
Dewa hendak keluar setelah berbicara dengan Malik, tetapi Malik menahannya.
"Ada apa? ". Dewa.
" Ini kartu namaku". Malik.
"Ini kartu namaku". Dewa juga mengeluarkan kartu namanya.
" Rupanya dia bukan orang biasa". Pikir Malik.
"Baiklah sampai bertemu lagi". Dewa bergegas pergi.
***
Setelah perkuliahan usai, Caca hendak balik dengan Aprilia dan Arsya.
" Makan yuk, aku traktir! ". Ronal menghadang mereka bertiga.
" Ayo! " Aprilia semangat.
"Ah kalian bertiga aja yah, aku udah ada janji". Caca.
" Sama siapa? ". 2 suara yang bertanya, Ronal membalik badannya. Mereka berempat heran melihat Dewa yang muncul tiba-tiba dan langsung mengajukan pertanyaan.
" Ah Rani".Caca menjawabnya tanpa memikirkan kenapa Dewa dan Ronal harus tau dengan siapa ia pergi.
"Kenapa dia harus bertanya seperti itu, memangnya dia harus tau". Ronal menatap Dewa dengan mata kesal.
" Kenapa wajahmu seperti itu". Aprilia.
"Ah baiklah, ayo kita bareng aja, setelah mengantarmu ke asrama lalu kita akan cari restoran".Ronal.
" Ah kalian langsung ke restoran yang kalian mau saja, biar aku yang mengantar Caca". Dewa.
"Tidak perlu".Ronal.
" Tak apa, lagi pula jalannya searah dengan rumahku". Dewa bersi keras.
Arsya dan Aprilia bingung melihat mereka berdua.
"Biarkan Dewa yang mengantar Caca, ayo kita ke restoran saja, aku sudah lapar". Arsya menoleh ke arah Dewa dan mengedipkan matanya.
" Benar". Dewa memberikan senyuman pada Arsya, tanda terima kasih. "Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun padamu".
Mereka akhirnya menyepakati hal itu, tidak termasuk Caca.
__ADS_1
***
Sampai di asrama, kebetulan banyak siswi yang baru saja kembali dari kampus, mereka menoleh ke arah gerbang asrama begitu melihat mobil mewah berhenti.
"Terima kasih yah! ". Caca melambaikan tangannya kemudian meninggalkan mobil tersebut.
Dewa merasa bahagia bisa mengantar Caca, tapi dia merasa sesal karena dirinya sangat kaku, dia begitu gugup sehingga tidak mampu memulai pembicaraan. " Aaahhh kenapa aku jadi begini, padahal selama ini aku tidak pernah gugup, kenapa padanya seperti itu".
Lain halnya dengan Caca, setelah memastikan Dewa pergi, dia merasa banyak panah yang menancap di punggungnya, dia membalik badannya perlahan dan menunduk, ia merasa seisi asrama sedang memperhatikan gadis yang di antar oleh pria populer di kampus.
"What, itu Caca! ". Rani yang kebetulan ikut keluar karena mendengar riuh-riuh di luar.
Saat Caca berada tepat di hadapan Rani, tanpa basa basi Rani mengajukan pertanyaan.
" Dewa atau Ronal? ". Rani menyelidik.
" Maksud kamu? ". Caca.
" Barusan Dewa kan yang nganter kamu, pria populer di kampus, anak konglomerat, ngapain dia nganterin kamu, kalau gak ada perasaan spesial". Rani.
"Itu pikiran kamu aja, Dewa maupun Ronal bagiku sama saja, posisinya sama, sama-sama teman aku, jadi aku gak bisa kalau hanya milih salah satu". Caca menyentil jidat Rani, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
" Tapi, mungkin saja mereka tidak seperti mu, pasti mereka memiliki perasaan khusus! ". Rani sangat yakin.
Rani dan Caca terus beradu argumen mengenai perasaan antara Ronal dan Dewa yang memiliki perasaan khusus pada Caca, sampai menempuh waktu sekitar 1 jam, Caca akhirnya menyerah pada Rani.
Mereka berdua tertawa lepas, menyadari waktu yang mereka habiskan untuk berdebat ternyata sia-sia, jika mereka masak mungkin saja masakannya sudah di perut sekarang.
Kedua gadis cantik itu memutuskan untuk masak, kemudian mereka akan beristirahat sejenak dan akan ke taman sore nanti.
***
Sore harinya………
"Ca ke sana, aku fotoin, bunganya cantik".Rani bersiap bak seorang fotografer.
" Sok-sokan mau fotoin, gaya niru fotografer, lo megang kamera aja tremor". Caca meledek Rani.
"Ihh ini kan handphone aku, jadi tenang aja, aku gak akan tremor". Rani membela diri.
Mereka berdua mengelilingi taman sesekali saling memotret, bercanda, tertawa, saling menjahili. Hingga saat mereka berencana untuk kembali ke asrama, mereka tidak sengaja melihat seorang lansia yang terjatuh, Caca dengan sigap berlari untuk menolongnya, dan membantunya berdiri mencari tempat istirahat.
Caca dengan perhatian menanyakan bagaimana keadaan nenek tersebut.
"Tidak apa-apa nak, oma tadi hanya tidak memperhatikan jalan, eh di depan ada lobang, hehehe". Nenek itu tertawa, membuat Caca dan Rani tersenyum penuh kehangatan.
__ADS_1
" Ah cucu oma kemana yah, tadi oma bareng cucu oma". Nenek itu mengambil telponnya di saku bajunya, dan terlihat berusaha mencari nama seseorang, Caca hendak membantu tapi saat melihat beliau sudah akan menelpon, dia mengurungkan niatnya.
"Ah ponselnya tertinggal di rumah". Nenek.
" Biarkan kami menemani anda sampai cucu anda datang".Caca menawari.
"Haha baik sekali kamu nak".Nenek mengelus tangan Caca.
Tidak berselang lama terlihat seorang pria sedang mengedarkan pandangan nya mencari sesuatu, oma rupanya melihat pria itu.
" Malik, di sini nak! ".Oma memanggil pria itu dengan nama Malik, Caca membulatkan matanya, saat pria itu hendak berbalik, Caca memunggunginya dan meminta izin pada Oma untuk pergi, Oma merasa heran dengannya tetapi ia merasa mungkin ia punya keperluan mendesak. Caca menarik lengan Rani dan pergi secepat mungkin.
" Dia siapa oma? ".Malik bertanya sambil menyerahkan botol air.
" Ahaha gadis itu menolongku tadi saat terjatuh".Oma dengan suara lemahnya.
"Oma terjatuh, kenapa bisa, apa ada yang terluka? ".Malik panik, dan hendak memeriksa kaki Omanya.
" Tidak perlu khawatir anak, Oma baik-baik saja, Oma berharap bisa bertemu gadis itu lagi". Oma tersenyum, membuat Malik bertanya-tanya siapa gadis itu, Malik sudah memperkenalkan Aprilia pada Oma, tapi Oma tidak pernah menunjukkan wajah hangat layaknya saat ini.
Mereka memutuskan kembali ke rumah, di rumah Tuan Endrian sedang menunggu Malik dan Ibunya. Melihat keduanya memasuki pelataran rumah membuat hati Tuan Endrian nyaman, dia begitu bahagia melihat anaknya yang baik dan lembut seperti itu, dia seolah melihat mendiang istrinya ikut tersenyum padanya.
"Padahal setahun lalu kau sangat keras kepala, kau brutal sekali, tapi ayah senang kau sudah berubah". Tuan Endrian bergumam sendiri, kemudian menyambut Ibu dan anaknya itu.
***
Caca dan Rani sudah sampai di asrama, tapi Rani masih penasaran mengapa Caca tiba-tiba pergi, dia tidak bisa menahan untuk bertanya.
"Caca aku ingin menanyakan sesuatu! ".Rani.
" Ada apa? ". Caca.
" Tadi kenapa kau tiba-tiba menarik ku seperti itu, kau seperti habis melihat seseorang dan kau tidak ingin di lihat olehnya".Rani menebak.
"Memang benar, tadi kau tidak dengar yah, Oma itu memanggil Malik". Caca.
" Ohh Malik yang kejam itu yah, memang kenapa? ".Rani merasa bingung.
Caca berpikir " Hah, aku harap dia sudah berubah". "Yah, aku hanya takut dia mengira kita melukai Omanya, jadi daripada berurusan dengannya, lebih baik kita menjauhkan".Caca
" Iya sih, ya sudah aku mau mandi dulu".Rani mengakhiri pembicaraan.
"Iya". Caca tersenyum, dia kemudian memikirkan Malik sewaktu bertemu di kafe. Caca tiba-tiba tersenyum memikirkan bagaimana Malik menatapnya. " Dia begitu khawatir". Tapi tiba-tiba senyumnya hilang begitu muncul wajah marah Ronal saat sedang memikirkan Malik. "Kenapa wajahnya muncul". Caca menepuk wajahnya.
bersambung…………
__ADS_1
...****************...
...----------------...