
"David.." Luna meneriakkan nama kakaknya sambil berjalan kembali ke dalam rumah.
"Ada yang bisa aku bantu dik? " Kata David sambil keluar dari dapur dengan mulut penuh makanan.
"Aku sangat merindukanmu. Aku merasa tidak enak karena lupa sama kamu. Adik macam apa aku ini." Kata Luna. Tanpa sadar iya iya menangis.
"Sttt... Ini bukan salahmu. Berhentilah menangis. Kalau kamu akan membuatku merasa tidak enak karena tidak bisa menemukan kamu dan mama lebih cepat. Aku juga sangat merindukanmu." kata David sambil mencium kening Luna dan duduk di sofa.
"Aku sangat menyayangimu, tolong jangan tinggalkan aku lagi, meskipun ingatanku masih kembali sedikit demi sedikit, aku tidak bisa melalui apa yang dulu pernah kita alami." Kata Luna memeluk kakaknya sangat erat.
"Aku juga menyayangimu, aku juga tidak akan meninggalkanmu lagi." jawab David sambil membalas pelukan Luna.
"Baiklah, sudah cukup bicara sedihnya. Sekarang ceritakan tentang hidupmu. Semua tentang hidupmu selama ini." kata Luna berusaha menghibur suasana hati.
"Oke, Aku tahu apa yang ingin kamu dengar." kata David menatap Luna dengan nakal.
"Karena kamu sudah tahu maksudku, berhentilah membuang-buang waktu dan cepatlah bicara." Kata Luna merasa sangat ingin mendengar cerita tentang bagaimana David dan Safira bisa bersama.
"Karena kamu hanya peduli dengan kehidupan cintaku, maka aku akan menceritakan. Jadi beginilah ceritanya.
"Setelah aku tertembak dan aku ngga bisa nemuin kamu dan mama, aku membenci semua orang. Aku ngga mau berbicara, ngga makan atau melakukan apapun. Setiap tidur aku selalu teringat kalian berdua. Karena semua orang-orang suruhan kita menemukan beberapa mayat yang tidak bisa di identifikasi setelah rumah kita terbakar. Aku terus berpikir bagaimana kalau kamu dan mama ada di antara mereka. Hal itu tidak biaa aku bayangkan. Waktu itu adalah waktu aku sangat terpuruk. Di saat itu juga, Safira hadir sebagai satu-satunya orang yang bisa menyalakan cahaya kehidupanku kembali. Safira membantu aku di saat aku berada dalam kesulitan. Dia adalah alasanku bangkit dari keterpurukan. Aku bisa hidup dengan baik setelah dia ada. Aku sangat mencintainya melebihi apapun yang ada di dunia ini." kata David sambil tersenyum dengan mata yang berbinar.
"Ya Tuhan... Aku tidak bisa membayangkan semua yang telah kamu ceritakan tadi. Tapi aku bisa merasakan sakit yang kamu alami itu. Aku juga merasakan hal yang sama disaat aku benar-benar telah frustasi. Tapi sekarang aku bahagia sekali, akhirnya kita bisa bersama lagi. Dan aku lebih bahagia karena tahu Safira adalah orang yang membantumu melewati masa-masa sulit itu. dia memang pantas menjadi istrimu." kata Luna dengan senyum manisnya. Luna tersenyum dan teringat semua cerita Safira. Cerita tentang suaminya yang merasa sedikit terganggu dengan kehamilannya. Tapi ternyata suami dari Safira adalah kakak Luna sendiri.
"Tadi Safira ngga ngambek kan waktu kamu bilang mau di sini untuk bertemu dengan aku dan mama? " Tanya Luna. Dan David pun menggeleng.
__ADS_1
"Safira itu wanita baik. Dia pasti paham." Kata David kemudian.
"Aku telah mendengar semua cerita tentang kamu dan Safira. sebagai seorang suami kamu tidak boleh bersikap egois. Istri kamu itu sedang hamil. dan dia tidak selalu memegang ponsel. Dan katanya kalau wanita hamil itu akan cepat lelah dan lupa. Jangan bersikap seperti itu sama Safira. Kasihan dia waktu itu cerita sama aku sambil nangis-nangis." kali ini Luna terdengar memarahi sang kakak.
"Aku sangat mencintai Safira. Bukannya aku tidak ingin punya anak dari dia. Tapi aku merasa belum siap kalau harus berbagi cinta dengan anak yang ada di kandungannya. Tapi, aku sangat senang akhirnya setelah hampir beberapa tahun menikah dia mengandung anakku." kata David dengan bangganya.
"Oalah... Aku kira kamu sama seperti laki-laki yang tidak ingin punya anak. Padahal dalam sebuah pernikahan itulah yang ditunggu-tunggu. Tapi aku merasa bahagia juga Sebentar lagi aku akan punya keponakan." kata Luna dengan tersenyum.
"Hmm... Oke. Aku mau pulang dulu. Aku capek banget ini. Selamat malam." kata Luna sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur.
"Oke adikku sayang Selamat tidur dan selamat malam juga. " balas David.
Luna berjalan sendirian menuju ke dapur untuk mencari mamanya agar bisa segera pulang. Tapi saat ia akan memasuki dapur, Luna melihat sesuatu yang sangat tidak ya harapkan. Luna melihat papa dan Mamanya sedang berciuman.
"Hmmm...." Luna berdehem untuk mengisyaratkan kepada orang tuanya kalau dirinya datang.
"Maaf sayang. Apa kamu sedang membutuhkan sesuatu atau mau mengambil sesuatu? " kata Mama Luna sambil melepaskan suaminya dari pelukannya yang begitu erat itu.
"Ngga ma, Luna cuma mau tanya jam berapa kita akan pulang?" kata Luna mengutarakan maksudnya datang ke dapur.
"Oh iya, Mama lupa memberitahumu. Kita akan menginap di sini malam ini. Apa kamu keberatan?" ucap Mama Luna sambil menepuk dahinya dengan pelan karena lupa.
"Ngga sama sekali ma." kata Luna sambil tersenyum.
"Mintalah tolong sama David Untuk mengantarkan kamu ke kamar. " kata Papa Luna. Papa dan Mama Luna pun berjalan keluar dari dapur. Sedangkan Luna berjalan untuk menemui David. David pun setelah diminta oleh Luna segera mengantarkan adiknya menuju ke kamar yang akan ditempatinya.
__ADS_1
David mengajak Luna untuk masuk ke sebuah kamar. Kamar yang dindingnya dicat putih semua. Di dalamnya ada meja yang berada di sisi kanan dan kiri tempat tidur berukuran Queen size. Semuanya lengkap dengan bantal dan guling. Di sebelah kanan ada satu pintu yang terlihat itu adalah pintu sebuah kamar mandi. Setelah David keluar dari kamar tersebut, Luna pun berjalan ke arah lemari. Setelah membukanya ternyata lemari tersebut penuh dengan pakaian. Luna mengambil salah satu baju yang akan digunakannya untuk tidur. Dan ternyata semua ukurannya sama seperti ukuran baju Luna. Luna segera memakainya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Baru mau memejamkan mata, ponsel Luna berdering. Luna segera mengambil ponsel tersebut Lalu menjawab panggilan yang ternyata adalah Dewa.
"Halo Sayangku." kata Luna dengan suara keras. Luna merasa senang karena Dewa menghubunginya.
"Gimana keadaan kamu sayang? " tanya Dewa.
"Aku baik-baik saja, kamu gimana?" Tanya Luna balik.
"Aku sama seperti tadi, baik-baik saja. Oh iya, sedang apa kamu ini? " Tanya Dewa.
"Aku tadi sudah mau tidur. Kalau kamu?"
"Sama... Tadi aku juga mau tidur, tapi sebelum tidur aku sangat ingin mendengar suaramu. Aku kangen banget sama kamu pengen peluk. Berharap banget kalau kamu ada sini." Kata Dewa.
"Kok manja sih. Baru aja tadi ketemu." Balas Luna.
"Hmmm.. Gimana sih. Namanya juga cinta. Oh iya, kamu ngga mau aku kesana. Saat ini jarak kita dekat lo. Sebelah kanan rumah papa kamu, jarak 4 rumah. Aku ada di sini." Kata Dewa.
"Kesinilah." Kata Luna.
"Oke aku akan datang dalam satu kedipan matamu." Jawab Dewa menggombal.
"Terserah lah apa katamu. Karena sudah selesai, aku mau tidur dulu. Aku capek banget ini." Kata Luna.
__ADS_1
"Hmmm... Padahal masih kangen. Oke Kalau gitu. Selamat malam sayang." Jawab Dewa.
"Malam juga sayang." Ucap Luna.