
Dewa telah sampai mengantarkan Luna di rumahnya tak lama setelah percakapan di mobil berlangsung. Luna langsung masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju. Sedangkan Dewa menunggu di ruang tamu. Luna dengan cepat mengganti setelan baju kerjanya ddengan gaun berwarna hitam sepanjang lutut. Setelah selesai, Luna berjalan ke bawah.
"Aku sudah siap, kita bisa pergi sekarang." kata Luna sambil berjalan ke ruang tamu. Dewa tidak mengatakan apa-apa untuk sementara waktu. Dia tampak tenggelam dalam lamunanya saat memandnag Luna.
"Apa bajuku tidak cocok ya? " Gumam Luna melihat Dewa yang terdiam memandangnya.
"Dewa” kata Luna berusaha menyadarkan laki-laki di depannya itu. "Ya... Ya" Jawab Dewa terbata-bata dalam berkata seolah sedang terkangkap basang melakukan sesuatu yang salah.
"Oh ya, kalau begitu ayo kita pergi" kata Dewa berjalan menuju ke pintu dan keluar pintu terlebih dahulu.
"Ini alamat rumah Dina." Luna memberikan alamat ponselnya kepada dewa saat mereka berjalan keluar dari rumah Luna. Di setelah di dalam mobil, Dewa hanya membaca.
Tak lama setelah itu, mereka telah sampai di sebuah perumahan. Rumah Dina. Luna berjalan ke depan pintu dan langsung memencet bel, setelah itu menunggu beberapa saat. Dan tak lama setelah itu, Dina membuka pintu setelah bel di pencet Luna sebanyak 3 kali.
"Wah, akhirnya kamu datang juga. Aku sangat senang sekali. Kamu telihat sangat canti." Ucap Dina sambil menarik lengan Luna untuk masuk ke dalam rumah teman kerjanya itu dengan senyum indah di wajahnya. Rumah Dina terlihat sangat nyaman dan sangat elegan. Dina berjalan menaiki tangga, Luna pun hanya mengikutimya. Setelah berada di lantai atas, Luna di ajak masuk ke dalam sebuah kamar, yang tak lain adalah kamar Dina. Kama itu tertata dengan rapi, sebuah spring bed dengan ukuran queen dengan 2 meja di sisi kanan dan kirinya. Dua buah lamari besar.. Ada sebuah pintu lagi selain pintu masuk yang tadi. Pintu menuju ke kamar mandi.
jam 19.20, Luna dan Dina telah selesai dan tinggal berangkat. Luna sedikit memoleskan make up ke wajahnya karena tadi iya tak sempat, takut Dewa akan kelamaan menunggu. Dina yang saat ini berada di kamarnya dan telah selesai bersiap segera mengajak Luna untuk berangkat. Dina mengenakan rok hitam dan kemeja putih serta sepatu boot. Membuat gadis itu terlihat sangat cantik. Setelah itu mereka turun lalu keluar rumah. Setelah manaiki mobil Dina, mereka berangkat menuju ke caffe yang di tuju.
Tidak lama dalam perjalanan, Luna dan Dina telah sampai di cafe. Karena Dina sudah mengenal seseorang, mereka tidak perlu mengantri. Setelah berada di dalam cafe, Dina memesan minuman. Luna tidak mengerti minuman apa yang di pesan oleh temannya itu. Iya berharap Dina tidak memesankan minuman yang aneh-aneh.
"Terima kasih." Luna berkata. Iya segera mengambil gelas yang beisi jus dan langsung meminumnya. Di saat yang bersamaan, Luna melihat seorang lelaki yang datang dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Wah, keren sekali." Gumam Luna.
"Tapi masih tetap keren Dewa." gumamnya lagi.
"Tapi dia memang tampan." Gumam Luna dalam hatinya sambil melirik lelaki tersebut.
"Hai, saya Angga. Apa aku boleh bergabung di sini dengan mu? " kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya. Mau tidak mau Luna menerima uluran tangan itu dan langsung membalasnya. Iya tidak mau di anggap sombong meskipun Luna tidak tahu siapa lelaki di depannya itu.
"Aku kerja di perusahaan yang sama dengan kamu dan Dina, hanya saja aku di devisi marketing."Ucap Angga mempekenalkan diri.
"WAh ternyata..." Luna tersenyum menanggapi lelaki bernama Angga itu. Mereka akhirnya mengobrol.
"Kamu orangnya sangat menyenangkan ya ternyata." Ucap Luna.
"Oke, ayo." Luna menjawab dengan mengaggukkan kepalanya dan tersenyum. Akhirnya mereka pun berjalan ke panggung untuk berdansa
Luna dan Angga berada di panggung dansa. Luna merasa Angga melingkarkan tangannya ke pinggang. Luna mencoba untuk tidak menolak, iya akan bersenang-senang malam ini. Di saat mereka akan mulai menari, Luna mendengar sesuatu.
'Bugh bugh' Suara itu di dengar Luna berasal dari Angga yang berada di belakangnya. Saat iya menileh, iya melihat Dewa yang sedang menghajar temannya itu.
"Ya Tuhan, apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia memukuli Angga? Aku harus melakukan sesuatu sebelum dia membunuh Angga." Luna merasa panik.
__ADS_1
Dewa, tolong hentikan!” teriak Luna berusaha menghentikan tangan Dewa agar tidak mengenai wajah Angga, tapi tidak berhasil.
"JANGAN PERNAH MENYENTUHNYA LAGI" kata Dewa masih meninju Angga.
"Dewa Aku mohon, tolong hentikan." kata Luna sambil berteriak dengan air mata berlinang di wajah cantiknya. Luna masih mencoba melepaskan tangan kekar Dewa dari Angga tetapi tidak berhasil.
Akhirnya setelah Luna berteriak lebih keras lagi, Dewa baru mau berhenti meninju Angga. Dia langsung menyeret Luna keluar Cafe dan langsung menyuruh gadis itu masuk ke mobilnya. Karena Luna takut, iya pun menurut saja kepada Dewa. Banyak pertanyaan di kepala Luna.
"YA Tuhan... kenapa dia memukuli Angga.
"Dia cemburu atau bagaimana sih? " Gumam Luna dalam hati, Iya tak habis fikir dengan semua kejadian ini. Luna tidak berfikir jika Dewa cemburu, soa;nya Dewa tidak terlihat menyukai dirinya.
"Tapi kenapa? Ada apa? " Luna terus bertanya pada dirinya sendiri. Iya ingin sekali bertanya kepada Dewa di sampingnya. Tapi karena Dewa mengendarai mobil dengan sangat cepat, Luna mengurungkan niatnya. Iya akan menunggu sampai Dewa sudah surut amarahnya.
Kurang lebih 30 menit mengendarai mobilnya. Luna dan Dewa tiba disebuh masjid besar. Dan di jam yang sudah dampir 09.00 malam ini, masjid tersebut masih ramai saja.
"Keluar." Ucap Dewa. Tanpa menunggu apa-apa, Luna segera keluar dari mobil Dewa.
"Kita mau kemana? " Tanya Luna penasaran.
"Kamu tunggu saja di sini. Dan njangan kemana-mana sampai aku kembali." ucap Dewa. Luna hanya bisa menurut tanpa membantah.
__ADS_1
Tak ada 10 menit Dewa meninggalkan Luna, iya kembali dengan membawa sebuah map di tangannya. Luna tidak tahu apa yang Dewa bawa. Begitu Dewa sudah sampai di dekat Luna, iya langsung membukakan pintu dan menyuruh Luna untuk masuk kembali.
"Masuklah" Ucap Dewa. Luna hanya menurut saja. Iya tak ingin membuat Dewa melakukan hal-hal yang tak di inginkannya. Sehingga iya langsung masuk ke mobil Dewa lagi. Rasa penasaran Luna semakin kuat ketika Dewa membawanya entah kemana. Iya tahu jalan ini, namun tak tahu kemana arah tujuan lelaki di sampingnya yang sedang fokus mengemudikan mobilnya itu.