
Malam hari yang terasa begitu sepi, Luna terbangun dengan keringat yang bercucuran serta detak jantung yang tak karuan.
"Ya Allah, aku ngga percaya aku melakukan semuanya pada orang-orang itu. Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Bagaimana aku bisa sangat kejam kepada semua orang yang ngga tahu apa-apa, meski ada hubungannya dengan iblis itu? Tapi Alhamdulillah aku tidak membalas dendam pada orang-orang yang punya hubungan darah dengan kami meskipun mereka bekerja sama dengan iblis itu."
"Aku harus menghubungi Dewa.. iya Dewa." Luna pun segera mencari pomnselnya lalu menghubungi suaminya.
"Dewa..." panggil Luna saat panggilan sudah terjawab. Luna menangis dengan air mata yang terus menetes di pipinya. Iya tidak bisa berbicara lagi. Luna sangat ingat semua yang dia lakukan kepada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
"Sayang... Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja? Kedengarannya kamu sedang ketakutan. Apa aku harus ke sana? " Dewa benar-benar khawatir mendengar tangisan Luna saat ini.
"Sayang, jawab aku. Oke, sekarang kamu tunggu dulu aku akan ke sana sekarang juga." kata Dewa sambil mematikan panggilan tersebut.
Dalam waktu kurang dari 5 menit, ponsel Luna berdering kembali. Dia langsung menjawab seper mengetahui Dewa lah Yang meneleponnya.
__ADS_1
"Sayang... Aku di luar. Kesinilah dan buka pintunya." Ucap Dewa dari seberang telepon.
"Oke aku sedang jalan ini." Jawab Luna. Iya segera mengambil jaket dari dalam lemari. Setelah itu dengan perlahan iya turun ke bawah. Luna sangat berhati-hati agar tidak bersuara saat berjalan ke bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Luna membuka pintu depan dengan sangat hati-hati. Takut jika ia bersuara, maka akan ada yang bangun.
"Ayo... Kita kerumahmu saja ya. Aku ngga mau bangun siapapun kalo masuk lagi." Kata Luna. Dewa pun menggenggam tangan istrinya lalu menjalankan mobilnya tanpa berkata sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, Luna dan Dewa telah sampai di rumah yang di tuju. Rumah Dewa. karena Luna yang sangat larut dalam pikirannya, Iya tidak menyadari kalau telah berhenti. Dewa yang memperhatikan Luna seperti itu segera keluar dari mobil dan berjalan ke pintu di samping Luna. Tangan dewa membukakan pintu untuk istrinya. Dewa membopong istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Luna pun melingkarkan tangannya ke pinggang Dewa. Bau parfum Dewa yang semerbak membuat Luna sedikit merasa tenang. Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah bersama.
"Dewa... Aku seperti monster. Aku bisa ingat semua yang pernah aku lakukan dulu. Sangat mengerikan sekali tindakanku saat itu. Ingatan yang baru saja datang itu membuatku semakin merasakan sakit." kata Luna yang menangis sambil memeluk Dewa.
"Sayaang... Ini bukan salahmu. Kamu saat itu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan. Dan mereka pantas menerima semua akibat dari apa yang telah mereka lakukan." kata Dewa menenangkan istrinya dalam pelukan.
__ADS_1
"Dewa, walaupun begitu kenyataannya aku benar-benar merasa buruk. Aku merasa seperti orang yang paling jahat di dunia saat ini atas apa yang pernah aku lakukan." Luna benar-benar menyesal dengan perbuatannya dulu yang menyakiti orang lain yang ada hubungannya dengan ditembaknya papa dan juga David.
"Jangan sedih... Itu semua bukan salahmu. Mereka pantas mendapatkan semua ini. Dan hal yang harus kamu ingat selalu, dalam kerjasama ini orang harus berani mengorbankan nyawanya. Ada beberapa yang pasti dan ada beberapa yang tidak pasti. Tapi dalam dunia mafia seperti keluarga kita itu, pasti darah akan selalu menondai tangan kita." Jadilah wanita yang kuat, dan Percayalah. Ini baru permulaan sayang." Dewa yang mengerti Bagaimana kejamnya dunia mafia benar-benar harus membuat Luna menjadi wanita yang kuat.
"Kamu benar sayang... Mulai sekarang aku harus menjadi wanita yang kuat. Karena jalan hidup yang dipilih oleh keluargaku seperti ini."
"Dan mereka pantas mendapatkan imbalan sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Aku tidak boleh menangis lagi." kata Luna sambil menghapus air matanya. Iya akan mencoba untuk menerima semua ini. Karena apa yang telah terjadi tidak akan pernah bisa dihentikan. Mereka sudah terlanjur masuk dalam dunia mafia yang kejam dan tidak mengenal ampun. Sekali mereka lengah, maka nyawa akan menjadi taruhannya.
"Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah belajar dari kesalahan. Dan membuat orang yang telah berbuat dan menyakiti membayar semua kesalahannya. Karena seperti yang kamu katakan tadi, ini baru permulaan." kata Luna mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.
"Ini baru istriku, sekarang berhentilah menangis." kata Dewa sambil mencium pipi Luna di mana air matanya menetes. Dewa menarik Luna dalam pelukannya hingga bersandar di dada bidangnya.
"Terima kasih ya sudah datang. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kalau kamu tidak datang. Semua orang di rumah papa sudah tidur. Dan kamu adalah orang pertama yang terlintas di benakku. Terima kasih." kata Luna sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku senang kamu meneleponku. Aku akan selalu ada di sini untuk membantumu, sayang." Jawab Dewa.
Sekarang ayo kita tidur. Aku ngga mau istriku ini sakit." kata Dewa sambil memegang tangan Luna dan mengajaknya masuk ke dalam kamar tidur.