
Jika kedua orang tua Dita tak ada dirumah, dengan bik ijah lah Dita selalu berpamitan. Bik ijah sudah seperti ibu kedua bagi Dita. Dulu di saat-saat kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor bik ijah lah yang selalu mengurus dan menyiapkan semua kebutuhan Dita.
"Oke bik... Siap deh. " Ucap dita dan mengangkat piringnya ke wastafel.
Setelah dita menyelesaikan makan malamnya dita pun masuk kedalam kamarnya untuk mengganti piyama yang tadi sudah ia pakai dengan baju dengan gaya casualnya.
Dita menatap pantulan dirinya di cermin.
"Hmm Selesai.. yuk kita dolan. " Ucap Dita pada diri sendiri dan mengambil kunci motornya yang ada di laci.
semalam saat pulang dari markas white tiger, dita sekalian membawa motornya yang tersimpan rapih di garasi markas. Jadi saat kedua orang tua dita tak ada di rumah, dita punya kesempatan untuk membawa motor kesayangannya itu kemanapun ia pergi. Jika saja kedua orang tuanya ada dirumah, sudah pasti dita dilarang menaiki motor.
Dita pun menjalankan motornya menyusuri jalanan yang tak begitu terlalu padat pada saat malam hari itu. Menikmati dinginnya angin malam yang menerpa wajahnya.
Saat melewati mini market Dita pun mampir untuk sekedar membeli coffee dingin. Setelah dita membayar di kasir, dita pun keluar dan duduk sambil menikmati kopinya di kursi yang sudah tersedia di halaman depan minimarket.
Saat tengah santai meminum kopi dinginnya, dita melihat seseorang yang sangat ia kenal baru keluar dari sebuah cafe yang terkelang hanya dua ruko dari minimarket, jadi dita sangat jelas melihat wajah seorang laki-laki yang baru keluar dari cafe itu.
"Ckkk Cowok nyebelin.. Merusak pandanganku aja deh." gerutu dita memutar bola mata jengah.
Laki-laki yang baru dilihat dita ialah Vano. Siapa lagi cowok nyebelin bagi dita jika bukan vano.
Tak lama Setelah vano keluar, seseorang berpakaian serba hitam begitu juga dengan topi hitam dan masker hitam yang menutupi sebagian area wajahnya Juga keluar dari cafe dan berjalan yang jaraknya tak terlalu jauh di belakang vano. Seperti terkesan sedang membuntuti.
Dita pun menatap kepergian mobil vano dari tempat duduknya. Dan setelah mobil vano keluar dari area cafe, Orang yang berpakaian serba hitam tadi pun menyusul dibelakangnya dengan menaiki mobil Jeepnya.
__ADS_1
Awalnya dita tak mau tau, tapi sekarang ia mulai penasaran. Mengingat beberapa bulan lalu vano juga pernah di keroyok oleh beberapa preman.
"Hmm lagaknya mencurigakan. " Dita menyipitkan matanya dan bangkit dari duduknya bergegas menaiki motornya dan memakai helmnya.
Dita menjalankan motornya ke arah mobil vano berjalan. Dengan menyusuri jalanan mencari mobil vano.
"Kemana mobilnya... Si*l gue kehilangan jejak lagi. " Dita kehilangan jejak vano dan orang misterius tadi.
Dita pun mengurangi kecepatan motornya. Sambil melihat-lihat kesana kemari.
**
Disisi lain vano mengendarai mobilnya yang awalnya kecepatan sedang kini menjadi sangat kencang.
Vano ingin memastikan mobil jeep yang ada dibelakangnya sedang mengikutinya atau tidak. Dan kecurigaannya terbukti benar, karena kini mobil yang ada di belakang Vano malah ikut mengencangkan laju mobilnya, mengikuti arah mobil Vano berbelok.
Chiiiittttttt......
Vano menginjak rem mobilnya yang hampir saja menabrak mobil Jeep yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan menghalangi jalannya.
Kini sudah ada dua mobil jeep yang mengepung didepan dan belakang mobilnya.
"Si*l..." Vano memukul stir.
Tiga orang yang juga memakai masker dan topi pun keluar dari dalam mobil jeep yang ada di depannya dan satu orang keluar dari mobil jeep yang ada di belakang mobilnya.
Keempat orang itupun berjalan mendekati kaca mobil vano.
__ADS_1
"Woii sini Turun lo. " Ucap pria 1.
"Cepat turun kalau tidak kaca ini akan kami pecahkan." ucap pria 2 karena Vano tak kunjung keluar dari dalam mobilnya.
Setelah beberapa saat Vano pun keluar dari mobilnya.
"Kalian mau apa. Kalian jangan macam-macam jika kalian butuh duit akan aku berikan. " Ucap Vano.
"Diam kau. Kami hanya menginginkan kau mati. " Sahut pria 3. Dan mereka pun memulai perkelahian. Dengan empat lawan satu.
Setelah berapa saat Vano mulai kewalahan. Tenaganya mulai terkuras habis. Walaupun Vano memiliki kemampuan bela diri yang di atas rata-rata tapi tetap saja Vano hampir terkapar lemas karena yang di hadapinya empat orang sekaligus. Wajar saja kini Vano sudah terduduk lemas di tengah jalan.
"Pegangi dia. " Perintah pria 4.
Tiga orang itu pun mengangkat Vano dan memegangi tangan Vano.
Vano yang sudah babak belur dengan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya pun hanya pasrah.
Pria 4 itu pun mengarahkan pisau yang ia pegang ke perut vano.
Tapi tiba-tiba Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju ke arah mereka berlima. sontak saja perhatian pria 4 itu ter alihkan dan menunda kegiatannya yang akan menusukkan pisau ke perut vano.
Chiitttt.....
Motor itu Berhenti tepat di Samping
pria 4 yang tinggal 25 centi lagi Hampir mengenai tubuh pria itu.
__ADS_1
Bersambung....