Tuan "^^^
Percakapan itu berakhir.
"Caca? siapa caca? ". Tanya Nyonya Selena.
" Aku bertemu dengannya hari ini, aku tidak sengaja menyapanya, ku pikir itu dirimu, wajahnya persis seperti dirimu". Tuan Arthur menjelaskan.
"Maksud Papa? ". Nyonya Selena memasang raut wajah yang berharap Tuan Arthur memberi jawaban sesuai dengan keinginannya.
" Iya, aku punya firasat dia adalah Diandra, Saat papa berhadapan dengannya perasaan itu sangat berbeda, seolah tidak pernah papa rasakan sebelumnya, papa bahkan merasa sakit melihatnya menjauh dari papa". Jelas Tuan Arthur.
"Papa". Nyonya Selena menggebu-gebu, mengapa melewatkan hal itu hari ini. " Harusnya Mama tidak pergi saat itu, mama bisa saja melihatnya, mama akan bertemu dengannya, papa kenapa membiarkannya pergi pah? ". Nyonya Selena menahan air matanya, dia sangat ingin saat itu terulang kembali, ia ingin melihat sosok itu juga.
" Papa sudah memerintahkan Denis untuk mencari gadis itu, berapa banyak pun nama Caca di kota ini, kita pasti bisa menemukannya Ma". Tuan Arthur meyakinkan Nyonya Selena.
"Mama semakin merindukannya pa, Mama sangat ingin memeluknya, pah ini sudah 18 tahun, kita bahkan mengira dia sudah tidak ada, kenapa kita menjadi orang tua yang kejam, huhuhu". Nyonya Selena merasa usahanya tidaklah cukup selama mencari Diandra putrinya yang hilang.
" Tenang Ma, kita juga sudah berusaha selama ini, mama seharusnya bersyukur saat ini, kita harus menemukannya kali ini". Tuan Arthur.
Nyonya Selena pun kembali tenang, mereka akhirnya memutuskan untuk tidur dan kembali mencari Diandra esok hari.
bersambung………
...****************...
...----------------...
__ADS_1