
Pria 4 itu pun mengarahkan pisau yang ia pegang ke perut vano.
Tapi tiba-tiba Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju ke arah mereka berlima. sontak saja perhatian pria 4 itu ter alihkan dan menunda kegiatannya yang akan menusukkan pisau ke perut vano.
Chiitttt.....
Motor itu Berhenti tepat di Samping pria 4 yang hanya menyisahkah jarak tinggal 25 centi lagi Hampir mengenai tubuh pria itu.
Dengan sisa tenaga yang Vano miliki, Vano menendang tubuh pria yang ada didepannya itu dengan sekuatnya. Hingga kini pria itu tersungkur ke tanah.
"Kurang ajar. " ucap pria 2 dan 3 yang tengah memegangi kedua tangan Vano.
Perkelahian pun terjadi lagi diantara keenam orang itu. Vano sudah mengumpulkan kembali tenaganya. Walaupun kini kondisinya sudah tak karuan.
Vano jadi tambah bersemangat kala melihat orang yang dulu pernah menolongnya dan Aldi, kini datang untuk menolongnya lagi.
Ingatan Vano sangat tajam, mengingat orang yang datang dengan keadaan yang sama.motor yang sama, BK yang sama dan dengan stiker Harimau putih yang melekat di kap motornya. Dan tentunya Vano sudah tau kalau dulu yang awalnya yang ia kira seorang pria ternyata seorang wanita. Terbukti sekarang Orang yang datang menolongnya datang dengan pakaian casual seorang wanita dengan helm yang tetap ia pakai dan menutupi wajahnya.
Dan Wanita yang sama itu, siapa lagi kalau bukan dita.
Dita yang tadinya kehilangan jejak Vano, juga hampir kembali pulang ke rumahnya, tapi setelah mendengar keributan di jalan tikungan yang tak begitu jauh dari tempat Dita berhenti, Dita pun pergi melajukan kembali motornya ke sumber suara.
Setelah Dita hampir sampai, Dita dikejutkan dengan keadaan Vano yang tak berdaya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi pada saat Vano hampir saja di tusuk. Tentu saja Dita tak tinggal diam.
"Siapa kau? Jangan ikut campur dengan urusan kami. " Ucap pria 4 menodongkan Pisau pada Dita.
"Kau tak perlu tau siapa aku." Sahut Dita dan menendang tangan pria itu yang memegang pisau.
Pisau itu pun terjatuh.
"Wanita sepertimu tak cocok berkelahi. Mending Kau nanti ikut kami saja bersenang-senang di dalam kamar. bagaimana?dan bukalah helm mu itu, wajah cantik mu jangan kau tutupi. " Ucap pria 1.
Di balik helmnya Dita tersenyum miring mendengar perkataan yang meremehkannya.
__ADS_1
"Mimpi saja." Sahut Dita, kembali menendang dan memukul dua orang itu dengan cekatan. Tanpa memberi jeda pada kedua orang yang sedang ia hadapi.
Dalam sekejap kedua orang yang berhadapan dengan dita kini sudah terkapar tak berdaya.Ditambah lagi tadi dita sempat menyemprotkan Cairan lada dan cabai ke mata dua orang itu, sehingga dita lebih leluasa melumpuhkan dua orang itu.
Setelah urusannya pada dua orang itu, dita beralih menatap vano yang kini sudah mulai lemah.
Drettt....
Dretttt....
Dretttt....
Tiba-tiba ponsel dita berdering.
"Hallo bang jack. " sahut dita dengan nafas yang naik turun.
📱"Nape lu ngos-ngosan? " Heran jacky mendengar nada suara dita yang terkesan buru-buru.
"Lo lagi dimna? " tanya dita. tanpa menjawab pertanyaan jacky.
"Cepet ke jalan xx Gue lagi butuh bantuan lo. Cepet ini darurat." Mendengar jacky berada tak jauh dari tempat dita berada sekarang. Dita pun langsung menyuruh jacky untuk menyusul.
Dita langsung mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari jacky.
Mendengar suara dita yang panik, jacky dan beberapa orang white tiger yang bersamanya pun langsung mengarahkan mobil mereka ke jalan yang sudah dita beritahu.
* *
Dita menyimpan kembali ponselnya dan kembali menyusul vano.
"Vano Awas.. " Teriak Dita kala pria 3 mengarahkan pisau dari belakang vano.
Sontak vano menoleh kebelakang. Dan...
__ADS_1
Aaakkhh....
Perut bagian kanan vano tertusuk.
Bukk...
Dita langsung menendang pria yang menusuk vano hingga terjatuh berikut dengan pisau yang ia pegang.
Saat ingin menghadapi dua orang yang tersisah, dua mobil hitam datang mengalihkan perhatian mereka.
Jacky dan orang-orang white tiger yang ia bawa pun keluar dari dalam mobil.
"Bang Jack tangani mereka. " Ucap dita begitu jacky datang.
jacky dan yang lainnya pun menangani keempat pria misterius itu.
"Bertahan lah." Dita menaruh kepala vano di pahanya sebagai sanggahan dan menekan luka tusukan di perut vano dengan sapu tangan yang selalu ia bawa.
"Siapa kau? " tanya vano dengan nada suara yang sudah melemah.
"Siapa aku itu tak penting. Yang terpenting sekarang kamu bertahan. " sahut Dita masih menekan luka vano agar menghambat darahnya tak terlalu banyak keluar.
"Terimakasih ya. " Vano sempat berterimakasih pada Dita.
"Diamlah jangan banyak bicara. " titah Dita.
Tangan vano terangkat ingin membuka helm yang menutupi wajah dita. Tapi fokus vano malah dengan kalung yang menggantung di leher dita.
Kalung nama yang bertuliskan 'Felycia' dengan dihiasi berlian di pinggirannya. Sangat indah.
Penglihatan Vano sudah mulai berkabut dan buram. Setelah beberapa detik mata Vano mulai menutup tak sadarkan diri.
"Vano... Kak Vano... Bangun kau harus bertahan. " Dita panik.
__ADS_1
Walaupun Vano sudah menutup matanya tapi ia masih mendengar samar-samar seseorang memangil-manggil namanya.
Bersambung...