Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Ke rumah Dewa


__ADS_3

Pagi ini Luna bangun pagi-pagi sekali. Iya segera mandi dan turun untuk sarapan. Iya menggunakan sebuah dress berwarna abu-abu dengan membawa tas selempang berwarna putih. Luna melepas high heel-nya dan mengenakan Sandal Flat. Setelah berpamitan kepada orang tuanya, Ia pun berjalan menuju ke rumah orang tua Dewa yang jaraknya hanya 4 rumah dari rumahnya. Setelah Luna tiba di tempat orang tua Dewa, Ia pun memakai sepatu hak tingginya kembali lalu memencet bel.


"Maaf, siapa ya? " Tanya seorang pelayan yang baru saja membuka pintu.


"Saya Luna." Jawa Luna.


"Oh nona Luna. Silahkan masuk. Tuan  Dewa sudah menunggu anda di kamarnya. Mari saya tunjukkan kamar tuan muda." ucap Pelayan tersebut dengan ramah. Luna pun mengikuti langkah pelayan tersebut. Saat dalam perjalanan menuju ke kamar Dewa, Luna bertemu dengan orang tua Dewa.


"Tuan, nyonya Andriano. Selamat pagi." Siapa Luna sebelum ia melanjutkan berjalan ke kamar Dewa.


"Selamat pagi Luna. Dewa ada di kamar." Balas mama Dewa sambil tersenyum. Luna pun segera berjalan menuju ke kamar Dewa.


Setibanya Luna di depan kamar Dewa ia segera mengetuk pintu. Tapi dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar itu. Luna pun masuk karena tahu Dewa sedang mandi belanja. Ia pun menunggu. Sambil menunggu Dewa, Luna mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


Luna yang asyik memainkan ponselnya tidak menyadari kedatangan Dewa. Saat iya menoleh, Luna melihat Dewa yang baru saja keluar dari dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana boxer saja.


"Hai..." Ucap Luna untuk mengurangi rasa tegang di hatinya.


"Halo sayang. Aku ngga tahu alau kamu bakal datang sepagi ini." Ucap Dewa.


"Dewa, hanya karena kamu baru bangun bukan berarti ini masih pagi. Terkadang aku bingung sama hidup kamu. Bagaimana bisa kamu mengerjakan semua pekerjaanmu dengan waktu tidurmu yang berantakan itu." Kata Luna.


"Itu rahasiaku sayang." Jawab Dewa sambil menyeringai.


"Terserah apa katamu lah. Tapi aku mau tahu apa yang akan kita lakukan sebelum berangkat kerja. Kenapa kemarin kamu nyuruh aku ke sini." Tanya Luna.


"Ngga ada apa-apa yang akan kita lakukan. Aku cuma mau kamu ke sini, terus nanti aku bakal nganter kamu." kata Dewa dengan senyuman lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.


"Apa kamu serius? " Tanya Luna bingung sekaligus penasaran.


"Tidak juga." kata Dewa sambil tertawa, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Dewa, tolong beri aku alasan kenapa kamu nyuruh aku datang pagi-pagi gini? " Kata Luna. Belum sempat Dewa menjawab pertanyaan Luna, pintu sudah di ketuk dari luar.


"Masuk! " Jawab Dewa. Sepertinya Dewalah yang menyuruh orang itu untuk datang. Setelah itu, seorang pelayan datang dengan membawa baju olahraga di tangannya. Luna tahu yang di pegang oleh Pelayan Dewa tadi adalah baju olahraga milik perempuan.


"Untuk siapa ya baju itu? " gumam Luna dalam hati saat pelayan tersebut meletakkan di sampingnya. Iya melangkah meninggalkan Luna sebelum Dewa kembali dari ruang ganti.


"Pakaian yang dia taruh di tempat tidur tadi kamu pakai ya! kata Dewa sambil berjalan keluar dengan sudah mengenakan pakaian olahraga juga.


"Kok gitu, emangnya kenapa? Dan kenapa juga kamu tngga pakai baju kerja? " Kata Luna yang sedikit bingung.


"Karena hari ini kita tidak akan bekerja sayang. Hari ini aku akan mengajarimu cara bela diri yang baik." Dewa berkata dengan kilatan bangga dari sorot matanya.


"Kan kamu bisa ngasih tahu aku tadi malam, aku akan pakai baju yang sesuai dengan tema kita hari ini. Oh iya, boleh aku bertanya mengapa kamu mau ngajarin aku bela diri? " Kata Luna sambil berdiri membawa baju yang dkkb antarkan pelayan tadi ke ruang ganti.


"Sayang... Aku sadar dengan apa yang akan di lakukan oleh pamanmu saat kamu lengah. Aku tidak mau kamu hanya bisa memegang senjata, tapi kamu harus bisa membela diri saat sesuatu terjadi kepadamu. Hal ini tidak kalah penting dari bisa memegang senjata dengan mahir." Kata Dewa menjelaskan.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, tapi kalau aku boleh jujur, kamu itu terlalu over protective." Kata Luna sambil tersenyum. 


"Menurutku bukan hal buruk berbuat sesuatu untuk melindungi milikku" kata Dewa sambil menarik Luna dalam pelukannya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu sayang." kata Dewa sambil menempelkan dahinya ke dahi Luna.


"Lalu bagaimana maksudnya?” kata Luna sambil menatap mata sauminya.


"Maksudku kamu adalah milikku, karena kamu adalah pemikik hatiku." Jawab Dewa.


"Sungguh? " kata Luna dengan senyum lebar di bibirnya.


"Iya sayang." kata Dewa lalu menempelkan bibirnya ke bibir sang istri untuk memastikan kalau sang istri mengerti maksudnya.


"Sekarang gantilah baju. Aku akan menunggu di ruang gym." kata Dewa setelah melepaskan bibirnya dari wajh Luna.

__ADS_1


"Baiklah..." Jawab Luna sambil berjalan ke kamar mandi. Iya segera mengganti bajunya dengan baju yang di siapkan oleh Dewa. Luna merasa terkejut di saat mengetahui kalau baju yang di pakainya itu sangat pas di tubuhnya.


Setelah selesai memakai baju, Luna pun keluar. Iya melangkahkan kaki keluar dari kamar Dewa.


"Di mana ya ruangan Gymnya? " Gumam Luna merasa bingung. Tiba-tiba saja, saat iya sedang bertanya-tanya sendiri, pelayan yang tadi mengantarkan baju datang.


"Permisi, aku bingung ini lagi nyariin ruang gym. Kamu bisa ngga anterin aku ke sana. Oh iya, sebelumnya siapa nama kamu? " Kata Luna bertanya.


"Iya nona, mari saya antarkan. Nama saya Juli. Mari ikut dengan saya, saya antarkan kesana." jawab Juli sambil berjalan terlebih dahulu menunjukkan dimana ruangan gym itu berada.


"Di sini nona." Ucap Juli saat iya sudah berada di depan gym sambil berhenti.


"Terima kasih Jul." Kata Luna.


"Sama-sama. Mari" Juli pun meninggalkan Luna di depan pintu itu.


Luna dengan perlahan masuk ke ruangan gym tersebut. Saat ia sudah di dalam ia melihat Dewa yang sedang melakukan olahraga angkat besi. Dewa saat itu melepas kaosnya dan hanya memakai celana olahraga di pinggangnya.


"Melihat Dewa yang sedang mengangkat beban berat seperti itu membuatnya terlihat semakin seksi. Aku yakin dia melakukan semua ini hanya untuk pamer karena aku sangat menyukai bentuk tubuhnya." gumam Luna sebelum mendekat.


"Bagaimana acaranya?" kata Dewa sambil menurunkan beban dan berjalan ke arah Luna. 


"Acara yang mana?" Kata Luna. Iya bertanya-tanya apa yang sebenarnya suami rahasianya itu bicarakan. 


"Yang ini." Ucap Dewa sambil menunjuk pada otot perutnya yang sixpack, keras dan menakjubkan.


"Apa kamu sedang bercanda? Aku bahkan tidak melihatnya sama sekali." kata Luna sambil tertawa dan bertingkah seolah-olah tidak mempedulikan Dewa. 


"Kapan kamu akan mengakui kalau kamu menyukai apa yang kamu lihat? " Kata Dewa sambil tertawa.


"Tidak akan pernah, weeeekkk." Kata Luna yang menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kamu sangat lucu." kata Dewa sambil memeluk Luna.


"Aku tahu kalau diriku ini memang lucu." kata Luna tersenyum sambil memeluk suaminya juga.


__ADS_2