
"Sayang, maaf ya. Bukannya apa-apa. Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu memutuskan untuk membelikan mobil aku? " Tanya Luna karena penasaran.
"Oh, jadi kamu mau tau? Waktu itu saat aku nyuruh kamu buat datang makan malam dan kamu terlambat, aku berfikirkalu aku harus membelikan kamu mobil impianmu." Jawab Dewa. Luna merasa tersipu mendengar apa yang di katakanoleh Dewa.
"Ayo kita pulang." Ajak Dewa. Luna mengangguk dan mereka berdua berjalan keluar dari resto.
Saat sudah berada di depan mobil baru tadi, Luna menatap Dewa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dewa memberikan Kunci mobil itu kepada Luna.
"Kita mau kemana? " Tanya Luna sebelum masuk kemobil miliknya itu. Rasanya sangat cangfung menyebut itu adalah mobilnya. Semua terasa mimpi.
"Ke apartement ku atau kamu mau pulang? " Tanya Dewa.
"Kita pulang ke apartement kamu saja ya. Aku akan menelpon orang rumah dan memberitahu mereka kalau aku tidak pulang malam ini."jawab Luna kepada dewa. dewa pun mengangguk menuruti apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
Saat mereka sudah sampai di apartement Dewa, Luna memarkir Mobilnya di sebelah salah satu mobil Dewa. begitu mereka melangkah keluar dari mobil, karena mengukir senyum di wajah cantiknya. yang membuat Dewa menjalankan kepala sambil balas tersenyum kepada Luna.
"Aku tadi lihat seseorang yang sangat menikmati perjalanannya malam ini." kata Dewa sambil tersenyum ke arah Luna.
"Aku kan? " kata Luna dengan tersenyum malu-malu. Mereka pun berjalan bersama menaiki lift menuju ke apartemen milik Dewa. saat mereka sudah berada di dalam apartemen tersebut, Luna merasa perutnya lapar dan harus segera makan.
__ADS_1
"Aku laper pengen makan." kata pertama yang terucap dari bibir Luna.
"Benarkah? " Dewa berkata menyangkut apa yang dikatakan oleh Luna sambil melihat ke arah gadis di depannya itu. hingga akhirnya ia pun tertawa terbahak-bahak. sesaat kemudian Luna pun ikut tertawa karena menyadari apa yang baru saja dia katakan.
"Hih, nyebelin banget. Kenapa coba kamu tertawa? " Kata Luna sambil mencubit pinggang Dewa. Akhirnya Dewa mengangkat tangannya pertanda menyerah. Iya pun masuk ke dalam dapur.
"Bukan aku lo yang bilang." Kata Dewa.
"Terserah... Ada apa di kulkas? " katanya Luna sambil mengikuti Dewa yang berjalan ke dapur.
"Aku nggak tahu apa aja isi yang ada di dalam kulkas. Emangnya kamu mau makan apa? " tanya Dewa sambil melipat lengan bajunya ke atas.
"Oke, Tunggu selama 1 jam. makan malamnya akan segera disajikan. jadi kamu hanya perlu duduk dengan santai." kata Dewa
"Apa kamu serius mau masak? "tanya Luna.
"Aku nggak pernah tahu kamu bisa masak." kata Luna dengan terkejut.
"Masak adalah salah satu bakat terpendamku." kata Dewa sambil menyeringai.
__ADS_1
"Hmmm.. Oke oke.. Aku juga ingin tahu semua bakat Terpendam yang lain dari dirimu apa saja? " Kata Luna. Peryataan itu di sambut gelak tawa oleh Dewa.
Sesaat kemudian setelah berhenti tertawa.
"Baik... Apa yang bisa aku bantu? " Kata Luna.
"Hmmm, aku ngga bisa duduk manis saja sementara kamu melakukan ini sendirian.
"Oke, karena kamu yang meminta. Kamu bisa membersihkan ayamnya. Aku akan menyiapkan untuk memasak nasi." Kata Dewa.
"Oke." kata Luna dan langsung berjalan ke arah kulkas untuk mengambil ayam. mereka berdua pun sibuk memasak di dapur untuk makan malam.
Satu jam kemudian, Dewa dan Luna telah selesai menyiapkan nasi dengan ayam panggang. setelah makan, mereka pun pergi ke kamar untuk beristirahat. sebelum tidur, Luna mengganti bajunya dengan salah satu kaos milik Dewa.
"Sayang, boleh ngga aku tanya sesuatu? " kata Dewa dengan sedikit gugup.
"Iya sayang, boleh."Jawab Luna sambil duduk di atas tempat tidur untuk mendengarkan apa yang akan ditanyakan oleh Dewa.
"Kenapa kamu tidak marah dengan kenyataan kalau aku adalah seorang anggota Mafia? Padahal aku tidak memberitahu kamu." kata Dewa sambil membungkuk untuk meraih tangan Luna.
__ADS_1
"Awalnya aku marah, tapi sesaat kemudian aku ingat. Berada di dunia Mafia dan berkencan dengan seseorang dari luar anggota mafia adalah risiko besar yang harus diambil nantinya. Jadi aku pikir kalau aku yang berada di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama. Tapi aku sebenarnya merasa sedikit tak enak hati. Merasa kalau mungkin saja kamu tidak percaya sama aku untuk sekedar terbuka denganku. Dan itu menyakitkan sekali sayang." Luna berkata merasa sakit hati karena Dewa tidak pernah memberitahu dirinya. Luna pun menangis di depan Dewa.