Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Hati yang Gelisah


__ADS_3

Luna merasa sudah muak dengan semua omong kosong atasannya. Ingin sekali rasanya Luna menemui Dewa dan mengakhiri semua ini.


"Aku tidak bisa menderita selama hidupku hanya karena orang itu."


"Tapi kalau aku bersikap seperti dulu sekatu SMA, rencanaku tidak akan berhasil. Aku tidak akan punya uang yang banyak untuk bisa melarikan diri." gumam Luna sendirian. Dewa tidak akan peduli dan dia tidak akan mencari Luna. Luna merasa tak peduli dengan itu semua. Iya akan tetap melakukan rencananya. Meskipun kemungkinan untuk berhasil adalah 50%. Luna berjalan menuju ke ruangan Dewa. Ketika iya akan mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Luna melihat Dewa yang berada di depan pintu dengan tangan terangkat ke atas posisi ingin mengetuk pintu.


"Apa yang kamu lakukan di depan pintu? Bukankah sekretarisku sudah memberimu beberapa file?" kata Dewa dengan wajah yang masih terlihat cemberut saat dia menatap Luna.


"Aku disini hanya ingin tanya, apa aku boleh istirahat dan makan siang." Ucapan Luna menjadi terbata-bata ketika mengatakan itu. Luna tidak jadi mengatakan apa yang iya rencakan tadi.


"Boleh... Tapi begitu kamu selesai segeralah kembali, lalu selesaikan pekerjaanmu" kata Dewa sambil berjalan melewati Luna. Luna yang melihat hal tersebut menjadi kesal pada dirinya sendiri. Akhirnya iya pun pergi meninggalkan ruanagn Dewa untuk istirahat.


Lima jam telah berlalu sejak Luna kembali dari istirahatnya. Luna telah bekerja selama 5 jam tanpa berhenti. iya berpikir saat akan berangkat ke Jakarta, bahwa pekerjaannya akan menjadi ringan dan sedikit. Tapi apa yang dipikirkannya itu salah. Dewa malah memberikan tumpukan-tumpukan berkas pekerjaan kepada Luna. Yang Luna ketahui, file-file berkas tersebut tidak diurus selama 5 bulan terakhir. Dan selama 5 jam itu juga, Luna tidak mendengar suara ataupun melihat sosok dewa. Hal itu benar-benar membuat dirinya bersyukur. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, setelah dilihat nama dewa tertera di layar tersebut.


"Kalau pekerjaanmu sudah selesai, kamu bisa pulang dengan sopir. Tidak usah menungguku. Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" kata Dewa dari seberang telepon dan langsung mematikannya.


"Hiih... Ngga sopan banget. Belum juga aku ngomong apa-apa, udah di matikan saja. Tapi untunglah, aku tidak harus melihatnya" Gumam Luna kesal dengan apa yang di lakukan Dewa.


Setelah 2 jam berlalu, Luna telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Pada jam 19.23, Luna membereskan semuanya. Iya merasa sangat lelah. Tanpa menunggu Dewa. Luna langsung pulang seperti yang di katakan oleh Dewa tadi.

__ADS_1


Luna yang telah sampai di hotel langsung saja mandi karena rasa lelah yang begitu terasa. Setelah mandi, luna mengambil piyama. Namun, saat akan menggunakannya, Luna merasa jika baju itu terlalu pendek untuk di pakai. Apalagi saat ini ia sedang bersama bos laki-lakinya. Dan di saat yang bersamaan, ponsel Luna berdering. Sebuah panggilan dari nyonyan Lisa.


"Luna, maaf ya hari ini saya belum bisa menepati janji untuk mengajak kamu berkeliling ke Jakarta karena hari kkbni sibuk. Tapi aku berjanji akan mengajakmu besok" Ucap nyonya Lisa dari seberang telepon. Luna pun hanya menjawab dengan sopan.


Setelah panggilan di matikan, Luna segera menuju ke dapur untu mencari apapun yang bisa iya makan. Rasa lapar terasa menggelitik perutnya.


"Kalau aku ngga makan, aku bisa mati kelaparan" Gumam Luna pada dirinya sendiri. Luna langsung saja membuka kulkas. Dan ternyata kulkas tersebut sudah terisi penuh dengan daging dan sayur serta masih banya lagi yang lainnya. Luna merasa malas untuk masak makanan yang sulit. Iya pun kembali menutup kulkas tersebut dan berjalan menuju ke lemari gantung. Di saat membukannya, iya melihat lemari tersebut juga sudah penuh. Luna mengambil satu mie instan dan segera memasaknya. Karena perutnya sudah benar-benar lapar. Makanan tercepat di masak menurut Luna untuk bisa segera di makan.


5 menit kemudian, mie yang di masak Luna sudah siap. Iya duduk di dapur menikmati makan malamnya. Dan saat sedang menikmati mie panas di depannya, Luna mendengar pintu terbuka. Iya melihat Dewa yang berjalan masuk ke dalam kamarnya seperti baru saja kembali dari tawuran. Dasi terpasang dengan longgar di lehernya, serta jas yang tergantung di bahu kanannya, terlihat begitu kusut. Dewa tidak terlihat seperti seorang pebisnis kali ini, tapi lebih seperti pria nakal yang menurut Luna sangat seksi sekali. Mungkin karena saking banyaknya pekerjaan sehingga membuat Dewa terlihat sangat lelah. Dewa berlalu tanpa menyapa Luna. Iya nendekat ke arah dispenser dan mengambil satu gelas air hangat. Setelah meminumnya, Iya langsung pergi dari sana. Luna merasa menyesal tidak membuatkan makan malam juga untuk Dewa kali ini.


"Kalau aku buatkan bareng denganku pasti mie nya dingin." Gumam Luna dalam hati setelah Dewa masuk ke dalam kamarnya.


10 menit berlalu. Luna telah selesai memasak satu mangkok mie spesial untuk Dewa. Dengan toping telur, ayam dan sosis serta sayuran. Terlihat begitu menggiurkan. Luna segera meletakkan mie tersebut di atas nampan. Iya berharap jika Dewa mau menerimanya. Saat iya berjalan ke arah kamar Dewa. Setelah tiba di depan kamar itu, Luna mengetuk pintu dari luar.


"Masuk" Ucap Dewa dari dalam. Dari suaranya, Luna sudah tahu jika Dewa benar-benar lelah.


setelah berada di dalam, Luna kembali terdiam di saat iya melihat Dewa. Lelaki itu baru saja mandi dan hanya melingkarkan handuk di pinggang menutupi setengah dari badannya. Luna bisa melihat dada Dewa yang basah karena tetesan air dari rambutnya.


"Ya Tuhannn. Apa yang aku lihat" Tanya Luna pada dirinya sendiri di dalam hati. Iya terdiam, dan kembali tersadar ketika mendengar Dewa mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa kamu sudah puas memandang tubuhku yang sangat bagus ini? " seringai jahat muncul di bibir Dewa.


"Ada apa kamu kesini? " Tanya Dewa lagi.


"Tidak... Tidak... Siapa yang Memandangmu. Aku ke sini Untuk mengantarkan makan malam kepadamu. Semoga kamu menyukainya" ucap Luna sambil meletakkan makanannya di meja samping tempat tidur. Iya tidak mengakui apa yang dikatakan Dewa bahwa dirinya menatap Dewa. Setelah Luna Meletakkan makanan itu, Ia pun bergegas untuk keluar dari kamar Dewa. Iya tidak ingin Dewa kembali berbicara. namun belum sempat Luna keluar dari Dewa sudah berkata terlebih dahulu.


"Aku pernah mendengar kalau membuatkan makanan untukku bukan bagian dari pekerjaanmu" kata Dewa sebelum Luna keluar dari kamarnya.


" Ya aku memang aku ingat kalau aku memang pernah mengatakan hal seperti itu. Aku membuatkan makan malam untukmu karena kebaikan yang keluar dari hatiku. Bukan karena bagian dari pekerjaanku" jawab Luna. Dengan cepat Luna bergegas untuk keluar dari kamar tersebut sebelum dewa mengajaknya berbicara kembali. Iya bener-bener tidak bisa berada di satu ruangan bersama lelaki. Apalagi lelaki itu sedang tidak menggunakan pakaian dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja.


" Oh my God.... Apa yang sedang aku pikirkan. Tidak seharusnya aku punya pikiran seperti ini" Luna pun memukul kepalanya dengan pelan. Itu semua karena Dia memiliki seorang bos yang sangat tampan. Niat Luna bekerja di sini adalah untuk mencari uang untuk biaya operasi mamanya. Bukan untuk mencari perhatian kepada dewa.


" Kalau kayak gini terus lama-lama aku bisa menyukainya. Tapi semua itu tidak ada gunanya buat aku. Tapi saat aku melihat dada bidangnya, aku benar-benar menyukainya." kata Luna. Itulah salah satu sebab, mengapa setiap kali Luna memandang ke arah Dewa, dia selalu merasa berdebar-debar.


" Apakah aku benar-benar menyukai bosku sendiri?" gumam Luna di dalam hatinya sambil berjalan menjauhi kamar Dewa.


"Tidak... Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menyukai bos ku sendiri. Aku tidak akan lupa bagaimana si brengsek itu menghancurkan hidupku sewaktu masih di SMA, bahkan sampai saat ini. Sangat tidak profesional jika aku, assistand pribadi dan bos menjalin hubungan. Tidak ada hubungan di antara kita selain hubungan pekerjaan"


"Aku tidak menyukai Dewa.. Sungguh tidak menyukainya, walaupun itu bohong. Tapi aku harus menghentikan perasaan aneh ini. Sebelum terlalu dalam dan tidak bisa aku kendalikan lagi" Ucap Luna gelisah. Setelah menghabiskan mie yang tadi ia tinggal untuk memasakkan Dewa, Luna pun bergegas ke kamar untuk segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2