Pertemuan Yang Tak Terduga

Pertemuan Yang Tak Terduga
Bab 62


__ADS_3

  Dita masih terus menatap darahnya yang mengalir ke kantung darah sambil melihat vano yang ada disampingnya.


Ia tak menyangka jika harus mendonorkan darahnya pada orang yang selama ini menjadi orang yang paling menyebalkan baginya.


Tapi mau gimana pun Ia tak sukanya melihat vano yang menyebalkan jika sedang sehat. Yang Namanya juga sesama manusia harus saling tolong menolong.


 "Kasian juga gue liat lu yang sekarang. " lirih Dita tersenyum miring. Mengingat betapa menyebalkan vano jika mereka tak sengaja bertemu. Di bandingkan sekarang dengan kondisinya yang kini terbaring lemah di atas brankar sangat berbeda 190° dari biasanya. Entah kemana wajah angkuh yang selama ini ia tunjukkan pada Dita.


 Dita masih Terus memandang wajah babak belur vano dan lama kelamaan mata Dita pun ikut terpejam.


*


 Setelah satu jam berlalu kondisi vano pun sudah stabil dan sudah dipindahkan diruang inap. Begitu juga dengan Dita yang kini masih membaringkan tubuhnya di atas brankar. Tubuh Dita sedikit masih agak lemas.


 "Dit ayo gua antar pulang. Liat keadaan lo. " Ucap jacky menunjuk ke baju putih Dita yang kini sudah berlumuran darah.


 Dita pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan bangkit dari posisi berbaring nya.


 Saat sudah sampai di lobi rumah sakit saat akan memberikan data pasien pada suster yang bertugas di pusat informasi Dita sedikit bingung karena ia tak begitu mengenal vano karena selama ini pun memang mereka tak terlalu dekat. Yang Dita tau hanya sekedar vano itu kakak tinggkatnya di kampus.


Dita teringat akan satu hal.


Rendi...


Dita menyimpan nomor ponsel Rendi.


 "Sus saya tidak terlalu mengenal pasien tapi saya punya nomor temannya yang bisa langsung memberitahukan pada wali pasien." ucap Dita.


Dita pun memberikan Nomor ponsel Rendi pada suster itu.


📞 "Hallo dengan pak Rendi? " ucap suster itu setelah tersambung.


📱"Ya saya sendiri. ini dengan siapa ya?"


📞 Apakah benar pak vano teman anda.?


📱 iya benar.

__ADS_1


📞Saya dari Rumah sakit Medika Indah ingin mengabarkan jika saat ini teman anda yang bernama Vano sedang dirawat di rumah sakit kami.


 📱"What...Serius..? " Kaget Rendi.


 📞 Benar pak dan saya harap anda cepat datang kesini bersama wali pasien. Agar melengkapi data pasien dan mengurus sisa administrasi nya.


 📱 Baik. Terimakasih.


 Sambungan pun terputus.


 "Bagaimana sus? " Tanya Dita setelah melihat suster itu mengakhiri sambungan telponnya.


 "Sudah mbak. Sebentar lagi mereka akan datang." Sahut suster itu.


"Oh Terimakasih ya sus. Saya pamit pulang dulu. Dan ini tolong berikan kunci mobil ini pada wali pasien jika sudah sampai dan bilang jika mobilnya ada di parkiran rumah sakit ini. " Ucap Dita memberikan kunci mobil Vano pada suster itu dan bergegas untuk pulang dengan diantar oleh jacky.


 Dita sedikit tenang meninggalkan Vano setelah mendengar jika keluarga nya akan segera datang.


 Setelah menempuh waktu 15 menit mereka pun sampai di rumah Dita.


 "Bye bang Jack hati-hati di jalan. " Dita melambaikan tangannya pada jacky.


 "Bye dit. Jangan lupa setelah ini langsung istirahat dan makan yang banyak. Biar tenaga lo cepet pulih. " Jacky mengingatkan.


 "Ok." Jawab Dita.


 Setelah memastikan mobil yang dibawa Jacky pergi, Dita pun masuk kedalam rumah.


Melihat keadaan rumah yang sudah gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tentu saja kini bik ijah sudah istirahat di kamarnya.


 Sesampainya di kamar Dita langsung membersihkan diri dan istirahat.


 * * *


 Lima hari berlalu...


Lima hari sudah Vano dirawat di Rumah sakit. Kini Keadaan Vano sudah membaik dan sudah di izinkan untuk dibawa pulang.

__ADS_1


 Di dalam kamar Vano kini Sudah ada


Papa Vano dan dua sahabatnya. Aldi dan Rendi.


" Jadi Siapa yang sudah menolong mu. " Tanya wiharto sang papa penasaran setelah beberapa hari menahan diri agar tidak bertanya apa-apa dulu pada anaknya. Karena melihat kondisi Vano, papanya tak tega harus terus bertanya-tanya.


 "Vano juga gak tau pa. Dia pake helm jadi Vano gak bisa liat wajahnya. Yang Vano tau hanya dia seorang wanita dan memiliki kalung nama yang bertuliskan 'Felycia' dan Vano yakini namanya Felycia. " Vano kembali mengingat-ingat kejadian lima hari lalu.


 "Oh ya Al Lo ingat gak orang yang dulu pernah nolongin kita juga. Yang bawa motor Ducati v4r Hitam.? " Vano mengingatkan Aldi.


 "Iya gua ingat. " Jawab aldi.


 "Dia orang yang nolongin gua juga. " ucap Vano.


 "Lo serius van.? " Aldi tak percaya.


"Serius lah. Gua masih inget banget motornya dan keahlian dia dalam bertarung. Sangat Unik dan keren. " Vano mengingat kembali gaya bertarung orang yang menolongnya.


"Wihh Lo sangat beruntung van di tolong oleh orang yang sama. " Timpal Rendi.


"Eh Sepertinya orang itu kenal sama gua. Gua sempet dengar dia nyebut-nyebut nama gua." Ucap Vano lagi teringat.


 "Yang bener lo. " sahut Rendi.


"Bisa saja orang itu orang sekitaran lo. Coba lo ingat-ingat lagi. Cewek-cewek terdekat lo yang jago berantem." Ucap aldi.


Vano mengingat-ingat siapa saja orang terdekat wanitanya yang jago bela diri.


 "Setau gua sih gak ada.Mungkin Fans gua. " Vano Capek memikirkannya.


 " Papa curiga ini perbuatan Rizal" Wiharto teringat dengan saudara tirinya. Karena cuma dialah yang sangat tak menyukai kesuksesan wiharto.


 "Papa yakin? " Tanya Vano.


"Ntah mengapa papa sangat yakin kalau ini perbuatannya. " wiharto sangat yakin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2