
'' Ehh... Tunggu...Tunggu... Bertanggungjawab... Tanggung jawab apa? Apa jangan-jangan tadi lo di apa apain sama kak vano , truss ini obat apa... Obat kontrasepsi.?'' Ucap vani tanpa mendengar penjelasan dari dita dulu.
''Vani...'' Dita memukul pundak vani. ''Suara lo bisa di kecilin dikit gak..'' Ucap dita lagi.
'' Jadi bener lo di apa apain sama kak Vano...'' Tanya vani lagi menatap vano dan beralih menatap dita.
"Enggak van... Mending lo diem dulu biar gue jelasin..." ucap dita.
"Heyy Kamu... kamu jangan berfikiran yang Aneh-aneh... gak mungkin saya apa apain temen kamu itu..'' Ucap vano pada vani dengan wajah datar nya.
"ya... Sapa tau kan..." sahut vani.
"Ah sudahlah... kamu jelasin tu ke temen kamu yang LoLa (Loading Lama) itu..." Ucap vano melihat dita dan berlalu pergi dari hadapan vani dan dita.
''What... gue dibilang LoLa... ini ni yang gue gak suka dari dia... untung gue suka nya sama kak rendi.'' vani tak terima.
''Kalau di liat-liat kalian cocok jadi Abang adik... Vano dan Vani...'' Ledek dita dan menertawakan ekspresi tak suka dari vani.
"Gak Sudi gue punya abang kaya' dia...'' Vani memutar bola mata malas.
" Ya mungkin aja sewaktu masih kecil kalian terpisahkan..Terus kalian punya kalung Yang bertuliskan nama kalian masing-masing... dan kalian ditemukan oleh orang tua kalian yang sekarang." Ucap dita panjang lebar sambil tertawa cekikikan.
''Apaan sih dit... Kebanyakan Nonton Sinetron lo..." Vani pun jadi ikut tertawa membayangkan perkataan dita.
''udah udah.... kok kita jadi cerita itu sih... Cepet sekarang lo jelasin ke gue...'' Vani menyudahi tawa mereka dan mengingatkan dita akan niatnya yang mau menjelaskan.
''Jadi tadi gue tu lewat dari depan ruang perpustakaan terus kak Vano yang tiba-tiba keluar dari ruang Perpus nabrak gue... gue hampir jatuh terus kak Vano narik tangan gue dan karena kak Vano megang tangan gue terlalu kuat akhirnya luka ditangan gue ngeluarin darah lagi....'' Jelas dita belum selesai karena dipotong oleh vani.
''Luka..?? Tangan lo luka?? Mana yang mana??'' Vani memeriksa tangan kanan dan kiri dita.
''Aww... sakit dodol...'' dita memukul tangan vani yang tak sengaja menyentuh luka dita.
''ini tangan lo kenapa dit...'' Vani membuka sedikit jas yang dikenakan dita dan melihat lengannya yang di perban.
"Semalem gue jatuh dari motor terus tangan gue kegores ranting pohon yang ada di pinggir jalan.'' jawab dita.
''Pasti lo bawa motornya ngebut-ngebut kan... udah dibilangin jangan ngebut-ngebut lagi, ini masih aja lo lakuin...'' Ucap vani agak sedikit kesal dengan dita.
''Terus ini masih sakit gak?'' Tanya vani lagi.
" gak terlalu sih... karena tadi kak vano langsung bawa aku ke poliklinik jadi langsung di obatin sama dokternya.'' jawab dita.
''Jadi karna itu Lo tadi terlambat masuk...'' ucap vani dibalas anggukan oleh dita.
''Jadi ini obat luka lo... gue kira obat apaan...'' ucap vani lagi.
''Mikir lo Kejauhan...'' Ucap dita sambil meminum minumannya yang sedari tadi DiAcuhkan.
__ADS_1
" Heheh...'' Vani menunjukkan deretan giginya. "Eh... tapi yang beliin obat lo kok kak vano.?? Cie Cie...'' ledek vani.
''Tadi tu yang minta resep obat gue ke dokter itu dia... terus pas gue minta dia malah bilang Nanti...Nanti... yaudah deh gue tinggalin aja... Mending gue pergi ke kelas kita daripada debat sama dia...'' Jelas dita lagi.
Setelah semua mata kuliah selesai vani dan dita pun langsung pulang. Seperti biasa jika tidak diantar oleh vani dita selalu menaiki angkot dan juga Vani yang pulang dengan mobilnya.
Sampai saat ditengah perjalanannya menuju rumah,, vani seperti melihat seseorang yang ia kenal sedang berdiri di pinggir jalan sambil sibuk dengan ponselnya seperti menghubungi seseorang.
''Kak rendi...'' Panggil vani dari dalam mobil.
''eh...Vani...'' Rendi tersenyum.
'' Kak rendi lagi nunggu siapa?'' Tanya vani yang penasaran melihat rendi yang seperti menunggu seseorang.
''Sebenernya saya gak nunggu siapa-siapa... Saya cuma mau menghubungi montir bengkel tempat langganan saya... tapi gak diangkat-angkat.'' Jawab rendi.
''Emang mobil kakak kenapa??" Tanya vani lagi.
''Tuh... ban nya pecah...'' Rendi menunjuk bagian ban yang pecah.
'' Vani... Saya boleh gak minta tolong sama kamu?'' Tanya rendi.
''Boleh... Tolong Apa kak?'' Vani.
''Anterin saya ke Wira Company'' Jawab Rendi.
''Maaf Ngerepotin...'' Ucap rendi setelah masuk kedalam mobil vani.
''Gak apa-apa kok kak... Santai aja kalau sama aku..hehe'' sahut vani menunjukkan deretan gigi putihnya.
Di Perjalanan menuju WIRA Company rendi dan vani hanya terdiam belum ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.
''Van...''
''Kak...''
Ucap Rendi dan vani bersamaan.
''Kamu duluan'' Ucap rendi.
''kak rendi aja...'' Sahut vani.
''Kamu mau kemana?? Mau pulang kerumah atau...'' Tanya rendi menggantung kata-katanya.
''Aku mau pulang sih kak... dan kebetulan ngelewatin Wira Company.''Jawab dita sekilas melihat rendi dan kembali melihat kejalanan lagi.
''Oh... Yaudah tadi kamu mau ngomong apa??'' Tanya rendi mengingatkan vani.
__ADS_1
''Kak rendi mau ngapain ke Wira Company??'' Tanya vani.
''Saya ada urusan disana dan harus cepet sampai disana...untungnya ada kamu kalau enggak bisa-bisa....'' Jawab Rendi tergantung dan memijat keningnya.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di depan gedung WIRA Company. Rendy pun langsung turun dari mobil vani.
''Terimakasih Ya Van... Saya janji Hari minggu kamu saya traktirin apapun yang kamu mau...'' Ucap vano setelah keluar dari mobil vani.
''Ok deh kak...'' Sahut Vani dan kembali menutup jendela mobilnya setelah memastikan rendi masuk kedalam gedung.
''Seandainya aja kamu tau gimana aku senengnya bisa ketemu sama kamu lagi...'' Bibir vani sedikit tersenyum.
''My Hero...'' Lanjutnya dan kembali melanjutkan mobilnya meninggalkan gedung Wira Company.
*
Rendi berlari Sampai didepan pintu Ruang Rapat. Rendi melihat jam yang melekat di tangannya dan untungnya ia sampai tepat waktu.
Rendi Kedatangan tamu dari italia. Pengusaha yang terkenal sangat sukses no.3 di Italia yang ingin Memberi keputusan Atas tawaran kerja sama Antara WIRA Company dan MoonLight Company yang empat hari lalu rendi tawarkan saat Rendi mengunjunginya di Italia. Dan Sekarang kebetulan Ia berada di indonesia dan memutuskan untuk sekalian berkunjung ke Perusahaan Wira dan Memberikan keputusan tawaran kerja sama yang beberapa hari lalu sempat ia pertimbangkan.
''Salve signor Andrew e signor Carlos... scusa se ti ho fatto aspettare (Halo tuan Andrew dan Tuan Charles...Maaf membuat kalian menunggu.)'' Rendi Menjulurkan Tangannya.
"Va tutto bene Anche noi siamo appena arrivati(Tidak apa-apa kami juga baru datang.)'' Andrew dan Charles membalas uluran tangan rendi.
Walaupun WIRA Company belum Sah beralih ke rendi karena menunggu rendi menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, tetapi rendi sudah ikut Andil dalam segala urusan perusahaan.
Mereka berbincang-bincang dan rendi pun berusaha lebih meyakinkan Andrew lagi agar menerima tawarannya.
Setelah beberapa saat mereka Berbincang-bincang, Akhirnya Andrew pun menerima tawaran kerja sama dengan WIRA Company.
"Grazie... che il signor Andrew e il signor Charles arrivino sani e salvi a destinazione. (Terimakasih... semoga tuan Andrew dan Tuan Charles sampai ditempat tujuan dengan selamat.)" Rendi mengantarkan Andrew dan charles sampai didepan lobi.
"Bye...'' Rendi melambaikan tangannya pada Andrew dan charles Yang dibalas lambaian juga oleh mereka.
Setelah kepergian Andrew dan charles , Rendi pun kembali ke ruangannya.
''Allhamdulilah..."Lirih Rendi setelah berada di dalam lift.
"And Thanks Van..."' Batin Rendi dan tersenyum.
''Pak... Pak Rendi... Pintunya sudah terbuka" Ucap Marchell Asisten sang Ayah yang menemaninya pun menyadarkan rendi dari lamunannya.
''Hmmm....'' Rendi mengangguk dan keluar dari lift.
Bersambung
Haii Readers.... Terimakasih sudah mau baca 'Pertemuan Yang Tak Terduga'ππ»ππ»
__ADS_1
Saya mau bilang kalau Bagian 'VISUAL' sudah saya Revisi dan Visualnya Rendi,AL, dita dan Vani Sudah Saya gantiπ Semoga kalian suka.π