Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Keluarga Sanjaya, Danar dan Denis


__ADS_3

Andini berjalan tergesa-gesa keluar kamar, segera mendekati pintu apartemennya, ia melihat keluar "Aqifa? apa yang dia lakukan ke sini? ". Andini kemudian membuka pintu.


" Kenapa handphone mu gak aktif? ". Tanya Aqifa tanpa basa basi terlebih dahulu.


" Kau tidak mungkin datang kemari hanya karena khawatir padaku kan? ".Andini memutar bola matanya malas.


" Aku butuh kartu itu sekarang". Aqifa masuk tanpa di persilahkan oleh sang pemilik apartement.


Saat masuk, ia tertuju pada kemeja yang tergeletak di sofa, ini jelas kemeja pria, pikir Aqifa. Ia mengedarkan pandangannya dan berhenti di pintu kamar yang sedikit terbuka, samar-samar ia melihat bayangan sesosok pria berotot di dalamnya.


"Berikan padaku flashdisk nya! ".


" Ah flasdisk, baiklah tunggu sebentar".


Andini mengambil flasdisk yang di maksud kemudian memberinya pada Aqifa.


Aqifa menatap Andini, ia sudah dapat menebak siapa pria di kamar Andini.


"Gantung kemejanya, itu pemberianku". Aqila kemudian berjalan keluar apartement.


" What? masa sih" . pikir Andini, ia mengambil kemeja itu dan mengeceknya apakah ada tanda pemberian Aqila. "Hah inikan brand mahal". Andini membelalak melihat mereknya. " Papa pun akan berpikir berkali-kali untuk membeli kemeja semahal ini". Andini mengambil kemeja itu dan membawanya masuk dan melemparnya pada Derik.


"Ayo!! ". Derik sudah berkeringat.


" Aku akan segera pergi berbelanja, keluarlah aku mau mandi". Andini sudah tidak memiliki hasrat seperti sebelumnya, ia berlalu begitu saja dari Derik dan masuk ke kamar mandi.


"Sial". Derik memukul tembok kesal.


***


Caca sebelum pulang ke rumah Arsya, ia menyempatkan diri untuk kembali ke kosnya.


" Rin, kau ada di dalam? ".Caca mengetuk pintu kamar kosnya.


Pintu terbuka menampakkan gadis cantik yang ia rindukan sosoknya, tetapi yang di rindukan justru menampakkan wajah kesal.


" Kau masih ingat jalan kemari? ". Sahut gadis manis itu.


" Ayolah, kau jangan kesal begitu padaku, aku akan mengajakmu pergi bersamaku hari ini! ". Caca bergelayut manja di lengan Rina.


" Berdua? ". Rina sangat bersemangat.


" Gak, tapi sama Ilia dan Arsya, dan beberapa ibu-ibu". Caca menepuk pipi Rina.


"Ahhh aku pikir kita akan pergi berdua". Rina nampak cemberut.


" Ada ayah dan ibuku". Caca melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Hah, paman dan bibi datang, uhhh kenapa tidak kemari? ". Rina nampak semangat tapi juga kesal.


" Ayo bersiap, kita akan pergi kurang lebih 3 jam lagi".


Mereka berdua kemudian bersiap untuk jalan-jalan sore nanti.


***


Arfa memandangi wajah ibunya, ia membayangkan betapa miripnya adiknya dengan ibunya. "Apakah Diandra hidup dengan baik selama ini? ". Ia memandangi meja yang mereka gunakan, Ayah, Ibu, Denis, Danar dan dirinya sendiri. Kapan Diandra akan bergabung bersama kami dan makan bersama seperti ini, aku yakin itu akan sangat menyenangkan, aku akan memberikan segala yang ia mau, aku akan sangat memanjakannya. Tapi jika ada pria yang mendekatinya aku akan menghancurkan tangannya jika berani menyentuh tangan adikku, aku akan menghancurkan mulutnya jika ia merayu adikku. Pikiran Arfa mulai di penuhi dengan pria-pria yang berusaha mendekati adiknya.


Tanpa sadar sedari tadi arfa sudah menghancurkan apel yang tadinya utuh, dan sekarang entah bentuknya seperti apa. Ia tersadar dengan pandangan orang tuanya dan 2 lelaki yang ia anggap saudara itu.


"Ah, aku sedang..... " Arfa berusaha menjelaskan.


"Apa yang kau pikirkan? ". Tanya Tuan Arthur.


"Papa, apa papa pernah memikirkan ada pria yang berusaha mendekati Diandra? ". Arfa menatap ayahnya.


Mata Tuan Arthur membelalak " Benar juga, itu tidak terlintas di pikiranku selama ini, Denis kirim seseorang untuk mencari tahu siapa saja pria yang berusaha mendekati Diandra".


"Kalian kenapa sih? Dia anak cewe yang cantik, sudah jelas banyak pria yang tertarik padanya". Nyonya Selena justru memikirkan pria-pria tampan yang berusaha mendekati anaknya.


" Tidak boleh". Arfa dan ayahnya serentak menolak pikiran Nyonya Selena.


"Jika ada pria yang berusaha mendekatinya, ia harus melewati aku dulu". Arfa.


" Dan pria itu harus melebihi tingkat belah diri kami berdua". Danar


Denis mencubit pinggang Danar, bermaksud agar Danar tidak ikut campur dalam perbincangan keluarga itu jika tidak di ajak berbicara.


"Auh". Danar mengusap pinggangnya.


" Ayolah kak, kalian bukan orang lain di sini, dan tentu saja pria yang cocok untuk Diandra harus orang yang mampu melindunginya". Arfa tersenyum lebar pada Danar.


Meskipun dekat dengan keluarga Sanjaya, Denis tetap berusaha untuk tidak melewati batas, ia tetap memposisikan dirinya sebagaimana ayahnya dulu memposisikan dirinya, tapi tidak dengan Danar adiknya. Danar tidak sekaku dan seketat Denis, mungkin karna yang ia layani adalah Arfa jadinya ia mengikut sifat periang Arfa.


"Kak Danar ayo kita harus kembali ke kamar, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Diandra". Arfa berdiri dan menarik tangan Danar.


" Hah aku terkadang bingung, dia itu saudaramu atau saudara Arfa".Tuan Arthur menggeleng.


"Hahaha kau tahukan mereka tumbuh bersama sejak kecil". Nyonya Selena.


Denis hanya tersenyum dan tidak menanggapi lebih lanjut perbincangan itu.


Melihat hal itu, Nyonya Selena dan Tuan Arthur hanya saling tatap dan tersenyum kecil. Denis memang akan selalu menghindari pembahasan seperti itu.


***

__ADS_1


Denis membongkar kopernya dan mencari pakaian yang akan ia kenakan sebentar. Ia melepas bajunya dan mencoba pakaian yang ia pilih. Danar menepuk jidatnya, "Arfa, anda akan jalan-jalan santai, bukan bertemu klien, ini terlalu formal". Danar menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Lalu mana yang harus ku kenakan? ". Tanya Arfa.


Danar memilih beberapa pakaian dari koper Arfa, dan sayangnya tak ada satupun pakaian yang Danar rasa cocok.


" Anda tidak membawa baju kaos? ". Tanya Danar.


" Ah, aku.... ". Arfa tidak berpikir akan jalan-jalan, ia hanya membawa beberapa setelan untuk bertemu klien, tentu saja pakaian formal.


***


Tuan Arthur dan Nyonya Selena keluar dari kamar dan segera turun ke basement sambil menunggu putranya menyusul.


Sesampainya di basement Nyonya Selena melihat Denis yang sedang memarahi Danar, dan terlihat Arfa yang berusaha melerai.


"Kau sudah kelewat batas, apa pantas Tuan Muda mengenakan pakaian ini, itu adalah pakaian yang sudah kau gunakan, kenapa memberinya pada Tuan Muda". Denis memarahi Danar.


" Tapi kak, Arfa yang memintaku.... ". Danar


" Tuan Muda, berapa kali ku katakan, kau harus memanggilnya Tuan Muda, kau harus tahu posisimu". Denis semakin marah.


"Cukup Denis". Tuan Arthur menyela Denis.


" Tuan Besar, Nyonya Besar. Maaf Tuan saya minta maaf atas kelancangan Danar, saya akan mencari pakaian baru untuk Tuan Muda". Denis hendak pergi.


"Tunggu". Tuan Arthur.


" Arfa, apa kau menyukai pakaian itu? ". Tuan Arthur.


" Iya pa". Jawab Arfa.


"Apa kau nyaman mengenakannya".


" Iya pa".


"Apa Danar memintamu mengenakan pakaiannya? ".


" Tidak, aku yang membongkar paksa koper kak Danar dan Mengambil bajunya dan mengenakannya". Jawab Arfa membuat Denis kaget.


"Kau dengar itu kan Denis, Arfa yang memaksa, maafkan Arfa yah Danar, lagipula kalian sudah seperti saudara, menurutku tidak masalah ,hal ini sering terjadi du antara sesama saudara". Tuan Arthur menepuk bahu Danar.


Denis menghela napas, dan masuk ke mobil yang akan ia kendarai.


Nyonya Selena menepuk bahu Danar " Selera fahion mi bagus, lain kali kalau belanja ajak suamiki dan Arfa, mereka sangat kolot dalam fahion".


Kemudian Nyonya Selena berlalu tak lupa menginjak kaki putranya. .

__ADS_1


__ADS_2