Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Cemberut


__ADS_3

Luna bangun pagi ini dengan rasa sakit kepala yang luar biasa dirasakan akibat menangis terlalu lama. Luna Pun bangun dari tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Luna melihat dirinya dari dalam cermin. dilihatnya tubuh tersebut dengan seksama.


"Aku tidak boleh terus-terusan menangis hanya karena b******* itu. Air mataku terlalu berharga hanya untuk menangisinya" gumam Luna pada dirinya sendiri.


"Aku harus membuktikan kepadanya, dia tidak bisa terus-terusan mengendalikan hidupku. aku harus menjadi wanita yang kuat untuk membuktikan bahwa dia tidak bisa menindas hidupku lagi" Luna berbicara pada dirinya sendiri. Luna berniat membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh Dewa adalah salah.


Setelah mengatakan hal untuk menyemangati dirinya sendiri, Luna pun segera merias wajahnya. Iya ingin di saat keluar dari kamar tersebut, terlihat sebagai orang yang bahagia. Luna segera mengoleskan make up ke wajahnya. Setelah itu mengambil sebuah baju yang terlihat sangat elegan. Luna berfikir jika sudah saatnya Dewa berhenti semaunya sendiri dan terus menginjak-injak harga dirinya.


" Aku harus bisa membela diriku sendiri supaya penderitaan ini cepat berakhir." gumam Luna sambil melihat dirinya di dalam cermin. Luna mengenakan sebuah dress berwarna biru laut yang dipadukan dengan sepatu high heels berwarna merah untuk membuat penampilannya terlihat sempurna. begitu Iya selesai melakukan semua rutinitas paginya, Luna segera keluar kamar.


Laluna berjalan dari kamarnya langsung menuju ke dapur. Luna mencari-cari bahan yang bisa ia gunakan untuk membuat sarapan pagi. Luna mencari sebuah bahan makanan yang terletak di atas lemari gantung di dalam dapur tersebut. Namun karena letak lemari gantung yang tertempel di dinding itu terlalu tinggi, Luna mencoba melompat-lompat untuk mengambilnya. Namun karena ia tak mampu menjangkau lemari tersebut, Luna pun menyerah dan ingin mencari ke tempat yang lain. namun di saat ia akan meninggalkan lemari gantung tersebut, sebuah bayangan tinggi terlihat mendekatinya. setelah itu mengambilkan apa yang ingin diambil Luna dan tidak bisa tadi. Bayangan tersebut terlihat mengambilkan tepung untuk Luna. Setelah Luna menoleh ke belakang, iya nelihat sosok Dewa yang tengah berdiri tepat di belakangnya. Penglihatan Luna tertutup oleh dada bidang Dewa yang tak tertutup sehelai benang pun. Ada tetesan keringat di sana. Luna bisa melihatnya dengan Jelas karena jarak mereka tidak lah jauh. Luna berfikir jika Dewa baru saja selesai olahraga.


"Ini... Dan berhentilah melompat-lompat di dapurku" Ucap Dewa menyerahkan tepung yang baru saja diambilnya dan memberikan kepada Luna. Dewa segera meninggalkan Luna yang masih tercengang dan nafasnya terasa tersengal. Hanya karena melihat keindahan tubuh Dewa. Luna pun tersadar kembali ke dunia nyata dan langsung membuat sarapannya.

__ADS_1


sebuah Sandwich dengan toping telur dan sosis telah selesai Luna buat. Iya segera duduk di meja makan yang berada di ruangan tersebut. namun pendengarannya tertuju pada Dewa yang sedang berbicara di telepon. tiba-tiba Luna teringat bahwa ia tidak membuatkan sarapan untuk Dewa.


" Duh aku nggak buatin sarapan lagi buat dia" gumam Luna sangat Lirih.


"Lagi pula ngapain aku buatin sarapan buat dia, yang ada itu malah jadi alasan dia terus menghina aku dan masakanku nanti. Lebih baik aku mencari aman saja daripada terus menyakiti diri sendiri. aku nggak peduli dia mau makan atau tidak" ucap Luna kembali.


"Di mana sarapanku? " saya Dewa dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


" saya nggak tahu kalau anda mau jadi saya tidak membuatkan anda" jawab Luna pelan. tiba-tiba saja terlintas di benak Luna menjawab pertanyaan Dewa dengan sadis. Luna berharap apa yang dikatakannya nanti akan membuat Dewa sakit hati.


"Aku tidak biaa membiarkan dia selalu menyakitiku. Aku harus bisa membela diriku sendiri. Gadis kecil dan polos yang dulu pernah di kenalnya di SMA sudah pergi. Sekarang aku benar-benar ingin berubah" Gumam Luna dalam hati. Dan di saat yang bersamaan, Luna mendengar sebuah langkah kaki yang mendekat. Luna telah mempersiapkan diri untum mengatakan apa yang harus iya katakan kepada Dewa nanti. Setelah menunggu, tak ada suara apapun. Dewa hanya melewatinya dan tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Ambil tas mu dan kita berangkat sekarang" Ucap Dewa. Luna yang sudah selesai memakan sandwichnya langsung berdiri dan mengikuti Dewa di belakanganya. Langkah kaki Dewa yang begitu lebar membuat Luna merasa kewalahan untuk mengejarnya. Namun Dewa merasa tak peduli dengan hal itu. Luna merasa jika Dewa sedang marah karena dirinya tidak membuatkan sarapan. Luna yang melihat hal tersebut pun merasa senang.

__ADS_1


Setelah hampir setengah jam lamanya berkendara dari rumah, akhirnya Luna dan Dewa sudah sampai di kantor milik Dewa. Mereka naik ke ruangan Dewa dengan menaiki Lift.


"Semoga saja hari ini tidak sama seperti kemarin. Dewa tidak menyuruhku melakukan apa-apa." Gumam Luna dalam hati.


"Bukannya tidak suka atau mengeluh. Tapi akan sangat membosankan ketika kita hanya duduk saja." Gumam Luna lagi dalam hati sambil menaiki Lift untuk menuju ke ruangan Dewa berada. Setelah Sampai, mereka pun keluar dari Lift.


Apa yang di harapkan Luna telah di kabulkan oleh Tuhan. Setelah datang, Dewa langsung memberinya pekerjaan. Sedangkan Dewa sendiri tak melakukan apa-apa. Terlihat wajahnya yang begitu masam. Mungkin karena dia kesal kepada Luna yang tidak membuatkan dirinya sarapan.


"Lagian membuatkan sarapan bukan tugasku. Aku bisa membuatkan sarapan jika aku mau. Jadi terserah dia amau marah atau bagaimana" Gumam Luna sambil menyelesaikan pekerjaannya. Iya merasa jika Dewa memberikan pekerjaan yang sangat seperti mesin karena kekesalannya. Kesal karena Luna menerima tawaran dari mama Dewa untuk berkeliling kota Jakarta.


"Kalau dia masih marah, itu urusanmu" Luna terus berkata dalam hati sambil memperhatikan Dewa. Luna merasa lelah mengikuti kemauan Dewa yang menyangkut kehidupan pribadinya. Salah satu alasan Luna bertahan sampai saat ini adalah karena iya sangat membutuhkan uang untuk biaya oprasi sang Mama. Kalau bukan karena itu, Luna tidak sudi terus-terusan di jajah oleh Dewa. Luna pasti akan menunjukkan sikap bar-bar nya.


"Baiklah... Aku akan menjadi assistand pribadimu yang terbaik yang pernah ada. Dan setelah apa yang aku inginkan sudah aku dapatkan. Aku akan meninggalkan perusahaan tanpa harus pamit kepadamu." Gumam Luna sambil tersenyum samar.

__ADS_1


"Tapi kalau sampai dia mencariku bagaimana? Ya Tuhaaan. Aku benar-benar tidak tahu jalan mana yang harus ku tempuh untuk bisa keluar dari neraka ini" gumam Luna sendiri. Dan ketika Luna masih dalam pikirannya itu. Tiba-tiba saja sekertaris Dewa datang dengan setumpuk Dokumen di tangannya. Luna pura-pura tak nelihat dan meneruskan pekerjannya.


__ADS_2