
Dua hari telah berlalu sejak kejadian di kantor yang memalukan itu. Dan 2 hari itu pula adalah 2 hari terbaik yang dirasakan oleh Luna. Dewa tidak memberinya pekerjaan yang Luna anggap tidak penting. Dan dalam dua hari ini juga, Dewa sama sekali tidak mencarinya. Dia hanya menyuruh sekretarisnya untuk menyampaikan kepada Luna Jika dia membutuhkan sesuatu.
"Mungkin saja Dewa Sedang menghindariku karena kejadian itu. Lagian aku juga tidak sengaja melakukannya." Gumam Luna sendirian di meja kerjanya. Kejadian memalukan itu berawal ketika Luna berlutut untuk meminta maaf kepada Dewa. Iya tidak tahu jika kancing paling atas dari kemejanya terbuka. Sehingga Dewa bisa dengan jelas melihat belahan di dadanya.
"Kalau dia tidak bisa menghadapi situasi seperti itu, itu urusannya. Tapi lebih baik begini saja. Supaya aku tidak terus-terusan menganggap tempat ini adalah neraka" Gumam Luna kembali saat memikirkan Dewa.
Hari ini Luna ada janji dengan dokter. Mereka akan membicarakan tentang operasi mama Luna. Termasuk masalah biaya, karena saat ini Luna sudah memiliki uang. Yang menjadi masalah adalah waktu untuk pertemuan itu hari ini.
"Kalau aku minta izin untuk bekerja setengah hari saja. Dewa ngijinin apa ngga ya" Luna berkata dalam hati. Sebenarnya Luna bisa langsung pergi saja tanpa harus meminta izin kepada Dewa karena saat ini adalah waktu istirahat.
"Tapi kalau aku belum selesai dan jam istirahat sudah habis Aku harus gimana. Pasti Dewa bakal marah lagi. Bisa mati aku"
" Lebih baik aku bilang aja deh sama dia. Daripada nanti akhirnya aku malah kena marah lagi. Bilang aja kalau mau pulang lebih awal" Luna bergumam sendiri sambil berjalan menuju ke arah ruangan Dewa.
"Masuk" saat Luna sudah berada di depan pintu ruangan Dewa, setelah mengetuk ia mendengar Dewa mengucapkan kata masuk. Luna yang telah mendengar Dewa Mengatakan kata masuk, iya langsung memutar handle pintu dan membukanya.
"Selamat siang tuan." ucap Luna sambil masuk ke ruangan Dewa. Luna melihat Dewa yang sedang sibuk dengan layar laptopnya. Bahkan laki-laki itu tidak melirik sedikitpun Luna yang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Tuan saya datang ke sini untuk menanyakan sesuatu." ucap Luna yang sudah berada di dekat Dewa.
"Hmmm" hanya itu kata yang diucapkan Dewa dan masih tetap fokus pada layar laptopnya.
"Dia benar-benar tidak mau melihatku. Apa mungkin dia masih canggung untuk melihatku karena Kejadian beberapa hari yang lalu? Ya Tuhan, aku merasa seperti wanita murahan yang menyerahkan diriku ke bosku sendiri. Aku harus menjelaskan kepadanya kalau aku bukan tipe wanita yang seperti itu. aku tidak boleh membiarkan dia salah paham terlalu lama." Luna bergumam di dalam hatinya.
"Tuan kedatangan saya ke sini adalah untuk meminta izin kepada anda untuk pulang cepat hari ini." ucap Luna di depan Dewa.
"Kenapa kamu mau pulang cepat nona Aluna? " tanya Dewa sambil mengalihkan pandangannya ke arah Luna. Akhirnya Luna merasa senang karena ia bisa melihat mata indah Dewa kembali. Ia pun merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya setelah menatap Dewa.
"Hari ini saya ada janji dengan dokter untuk datang ke rumah sakit." jawab Luna sambil menatap Dewa.
"Tidak Tuan, Saya tidak sedang sakit. Saya pergi ke rumah sakit hanya untuk sekedar melakukan medical check up" jawab Luna yang harus berbohong kepada Dewa. Dia tidak ingin Dewa tahu jika mamanya sakit. Karena menurutnya tidak enak jika Dewa mengetahuinya. Oleh karena itu ia membohongi Dewa.
"Oh, baiklah, kalau begitu kamu boleh pergi. tapi besok pagi kamu harus ada di sini untuk menyelesaikan pekerjaan yang kamu tinggalkan hari ini." ucap Dewa.
"Baik tuan saya mengerti. Terima kasih banyak tuan. Saya akan berada di sini besok pagi-pagi sekali" jawab Luna. Iya langsung berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Namun saat hampir tiba di dekat pintu. Luna kembali ke depan Dewa lagi. Ia teringat dengan niatnya sebelum ia masuk ke ruangan ini tadi.
"Tuan, ada satu hal lagi yang ingin saya katakan." Ucap Luna. Dewa kembali menatap Luna.
"Apa? " Tanya Laki-laki itu.
"Saya tahu anda menghindariku karena anda mengira aku menyerahkan harga diriku padamu tempo hari. Ketika saya berlutut dan memohon maaf kepada Anda untuk tidak memecat saya. Saya tidak tahu kalau kancing baju saya terbuka, dan ehhmm... Anu... Saya diperlihatkan sesuatu kepada Anda. Saya minta maaf jika hal itu membuat anda merasa tidak nyaman dan juga membuat anda berpikir salah tentang saya. Saya tidak bermaksud untuk melakukan semua itu" ucap Luna panjang lebar kepada Dewa.
"Aku sudah mengenalmu hampir separuh dari umurku Luna. Aku tidak pernah memiliki kesan buruk Tentangmu. Jadi jangan mengkhawatirkan hal-hal buruk yang ada di pikiranmu itu. Aku tahu kalau kancingmu terbuka saat kamu berlutut Itu adalah sebuah kebetulan." ucap Dewa sambil menyeringai ke arah Luna.
"Kalau begitu terima kasih atas semuanya tuan." ucap Luna. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan Dewa.
Setelah keluar dari ruangan Dewa, Luna kembali ke ruangannya sendiri untuk mengambil tas agar bisa segera pergi ke rumah sakit. Luna pun meninggalkan kantor.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit. Luna telah sampai di rumah sakit. Iya duduk di ruang tunggu rumah sakit untuk mengantri. Nomor urut yang ia dapatkan tidak terlalu lama untuk bisa bertemu dengan dokter yang menangani mamanya. Dan tidak ada 10 menit Luna duduk, nomor antrian yang ia pegang telah dipanggil. Luna pun bergegas berdiri untuk masuk ke ruangan dokter itu.
"Permisi... Selamat siang dok" ucap Luna Saat memasuki ruangan tersebut. Dan dokter yang berada di depannya itu berdiri langsung menjabat tangan Luna. Setelah itu dokter tersebut mempersilahkan Luna untuk duduk.
__ADS_1
" Selamat siang dokter, saya Aluna Shea. saya ke sini sekitar 1 bulan yang lalu dengan pasien yang bernama Safina Shea, ibu saya. Satu bulan yang lalu dokter memberitahu kami bahwa ibu saya menderita kanker. Karena saat itu saya belum punya uang, saya meminta kepada dokter untuk memberikan waktu. Dan karena saya sekarang sudah memiliki biaya untuk operasi. Jadi kapan operasi Mama saya bisa dilakukan?" tanya Luna tanpa perlu berbasa-basi lagi. Dokter mengingat-ingat pasien yang di sebutkan Luna tadi.