Pertemuan Yang Tak Terduga

Pertemuan Yang Tak Terduga
Bab 61


__ADS_3

    Penglihatan Vano sudah mulai berkabut dan buram. Setelah beberapa detik mata Vano mulai menutup tak sadarkan diri.


 "Vano... Kak Vano... Bangun kau harus bertahan. " Dita panik.


Walaupun Vano sudah menutup matanya tapi ia masih mendengar samar-samar seseorang memangil-manggil namanya.


  "Dit ayo kita bawa dia ke mobil." ucap jacky menghampiri dita.


Jacky dan dita pun mengangkat tubuh Vano ke dalam mobil dan langsung Membawa Vano ke rumah sakit terdekat.


 Sedangkan orang-orang white tiger yang lainnya Mengamankan empat pria misterius yang kini sudah tak sadarkan diri itu untuk dibawa ke markas white tiger untuk diberi pelajaran lagi dan di interogasi. Tiga orang di utus untuk membawa dua mobil milik para pria misterius dan motor dita ke markas dan satu orang membawa mobil vano mengikuti ke rumah sakit.


 Kini dita dan jacky sudah sampai di depan rumah sakit terbesar di jakarta. Beruntung Rumah sakit itu tak begitu jauh dari tempat kejadian dan jalanan pun tidak banyak kendaraan yang melintas.


 "Dokter... Suster... Cepat kesini. " Teriak jacky membuka pintu di samping dita yang kini tengah memangku kepala Vano sambil terus menekankan luka Vano yang masih terus mengeluarkan darah segar.


 Dua orang perawat pun datang dengan membawa brankar. Vano pun langsung di bawa ke ruang UGD.


 "Dit lo gak capek Begitu terus. " Jacky memijit keningnya pusing melihat dita yang berjalan kesana kemari seperti setrikaan di depan ruang UGD.


"Iss gue belum bisa tenang tau gak. " Sahut Vano.


 Tak lama dokter dan empat orang perawat pun keluar.


"Dok bagaimana keadaannya?" Tanya dita langsung.


"APakah anda keluarganya.? " tanya dokter muda Tampan yang bertagname Andra.


"Bukan saya temannya. " jawab dita.


"Kondisi pasien sekarang sedang kritis. Walaupun Luka tusuknya sudah teratasi karena tak mengenai organ penting tapi pasien sudah kehilangan banyak darah. Dan sekarang pasien harus segera di beri transfusi darah jika tidak takutnya kondisinya akan ngedrop lagi. Melihat kondisi tubuhnya sangat lemah. " Terang dokter Andra. Setelah tadi melihat wajah vano yang babak belur dan di tubuhnya ada beberapa luka lebam.

__ADS_1


 " Apa golongan darah nya dok? " Tanya dita semakin panik mendengar kondisi vano.


 " Golongan darahnya O+ dan golongan darah itu saat ini sedang kosong di rumah sakit ini dan rumah sakit terdekat disini pun Sedang kosong. Begitu juga di PMI. Walaupun ada, itu di RS yang Di Bandung dan tentunya pasti akan memakan waktu yang lama. Lebih baik cepat kalian hubungi keluarga pasien, atau Siapapun yang golongan darahnya O+ agar pasien cepat di tangani." Jelas dokter Andra Panjang lebar.


 "Saya Permisi dulu. Jika sudah ada pendonor nya panggil saya lagi. Lebih cepat lebih baik. " Ucap dokter itu lagi dan pergi meninggalkan dita dan jacky yang masih berdiri di ruang UGD.


 "Gimana dit kamu punya kontak orang tuanya gak? " Tanya jacky.


 "Enggak. " Dita menggelengkan kepalanya.


Dita bingung harus menghubungi siapa.


 Dengan Dita yang masih berfikir seorang perawat yang bertugas menjaga vano di dalam keluar dengan terburu-buru.


Tentu saja itu membuat Dita bingung sekaligus tambah panik. Takut terjadi sesuatu pada vano.


Tak berapa lama Dita berfikir tiba-tiba dokter Andra dan dua perawat berjalan terburu-buru masuk lagi ke dalam ruangan UGD yang mana masih ada vano didalamnya.


 Dita makin tambah panik. Melihat dokter Andra masuk.


 "Bagaimana Sudah ada Pendonor nya atau keluarganya sudah di hubungi? " tanya dokter Andra.


 "Belum dok. " Dita menggeleng lemas.


 "Astaga...kondisi Pasien sekarang semakin melemah dan harus cepat diberi di transfusi darah." Dokter Andra pun semakin dibuat bingung.


Dokter Andra pun berfikir untuk membuat Pengumuman di pusat informasi jika saja ada orang yang Bergolongan darah O+ segera datang ke ruangannya langsung. Siapa tahu diantara pengujung RS ada yang bergolongan darah O.


 Dokter Andra pun ingin beranjak pergi ke pusat informasi.


 "Dit bukannya golongan darah kamu O+? " Ucapan jacky seolah memberi jalan terang di kepala Dita dan dokter Andra yang hampir buntu memikirkan pendonor.

__ADS_1


 Jacky juga baru teringat moment 1 bulan yang lalu saat mereka menyumbangkan darah mereka ke PMI. Dari situlah jacky baru tahu jika golongan darah Dita O+.


 Dokter Andra pun membalikkan badanya melihat ke arah Dita dan jacky seolah menanyakan kejelasan lebih lanjut.


 "Iya dok golongan darah saya O+ juga." Sahut Dita yang baru teringat.


 Sangking paniknya Dita sampai lupa jika golongan darahnya juga sama dengan vano.


(Dita... Dita...🤦‍♀️🙄 DiMaklumin aja deh.)


 "Tenang dok saya dalam keadaan sehat dan darah saya juga sehat kok. Kebetulan Kemarin saya baru cek kesehatan." Ucap Dita seakan tau apa yang akan dokter Andra katakan.


 "Ya sudah, Sus Cepat persiapkan semua." Ucap dokter Andra pada seorang perawat yang bersamanya.


 "Baik dok" sahut perawat itu.


 Dokter Andra pun masuk kembali ke dalam ruangan.


" Kenapa gak dari tadi aja sih. " Batin dokter Andra menggelengkan kepalanya. Melihat seseorang yang lupa akan golongan darahnya sendiri.


*


 Kini Dita sudah berada di ruangan yang sama dengan vano. Dengan jarum yang menancap di sisi lengannya.


 Dita masih terus menatap darahnya yang mengalir ke kantung darah sambil melihat vano yang ada disampingnya.


Ia tak menyangka jika harus mendonorkan darahnya pada orang yang selama ini menjadi orang yang paling menyebalkan baginya.


 Tapi mau gimana pun Ia tak sukanya melihat vano yang menyebalkan jika sedang sehat. Yang Namanya juga sesama manusia harus saling tolong menolong.


 "Kasian juga gue liat lu yang sekarang. " lirih Dita tersenyum miring. Mengingat betapa menyebalkan vano jika mereka tak sengaja bertemu. Di bandingkan sekarang dengan kondisinya yang kini terbaring lemah di atas brankar sangat berbeda 190° dari biasanya. Entah kemana wajah angkuh yang selama ini ia tunjukkan pada Dita.

__ADS_1


 Dita masih Terus memandang wajah babak belur vano dan lama kelamaan mata Dita pun ikut terpejam.


Bersambung...


__ADS_2