
Ibu Maya sampai di kediaman dan dengan tergesa ia memasuki kediamannya. Ia mendapati Caca baru saja keluar dari kamar orang tuanya.
"Bunda! " Caca mendekati Ibu Maya.
"Kamu habis bantu ibumu? ". Ucap Bunda.
" Iya, mereka udah siap tinggal berangkat aja sore nanti". Ucap Caca.
"Baiklah, kamu makan siang dulu, itu Bunda beliin makan tadi buat kamu dan Arsya, Bunda mau ketemu dulu sama ayah dan ibumu". Setelah menerima anggukan Ibu Maya meninggalkan Caca.
Ibu Maya membuka pintu kamar dengan perlahan setelah mengetuk pintu. Orang tua Caca kaget melihat ibu maya yang datang, mereka sebisa mungkin menghindari tatap mata dengan Ibu Maya.
__ADS_1
"Bu! apa anda benar-benar akan kembali? ". Ucap Ibu Maya.
" Tentu saja, adik-adik Caca ada di desa kasian mereka bila harus mengurus diri mereka sendiri".Ucap Ibu Caca.
Ibu Maya duduk di samping ibu caca dan perlahan menggenggam tangannya, dan menatapnya dengan penuh harap ia akan membatalkan untuk kembali ke desa.
Cukup lama 2 pasang mata itu berada yang akhirnya membuat air mata Ibu Caca jatuh juga. "Saya bingung harus apa, dan bagaimana kita akan memberi tahunya, dia tidak akan siap". Ucap Ibu Caca.
"Wajah unik dan mirip seperti itu bagaimana mungkin kami meragukan Nyonya Selena. Sejak melihatnya sekali kami sudah memikirkan hal itu". Ucap Ayah Caca.
" Anda berdua tahu itu, kami juga tahu apa yang kalian berikan untuk kehidupannya sehingga tidak mudah bagi kami untuk mengambilnya begitu saja". Ibu Maya.
__ADS_1
Setelah mendengar kata mengambil dari ibu maya, ibu caca melihatnya dengan penuh ketakutan. Ia sudah menyayangi Caca seperti darah daging nya sendiri, tidak akan mudah baginya untuk melepas anak yang ia besarkan itu. "Apa maksudmu dengan mengambil? ". Ibu Maya berdiri dari duduknya.
Ibu Maya mulai mencari-cari apa yang bisa meluluhkan Ibu Caca, ia sadar tidak boleh menggunakan kata-kata yang akan membuat Ibu Caca terusik. Ia menghampiri ibu Caca lagi kemudian menatap matanya. "saya seorang ibu, anda juga seorang ibu, meskipun tidak akan mengalami tapi anda pasti tahu bagaimana rasanya jika kehilangan seorang anak".
Ibu Caca terduduk kembali dan terdengar suara tangisan tersedu-sedu. " Aku akan mengalami nya". Dengan nada berat dan air mata ia mengatakannya.
Ibu Maya kemudian memeluknya untuk menenangkan ibu caca. Setelah tenang ia mulai berbicara lagi mengenai Caca bahwa sebaiknya ia bertemu dahulu dengan Tuan Arthur. Mereka juga tidak akan mengambilnya begitu saja, walau bagaimana pun yang membesarkannya adalah Ibu Caca.
Ibu Caca mengangguk dan dengan hati mantap ia akan bertemu dengan Tuan Arthur. Mungkin ini sudah saatnya Caca tahu mengenai kebenarannya dan sudah saatnya ia menjalani hidup yang lebih baik. Dia juga sebenarnya sudah mempersiapkan diri saat mereka mulai merawat Caca. Suatu saat jika bertemu dengan orang tua kandung Caca, ia harus bisa merelakannya.
Ibu Maya menyampaikan bahwa nanti Tuan Arthur akan datang ke rumah ini, mereka bisa berbicara di ruang kerja suaminya. Mereka sebaiknya mengatur rencana bagaimana nantinya akan memberi tahu Caca tentang semuanya. Satu hal yang paling ingin di tahu oleh semuanya adalah apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Caca hilang dari rumah sakit dan sampai ke tangan Ibu Caca.
__ADS_1
Sempat terbesit di pikiran ibu maya, orang yang membawa anak itu pergi.