Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Kembali Liburan


__ADS_3

Menjelang weekend, Luna telah menghabiskan waktu terbaik dalam hidupnya untuk membuat kenangan indah bersama dewa. dalam satu minggu itu, Luna dan Dewa mencoba hal-hal baru.


Keesokan harinya setelah mereka melihat pemandangan di bawah laut, Dewa mengajak Luna ke sebuah air terjun yang sangat menakjubkan. Luna merasa benar-benar tertantang untuk terjun ke dalamnya. Mereka berdua melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya di kota. Mencoba sesuatu yang baru yang membuat Luna merasakan berbagai perasaan. Takut, senang, gembira dan bahagia semua berkumpul jadi satu. Masih terasa seperti mimpi bagi Luna. Iya tidak percaya dengan semua yang telah terjadi tersebut telah berlangsung selama satu minggu. Iya berharap kenyataan ini tidak akan pernah berakhir.


Luna kembali tersadar dari lamunannya ketika ia mendengarkan Dewa memanggilnya.


"Luna... Luna... Aluunaaaa." Panggil Dewa berulang kali namun Luna sama sekali tidak mendengarnya. Dewa pun melangkah ke depan Luna.


"Maaf... kamu tadi bilang apa?" kata Luna dengan tergagap dan kembali sadar.


"Nggak apa-apa... Aku tadi manggil kamu udah tiga kali. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Dewa kepada Luna.


"Aku harap kamu tidak memikirkan hal yang aneh-aneh." kata Dewa sambil menatap Luna menyelidik.


"AKu sedang mengingat kembali mimpi indahku bersamamu. Dan Aku baru saja bangun dari mimpi indahku karena kamu memanggilku." jawab Luna sambil tersenyum.


"Kenapa kamu berpikir kalau kamu sedang bermimpi.?


"Dalam satu minggu kebersamaan kita... Itu adalah waktu yang sangat indah untuk aku. Aku merasa semua itu hanyalah mimpi." kata Luna sambil memeluk Dewa.


"Benarkah? Setelah apa yang aku lakukan ini, Apa kamu masih bisa bilang kalau ini semua adalah mimpi." kata Dewa sambil tersenyum kepada Luna.


"Setelah..." Luna belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun dia sudah memotongnya dengan mencium bibirnya. membuat Luna tersenyum sumringah.


"Sekarang kamu bilang ke aku, apa tadi adalah mimpi? " Tanya Dewa dengan senyumnya sambil memegang wajah cantik Luna dengan kedua telapak tangannya.


"Mimpi? "


"Baiklah, kamu sudah tahu kan kalau ini semua bukan mimpi. Ayo kita berangkat." Kata Dewa.


"Ngga... Aku merasa aku tidak sedang mimpi. Ini nyata." Kata Luna sambil membalas senyum Dewa.

__ADS_1


Setelah hampir 2 jam berada di udara, Dewa dan Luna akhirnya kembali ke Surabaya dan tiba pada malam hari. Baru saja mendarat dengan selamat, Ponsel Dewa sudah berdering. Di lihat dari raut wajahnya, Dewa begitu tidak senang. Walaupun Dewa berbicara dalam bahasa Jepang, tapi Luna bisa memahami beberapa kata. Luna mendengar ada kata yang berarti bunuh, dan juga kata yang berarti aku akan segera ke sana. Kata-kata itu membuat Luna sedikit khawatir. Dalam hati Luna bertanya-tanya, Mengapa Dewa mengatakan bunuh dalam sebuah kalimat yang ia ucapkan di telepon tadi. Tapi Luna menepis rasa penasarannya itu. Dia harus percaya kepada Dewa, bahwa apa yang akan dilakukan suaminya itu adalah hal yang baik.


"Mungkin saja Dewa Sedang menakut-nakuti orang yang meneleponnya tadi." Luna terus berpikir positif kepada suaminya.


"Sayang, kamu keberatan atau tidak kalau aku mampir ke hotel? Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di sana." kata Dewa Di saat dia sudah menutup panggilan tersebut.


"Tidak apa-apa. aku akan memberitahu Mama kalau aku akan pulang terlambat malam ini." jawab Luna sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


Mungkin terasa khawatir seorang mama itu lebih besar. di saat Luna akan menelpon mamanya, ponselnya sudah berdering terlebih dahulu. Dan si penelpon adalah mamanya.


"Halo sayang, bagaimana penerbanganmu? Lancar kan? " Tanya mama Luna.


"Halo ma, aku baru saja sampai di bandara. Tapi nanti aku akan pulang sedikit terlambat." Ucap Luna sambil berjalan menjauh beberapa meter dari Dewa. Mereka berdua menunggu di luar sampai mereka yang membawakan barang-barang Luna dan Dewa selesai memasukkan semuanya dalam mobil. Sehingga Luna bisa sedikit tenang berbicara dengan mamanya.


"Oh, tidak apa-apa nak. Yang penting kamu sudah mengabari mama. Dan nanti pulang dengan selamat. Itu saja." Jawab mama Luna.


"Iya ma, tadi aku baru saja mau menelpon mama untuk memberitahu hal ini. Tapi mama sudah menelpon Luna terlebih dahulu. Aku mau mampir dulu ke tempat Dewa." Ucap Luna.


"Iya mah, Kapan-kapan Luna akan jelaskan ke mama." Ucap Luna.


"Oh begitu... Mama malah berharap kalian segera menikah." Ucap mama Luna, spontan hal tersebut membuat Luna berdebar-debar.


"Mama harus berbicara dengan Dewa suatu hari nanti." Mama Luna kembali berbicara.


"Iya mah... Nanti Luna akan menjelaskan keadaannya sama mama." Ucap Luna.


"Kalau begitu, berarti kamu punya janji sama mama ya." Mama Luna pun berkata seperti itu.


"Iya mah. Sudah dulu ya. Luna di tunggu sama Dewa." Kata Luna.


"Iya sayang. Hati-hati." Ucap mama Luna. Akhirnya mereka berdua mengkahiri panggilan. Luna segera mendekat kembali ke arah Dewa.

__ADS_1


"Dewa Aku sudah selesai, Ayo kita berangkat." Luna dan Dewa pun masuk ke dalam mobil dan menuju ke hotel milik Dewa. Luna ingin tahu apa yang sedang terjadi. karena ekspresi wajah Dewa saat ini seakan memberitahu Luna. suatu hal yang mungkin sangat penting, karena ekspresi wajah Dewa benar-benar Tidak seperti biasanya.


"Aku harus tanya sama Dewa. Nggak ada salahnya kan karena aku sekarang sudah menjadi istrinya. " gumam Luna dalam hati.


"Dewa ada apa? " Tanya Luna sambil meletakkan Tangannya di atas tangan kanan Dewa. Terlihat tangan dewa yang mengepal seperti ingin menghajar seseorang.


"Tidak ada yang harus kamu khawatirkan." jawab Dewa sambil melihat ke arah luar jendela mobilnya. Bahkan suaminya itu tidak sedikitpun melirik Luna. Luna tidak terkejut dengan sikap Dewa yang seperti ini. Tapi ia berharap lebih Setelah semua yang terjadi satu minggu terakhir.


"Maaf telah bertanya." kata Luna sambil melepaskan tangannya dari tangan Dewa untuk memberi waktu kepada Dewa berfikir.


"Kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun." TTanya Dewa.


'Kenapa kamu berbicara seperti itu? " Tanya Dewa lagi.


'Apa kamu lupa kamu baru saja mengatakan apa? " Tanya Luna dengan nada tinggi. Iya merasa sedikit emosi dengan apa yang di katakan Dewa tadi. Sedangkan Dewa bersikap seolah tak mengatakan sesuatu yang salah.


"Sayang, bukan begitu maksud aku. Maaf jika sikapku membuatmu merasa seperti itu."Kata Dewa sambil memegang kedua tangan Luna. Iya menarik Luna untuk menghadap dan menatap dirinya.


'Tapi jawaban kamu seolah-olah kamu tidak menganggapku." Kata Luna dengan meninggikan suaranya supaya Dewa tahu kalau dirinya sedang marah. Tapi, hanya dengan menatap mata indah Dewa, membuat semua emosi di dalam hati Luna mendadak hilang dalam sekejab.


"Maaf sayang, aku tidak bermaksud membuat kamu kesal. Kamu berhak bertanya kepadaku. Tapi aku takut. Takut kalau aku menjawab, kamu akan merasa khawatir dengan apa yang kamu ketahui." Kata Dewa sambil mencium bibir dan dahi Luna. Serta langsung menarik Luna ke dalam pelukannya.


"Baiklah kalau begitu."Kata Luna sambil mengalihkan pembicaraan walaupun iya berkata dengan nada cuek, Namun niat di hatinya baik.


Setelah mereka tiba di hotel, mereka langsung berjalan masuk ke lift untuk menuju ke lantai presidensial suit. Luna sudah mengira jika tempat masalah itu adalah di lantai bawah.


"Aku akan menurunkan kamu di sini ya. Aku akan langsung ke tempat yang akan aku tuju. Kamu tidak apa-apa kan? " tanya Dewa.


"Iya, ngga apa-ap. Jawab Luna.


'Baiklah sayang. ini kode masuknya 120394" Kata Dewa saat Lift berhenti.

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya." Ucap Luna sambil melangkah keluar dari Lift.


__ADS_2