Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Akhirnya Terselamatkan


__ADS_3

"Aku merasa kamu pasti istri anakku," kata Evan sambil berjalan ke arah Dina. Dina tidak mengatakan apa-apa selain memandang Evan seolah dia adalah manusia terburuk di dunia.


"Harus kukatakan, anakku memang memiliki selera yang bagus," kata Evan sambil menyentuh wajah Dina. 


"Jangan sentuh aku, dasar monster," kata Dina. Dia menjauhkan wajahnya dari jangkauan Evan. 


"Ya ampun, liar juga kamu. Aku dengar kamu sedang mengandung cucuku." kata Evan sambil meletakkan tangannya di perut Dina.


"Jauhi aku." kata Dina sambil berusaha menjauh dari Evan. Saat itu juga Evan ingin mengatakan sesuatu, tapi sebuah dentuman keras tiba-tiba terdengar.


Seorang laki-laki tiba-tiba berlari ke dalam ruangan dan berteriak.


"Kita harus segera pergi tuan, kita sudah dikepung dan tidak punya kesempatan untuk melawan mereka. " kata orang yang berlari itu.


"Sampai bertemu lagi sayangku." kata Evan kepada Luna.


"PENGECUT! " teriak Luna, dan saat itu juga mereka berlari meninggalkan Luna dan Dina sendirian, tapi tidak terlalu lama. Begitu mereka pergi, seseorang di luar pintu berjuang supaya pintu terbuka. Setelahnya, Evan dan anak buahnya kabur. Begitu pintu terbuka, Luna melihat satu orang yang ingin iya temui selama tiga hari terakhir ini, orang yang menjadi harapan Luna selama ini. 


"Sayang." kata Dewa dan Luna secara bersamaan.


"Ya Tuhan, apa yang telah mereka lakukan padamu sayang." kata Dewa sambil memotong tali yang mengikat kaki dan tangan Luna. Luna mencoba untuk menjawab, tapi iya sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya terlalu lemah karena semua penyiksaan yang mereka semua lakukan. Selain itu, Luna hanya di beri sedikit makan. Tiba-tiba saja tubuh Luna ambruk, Luna merasa dunianya gelap, iya sudah tak kuat lagi menahan beban. Tak sanggup bahkan hanya untuk membuka matanya.


Setelah beberapa saat, Luna terbangun. Iya belum bisa membuka matanya. Tapi Luna bisa mendengar beberapa orang yang berbicara di sekitarnya. Dengan perlahan iya membuka matanya. Iya mendapati dirinya sudah berada di sebuah ruangan yang entah di mana itu. Luna juga melihat suaminya bersama seorang lelaki yang tak di kenalnya. Karena mereka berdua memunggungi Luna, mereka taidak tahu kalau Luna sudah sadar. 


"Dewa," kata Luna dengan suara serak sambil mencoba untuk duduk. 


"Sayang, kamu sudah sadar." kata Dewa dengan cepat sambil berjalan ke samping Luna. 


"Aku haus." kata Luna karena tenggorokannya terasa sakit.

__ADS_1


"Iya ini. Apa yang kamu rasakan sayang?" kata Dewa sambil menyodorkan segelas air. 


"Aku merasa baik-baik saja, selain tenggorokan yang sakit, pinggang ku juga sedikit sakit, aku baik-baik saja.  "Kata Luna setelah menghabiskan segelas air.


"Sayang, maafkan aku datang sangat terlambat," kata Dewa sambil duduk di samping Luna di atas tempat tidur "Aku merasa seperti aku telah gagal melindungimu. Aku..." kata Dewa dengan penyesalan di wajahnya.


"Dewa, ini semua bukan salahmu, aku tidak menyalahkanmu." kata Luna memotong pembicaraan suaminya.


"Kamu tidak mengecewakanku, dan bagaimanapun juga, aku sangat bangga padamu. Kita tidak boleh berpikir negatif, kita harus bahagia karena kita bisa bersama lagi." kata Luna sambil meletakkan tangan di wajah suaminya.


"Kamu benar sayangku, dan Syukurlah aku bisa menemukanmu tepat waktu." Dewa berkata dan langsung mencium Luna.


"Sayang, bagaimana dengan Dina? " tanya Luna.


"Dia baik-baik saja, dia di rawat di sebelah." jawab Dewa.


"Nona Aluna, saya menyarankan kepada Anda untuk tidak bergerak sampai Anda benar-benar sembuh" pria yang ada di ruangan bersama Dewa tadi akhirnya berbicara.


"Saya Yuan, dokter yang menangani anda," kata Yuan sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Luna. 


"Kurasa benar kata anda." kata Luna sambil membalas menjabat tangannya. 


"Saya berharap Anda cepat sembuh. Dan jika Anda memerlukan sesuatu, mintalah kepada Tuan Dewa unthm menghubungi saya. Saya akan pergi terlebih dahulu." Kata Yuan sambil pergi .


"Terima kasih," kata Luna sebelum Yuan keluar dari pintu. 


"Sayang, bagaimana hasilnya di Bandung? " Tanya Luna.


"Kamu tidak akan percaya dengan apa yang terjadi. Saat Kami tiba di Bandung, kita mendapatkan senjata dan saat kita mau langsung kembali, tapi tiba-tiba saja kita disergap. Aku ngga tahu tidak tahu bagaimana caranya Evan mengetahui semua ini, kita juga diculik. Karena kita kalah jumlah, untungnya aku dan Nanda sudah mengirimkan senjata itu. Kita berhasil kabur keesokan harinya."

__ADS_1


"Ya Ampun. Mungkin ada seseorang yang memberinya informasi." kata Luna dengan terkejut.


"Kurasa juga begitu, karena tidak masuk akal bagaimana Evan bisa mengetahui setiap gerakan kita." kata Dewa.


"Kita harus menemukan orang itu secepat mungkin, dan juga kita harus lebih berhati-hati." kata Luna.


"Iya, kamu benar." jawab Dewa.


"Aku kemarin hampir saja menyerah. Bagaimana kalian bisa menemukan kita? " tanya Luna.


"Ketika aku dan Nanda kembali ke Jakarta, kami mendapat kabar kalian diculik sudah dua hari. untungnya saja kita dapat menghubungi salah satu anak buah Evan. Dia memberi kita informasi tentang keberadaanmu, dan saat itu juga kita menyusun cara untuk menyelamatkan kamu."


"Oh seperti itu, baiklah. Aku ngantuk banget sayang. Aku akan istirahat sebentar." kata Luna sambil berbaring untuk tidur lagi. 


"Baiklah sayang, tidurlah." Kata Dewa sambil mencium kening Luna sebelum berdiri dan berjalan keluar ruangan.


"Mau kemana kamu? " Kata Luna sebelum Dewa melangkah.


"Aku mau menelepon papa dan mamamu untuk memberitahu kalau kamu sudah sadar."


"Oh, tapi mereka tidak akan datang sekarang kan? "


"Tidak , aku akan memberitahu mereka kalau kamu mau istirahat terlebih dahulu supaya mereka datang besok pagi saja."


"Baiklah, terima kasih, dan tolong cepat datang ke sini lagi." kata Luna.


"Jangan khawatir, aku akan segera kembali" kata Dewa sambil mencium Luna sebelum berjalan keluar untuk menelepon. 


Keesokan paginya semua orang datang menemui Dina dan Luna. Luna senang karena bayi dalam kandungan Dina baik-baik saja. Sedangkan Nanda yang mengetahui istrinya hamil dan dia akan menjadi seorang ayah, merasa sangat bahagia. Sehingga tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan kebahagiaan yang dia rasakan. 

__ADS_1


__ADS_2