
Ciiitttttttt
Vani mendadak mengerem mobilnya hingga mengeluarkan suara decitan kuat.
"Ahhh Astagfirullah Astagfirullah itu tadi siapa" Vani masih shok dan masih terduduk di kursi kemudinya.
Vani pun keluar dari mobilnya untuk memastikan seseorang yang hampir saja ia tabrak.
"Astaga buk ibuk bangun. " Vani menepuk-nepuk pipi seorang ibu ibu paruh baya yang kini tak sadarkan diri tepat depan mobilnya. Sayur sayuran dan beberapa buah buahan sudah berserakan karena terjatuh dari keranjang yang di pegang ibu-ibu itu.
"Buk ibuk. " Panik Vani dan menaruh Jari telunjuknya di dekat hidung ibu itu.
"nafasnya masih ada. " Vani sedikit lega karena masih merasakan hembusan nafas ibu itu.
Vani yang tak mau harus melalui kampusnya lagi dan pastinya perjalanan ke rumahnya pun pasti akan tambah jauh. Dan akhirnya Vani memotong jalan dari jalanan yang tak jauh dari pasar tradisional. Setiap Vani pulang dari rumah Dita, Vani sering memotong jalan dari jalanan itu karena jika lewat dari jalan itu Vani akan lebih cepat sampai kerumahnya.
Jalanan yang tak banyak dilalui kendaraan roda empat hanya beberapa saja dan pastinya tidak akan macet.
"Ada apa ini? Kamu menabrak ibu ini ya?" Ucap seorang bapak bapak yang baru saja datang bersama dengan beberapa orang lainnya.
"Bukan pak.Sepertinya ibu ini tadi mau menyebrang tetapi tiba-tiba ibu ini pingsan di depan mobil saya dan untungnya saya langsung mengerem mobil saya pak." Vani Menunjuk mobilnya yang masih berjarak satu meter setengah dari ibu itu pingsan.
" Ya sudah pak tolong bantu saya angkat ibu ini ke mobil saya. Saya yang akan bawa ibu ini ke rumah sakit. " Lanjut Vani dan dibalas anggukan oleh beberapa orang yang berkerumun di dekat mobilnya.
Setelah membaringkan ibu itu di kursi belakang, vani menutup kembali pintu mobilnya.
"Permisi bapak-bapak ibu-ibu saya pergi dulu. " Pamit Vani pada orang-orang yang masih berkerumun.
"Iya neng hati-hati. " Ucap orang-orang yang masih ada disitu.
" Iya Pak buk terimakasih. " Sahut Vani yang kini sudah duduk di kursi kemudinya.
Tinnn
Vani membunyikan klakson mobilnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Vani fokus menyetir mobilnya. Perasaan Vani pun tak tenang karena takut ibu yang dibawanya kenapa-napa.
Di tengah perjalanan Vani melihat sebuah puskesmas.
"Ke puskesmas aja kali ya." Vani pun memutar masuk.
"Suster.. tolong. " teriak Vani.
Dua orang perawat pun datang dengan membawa kursi roda.
Dua orang perawat itupun membawa ibu itu masuk ke dalam UGD dengan seorang dokter yang baru saja menyusul masuk.
Diluar ruangan Vani masih menunggu dengan perasaan yang tak karuan. Berjalan mondar-mandir dengan kedua tangannya ia lipat di depan dada.
"Duh Semoga ibu itu baik-baik saja." Ucap Vani masih dengan posisinya yang mondar-mandir seperti setrikaan.
"Mbak apa mbak tidak capek.? Sebaiknya mbak duduk dulu. " Ucap seorang bidan menunjuk kursi tunggu yang ada di belakang Vani berdiri.
"Eh iya Buk. Terimakasih. " sahut vani masih dengan raut wajah cemasnya.
"Iya mbak sama-sama." Bidan itu tersenyum ramah dan pergi meninggalkan Vani.
Vani yang melihat dokter itu keluar pun langsung berdiri dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan ibu itu dok.? Tidak ada hal yang serius kan dok?" Tanya Dita.
" Apakah Anda anak dari ibu yang ada di dalam? " Tanya sang dokter yang ber tag name Dr.Meta.
" Bukan dok. Tadi saya gak sengaja liat ibu itu tiba-tiba pingsan di depan mobil saya." Jawab Vani.
"Mari ikut saya sebentar. " Ucap dokter meta sambil berjalan masuk ke dalam ruangan khusus dokter yang tak jauh dari ruang UGD.
"Jadi bagaimana kondisi ibu yang tadi dok? " Tanya Vani ketika baru duduk di kursi yang ada di depan meja dokter.
"Tidak ada yang serius. Mungkin ibu itu tidak makan sedari pagi dan perutnya masih dalam keadaan kosong jadi mengakibatkan asam lambungnya naik dan terlalu menahan kan rasa sakitnya sampai ia pingsan. " Jelas dokter meta melihat hari yang sudah menjelang sore.
__ADS_1
"Jadi begitu dok. Tidak ada masalah yang lain kan dok.? " Tanya Vani lagi memastikan jika tak ada masalah kesehatan yang lain.
"Tidak ada kok. Ini saya akan meresepkan obatnya dan ibu itu juga sudah boleh dibawa pulang. " Jawab dokter sambil menuliskan resep obat yang harus ditebus vani.
"Baik dok terimakasih." Ucap Vani menerima kertas yang berisi resep obat.
"Saya permisi dulu dok. " Vani bangkit dari duduknya dan menyalami dokter Meta.
" Ya sama-sama. " Balas dokter meta.
Seusai keluar dari ruangan dokter meta Vani kembali keruangan tempat dimana ibu itu berada.
Disaat Vani Masuk berbarengan dengan seorang perawat yang baru selesai membuka jarum infus di punggung tangan ibu itu.
"Permisi." Ucap perawat itu ramah dan di balas senyuman manis dari Vani.
"Buk... ibuk udah sadar. " Ucap Vani ketika baru masuk dan di balas anggukan oleh ibu itu.
"Kamu siapa nak? " Tanya ibu itu.
"saya vani bu yang bawa ibu kesini. Tadi tiba-tiba ibu pingsan didepan mobil saya." Jelas Dita.
"Terimakasih ya nak. Pasti ibuk ngerepotin kamu ya.? " Ucap ibu itu tak enak.
"Enggak kok buk. Malah saya senang bisa membantu orang. " Sahut Vani.
"Oh iya panggil saya tante Risma saja. " ucap Bu Risma dengan senyuman Dibalas anggukan cepat oleh Vani.
"Kenapa wajah ibu ini gak asing yah. " Vani membatin dengan tetap memandangi wajah Risma.
"Eh iya tante. Kata dokter tante sudah boleh pulang." Vani teringan ucapan dokter meta.
"Iya nk." sahut ibu itu.
" Mari tante saya bantu. " Vani menggandeng tangan kanan bu Risma.
__ADS_1
Sesampainya didepan, Vani mendudukkan Risma di kursi tunggu yang ada di depan apotek.
<<<<<<<**∆**\>\>\>\>\>\>