Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Kebahagiaan


__ADS_3

Luna sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menemui Angga. Di dalam perjalanan, Luna memikirkan hal yang belum tentu terjadi.


" Bagaimana kalau misalnya Angga memutuskan untuk menuntut Dewa? hal itu akan merusak Citra Dewa. Begitu citranya hancur, hancur pulalah bisnisnya. Ya Tuhan... semoga saja semua itu tidak terjadi." gumam Luna di dalam hati yang saat ini sedang duduk di samping Dewa.


Tak lama setelah mereka menempuh perjalanan, mereka telah tiba di rumah sakit. Dewa dan Luna masuk langsung menuju ke kamar Angga dirawat. sedangkan Dina, sudah ada di sini terlebih dahulu untuk menunjukkan Di mana kamar Angga berada. Luna menggenggam erat tangan dewa Saat berjalan ke ruangan Angga. Luna berpikir jika Dewa akan berubah pikiran dan pergi begitu saja saat mereka akan masuk nanti.


Tiba-tiba saja Luna berubah pikiran saat ia sampai di depan pintu kamar tempat Angga dirawat. Luna memutuskan untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu ia akan meminta maaf atas nama dewa. Begitu Luna sudah melihat hasilnya, dia akan mengajak dewa untuk segera masuk.


"Kamu di sini aja dulu ya. Aku biar aku masuk terlebih dahulu. Nanti aku bakal ajak kamu masuk setelah aku bicara sama Angga." Dewa mengangguk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Luna.


'Tok tok tok' Luna mengetuk pintu pelan sebelum dia masuk.


"Halo Angga, ini saya Luna." ucap Luna begitu ia sudah berada di dalam kamar Angga.


"Hei Luna, apa kabar? " kata Angga sambil tersenyum pada Luna dan mencoba untuk duduk.


"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu." kata Luna sambil tersenyum. Melihat Angga yang berusaha untuk duduk, Luna segera berjalan dan membantunya.


"Aku ingin meminta maaf atas apa yang terjadi padamu. Aku sangat menyesal karena hal ini terjadi kepadamu karena aku." Kata Luna dengan lirih.


"Tidak apa-apa. Sudah wajar kecemburuan menguasai dan hal seperti ini terjadi." Jawab Angga.


"Aku sangat paham dengan keadaan kamu. Aku juga mengerti Kalau kamu akan memutuskan untuk menuntut Pak Bos. Aku tidak menyalahkan kamu karena hal itu. Tapi aku akan sangat senang kalau kamu tidak melakukannya." kata Luna memohon kepada Angga.


"Jangan khawatir, hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku sudah bilang kepada polisi kalau aku dirampok oleh sekelompok gangster." jawab Angga sambil tersenyum kepada Luna.


"Alhamdulillah... Terima kasih banyak Angga." kata Luna sambil berjalan ke arah blangkar rumah sakit dan hampir memegang tangan Angga.


"Tidak... Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku Luma. Aku tahu kalau kamu adalah pacarnya Tuan Dewa saat dia bilang aku tidak boleh menyentuhnya lagi. Dan aku memang salah karena telah menyentuhmu. Kalau aku mengajukan tuntutan terhadapnya, itu akan membuatmu membenci diriku. dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Dan juga, aku tidak bisa kehilangan pekerjaan dan menjadikan keluargaku seorang tunawisma." kata Angga saat ia mencoba menolak pelukan dari Luna.


"Aku tinggal bersama orang tuaku. Dan aku adalah tulang punggung keluargaku. Akulah yang membantu kedua adikku juga. makanya aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini." ucap Dewa kembali.


"Terima kasih banyak. Kamu benar-benar lelaki yang sangat baik. Sebagai tanda syukurku Karena kamu telah memaafkan Dewa, aku akan mengajak dia untuk datang ke sini dan meminta maaf kepadamu." kata Luna.


Luna kemudian berjalan keluar dan memanggil dewa.


"Dewa Ayo masuk. Kamu harus minta maaf kepada Angga." kata Luna sambil menarik lengan Dewa. Setelah itu Luna dan Dewa pun berjalan masuk ke kamar Angga berada.


"Selamat siang Angga. aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan kepadamu. Aku benar-benar dikuasai oleh emosi semalam itu." kata dewasa saat ia sudah berada di samping Angga.


" baik Tuan, anda tidak perlu meminta maaf. " Angga menerima permintaan maaf dari dewa. Dewa pun tersenyum.

__ADS_1


"Karena semuanya sudah baik-baik saja dan kalian sudah saling memaafkan. Aku pikir kita harus segera pergi Dewa." Ucap Luna mengajak Dewa pergi.


"Ya sudah... Angga, aku harus pergi dulu ya." Ucap Luna.


" Semoga kamu cepat sembuh." kata Luna lagi.


" Terima kasih Luna." jawab Angga. Luna dan Dewa pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


"Karena kamu sudah membantu aku untuk meminta maaf kepada Angga. Sekarang aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku juga." saat sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan ke hotel tempat Safira menginap, Dewa berkata dengan melirik Luna sambil mengemudi.


"Melakukan sesuatu? " Apa itu? " kata Luna sambil tersenyum kepada dewa dengan rasa ingin tahu.


" Aku akan melakukan apa yang kamu katakan." Luna pun kembali menjawab.


"Aku belum bilang apa-apa dan kamu sudah menyanggupinya. Baiklah kalau begitu. Kamu bilang kamu akan memberiku kesempatan untuk membuat kamu bisa memaafkanku. Aku akan mencoba mengajakmu ke suatu tempat. Aku mau nanti malam Kamu sudah siap Saat aku menjemput kamu pulang dari tempatnya Safira, kamu akan tahu nanti setelah kita melakukan hal yang aku maksudkan tadi. " Dewa mengatakan kepada Luna sambil tersenyum. Dan di saat itu juga, mobil Dewa Sudah sampai di hotel. Dewa pun menurunkan Luna di lobby.


"Telepon dulu Safira di sebelah mana letak kamarnya." Luna Berkata sambil mengeluarkan ponselnya.


" Halo Safira, kamu berada di kamar nomor berapa?" kata Luna sambil turun dari mobil dan meninggalkan Dewa yang telah menurunkannya di sana. Dia masuk ke dalam hotel sambil menghubungi Safira.


" Aku ada di ruang presidensial Suite lantai 10." jawab Safira dari seberang telepon.


"Hei..." Ucap Safira saat membuka pintu.


" Bagaimana kabarmu? " kata Luna sambil berjalan mendekat ke arah Safira.


"Lebih baik dari sebelumnya.?" Jawab Luna.


" Aku melihat suatu perubahan dalam dirimu. Kamu terlihat lebih bahagia dan lebih ceria dari biasanya." kata safira sambil masuk ke dalam hotel dan menuju ke dapur.


" Benar sekali... Karena ada yang sesuatu hal telah terjadi." kata Luna sambil duduk di sofa.


"Apa hal yang kamu maksud itu... Kalian telah berbuat sesuatu." tanya Safira kepada Luna. Pertanyaan Safira itu langsung membuat Luna mengerti Ke mana arah pembicaraannya.


" Yang benar saja kamu. Tentu saja tidaklah. Tapi dia mengakui perasaannya. Kalau kamu tahu kamu tidak bisa membayangkan betapa bahagianya aku saat ini." Luna tersenyum sambil menjawab apa yang ditanyakan oleh Safira. Luna Berkata sambil menatap ke arah langit-langit. sepertinya ada yang sangat menarik di atasnya. Sementara itu Luna mulai masuk dalam lamunan. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Terima kasih." sesaat kemudian Luna memeluk Safira. Rasa kebahagiaan itu benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Aku ikut bahagia mendengar kabar ini." Safira pun balas memeluk Luna. Dan mereka hari itu bersama saling bercerita tentang kehidupan mereka. Luna menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan kakak Safira. Termasuk menceritakan tentang pernikahan.


" Tapi aku minta padamu. Tolong jangan kasih tahu siapapun tentang pernikahan ini. Bukan apa-apa, Aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkannya." ucap Luna kepada adik iparnya itu.

__ADS_1


"Terus kenapa kalian ngga beribadah. Kan kalian sudah halal? " tanya safira kembali.


" Hal ini terlalu cepat untuk aku. Aku belum siap. Aku masih berusaha untuk bisa memaafkannya." jawab Luna.


Sedangkan Safira, menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya. Suaminya yang saat ini sedang bertugas jauh dari dirinya. Mereka bertengkar karena tidak kuat menahan rindu. Sofia sedang hamil sedangkan suaminya tidak ada di sampingnya. Hal itu benar-benar membuat mereka berdua harus menahan rasa rindu yang menggebu. Safira yang tidak bisa terus-terusan menghubungi suaminya karena harus menjaga kehamilannya. Karena waktunya yang terbagi itu, suaminya jadi uring-uringan. Luna juga mengatakan kepada Safira untuk memberikan pengertian. Tidak melulu ada waktu untuk memgang ponsel. Kehamilannya bukanlah sesuatu yang bisa mengurangi cinta. Tapi malah membuat pasangan menjadi semakin mencintai. Karena hamil adalah hadiah terindah dalam berumah tangga. Dan itulah yang di nantikan.


Luna dan Safira benar-benar menghabiskan waktu berdua hari ini. sehingga tidak sadar hari pun sudah sore. mereka menghabiskan waktu dengan bersantai Ria, makan dan sambil menonton film. Dan di saat itu juga, Luna dan Safira mendengar pintu dibentuk dari luar. Luna bangkit dari duduknya dan segera membuka pintu. Sebelumnya ia sangat berharap bahwa yang datang adalah dewa. Setelah membuka pintu dan melihat Siapa yang datang, Luna tersenyum sumringah di bibirnya.


" Selamat malam tuan putri. Apakah Anda sudah siap untuk pergi." kata Dewa membalas senyum Luna.


"Bagaimana harimu? " Tanya Luna.


"Aku sudah siap pergi. Aku akan ngambil tas dan berpamitan sama Safira terlebih dahulu." kata Luna sambil masuk ke dalam kamar Safira.


Setelah Luna dan Dewa berpamitan kepada Safira. Mereka saat ini sedang berada di dalam perjalanan. Entah ke mana Dewa akan membawa Luna. Yang pasti Dewa tidak memberitahu Luna ke mana Iya akan pergi.


Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti. Luna melihat keluar jendela dan terlihat penampakan jet pribadi milik Dewa di luar sana.


"Apa yang kita lakukan di sini?" Luna bertanya kepada dewa karena sesuatu mengganggu pikirannya.


"Jangan khawatir, kamu akan segera tahu" Kata Dewa sambil tersenyum pada Luna. Dia turun dan langsung memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Luna.


Luna menyetujui untuk terbang bersama Dewa menggunakan jet pribadinya. Dan sampai di situ pula Dewa tidak mau memberitahu kemana mereka akan pergi. Hampir 2 jam berlalu, akhirnya Dewa dan Luna telah tiba di tempat tujuan. Mereka telah mendarat dengan selamat. Akhirnya Luna tahu kemana Dewa membawanya pergi. Sebuah pulau kecil yang dimiliki oleh suaminya.


Ada banyak hal yang dimiliki oleh Dewa tetapi Luna tidak mengetahuinya. Dalam sebuah perjalanan, Luna menikmati pemandangan yang sangat indah mereka saat ini sedang berjalan menuju ke sebuah rumah yang dimiliki oleh Dewa di pinggir pantai. Walaupun perjalanan mereka berada di antara gelapnya malam, Pemandangan itu masih sangat memukau. Sangat indah di Pandangan mata Luna.


Saat masih dalam perjalanan, Dewa memberitahu Luna bahwa dia telah merencanakan apa yang akan dilakukannya esok hari.


" Ini jadwal kita mulai besok sampai 1 minggu kedepan." Dewa memberikan selembar kertas kepada istrinya saat mereka telah sampai di sebuah rumah yang sangat megah di pinggir pantai.


" kita akan menghabiskan waktu 1 minggu di sini sebagai bulan madu." ucap Dewa menggoda istrinya.


"Aku sudah bilang kalau aku belum siap untuk melakukannya." Luna yang selesai mengucapkan kalimatnya langsung berjalan memutari rumah tersebut. Dia melihat-lihat seluruh isi rumah. Luna tidak mengenal lelah walaupun ia sudah melakukan perjalanan. Karena keindahan tempat itu mampu menghilangkan rasa lelahnya dalam sekejap.


"Tempat ini sangat bagus." ucap Luna saat ia memandang keluar rumah yang berdindingkan kaca.


"Apa kamu menyukainya? " katanya Dewa Dewa yang tiba-tiba sudah berada di samping Luna.


"Apakah kamu serius bertanya apakah aku menyukainya? Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukainya. Dewa, tempat ini sangat indah. Aku sangat senang kamu membawaku ke sini. Kata Luna dengan tersenyum, lalu berjalan untuk memeluk Dewa. Luna mengatakan pada suaminya betapa bahagianya dia berada di sini.


"Aku senang kalau kamu menyukainya. Tunggu saja sampai besok ya. Kamu akan tahu apa yang telah aku rencanakan untuk kita. Aku berharap Kamu akan segera memaafkanku." Kata Dewa sambil mencium bibir Luna.

__ADS_1


__ADS_2