Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Info dari Rani


__ADS_3

"Wah akhirnya selesai juga nak, kamu buruan pulang sana. Nanti bangku-bangkunya biar bapak yang rapikan, keliatannya kamu udah kedinginan banget," ujar pak satpam yang menyarankan Caca untuk segera pulang. "Udah sana cepat pulang nak, udah mau hujan juga tuh," Pak satpam kembali menyarankan Caca untuk pulang karna cuaca yang menunjukan akan segera turun hujan.


    "Ah iya baik pak, mmm makasih yah pak atas bantuannya, Caca balik sekarang yah pak," Caca menundukkan kepalanya sopan kemudian berpamitan untuk pulang.


"Sampai jumpa besok pak," Caca kemudian berlari meninggalkan pak satpam.


"Iya, hati-hati yo,Nak!" Pak satpam kembali ke ruang kelas untuk merapikan kursi-kursi dalam ruang kelas itu kemudian mengunci ruangan itu dan kembali berpatroli ke dalam sekolah.


----------------


"Hah kenapa aku tiba-tiba mengingatnya lagi sih, haah," Caca mulai teringat kembali kejadian di ruang kelasnya tadi siang.


"Sebenarnya apa yang di pikirkan Via sampai berani melakukan itu, aku harus bicara dengannya, aku harus tau apa yang sebenarnya membuatnya sebenci itu padaku, " Caca kemudian bangun dari tidurnya dan bersiap untuk ke rumah Via.


Ketika sampai di rumah Via,dia mengetuk pintu rumah Via. "Permisi ... permisi ... Via!" Caca terus mengetuk pintu rumahnya, tapi di sisi lain sebenarnya pikirannya masih takut untuk bertemu dengan Via, dia takut akan terjadi hal seperti tadi siang.


"Ya ampun, Caca kamu harus berani, kamu harus luruskan apa yang di permasalahkan Via sampai sebenci ini denganku," gumam Caca yang menguatkan dirinya untuk tetap berani.


Belum selesai Caca dengan pikiran anehnya, tiba-tiba ada suara seseorang dari belakangnya yang menyapanya tiba-tiba.


"Cari siapa neng?" tanya wanita paruh baya itu.


"Hah, oh maaf Bu. Mmm … saya mencari Via yang tinggal di rumah ini," jawab Caca dengan sopan walau sebelumnya dia sempat terperanjat kaget.


"Oh nak Via, mereka udah pergi ke bandara Neng, mungkin sekarang pesawatnya juga udah lepas landas," wanita itu memberikan informasi kepergian Via.


"Ohh gitu yah bu, ya udah deh bu, saya balik dulu. Makasih yah bu infonya," Caca mengucapkan terima kasih sambil berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


"Iyah, hati-hati yah neng," wanita itu tersenyum kemudian meninggalkan tempat itu juga.


--------------------------


"Haah gimana dong, iya sih aku jadi tenang karna bisa terhindar dari ancaman Vio yang mungkin bisa nakutin aku lagi, tapi kalau aku gak tau masalahnya. Kita gak bisa perbaiki hubungan kita, gimana ya, nomor telponnya juga gak aktif," Caca bingung sendiri dengan keadaan hubungannya dengan Via, dia bingung mau mencari cara bagaimana lagi.


"Caca kamu kok di panggil-panggil gak sahut sih nak?" Ibu yang tiba-tiba muncul membuat Caca kaget, takut celotehannya tadi terdengar oleh ibunya.


"Hah ya ampun, Ibu kenapa gak ngetuk pintu sih bu, kan Caca jadi kaget," Caca mengeluh pada ibunya.


"Loh kok nyalahin ibu sih, kan tadi udah ibu ketuk pintunya, kamu aja yang ngelamun terus," jelas ibu.


"Oh gitu yah bu, hehe maaf yah bu," Caca tersenyum malu .


"Ya udah, kamu keluar cepat, kita makan malam," ajak ibu pada Caca.


Makan malam berlangsung di keluarga hangat itu dengan tenang, terkadang di selingi dengan perbincangan 2 adik kecil Caca yang memancing tawa ibu dan ayahnya. Kemudian mereka kembali menyantap makanannya lagi sampai selesai.


"Bu piringnya biar Caca aja yg cuci, ibu beresin yang di meja saja," Caca mengambil alih spons yang di pegang ibu.


"Oh ya udah, Ibu bersihin mejanya dulu," Ibu yang menerima tawaran Caca.


"Oke, " Caca lanjut mencuci piringnya sampai selesai.


Tak lama kemudian Caca kembali ke kamarnya,dia menengok handphonenya yang sekilas ia lihat menyala.


"Waduh, aku lupa kalau hpnya aku kasih getar aja tadi, hah Rani kenapa telpon yah?" Rupanya tadi Rani menelpon Caca berkali-kali, Caca pun memutuskan untuk menelpon Rani.

__ADS_1


dret...dret dret...dret..dret dret...


Deringan berikutnya Rani mengangkat telponnya.


"Halo Ran," sapa Caca.


"Ya ampun Ca! Lo dari mana aja sih, aku tuh telponin kamu dari tadi tau, Lo mau tau gak, ada info yang gue dapat dari tante aku tadi yang rumahnya dekat Via, yah tetanggaan lah ... "


"Tunggu jadi ini tentang Via?" Caca memotong perkataan Rani yang tadi langsung berceloteh begitu saja.


"Ihh Caca, ya iyalah ini tentang Via, kamu mau dengar gak?" Rani menawarkan informasi pada Caca, yang sebenarnya dia sedari tadi sudah mulai membahas.


"Ya udah kamu ceritain apa yang kamu tau," ucap Caca yang juga merasa ingin tahu, kali aja ada petunjuk kenapa Via bisa membencinya.


"Jadi gini, rupanya hampir setiap malam Via itu keluar, terus dia pulangnya larut banget, yang parahnya setiap pulang dia selalu di anterin sama cowok-cowok berandal gitu. Dandanannya kayak gak beres gitulah, bahkan pernah yah Ca, Via itu pulang-pulang udah mabuk banget, sampai bapaknya gak biarin dia masuk ke dalam rumah. Akhirnya tanteku bantuin dia, nawarin nginap di rumahnya," Rani berhenti cerita tiba-tiba.


"Ran! kok kamu berhenti, ada apa?" tanya Caca heran.


"Bentar Ca, gue minum dulu, kerongkongan gue kayaknya kering, ngomong terus tadi," jelas Rani yang malah di sambut tawa oleh Caca. "Lah kok kamu ketawa sih, lagian yah aku heran kamu kok bisa gak tahu soal ini sih, padahal kan kamu akrab banget sama dia. Emang dia gak pernah cerita gitu apa masalah dia?" tanya Rani yang sempat membuat Caca berpikir untuk mengingat kembali masalah yang pernah Via alami.


"Iya sih ada, tapi gak ada hubungan sama keluarganya gitu," jelas Caca.


"Gitu yah, hmmm oh yah aku lanjutin lagi," ucap Rani pada Caca.


"Ya udah kamu lanjutin lagi, aku juga ingin tahu," Caca mengiyakan yang sebenarnya dia sangat berharap mendapatkan informasi tentang permasalahan Via.


bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2