Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Kehamilan Dina


__ADS_3

Keesokan paginya, Luna bangun jam setengah 6 pagi, Luna menyadari dirinya yang begitu kelelahan. Ia pun berjalan keluar dari kamar untuk mencari Dewa. Dan disaat itu Luna melihat Dewa yang sedang berada di ruang kerja.


"Bagaiaman tidurmu sayang? "Kata Luna sambil melangkah masuk ke ruang kerja Dewa.


"Sangat baik. Aku rasa kamu juga seperti itu. Soalnya pagi ini kamu terlihat sangat cerah. " kata Dewa sambil mencium kening Luna.


"Benar sekali. Oh iya aku mau ngasih tahu kalau nanti aku mau keluar sama Dina. Aku mau ngajak dia keliling Jakarta. " kata Luna sambil tersenyum dan duduk di samping Dewa.


"Oke, kabari aku kalau ada sesuatu terjadi sama kamu ya." Kata Dewa.


"Oke... Aku akan selalu mengabari kamu. " jawab Luna dengan senyum manis di bibirnya.


"Aku nanti juga mau pergi ke Bandung sama Nanda. " kata Dewa sambil bangkit dari duduknya di atas kursi.


"Apa kamu sudah sarapan? " tanya Luna sebelum dewa melangkah keluar dari pintu.


"Belum." jawab Dewa sambil melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya sekaligus duduk di kursinya lagi.


"Aku akan menyiapkan sesuatu untuk sarapan sebelum kita pergi. " kata Luna sambil melangkah keluar dari ruang kerja Dewa


"Oke sayang. Terima kasih." jawab Dewa. Dan Luna pun keluar dari ruangan tersebut.


Setelah beberapa saat berkutat dengan kegiatan di dapur, Luna menyiapkan sarapan di atas meja. Setelah itu ia pun naik ke ke atas dan masuk ke dalam kamar untuk mandi. Setelah selesai, Luna turun dan sarapn berdua dengan sang suami.


Setelah sarapan mereka berdua pun keluar dari rumah. Dewa dalam perjalanan menuju ke Bandung. Sedangkan Luna dalam perjalanan menjemput Dina ke hotel tempat menginap. Begitu Luna telah sampai di hotel ia segera naik ke lift menuju ke kamar Nanda dan Dina. Luna mengetuk pintu.


"Tok tok tok. Luna mengetuk pintu kamar hotel Dina dan Nanda. Setelah itu iya menunggu beberapa saat.


"Halo. Selamat pagi." kata Luna saat Nanda membuka pintu tersebut. Luna pun masuk.


"Gimana kabarmu sahabatku yang cantik? " kata Nanda.


"Aku sudah pernah bilang untuk tidak memanggilku seperti itu. " kata Luna sambil menepuk bahu Nanda.


"Waah... Seseorang melakukan kekerasan sama aku." kata Nanda.

__ADS_1


"Weeek." kata Luna sambil menjulurkan lidahnya.


"Aku lihat ada anak kecil di sini." kata Nanda yang menertawakan sikap kekanak-kanakan Luna.


"Terserah apa katamu. Oh iya, di mana Dina? " kata Luna sambil melihat ke sekeliling kamar itu.


"Dia sedang tidur." jawab Nanda.


"Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk membangunkan Dina. Jadi dia bisa bersiap-siap sebelum aku datang."kata Luna sambil memukul pelan kepala Nanda.


"Tadi sudah aku bangunin. Tapi akhir-akhir ini dia memang banyak tidur. Aku jadi penasaran kenapa dia seperti itu. Apa dia sedang sakit atau apa. " kata Nanda dengan sedikit khawatir.


"Aku rasa tidak akan ada masalah. Dia mungkin hanya kelelahan dengan semua yang telah terjadi. " jawab Luna.


"Kamu yakin? "


"Iya, aku yakin. aku mau membangunkan Dina, biar aku tahu kalau dia sedang baik-baik saja. " kata Luna sambil berjalan menuju ke kamar tidur tempat Dina beristirahat.


"Oke, kalau begitu aku pergi dulu ya. "Kata Nanda.


"Dina." Panggil Luna dari luar kamar mandi.


"Lun, apa itu kamu? " tanya Dina dari dalam.


"Iya ini aku. Apa kamu baik-baik saja? "Tanya Luna. Tidak ada sahutan dari dalam. Tapi beberapa saat kemudian Dina membuka pintu kamar mandi. Luna segera masuk dan melihat Dina. Begitu sudah berada di dalam, Luna melihat Dina yang sedang duduk di lantai kamar mandi di depan Closet.


"Ya ampun, Dina ada apa?" Kata Luna cepat berjalan ke arah Dina untuk membantunya berdiri. 


"Aku sendiri nggak tahu kenapa Lun. Tapi akhir-akhir ini aku selalu seperti ini. Aku pikir aku salah makan sehingga menyebabkan aku mual. Aku merasa cepet banget ngantuk, dan bulan ini juga aku belum haid. Sepertinya aku..." ucapan Dina terhenti.


"Sepertinya aku... Aku takut." kata Dina kembali.


"Maksud kamu, kamu hamil? " kata Luna menyelesaikan perkatannya. Dina mengangguk.


"Kenapa kamu takut? " Tanya Luna dengan bingung.

__ADS_1


"Gimana kalau Nanda belum ingin punya anak? Atau menurut kamu, Nanda akan suka ngga ya kalau aku hamil? " kata Dina drngan ragu.


"Apa kamu yakin? " Tanya Luna balik.


"Kita baru saja menikah. Dan menurut aku, sepertinya Nanda masih ingin bersenang-senang dulu. Aku rasa dia belum siap untuk menjadi ayah." kata Dina dengan ragu.


"Nanda pasti akan senang kalau dia tahu kamu hamil. Dan anak yang di kandungnya adalah anak Nanda." Kata Luna sambil tersenyum.


"Kalau gitu, kita harus mengecek apa semua ini benar. Kita harus beli tespeck dulu ke apotik. Aku harus tahu apa sebentar lagi aku akan menjadi seorang tante atau tidak." Kata Luna sambil mengejutkan mata pada denah dan membantu Dina untuk keluar dari kamar mandi. Setelah Dina sudah berada di luar kamar mandi, Luna segera keluar dan bergegas ke apotek. Ia membeli 3 alat tes kehamilan yang berbeda. Setelah itu ia pun kembali ke hotel tempat Dina berada. Dengan tidak sabar Luna buru-buru untuk ingin segera sampai di hotel tempat Dina. Tapi sebelum masuk ia membeli beberapa makanan.


Setelah berada di dalam kamar hotel, Luna Segara mendekati Dina dan memberikan tespek yang baru dibelinya tadi.


"Kamu pasti hamil," kata Luna sambil memberikan tespek pada istri sepupunya. 


"Kalau gitu aku akan mengeceknya dulu" kata Dina sambil berjalan ke kamar mandi.  beberapa saat kemudian, Dina sudah melakukan tes tersebut. Mereka berdua tinggal menunggu hasilnya. Dina berjalan mondar-mandir selama beberapa menit terakhir. Luna sudah berusaha untuk menenangkannya, tapi tidak ada gunanya sama sekali.


Waktu untuk mengecek pun telah habis. Sebelum Luna mengambil salah satu alat tersebut untuk dilihat, Dina sudah mengambil semuanya dan melihat sendiri.


"Jadi, hasilnya gimana? " Tanya Luna yang merasa penasaran dengan hasilnya.


"Aku hamil." Kata Dina dengan ekspresi bahagia.


"Alhamdulillah... Selamat ya. Aku bahagia banget dengernya. Akhirnya aku akan menjadi seorang tante." Kata Luna sambil memeluk Dina.


"Terima kasih. Aku harus memberitahu Nanda." kata Dina.


"Kita harus merayakan hari bahagia ini." kata Luna.


"Oke... Aku ganti baju dulu ya. Kamu tunggu dulu di sini." kata Dina. Luna mengangguk.


Setelah beberapa menit, Luna dan Dina sudah berada di sebuah restoran  mewah di kota jakarta. Mereka berdua makan malam untuk merayakan kebahagiaan ini. Dan di saat yang bersamaan, terdengar suara tembakan.


"Kamu sembunyi di bawah meja ya." kata Luna saat mendengar suara rembakan itu. Luna mencoba mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya. Tapi di saat ia sedang berusaha untuk mengeluarkan pistol tersebut, sebuah pistol sudah berada dan ditekankan ke kepala Luna. Luna bertindak seolah-olah ia menyerah. Namun setelah pria yang menodongkan pisau tersebut lengah, Luna dengan cepat meninju perut pria itu dan mengambil pistol dari tangannya.


Luna berniat untuk menembak pria itu kembali. Ia pun berbalik, namun ia melihat sesuatu yang membuat dirinya berubah pikiran. Luna melihat seorang laki-laki yang membekap Dina Dan meletakkan pistolnya di kepala istri dari Nanda tersebut. Luna bisa saja menembak orang tersebut Lalu mengejarnya. Tapi di saat yang bersamaan, ada 4 orang yang saat ini mengepung dirinya dan Dina serta lelaki yang menodongkan pistol tadi.

__ADS_1


Melihat dirinya yang kalah jumlah dengan mereka, Lona menjatuhkan pistol ke lantai dan menyerah. Tiba-tiba saja seseorang di belakangnya memukul kepala Luna dengan sesuatu. Belum sempat Luna bisa mengetahui apa yang terjadi, ia merasakan matanya terasa berat. Tiba-tiba saja sekelilingnya menjadi gelap dan Luna tidak tahu Apa selanjutnya yang terjadi.


__ADS_2