Pertemanan Atau Permusuhan

Pertemanan Atau Permusuhan
Andini dan Derik


__ADS_3

Tuan Arthur terus memikirkan apa alasan saudara sepupunya berambisi memiliki perusahaan nya, ia kemudian teringat dengan perkataan Damar yang tak lain adalah ayah Denis dan Danar. Benar juga pikirnya, Damar pernah mengingatkannya saat Sepupunya memasuki perusahaan 10 tahun lalu.


"Sepertinya apa yang di katakan ayah kalian sudah terjadi". Tuan Arthur.


Denis dan Danar menatap bingung meminta penjelasan dari Tuan Arthur. " Damar pernah mengatakan padaku untuk berhati-hati dan tidak terlalu mempercayai sepupuku itu, sepertinya kecurigaannya terjadi sekarang". Ucap Tuan Arthur.


"Apa tindakan ada selanjutnya, melihat kondisi perusahaan dari rapat kemarin, saya dapat menyimpulkan mereka sudah mulai menjalankan rencana hal itu di dukung dengan desas desus Tuan Arfa akan menduduki posisi direktur utama". Jelas Danar.


" Siapa yang menyebarkan rumor itu, kenapa mereka bisa mengetahui hal ini, kita hanya membicarakannya di ruanganku saat itu dan lagipula………". Perkataan Tuan Arthur menggantung.


"Ada apa Tuan? ". Tanya Danar.


" Perintahkan seseorang untuk mengintrogasi OB yang berjaga di pantri". Pinta Tuan Arthur.


"Ada apa Tuan, kenapa tiba-tiba menginterogasi OB? ". Danar dan Denis bingung.


" Hari itu, OB mengantarkan minum ke ruangan ku, disiplin kan mereka".


"Baik Tuan, saya akan memastikan kedepannya mereka akan benar-benar "buta dan tuli", ". Danar.


Mereka kemudian membahas rencana yang akan mereka lakukan kedepannya, bagaimana mengatasi prem dan saudara sepupu dari Tuan Arthur.


dreg…dreg


Tuan Arthur melihat istrinya yang menelpon.


" Oh ya ampun, kita lupa mereka sudah menunggu kita sedari tadi, ayo kita sarapan dulu, nanti kita lanjutkan lagi, Denis! ". Tuan Arthur memanggil Denis, memastikan dia sudah benar-benar tenang.

__ADS_1


" Baik Tuan". Denis mengerti maksud Tuannya, dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan. "Aku tidak akan gegabah, aku tidak boleh mempersulit Tuan Arthur". Denis kemudian menepuk bahu Danar dan berjalan beriringan di belakang Tuan Arthur.


Nyonya Selena duduk dengan wajah kesal, makanan yang mereka pesan sedari tadu sampai dan mereka belum muncul juga, ia bukannya lapar, ia hanya jengah terus menunggu seperti ini.


"Maaf ma, papa lupa tadi". Tuan Arthur pelan-pelan mendekati istrinya.


Arfa melirik papanya dan menertawai nya karena di cuekkan oleh sang Mama, " Ayo kita sarapan ma". Tuan Arthur.


"Sarapan? kah cek sekarang jam berapa, ini sudah mau jam 11 pa, sejam lagi udah masuk makan siang". Nyonya Selena geram dengan suaminya. " Hah aku lupa kalau suami adalah Arthur yang begitu gila dengan pekerjaan ". Tuan Arthur hanya diam, tidak berani menanggapi istrinya. Mereka kemudian makan bersama meskipun sesekali Tuan Arthur mengajak Nyonya Selena berbicara tetapi tidak di gubris.


***


Derik berjalan ke arah ruang kuliah Andini, ia di minta Andini untuk datang menemuinya seusai kuliah.


Andini duduk sambil menunggu Derik,ia ingin hari ini jalan-jalan, semua temannya tidak ada yang mau menemani, hanya Derik yang bersedia.


"Oh kau sudah datang, ayo kita ke apartemen ku dulu, aku lupa bawa dompet". Andini.


" Baiklah".


mereka berdua berjalan ke arah mobil Derik, dan segera melaju ke apartemen Andini.


Tak berselang lama, Andini sampai di apartemennya, Mereka berdua berdiri di depan lift tapi pintu lift tak kunjung terbuka.


"Maaf Nona liftnya sedang bermasalah, nona bisa lewat tangga darurat dulu untuk sementara". Jelas petugas keamanan dengan beberapa orang di belakangnya yang akan mengecek lift.


" Hal sial banget".Andini.

__ADS_1


"Ya sudah ayo! ". Derik menarik Andini tidak ingin berlama-lama di sana.


Mereka berdua menaiki tangga, Apartemen Andini berada di lantai 16,awalnya mereka biasa saja hingga lama kelamaan Andini mulai capek, Derik tidak tega melihatnya dan memutuskan untuk istirahat, padahal tinggal 2 lantai lagi mereka sampai. Andini mengibaskan rambutnya, ia merasa gerah, keringatnya bercucuran, tetapi bau wangi tubuhnya masih tetap harum dan kini itu menusuk-nusuk hidung Derik. Derik melirik Andini, memperhatikan leher jenjang dan putih itu, keringat yang sedikit bercucuran terlebih saat Andini mengangkat rambutnya ke atas, semakin memperlihatkan leher indah nya. Derik hanya menelan salivanya. "Aku ingin merasakan nya, apa boleh aku meninggalkan tanda di leher itu". Pikir Derik.


" Ayo pergi". Andini berdiri mengajak Derik untuk kembali menaiki tangga, saat Andini sudah berdiri, ia tidak memperhatikan anak tangga yang ia injak hanya di ujungnya membuatnya hampir terjatuh, Derik dengan sigap menahannya dan membawanya kepelukannya.


Andini sedikit terkejut, Andini buru-buru ingin bangun dari pelukan Derik, ia menarik baju Derik, tanpa di sangka kancing-kancingnya lepas dan memperlihatkan dada bidang Derik dan semakin ke bawah roti sobeknya semakin jelas, mata Andini tidak dapat teralihkan, ia begitu tertarik dengan dada bidang itu, dan pinggang yang terlihat begitu kuat. "Apa mungkin pinggang itu kuat". Tanpa sadar Andini mengucapkannya.


Derik terbelalak mendengar hal itu, pikirannya ke mana-mana dan tanpa sadar benda tumpul di bawahnya mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


Andini yang masih berada di pelukan Derik merasakan ada sesuatu yang menonjol di bawah. Mereka saling tatap, Derik tidak tahan dan ingin mengutarakan niatnya. Andini seolah mengerti maksud dari tatapan panas Derik, ia melingkarkan tangannya di leher Derik dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Derik. Melihat hal itu, Derik buru-buru menggendong Andini dan menaiki anak tangga seolah itu jalan lurus.


Sampai di depan Apartemen Andini.


"Password nya ? ". Derik dengan suara serak.


Andini menyebutkan password apartemen nya, mereka memasuki apartemen itu, Derik meletakkan Andini di sofa, saat itulah terjadi ciuman panas antar keduanya. Andini merasa ketagihan dengan ******* Derik yang lembut.


Derik tiba-tiba melepasnya. " Kenapa? " Tanya Andini. "Pintunya belum di kunci, matikan ponselmu aku tidak ingin ada yang mengganggu". Derik pergi mengunci pintu dan Andini mematikan ponselnya.


Saat kembali mereka melanjutkan ciuman panas itu. " Kita ke kamar". Derik dan di terima anggukan okeh Andini.


Derik menggendong nya lagi dan membaringkan nya di kamar, Andini nampak malu-malu saat Derik melepaskan kemejanya yang sebenarnya sedari tadi sudah hampir lepas. Derik kemudian naik menyusul Andini dan ******* bibirnya dengan lembut. Perlahan-lahan Derik mengangkat baju Andini berniat melepasnya karena ia kesulitan memasukkan tangannya. Andini melepas ciumannya, Derik mengira Andini menolaknya, ternyata Andini hanya membantunya melepas pakaiannya, hingga tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Derik merasa sangat panas melihat Andini yang seperti itu, ia mengekang Andini di bawahnya dan kembali ******* bibir wanita itu serta tak lupa tangannya bermain-main di 2 benda bulat kenyal dan berisi milik Andini.


Saat Derik bersiap untuk melepaskan celananya tiba-tiba ada yang menekan bel pintu. Mereka berdua kaget, dan segera turun dari ranjang.


"Tetaplah disini". Andini menarik baju handuk nya, dan keluar dari kamar.

__ADS_1


" Sial, pengganggu". Derik kesal karena ia harus menahannya sebentar lagi.


__ADS_2