Pertemuan Yang Tak Terduga

Pertemuan Yang Tak Terduga
Bab 22


__ADS_3

Setelah selesai makan dita pun pergi ke kampus menaiki ojek online.


Sesampainya dita di kampus, dita pun berjalan menuju ruangannya. Namun, saat melewati Ruang Perpustakaan tiba-tiba....


Bukkk...


Vano berlari terburu-buru dari dalam ruangan dan menabrak dita yang sedang melewati Ruang Perpus.


Dita terhuyung hampir terjatuh, jika saja vano tak dengan sigap menarik dita mungkin dita jatuh terguling ke tangga yang ada di depan ruang perpus.


"Huhh...Hampir saja'' lega vano.


"Kamu lagi..." ucap vano setelah melihat wajah orang yang di tabraknya.


"Aww...Shhh..." Ringis dita melepaskan tangan vano di lengannya.


"Maaf... Aku gak sengaja'' Ucap vano setelah baru tersadar jika ia memegang lengan dita dengan cukup kuat.


"Iya gak apa-apa'' Sahut dita dan ingin berjalan meninggalkan vano.


"Tunggu..." Vano menarik tangan kiri dita.


"Itu tangan kamu kenapa??" Tanya vano setelah melihat tangan sebelah kanan dita terus meneteskan darah dari dalam baju yang dita kenakan.


Dita melihat kearah tangan kanannya lalu melihat kebawah dan benar tetesan darah sudah berjatuhan di lantai.


"Oh...ini gak apa-apa..'' jawab dita dengan tenangnya.


''gak apa-apa gimana...'' Vano pun mendekat dan dengan gerakan cepat vano membuka jas yang di kenakan dita.


''ini kenapa?...Ayo ikut aku..." setelah melihat lengan bagian atas dita di perban dan masih mengeluarkan darah, tanpa menunggu jawaban dari dita vano langsung menarik dita untuk ikut bersamanya.


Sesampainya mereka di poliklinik yang ada di kampus, vano terlebih dahulu menyuruh dita untuk duduk di atas brankar.


"Kenapa ini...?" Tanya dokter Anton. Laki-laki paruh baya yang baru saja datang dan berjalan mendekati vano dan dita.


'' Ini dok... Luka di lengannya mengeluarkan darah" jawab vano.


"Mengapa bisa begini..?'' Tanya dokter Anton lagi setelah membuka perban yang melilit di lengan dita.


"Mungkin karena tadi dia hampir terjatuh, dan saya narik tanganya terlalu kuat dok..." jelas vano.


"Oh...Boleh saya tahu siapa nama anda?'' Tanya dokter anton pada dita.


" Nama saya dita dok..." jawab dita.

__ADS_1


"Nak dita... ini luka terkena apa ya?'' Tanya dokter anton lagi.


" semalem saya terjatuh dari motor dan lengan saya terkena ranting pohon yang tergeletak dipinggir jalan dan beginilah jadinya lengan saya dok..." bohong dita.


"bener ini terkena ranting pohon?? Atau terkena yang lainnya...?" Tanya dokter anton kurang yakin dengan pernyataan dita.


"bener dok...semalem emang ujung rantingnya cukup tajam... jadi lengan saya seperti ini..." Bohong dita lagi meyakinnya sang dokter.


"Ya sudahlah... kalau memang seperti itu...nanti saya akan kasih kamu resep obat agar luka kamu cepat sembuh..." Ucap dokter anton setelah selesai memerban lengan dita kembali dengan perban yang baru.


"Iya dok..." Dita mengangguk dan berdiri dari duduknya ingin mengikuti dokter anton ke ruangannya.


'' Kamu tunggu disini aja... biar aku yang ngambil resepnya.. " Ucap vano pada dita dan berjalan ke ruangan dokter anton yang juga berada di dalam ruangan itu.


" Mengapa dokter kelihatannya kurang yakin dengan perkataan dita?.'' tanya vano yang sedari tadi penasaran dengan dokter anton.


"Ya... ntah mengapa saya kurang yakin kalau itu terkena ranting pohon...'' jawab dokter Anton.


'' Tetapi jika nak dita berkata itu terkena ranting... ya mungkin itu memang benar terkena ranting...'' Lanjut Dokter Anton lagi membuat vano semakin penasaran.


"Ini Resepnya..." Dokter anton memberikan resep obat dita pada vano.


"Terimakasih dok..." ucap vano dan pamit pergi setelah menerima resep obat dita.


" Udah... ayo keluar..." Ajak vano pada dita yang masih duduk di brankar.


" Gak usah... Aku bisa jalan sendiri.'' Dita melepaskan genggaman tangan vano.


'' Bukannya tadi kamu yang minta di pegangin....'' Heran vano.


" Siapa yang minta di pegangin...Aku itu mau minta resep obat aku..." Dita memutar bola mata malas.


" Ohhh... Kalau itu nanti aku kasih" Ucap vano dan berjalan mendahului dita.


"Nanti... Kapan..." Dita berjalan di samping vano.


"Nanti pokoknya nanti...'' Sahut vano dan tetap terus berjalan tanpa melihat kearah dita yang sudah mulai kesal padanya.


"Ahh... Terserahlah... '' Dita malas berdebat dan berjalan cepat meninggalkan vano dibelakang.


" Dasar cewek aneh...'' ucap vano melihat dita yang sudah berjalan cukup jauh meninggalkannya.


Vano pun berjalan kearah parkiran dan masuk kedalam mobilnya tak lama mobil pun melaju pergi.


tokkk...tokkk....

__ADS_1


Dita mengetuk pintu Ruang kelasnya.


" Pagi buk...'' Dita tersenyum sambil menundukkan kepalanya pada dosen yang tengah memberikan tugas pada teman-temannya.


'' cepet masuk... lain kali jangan terlambat lagi..." Ucap linda sang dosen.


''iya buk... gak akan...'' dita pun berjalan dengan langkah cepat ke kursinya.


''Dit... darimana aja lu..." Bisik vani dari belakang sedikit menendang kaki kursi yang diduduki dita.


''Nanti gue ceritain...'' Bisik dita lagi yang duduk didepan vani.


* *


Tugas yang diberikan buk linda pun selesai. kini vani dan dita tengah duduk di kantin sambil menunggu makanan mereka datang.


'' Lo kok bisa lama amat , pasti lo nungguin angkot truss kejebak macet. Astaga ngapain sih lo naik angkot,, kenapa lo gak bawa mobil lo aja sih..." Ucap vani tanpa Jeda iklan.


''Astaga van... Lu kalau ngomong....'' Dita menggelengkan kepala mendengar celotehan vani.


'' Jadi tadi gue itu jam 07.30 tu udah nyampek sini. Tapi ada sedikit masalah jadi gue telat masuk kelasnya.'' Jelas dita.


'' Masalah... Lo punya masalah apa... ceritain ke gue...'' Tanya vani memasang raut wajah seriusnya.


''Jadi......''' Ucap dita terpotong.


''Nih... buat kamu...'' Vano Menaruh paperbag kecil di atas meja depan dita.


''Berapa..?'' Tanya dita pada vano setelah membaca nama sebuah apotek di paperbag itu. Tentu saja dita sudah tau apa isinya.


''Itu Emang sengaja aku beliin buat kamu...Jadi gak usah pikirin harga.'' Jawab vano.


''Tapi aku gak mau berhutang budi.''Ucap dita lagi.


'' Aku beliin kamu itu juga karena aku mau tanggung jawab soal yang tadi...'' Sahut vano.


'' Oh jadi gitu... yaudah aku terima...


Makasih udah mau beliin'' Dita pun menerima obat yang diberikan vano karena ia juga baru berfikir kalau gak ada salahnya jika vano berniat untuk tanggung jawab karena tadi juga memang salah vano juga.


'' Ehh... Tunggu...Tunggu... Bertanggungjawab... Tanggung jawab apa? Apa jangan-jangan tadi lo di apa apain sama kak vano , truss ini obat apa... Obat kontrasepsi.?'' Ucap vani tanpa mendengar penjelasan dari dita dulu.


''Vani...'' Dita memukul pundak vani. ''Suara lo bisa di kecilin dikit gak..'' Ucap dita.


'' Jadi bener lo di apa apain sama kak Vano...'' Tanya vani lagi menatap vano dan beralih menatap dita.

__ADS_1


Bersambung


Haii Readers... makasih udah mau baca "Pertemuan Yang Tak Terduga"πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


__ADS_2