
Luna berjalan di lantai presidensial Suite sendirian. Setelah itu ia pun membuka pintu dengan kode yang diberikan oleh Dewa tadi. Luna masuk ke dalam ruangan. Sebuah ruang tamu dengan cat coklat dan hitam, sofa berwarna coklat dan TV besar di tengah-tengah ruang tamu. Luna duduk di kursi yang berada dekat dengan jendela, sehingga ia bisa melihat jalan-jalan yang berada di Surabaya yang terlihat indah di malam hari dengan lampu yang gemerlapan. Luna pun mengambil remote TV lalu menyalakannya. Dan di saat ia menonton televisi, iya memutuskan untuk nelpon Safira untuk mengabari bahwa dirinya sudah pulang.
"Safira..." kata Luna di saat panggilannya sudah diangkat oleh Safira.
"Apa kabar Luna. Bagaimana liburanmu? Aku mau dengar ceritanya dong." kata safira yang suaranya terdengar sangat senang begitu Luna menghubunginya.
"Sangat luar biasa Safira. Satu minggu itu adalah minggu terbaik di dalam hidupku. Dewa sangat baik, penyayang, perhatian. Pokoknya dia adalah suami idaman yang sangat ideal. Aku bisa melihat Dewa yang memiliki sifat lain yang belum pernah aku lihat selama hidupku." kata Luna tersenyum sambil membayangkqn semua hal indah yang dia dan Dewa lakukan Selama perjalanan liburan.
"Waah... kamu pasti senang banget ya. Aku sangat senang mendengar berita ini. Oh iya kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian? " tanya Safira.
" Kalau tentang itu aku masih belum tahu. Sebenarnya aku sangat ingin bertanya pada Dewa saat kita ada di tempat liburan kemarin. Tapi saat itu juga aku merasa kalau aku tidak harus memaksa Dewa. Yang penting Dewa Sudah bersikap layaknya lelaki terhormat dalam mengekspresikan cintanya. Kamu tahu? Waktu seminggu itu terasa sangatlah singkat. Terasa sangat cepat. Jadi aku tidak bisa menanyakan apa-apa lagi kepada Dewa. Jadi ceritaku cukup sampai di sini dulu ya." Ucap Luna.
"Aku sangat mengerti apa yang kamu maksud. Aku berharap yang terbaik untuk kamu dan Dewa.
"Terima kasih. Oh iya, bagaimana kabar bayi mu? " Tanya Luna.
"Anak dalam kandunganku baik-baik saja. Aku sedang di rumah sakit saat ini. Aku akan menghubungi kamu nanti lagi. soalnya ini sudah giliran ku untuk menemui dokter." Ucap Safira.
"Baiklah.. Hati-hati ya." kata Luna sambil menutup telepon. Setelah itu Luna melihat Dewa yang baru saja masuk. Terlihat wajahnya seperti sedang ada masalah.
"Kamu sedang menelpon siapa sayang? " Kata Dewa sambil mencium pipi Luna dan duduk di samping istrinya. Dia menarik Luna agar lebih dekat dengannya.
"Aku sedang berbicara dengan adikmu. Apa ada yang salah?" kata Luna sambil balas memeluk suaminya juga.
"Tidak ada yang salah. Oh iya, apa kamu mau menginap di sini dulu. Aku benar-benar lelah untuk mengantarkan kamu pulang."Ucap Dewa sambil mengeratkan pelukannya kepada Luna.
__ADS_1
"Ngga... Aku ngga keberatan. Tapi aku harus mengabari mama terlebih dahulu supaya mama ngga khawatir." Kata Luna sambil mengambil ponselnya kembali yang telah Ia letakkan di atas meja. Dia segera mengetik pesan untuk dikirimkan kepada mamanya.
"Sudah..." gumam Luna.
"Kalau sudah ayo sekarang kita istirahat." Dewa pun berdiri dari sofa dan langsung berjalan menuju kamu. Dan disaat yang bersamaan, Luna berisiatif untuk menanyakan sesuatu kepada suaminya. Dia pun berjalan lebih dekat lagi untuk memudahkan bertanya kepada dewa. Luna merasa ini adalah waktu yang tepat.
"Dewa, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? " kata Luna sambil melangkah mendekatOK Dewa.
"Tentu saja boleh dong sayang. Ada apa? "Jawab Dewa yang langsung menoleh ke arah Luna. Dewa pun langsung menarik Luna untuk duduk bersamannya di atas tempat tidur.
"Sebenarnya aku sudah lama mau menanyakan ini padamu. Hmmm... Tentang kita... Apakah aku masih harus bekerja di perusahaan atau... " Luna sedikit ragu untuk menanyakan hal ini. Namun ia yakin akan banyak orang yang melakukan hal yang sama apalagi itu berkaitan dengan hubungan mereka. Luna merasa benar-benar berhak untuk bertanya kepada suaminya. Iya tahu dengan pasti bagaimana peraturan di perusahaan. Di perusahaan milik Dewa itu dilarang ada hubungan spesial antara karyawan selain hubungan pekerjaan. Jadi Luna pun menanyakan hal ini sebelum hari senin datang. Supaya ia bisa tahu keputusan apa yang harus diambilnya. Mengingat pernikahannya yang belum resmi secara negara.
"Hmmm... Tentang itu. Sebenarnya aku mau membuat kejutan untuk kamu. Tapi karena kamu sudah menanyakan hal ini... Aku akan memberitahumu saja sekarang." kata Dewa sambil berjalan ke meja nakas di samping tempat tidur lalu kembali lagi dengan sebuah dokumen di tangannya. Dewa pun menyerahkan sebuah stopmap berwarna hijau kepada Luna. Luna yang merasa diberikan segera mengambil stopmap tersebut dari tangan dewa. Perlahan-lahan ia membukanya. Beberapa saat kemudian Luna benar-benar tidak menyangka bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan.
"Dewa... Dewa... Ini adalah mimpiku sejak dulu. Terima kasih, Terima kasih telah mewujudkan mimpiku." kata Luna dan langsung memeluk Dewa. Iya tak bisa lagi menahan air mata kebahagiaannya. Luna benar-benar tidak percaya jika Dewa saat ini sedang membangunkan sebuah restoran untuk istrinya di hotel miliknya. hal yang tidak pernah Luna bayangkan sebelumnya.
"Aku harap kamu akan menyukainya sayang. Meskipun semua ini tidak seperti yang kamu bayangkan." kata Dewa sambil mengusap rambut istrinya.
"Qku sangat menyukainya. Bahkan Apa yang kamu lakukan ini adalah lebih dari yang aku bayangkan. Terima kasih banyak telah membuatku sebahagia ini." kata Luna sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Aku sangat senang mendengar kamu menyukainya. Dan Berhentilah mengucapkan kata terima kasih kepadaku. Kamu pantas mendapatkannya." kata Dewa sambil mencium bening Luna. Iya menarik Luna untuk memundurkan diri di atas tempat tidur. Luna pun memeluk Dewa dan bersandar di dada bidangnya. mereka berdua bersandar di sandaran atas tempat tidur.
"Apa ini masalahnya kamu marah saat kita pulang ke Surabaya. Karena apa yang kamu rencanakan benar-benar belum siap?" tanya Luna kepada suaminya.
" Iya, aku marah karena hal itu. Aku ingin memberikan sesuatu yang spesial kepadamu sebagai kejutan. Tapi karena belum siap, harus gimana lagi" Dewa pun mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Jngan merasa seperti itu. Apa yang kamu lakukan sudah lebih dari yang aku bayangkan. Aku sangat menyukainya."
"Oh iya, Dari mana kamu tahu kalau aku ingin memiliki restoran dan menjadi seorang koki profesional? " tanya Luna sambil menatap mata dewa.
"Itu, karena aku ingin melakukan semua hal yang bisa membuatmu bahagia. Kalau untuk masalah aku tahu ini... Waktu itu aku memintamu datang ke ruanganku dengan mmebawa beberapa File, dan waktu itu aku menemukan sebuah file di flashdiskmu dengan nama Impian masa depan. Karena penasaran aku membuka file tersebut, padahal itu tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Aku melihat semua rencanamu untuk memiliki restoran. Bahkan kamu menyimpan cara-cara memasak yang baik. Jadi setelah itu aku memutuskan untuk mewujudkan mimpimu. Dan aku akan menunjukkan restoran itu nanti kalau sudah selesai dengan menyatakan perasaanku kepadamu. Tapi semua Rencanaku gagal. tapi di sisi lain aku merasa bahagia karena sekarang kamu sudah menjadi milikku." kata Dewa menjelaskan sambil menatap Luna dan kembali menariknya ke dalam pelukan.
"Jadi itu artinya, insiden di cafe yang membuatmu membawaku ke rumahmu itu adalah hal yang tidak disengaja. Sebenarnya kamu sudah berencana untuk memberitahukan Bagaimana perasaanmu?" kata Luna sambil tersenyum.
"Iya sayang. Aku sudah berencana untuk memberitahumu." kata Dewa sambil balas tersenyum kepada Luna.
"Selamat malam my King." kata luna sambil mengecup bibit Dewa danlangsung memberikan kepalanya di Atas Bantal.
"Wah... Sejak kapan aku menjadi rajamu?" kata Dewa sambil merebahkan kepalanya di Atas Bantal. dia pun memeluk Luna.
"Sejak hari di mana kamu mencuri hatiku." kata Luna dalam hati merasa sangat bahagia. Luna pun memutuskan untuk menolak menghindari tatapan Dewa. dan saat ini pipinya sudah memerah karena malu.
"Selamat malam Dewa... Aku tidak memberitahumu kapan." Luna mengatakan sambiil menutup matanya supaya Dewa mengira bahwa dirinya akan tidur dan Dewa tidak akan bertanya lagi.
"Kamu bisa memberitahuku kapan saja kamu siap sayang." kata Dewa. Setelahnya iya menarik wajah Luna untuk mencium bibirnya. Mereka langsung tidur karena merasa lelah.
Di tengah malam, Luna terbangun dari tidurnya Karena mimpi buruk. Mimpi yang sama seperti pertama kali ia kembali dari Jakarta. Tapi kali ini mimpinya sedikit berbeda. Luna melihat dirinya yang masih berusia 5 tahun sedang memegang pistol. Tapi pistol yang dipegangnya itu bukanlah sembarang pistol. Bagaimana caranya Luna bisa tahu jenis senjata itu. Luna pun mencari tahu tentang pistol yang dipegangnya dalam mimpi itu. Dalam mimpi itu juga Luna melihat ada seorang laki-laki paruh baya dan di sampingnya lagi adalah anak laki-laki yang sama seperti dalam mimpinya yang lalu. Dalam mimpi itu juga Luna masih memanggil mereka dengan sebutan papa dan kakak.
"Aku harus tanya sama mama tentang mimpi-mimpi yang aku alami ini. Mimpi ini seperti sebuah kenyataan. Luna sangat pandai berbicara bahasa Sunda dalam mimpi tersebut. Namun setiap kali ia mengingat-ingat, Iya merasa tidak pernah belajar bahasa Sunda di sekolahnya dulu.
"Besok kalau sudah pulang, aku harus tanya sama mama Apa artinya mimpi ini . Mama pasti tahu. " gumam Luna lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lagi.
__ADS_1