
Dewa sedang bersiap untuk mandi, handphonenya berdering tanda pesan masuk.
"Malam ini, hotel secret bee, Malik Endrian".
Melihat itu Dewa kembali memikirkan, apakah dia akan bertanya soal perasaannya terhadap Caca ataukah mungkin Malik melakukan ini karena hanya sebatas peduli.
***
Malam pukul 20:00
Dewa sampai di sebuah hotel besar di kota itu, hanya orang-orang besar yang bisa masuk di sini, orang yang datang di tempat ini biasanya hanya para presiden perusaan untuk membicarakan bisnis dengan klien.
Saat masuk Dewa langsung di sambut oleh pelayan.
"Reservasi atas nama Malik Endrian! ". Dewa tanpa menoleh pada pelayan.
" Mari Tuan saya antar". Pelayan tersebut segera mengantarkan Dewa pada ruangan yang sudah di reservasi oleh Malik.
"Rupanya kau datang lebih awal". Begitu masuk Dewa melihat Malik.
" Aku yang melakukan reservasi, jadi alangkah baiknya jika aku lebih dulu sampai". Malik
"Benarkah". Dewa.
" Yah aku yang lebih dulu". Malik menatap Dewa.
"Aku rasa maksud perkataan mu bukan hanya soal kau datang lebih dulu". Dewa mencerna perkataan Malik.
" Kenapa tidak pesan dahulu, kau bisa saja capek saat melakukan perjalanan". Malik mengalihkan pembicaraan.
Mereka berdua memesan minum dan beberapa makanan.
"Aku mengajak makan bersama, kau tahu sendiri bukan hanya untuk sekedar makan". Dewa.
" Kenapa kau mencoba mengurus masalah ini? ". Malik
" Aku peduli padanya". Dewa dengan tegasnya.
"Sebatas itu? ". Malik menyelidik.
Dewa terdiam saat Malik menanyakan hal itu, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya mengenai perasaanya. Dia memperhatikan Malik, dari gerak geriknya seolah dia merasa bahwa Malik memiliki perasaan juga pada Caca.
" Ada apa? aku jelas peduli, dia berteman denganku sekarang, dia akrab dengan Arsya, jelas aku akan memperhatikannya juga, lantas kau? ". Dewa kembali bertanya pada Malik.
" Aku membantunya karena dia akrab dengan kekasihku, Aprilia adalah kekasihku". Pernyataan Malik membuat Dewa kaget tetapi hatinya juga legah.
"Syukurlah". Dewa tersenyum simpul kemudian menikamati minuman dan makanan yang baru saja di hidangkan.
Malik ingin menanyakan kenapa dia tiba-tiba menunjukkan ekspresi seperti itu. " Kenapa dia begitu bahagia setelah tau Aprilia adalah kekasihku". Malik terus memperhatikan Dewa seolah mengharap muncul jawaban dengan sendirinya.
Mereka berdua kemudian menikmati makanannya dengan tenang, usai menghabiskan makanan mereka, Dewa dan Malik saling menatap satu sama lain hingga akhirnya Dewa mengawali pembicaraan.
"Aku tidak ingin hal ini berlalu begitu saja, aku ingin Aqifa mendapatkan balasan untuk perbuatannya". Dewa.
" Aku sependapat denganmu". Malik.
Mereka berdua memutar otak masing-masing memikirkan cara untuk membalas Aqifa.
"Culik, sekap". Malik mengatakan dengan wajah layaknya seorang mafia.
" Kau seperti mafia, kita beri balasan yang ringan dulu, kita lakukan saja hal sebaliknya, dia memberi Caca racun,maka dia akan menerima obat". Dewa terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa kau cekikikan begitu". Malik
" Aku membayangkan dirinya yang harus bolak balik di wc". Dewa masih terkekeh dengan pikirannya sendiri.
"Itu terlalu kecil, kita culik saja". Malik masih dengan sarannya.
" Hey!! Kau tau dia bukan orang sembarangan, menculiknya bisa menimbulkan masalah besar, meskipun memikirkan Caca aku juga masih memikirkan Keluargaku, jika menculiknya dan ketahuan apa nasib kerja sama antar perusahaan kami". Dewa menjelaskan panjang lebar.
Malik terdiam, kemudian kembali memikirkan perkataan Dewa. "Benar juga, perusahaan Ayah akan melakukan kerja sama dengan perusahaan keluarga Arsya".
" Baiklah, kita pakai cara yang sama, tapi jika suatu, saat Aqifa melakukan hal gila yang parah, aku tidak akan mengikuti cara halusmu seperti ini! ". Malik.
Mereka sepakat untuk memberi Aqifa Obat sakit perut. Setelah pembicaraan itu selesai, mereka berdua bersiap untuk kembali. Saat keluar dari ruangan itu mereka tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Arthur. Spontan mereka berdua menyapanya.
" Selamat malam Tuan Arthur!! ". Malik dan Dewa.
" Selamat malam". Tuan Arthur dengan wajah ramahnya.
Mereka berdua hanya bertemu sekilas dan saling sapa tetapi membuat 2 pemuda itu tegang.
"Apa barusan benar-benar Tuan Arthur? ". Dewa menggoyang tubuh Malik meminta jawaban.
" Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya di sini". Malik tidak kalah girangnya oleh Dewa.
...****************...
ARTHUR SANJAYA
Keluarga ternama Negara A
ARTHUR SANJAYA, pemilik perusahaan Sanjaya, rumah sakit Sanjaya, restoran Sanjaya,kafetaria, karaoke dan banyak golongan bisnis yang ia geluti, Orang-orang menyebutnya raja dunia bisnis. Memiliki istri bernama Selena Sanjaya, dan 1 putra bernama Arfa Arthur Sanjaya. Memiliki 1 anak perempuan, tapi mereka tidak tahu dimana keberadaan gadis itu, apakah masih hidup atau sudah berakhir tanpa mereka ketahui.
...****************...
"Baiklah besok akan kuhubungi saat mengerjainya.". Dewa yang berusaha bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Baiklah, kita berpisah di sini". Malik yang kemudian keluar restoran dan segera memasuki mobilnya.
Setelah kepergian Malik, Dewa memutuskan untuk duduk di meja tamu, ia ingin tahu apa yang di lakukan Tuan Arthur di kota ini.
" Mengapa ia kemari, jika urusan bisnis,para pengusaha di kota ini akan gempar".Dewa bertanya pada dirinya sendiri, ia memesan minuman dan memutuskan menunggu sampai Tuan Arthur keluar. "Hah aku bosan jika hanya sendiri". Dewa kemudian mengeluarkan handphonenya dan menelpon Arsya.
" Kau dimana? ".
^^^" Wah, setidaknya katakan halo"^^^
"Temui aku di restoran secret bee".
^^^" What? kau sedang apa di sana"^^^
"Ayolah, aku hanya sendiri di sini".
^^^" Hum baiklah, aku akan segera ke sana kebetulan aku baru kembali dari mall".^^^
"Oke".
Percakapan singkat antara keduanya pun berakhir.
***
Arsya sampai di depan restoran,karena menggunakan dinding kaca, Arsya sudah bisa melihat Dewa yang duduk sendirian.
__ADS_1
" Sungguh menyedihkan". Arsya terkekeh melihat Dewa.
Arsya memasuki ruangan mendekati Dewa, karena posisi Dewa yang membelakangi pintu masuk restoran Dewa tidak menyadari kehadiran Arsya.
"Wahai pemuda jomblo, begitu sedihkah keadaanmu saat ini, janganlah engkau pasrah".Arsya dengan nada mengejek.
" Kau juga jomblo". Dewa.
"Aku begitu kasian melihatmu dari luar, punggungmu seperti orang yang putus asa". Arsya.
Mereka berdua berbincang saling mengejek satu sama lain, sesekali meneguk minuman yang sudah di hidangkan. Hingga saat Dewa tiba-tiba tersedak.
" Hei kau kehausan atau apa". Arsya menggelengkan kepalanya heran.
"Tante Maya". Dewa dengan wajah terkejut.
" Bunda? ". Arsya mengedarkan pandangannya dan mendapati Bunda nya berbicara dengan seorang pria.
" Apa yang mereka bicarakan? ". Dewa semakin heran. " Apa keluargamu menjalin hubungan bisnis dengan keluarga Arthur? ". Dewa meminta penjelasan.
"Tuan Arthur? ". Arsya memperhatikan kembali wajah pria itu. " Benar itu Tuan Arthur, kenapa bunda bertemu dengannya, aku tidak mendengar bunda akan menjalin hubungan bisnis dengannya". Arsya menoleh pada Dewa, "Jika benar menjalin bisnis, akan ada masalah, sudah lama perusahaan Angga Wijaya ingin bekerja sama dengan mereka, tapi selalu di tolak".
" Aku tidak mendengar akan ada kerja sama, sepertinya untuk urusan lain". Arsya berhati-hati dalam perkataannya.
"Apa ayah tahu kalau Tuan Arthur berada di kota ini". Dewa.
" Sepertinya kedatangan nya tidak di ketahui, jika urusan bisnis... ". Arsya terdiam sejenak memikirkan kata yang tepat. " Jika urusan bisnis, kota ini akan gempar dengan kehadirannya, para pengusaha akan berbondong- bondong menemuinya ".
" Mereka mendekat". Dewa hanya terus memperhatikan Tuan Arthur dan Ibu Maya.
Tuan Arthur dan Ibu Maya semakin dekat di meja dimana Arsya dan Dewa duduk, Ibu Maya melihat sosok yang tidak asing, ia memperhatikan dengan seksama.
"Arsya, Dewa". Ibu Maya menyapa mereka.
Mereka berdua berdiri dan memberi salam
" Perkenalkan ini putriku Arsya dan ini anak Tuan Angga pemilik perusahaan Angga Wijaya namanya Dewa". Ibu Maya.
"Selamat malam ". Arsya dan Dewa
" Kau yang tadi menyapaku kan". Tuan Arthur.
"Iya Tuan". Dewa.
" Hoho rupanya kau Putra dari Tuan Angga". Tuan Arthur Menatap Dewa dengan seksama.
"Iya tuan". Dewa.
Tuan Arthur mengerti keadaan saat ini, mengingat beberapa kali mereka mengajukan kerja sama tetapi selalu di tolak olehnya, tetapi ia menemui kelurga Ibu Maya yang merupakan teman baik mereka.
" Maya, asisten saya sudah datang, saya harus kembali ke hotel sekarang, dan yah saya sangat berterima kasih atas informasi yang kau berikan, mohon jangan bicarakan ini dengan orang lain, saya ingin memastikannya dahulu. " Tuan Arthur.
"Iya sama-sama Arthur, sampaikan salamku pada Selena". Ibu Maya.
Tuan Arthur pergi keluar restoran dan memasuki mobil mewahnya, kemudian Ibu Maya beralih pada Dewa dan Arsya.
" Ayo ikut Bunda! ". Ibu Maya.
bersambung…………
...****************...
__ADS_1
...----------------...