
Setelah perkuliahan selesai, Arsya mengajak 2 teman cantiknya itu ke kantin yang di ikuti anggukan oleh Dewa dan Ronal yang padahal tidak di ajak.
Di kantin, saat sedang menunggu pesanan mereka, Arsya menerima pesan dari Bundanya.
"Lani, bisa ajak Caca dan Aprilia ke rumah? ". Isi pesan Ibu Maya.
" Nanti Lani usahakan Bunda". Arsya membalas pesan tersebut.
Setelahnya Arsya beralih pada Aprilia dan Caca, " kalian mau ke rumah gak? bunda kangen".
"Mmm setelah perkuliahan kedua, gimana? ". Jawab Aprilia.
" Aku ngikut". Jawab Caca.
"Ngapain? ". Tanya Dewa.
" Bunda kangen katanya". Jawab Arsya kemudian mengedipkan matanya. Dewa mencoba memahami, ia memutuskan untuk bertanya nanti.
Mereka kemudian menghabiskan makan mereka dan segera bergegas ke ruang kuliah.
Di perjalanan kembali ke ruang kuliah Dewa meminta untuk berbicara berdua dengan Arsya, Aprilia dan Caca akhirnya kembali berdua ke ruang perkuliahan.
"Ada apa? ". Tanya Dewa.
" Gak tahu, Bunda menyuruh ku mengajak Caca ke rumah, sepertinya bunda sudah bertemu dengan Tuan Arthur". Jawab Arsya.
"Lalu? ". Dewa.
" Entahlah, aku tidak tahu mengapa Bunda meminta Caca ke rumah ". Arsya juga memiliki pertanyaan yang sama.
Dewa kemudian berpikir mengenai yang ia lihat pagi tadi.
flashback 4 jam yang lalu……
Dewa berjalan sambil mengedarkan pandangannya berharap menangkap sosok Caca. Ia memasuki area loby fakultas dan menghadap ke arah taman, ia melihat Caca membaca buku dan Ronal yang berjalan menghampirinya.
"Dia siapa? ". Dewa bertanya pada dirinya sendiri.
Dewa melihat seseorang sedang memotret Caca tidak jauh dari posisi Caca dan Ronal, tetapi nampak menyembunyikan keberadaannya.
Dewa berniat menghampirinya, saat berjalan mendekat ke arah orang misterius itu, orang itu menyadari kehadiran Dewa menyebabkan orang misterius itu berlari masuk ke dalam mobil dan pergi.
Dewa dengan pasrah melihat Mobil itu pergi. "Yah, kenapa aku gak lihat nomor platnya sih, goblok". Dewa memaki kebodohannya sendiri.
Dewa berbalik ke arah Caca, ia melihat Caca dan Ronal berjalan bersama, tak jauh dari sana ia melihat Aprilia dan Arya. Ia memutuskan untuk tidak menghampiri Caca apalagi memberi tahu mengenai apa yang ia lihat.
flashback off………
Dewa berpikir haruskah ia memberitahu Arsya atau tidak, kemudian terlintas di pikirannya untuk memberi tahu Tuan Arthur secara langsung, ini juga akan berdampak baik untuk keluarganya.
"Kau memikirkan apa? ". Tanya Arsya.
" Ah, aku berpikir apakah hal yang selama ini Caca alami kita beritahukan pada Tuan Arthur". Dewa tidak menyebutkan mengenai apa yang ia lihat.
"Humm, sepertinya akan ada sedikit kekacauan, kau tahu kan biang dari apa yang di alami Caca". Arsya.
" Aqifa". Dewa.
__ADS_1
"Pas sekali, kau tahu kedua perusahaan itu bagaimana". Arsya.
" Ah iya benar, PB Group pernah berselisih dengan Tuan Arthur". Dewa.
"Ya sudahlah, ayo masuk". Dewa.
Mereka berdua masuk ruang perkuliahan, Arsya melihat ke arah Aqifa dan saat Aqifa menoleh mereka berdua saling tatap.
Aqifa melihat Arsya yang menatapnya seperti itu merasa ada sesuatu. " Apa yang dia pikirkan, dia tampak gelisah". Pikir Aqifa.
Arsya terus memikirkan Dewa, bagaimana jika dia tetap memberi tahu Tuan Arthur, Aqifa bisa dalam masalah.
***
Sore hari, rumah Arsya.
"Halo Tante". Caca.
" What? ". Ibu Maya.
" Ah, bunda". Caca tersenyum karena merasa lucu dengan pandangan Ibu Maya.
"Ayo masuk". Ibu Maya mempersilahkan 2 tamu cantik itu masuk.
" Bibi tolong hidangkan makanan, kalian belum makan kan? ". Ibu Maya.
" Tadi sih mau mampir makan, tapi Arsya bunda udah masak". Jawab Aprilia.
"Ya sudah, kita ke meja makan". Ibu maya.
Mereka kemudian beralih ke meja makan, sedangkan Ibu Maya menetap di ruang keluarga dan mengirim pesan pada Tuan Arthur .
kemudian Ibu Maya bergabung ke meja makan, mereka makan bersama sambil berbincang-bincang tentang hal-hal kecil.
Selesai makan bersama, mereka kembali ke ruang keluarga, sambil makan cemilan dan bercerita banyak hal, hingga saat seorang pelayan mendekat .
"Nyonya, ada tamu".
" suruh masuk saja". Jawab Ibu Maya.
Muncullah sepasang suami istri dan mendekat ke arah mereka.
"Tuan Arthur, Selena". Ibu Maya.
" Arthur, berapa kali ku katakan, kau bukan orang lain". Tuan Arthur.
"Benar, kau terlalu formal". Nyonya Selena menepuk tangan Ibu Maya.
" Haha, ayo duduk". Ibu Maya. "Caca, Aprilia perkenalkan ini Tuan Arthur dan istrinya Nyonya Selena, mereka teman Bunda dari Kota A, mereka kebetulan berada di kota ini sekalian mengunjungi Bunda". Ibu Maya memperkenalkan mereka berdua.
" Halo Om, Tante". Aprilia hanya membungkuk badannya, berbeda dengan Caca yang mencium tangan Tuan Arthur dan Nyonya Selena.
"Ah maaf, kebiasaan sama ibu dan ayah, suka cium tangan ". Jawab Caca canggung.
Tuan Arthur berusaha mengendalikan perasaannya, ia melihat Nyonya Selena yang matanya sudah memerah.
" Tidak apa-apa". Tuan Arthur.
__ADS_1
"Apa ini, keterlaluan jika dia bukan putriku, aku seperti melihat bayanganku". Pikir Nyonya Selena.
" Wah bagai pinang di belah 2". Pikir Arsya. klh
Mereka kemudian berbincang, saling menanyai banyak hal, hingga akhirnya Nyonya Selena memberanikan diri bertanya pada Caca.
"Kau dari kota mana? ". Nyonya Selena.
" Kota x tante". Caca.
"Ibu dan ayahmu? ". Nyonya Selena lagi.
" Ah ibu dan ayah memiliki kebun sayur jadi mereka tidak ikut kemari, karena harus menjaganya,dan karena banyak yang memesan sayuran pada ayah, jadi dia tidak bisa meninggalkannya". Jawab Caca.
"Begitu yah". Nyonya Selena membayangkan bagaimana anaknya harus membantu orang yang ia panggil ibu dan ayah itu. Apa dia harus panas-panasan untuk mencukupi kebutuhannya.
" Apa kau mengalami kesulitan? ". Tanya Tuan Arthur.
" Ya? ". Caca sedikit bingung dengan pertanyaan Tuan Arthur, semua orang pun terdiam.
" Ah, maksud saya mungkin kau mengalami sedikit masalah saat sekolah atau apa". Tuan Arthur.
"Ah, aku baik-baik saja, selama sekolah juga tidak ada hal aneh". Berat rasanya Caca mengatakan hal itu, bukan karena kondisi keluarga yang pas-pasan tetapi karena kejadian di tahun terakhirnya saat SMK. " Kebutuhanku selalu tercukupi, adik-adikku juga begitu".
"Kau punya adik? ". Tanya Tuan Arthur
" Iya, aku punya 4 adik". Jawab Caca.
"Selain kebun sayur, usaha apa yang di jalankan orang tuamu? ". Nyonya Selena semakin memikirkan kesulitan hidup anaknya.
" Ah, ibu pandai masak, dia sering di undang untuk masak di berbagai tempat". Jawab Caca.
"Wah berarti Caca juga pandai dong". Ibu Maya.
" Yah, lumayan, keahlian ibu menurun padaku". Jawab Caca.
"Boleh sesekali kita belanja dan masak bersama? ". Tanya Nyonya Selena.
" Ah, boleh tante". Jawab Caca.
Caca duduk berbincang dengan Ibu Maya, mengobrol tentang masak-memasak. Sesekali Nyonya Selena masuk, mengajak shopping bersama, tapi Caca memiliki kebiasaan hemat, jadi dia menolak dengan sopan ajakan itu.
"Kalai makin di lihat gini, makin mirip yah". Aprilia.
" Maksud kamu? ". Tanya Arsya.
" Lihat deh, wajahnya mirip banget, Ca hmp". Aprilia hendak memanggik Caca tapi di bekap oleh Arsya.
"Kau mau apa? ". Tanya Arsya.
" Yah aku penasaran, mungkin ajakan ada hubungan keluarga ". Jawab Aprilia.
" Ilia, jangan gitu dong emang kamu gak tau yah, mereka berdua ini pernah kehilangan putri nya ". Arsya.
" Oh begitu yah,sorry gak tahu". Jawab Aprilia, tapi pemahaman Aprilia soal perkataan Arsya adalah putri Tuan Arthur dan Nyonya Selena telah meninggal dunia, dan anak itu seumuran mereka.
bersambung…………………
__ADS_1
...****************...
...----------------...