Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Week end


__ADS_3

Luna bekerja dari pagi sampai siang tanpa istirahat saat ia telah tiba di kantor pagi tadi. Hari ini adalah hari Jumat, yang berarti Luna akan mengistirahatkan dirinya sampai hari Senin. Luna merasa senang karena sebentar lagi akan libur. Namun hal yang membuatnya kesal adalah Luna harus menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda selama satu minggu di hari Jumat.


Luna bangun sedikit kesiangan pagi tadi karena semalam ia tidak bisa tidur hingga larut. Saat ia bangun, ternyata Dewa sudah tidak ada di rumahnya. Dewa sudah pergi dan hanya Meninggalkan pesan. Luna pun tidak bisa membuatkan sarapan untuk laki-laki itu.


Semenjak kedatangan Luna di kantor tadi pagi, Ia tidak melihat Dewa sama sekali. Luna sangat bersyukur, karena dewa adalah satu orang yang memiliki dua kepribadian. Dewa benar-benar berbeda ketika ada di luar kantor. Luna merasa sangat bingung dengan kepribadian Dewa yang kadang-kadang suka berubah.


Di saat Luna sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia mendengar ponsel yang ia letakkan di sampingnya itu bergetar. Luna pun segera mengambil ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk. ternyata dari dewa.


"Kita akan mengadakan pertemuan dengan salah satu investor dari London nanti jam 01.00."


"Meeting ini akan diadakan di sebuah restoran. Kamu bersiaplah sebelum jam 01.00" Luna membaca pesan yang dikirimkan oleh Dewa. Ia melirik jam yang saat ini ternyata sudah jam 12.00 lebih 15 menit. Luna segera mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk meeting hari ini. Setelah selesai, Luna keluar dari ruangannya untuk menemui Dewa yang sudah menunggunya di dekat lift. Setelah Luna datang, Dewa segera mengajaknya masuk ke dalam lift menuju ke tempat parkir. Begitu sampai di bawah, Dewa berjalan ke sebuah mobil Mercedes benz-nya. Mobil milik Dewa itu terlihat sangat bagus.


Luna dan Dewa masuk ke dalam mobil. Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Dewa segera melajukan mobilnya untuk menuju ke restoran tempat Meeting itu.


Hampir 17 menit menempuh perjalanan dari kantor ke restoran tempat meeting diadakan. Luna dan Dewa tiba di sebuah restoran, setelah di dalam tidak ada obrolan sama sekali. Luna dan Dewa masuk ke dalam restoran dan menanyakan di meja yang sudah di pesan. Setelah di tunjukkan oleh seorang Pelayan restoran, Luna melihat seorang pria paruh baya. Berusia sekitar 50tahunan.


Di saat laki-laki itu melihat Dewa, dia berdiri dari kursinya untuk memeluk Dewa.


"Halo nak, Bagaimana kabarmu? " pria itu berkata sambil tersenyum.


"Aku baik - baik saja paman, bagaimana hidup paman sendiri selama ini? " kata Dewa dengan senyum tulus di bibirnya.


"Wah, jadi dia tahu juga caranya tersenyum, aku tidak pernah tahu? Gumam Luna dalam hati.


" Tidak apa-apa, hidup paman baik-baik saja. Kita harus segera mulai meeting ini, aku ada janji dengan bibimu setelah pertemuan ini. Dan kau tahu bagaimana bibi mu kan kalau aku datang terlambat." Kata pamannya Dewa dengan terkekeh dan langsung duduk kembali.


" Ya, aku sangat tahu bagaimana istrimu paman. Ayo kita mulai saja meetingnya. Oh iya paman, ini adalah asisten pribadiku, Aluna." kata Dewa.


"Akhirnya dia mengakui kalau aku ada di sini." Ucap Luna dalam hati. Iya tidak mengatakan apapun selain tersenyum pada Paman Dewa, dan pria itu menganggukkan kepalanya.


Dewa dan Luna segera duduk dan segera memulai rapat. Dewa meminta kepada Luna untuk menyerahkan dokumen kontrak kepada mereka. Luna pun segera berdiri dari kursinya untuk meletakkan dokumen di depan Dewa dan Pamannya.


"Paman, Saya dan Luna izin permisi sebentar." kata Dewa yang langsung menarik tangan Luna sebelum Luna sempat duduk kembali .


"Ada apa ya? Kenapa Dewa memanggilku. Aku yakin tadi membawa dokumen yang sudah benar?" gumam Luna dalam hatinya ketika Iya ditarik tangannya oleh Dewa untuk pergi dari meja tersebut.


"Tentu saja boleh Dewa, Silahkan." Ucap paman Dewa sebelum Dewa dan Luna pergi. Dewa membawa Luna menuju ke toilet.


"Kenapa bajumu terbuka begitu? Aku tidak suka dadamu terlihat saat kamu meletakkan dokumen di atas meja." kata Dewa mencoba menutupi belahan dada wanita di depannya. Luna merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Dewa. Luna tidak memakai baju dengan kerah yang pendek. Bukan hanya di saat Luna menunduk saja apa yang dibilang Dewa tadi terlihat. Luna merasa ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Dewa barusan. Namun Ia juga tidak bisa berkata apa-apa. takut membuat Dewa akan kembali marah.


“Nih, pakai jas ku dan pastikan ini terakhir kali kamu pakai baju seperti itu. Apa kamu mengerti?” kata Dewa sambil melepaskan jas nya lalu mmeberikan kepada Luna.

__ADS_1


" Iya Tuan." kata Luna sambil mengambil jas dari tangan Dewa. Luna segera memakainya dan menutupi belahan dadanya yang terlihat, menurut Dewa. Saat kembali ke dalam restoran, Luna benar-benar harus menahan senyumnya karena sikap Dewa yang tak terduga. Mereka kembali ke restoran dan duduk kembali di meja yang tadi.


Setelah selesai pertemuan dengan paman Dewa beberapa jam yang lalu, Luna telah kembali ke kantor. Luna harus menyelesaikan pekerjaan yang tadi ia tinggal untuk mengurus meeting dengan pamannya Dewa. Luna cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai supaya bisa cepat pulang. Luna ingin segera menonton film kesukaannya sepulang kerja nanti.


Hampir setengah jam berlalu ketika Luna mengebut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan saat ini sudah pukul 05.30 sore. Akhirnya pekerjaan itupun selesai. Iya segera mempersiapkan diri untuk pulang. Dan disaat Luna sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas, Luna mendengar pintu ruangannya diketuk.


" Masuk , " Ucap Luna.


"Aluna... Bisakah aku berbicara denganmu sebelum kamu pulang? "Tanya seorang perempuan bernama Dina dengan tersenyum. Perempuan itu adalah sekertaris Dewa.


"Boleh saja, kenapa tidak? " Kata Luna sambil duduk kembali di kursinya.


"Aku tahu kita tidak dekat, dan aku berharap kita bisa mengubah hubungan ini. Hari itu aku merasa tidak enak ketika Dewa mempermalukanmu di depan semua orang, tapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantumu. Sejak hari itu, hatiku merasa tidak tenang, jadi hari ini aku memutuskan untuk menemuimu dan meminta maaf. Aku ingin menebusnya dengan mengajakmu pergi ngopi denganku malam ini. Apa kamu bersedia? " kata Dina terlihat gugup.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan saat itu. Tapi untuk membuatmu merasa lebih baik, aku menerima permintaan maafmu demi bos galak kita." kata Luna dengan senyum seolah sedang menggosipkan Dewa.


"Saya ingin ngajak kamu ngopi, tapi kalau aku mengajak seorang teman Apakah kamu keberatan? " Tanya Dina lagi.


"Terima kasih banyak atas ajakanmu ya. bawalah temanmu aku tidak masalah." jawab Luna.


"Kamu bisa datang ke rumahku nanti jam 7. Sekarang aku minta nomormu" Dina menyodorkan ponselnya kepada Luna.


Setelah saya selesai berbicara dengan Dani dan memberi tahu Dewa bahwa Luna akan pulang. Luna naik lift ke bawah dan berjalan keluar untuk menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Safira sedang ada di surabaya dan akan membantu Luna untuk membeli sebuah mobil. Luna merasa sangat senang dan tidak sabar untuk segera memiliki mobil baru. Mobil pertama Luna dari gaji pertamanya.


Namun Luna sangat terkejut saat melihat orang lain yang berada di dalam mobil tersebut.


"Safira tidak bisa datang tepat waktu, jadi Dia menyuruh aku untuk menjemputmu. Aku harap kamu tidak keberatan." kata Dewa sambil menggaruk tengkuk lehernya takut jika Luna akan menolak ajakannya. Luna sangat bingung menghadapi situasi seperti ini. Sehingga ia pun tak mampu untuk berkata-kata. dia bingung karena Dewa bersikap baik kepadanya.


"Safira ke mana ya? " tanya Luna dalam hati. Luna pun terdiam berdiri di samping mobil Dewa. Iya masih melamun memikirkan apa yang terjadi kepada Safira.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba pintu mobil di depannya itu terbuka. Dewa berdiri di depan Luna sambil membukakan pintu mobil supaya Luna cepat masuk.


"Kenapa sikapnya berubah. Apa kepalanya tadi kebentur tembok? " Tanya Luna dalam hati. Iya tidak terlalu berani mengungkapkan pertanyaannya. Luna lalu masuk ke dalam mobil. Sambil menunggu Dewa yang berjalan ke kursi kemudi, Luna melihat Dewa yang sedang berjalan. Setelah Dewa masuk Ia pun segera menyalakan mobil dan perlahan melaju. Luna merasa canggung dengan keadaan yang seperti ini.


"Terima kasih telah menjemputku, tapi kalau aku boleh tahu apa yang terjadi kepada Safira? " kata Luna sambil memainkan jarikunya karena gugup.


"Jangan sungkan. Mobil Safira mogok dalam perjalanan ke sini." Jawab Dewa.


" Kenapa dia tidak menelponku saja, aku bisa mencari taksi daripada harus menunggunya." ucap Luna pelan.


"Waktu aku jemput Safira tadi dia bilang kalau ponselnya mati. Jadi dia tidak bisa menghubungimu." jawab Dewa sambil mengangkat sebelah alisnya. dia menyeringai ke arah Luna.

__ADS_1


"Oh jadi begitu ya..." Ucap Luna sangat pelan.


"Apa kamu tidak suka aku menjemputmu? " Tanya Dewa sambil tersenyum lebar. Luna merasa aneh melihat senyum Dewa yang seperti itu. Seolah-olah Dewa seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.


"Aku tidak mengatakan itu ya. Aku senang kamu menjemputku. Apalagi dengan mobil sebagus ini." Ucap Luna takut menyinggung Dewa.


"Apa kamu punya rencana dengan adikku malam ini? "


"Aku ingin membeli mobil." Kata Luna.


"Kita sudah mencari secara online sebelumnya. Tapi aku ingin membelinya minggu ini." Ucap Luna tampak malu-malu.


"Oh, jadi asisten pribadiku ini akhirnya menyadari bahwa dia membutuhkan mobil untuk kerja." kata Dewa dengan tersenyum.


"Kenapa dia bersikap sangat riang? " Gumam Luna dalam hati.


"Hahah hahaha sangat lucu." Kata Luna. mencoba untuk mengikuti arus dan melihat bagaimana keadaan di antara mereka berdua.


"Apa mobil favoritmu? Atau lebih tepatnya mobil impianmu?” Tanya Dewa.


"BMW M9“ Jawab Luna pelan.


"Wow... Itu mobil yang sangat bagus” kata Dewa.


"Tapi bujet ku ngga sebanyak itu. Jadi aku akan mencari mobil yang tidak terlalu mahal, tapi tetap bisa diandalkan." Jawab Luna.


" Karena Safira tidak bisa menemanimu, apa kamu punya rencana lain malam ini?" Tanya Dewa. Dia bertanya seolah-olah dia benar-benar peduli pada Luna. sebuah hal aneh yang terjadi kepada Dewa selama Luna ada di sampingnya.


"Dina mengajakku untuk ngopi malam ini."


"Oh, kemana memangnya kalian pergi? " tanya Dewa seolah ia tertarik dengan apa yang akan Luna lakukan.


" Rencananya sih mau ngopi di cafe." jawab Luna sambil melirik ke arah Dewa. Luna berpikir kalau tidak ada salahnya memberi tahu Dewa tentang hal ini.


"Kalau boleh tahu di cafe mana ya? " tanya Dewa. Luna bingung Mengapa Dewa terus mengejarnya dengan pertanyaan seperti itu. Mungkinkah Dewa bertanya hanya karena ingin tahu atau dia punya alasan yang lain.


"Aku nggak tahu. Tadi rencananya setelah aku pulang dan ganti baju Aku akan pergi ke rumahnya. Kita akan berangkat bersama dari rumahnya." jawab Luna dengan pelan.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu untuk ganti baju setelah itu aku akan mengantarmu ke rumahnya Dani." Dewa mengatakan itu.


"Tidak, tidak perlu. Kamu tidak perlu mengantarkan aku ke tempat Dani. Aku bisa sendiri kok." Luna mencoba untuk memancing Dewa. Apakah pertanyaannya yang tadi itu semua ada alasan yang lain.

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Aku tidak masalah." ucap Dewa sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu." ucap Luna dari pada harus berdebat dan memperpanjang masalah.


__ADS_2