Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Over Protective


__ADS_3

"Nanda" Ucap Luna sambil memeluk Nanda.


"Apakabar, sudah berapa tahun kita tidak bertemu. Aku sangat merindukan kamu. Mama juga selalu menanyakan dirimu" Luna berkata sambil melepaskan pelukannya dengan Nanda.


"Aku sudah lupa berapa tahun kita tidak bertemu. Dan aku juga sangat merindukanmu" Balas Nanda. Dan di saat yang bersamaan, Luna mendengar suara deheman di belakangnya. Setelah menoleh, Luna melihat Dewa yang berjalan mendekatinya dan Nanda. Pandanga Dewa benar-benar mengintimidasi Luna, seolah-olah Luna melakukan kesalahan besar. Tiba-tiba saja, Dewa meletakkan lengannya di pinggal Luna. Iya merangkul pinggal Luna seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.


"Sepertinya, kamu dan assistand pribadiku sudah lama mengenal. Tapi sayangnya aku tak suka kepadamu? ' ucap Dewa dengan suara yang dingin. Luna mencoba melepaskan tangan Dewa yang melingkar di pinggangnya itu. Iya mencoba menjelaskan kepada Nanda.


"Aku dan Nanda adalah teman sewaktu kuliah. Dia sahabat satu universitas dengan ku. Saya tidak tahu alasan apa yang membuatmu mengatakan bahwa kamu tidak menyukai Nanda. Bukankah berteman dengan siapa pun itu adalah hak masing-masiing orang. Anda tidak perlu bersusah-susah melarang dengan siapa saya berteman" Ucap Luna di depan Dewa. Luna berkata seperti itu sambil mengerutkan keningnya. Dia tidak peduli bahwa apa yang sedang menjadi topik pembicaraan adalah orang yang saat ini ada di depan mereka.


"Orang yang saat ini menjadi temanmu adalah salah satu orangn yang tidak aku sukai, kamu tidak boleh berteman dengan dia. Kamu hanya boleh berteman dengan orang-orang pilihanku. Jika aku mengatakan kalau kamu boleh berteman berati boleh. Tapi kalau aku mengatakan tidak, berati kamu tidak boleh bergaul dengan orang tersebut" Ucapan yang di katakan oleh Dewa benar-benar terasa pedas. Kata-kata itu terasa sangat panas di telinga Luna.


"Dia pikir dia siapa bisa mengatur hidupku. Benar-benar brengsek" Gumam Luna di dalam hati.

__ADS_1


"Waaah...Aku tidak pernah tahu jika anda benar-benar memliki hak atas diriku. Bahkan anda mengatakan siapa saja yang boleh berteman dengan ku. Aku tidak peduli bahkan di saat aku menjadi asistanmu." Ucap Luna sambil mengibaskan lengannya yang berada di dekat Dewa. Luna menunggu kata-kata apalgi yang akan di ucapkan oleh Dewa setelah ini. Karena apa yang baru saja di ucapkan oleh Dewa benar-benar membuat Luna kesal. Dewa sudah bertindak sesuka hatinya selama bekerja. Bahkan selama ini Dewa tidak pernah tahu dengan siapa Luna berteman. Dulu sewaktu masih bersekolah, Luna membiarkan Dewa terus bersikap seolah-olah Luna adalah kekasihnya, dan sekarang, Luna tidak ingin hal itu terulang kembali. Luna tidak akan membiarkan dirinya terus-terusan di kuasai oleh Dewa.


"Sudahlah..." Luna benar-benar kesal dengan sikap Dewa. Iya mengatakan itu dengan sangat keras.


"Sepertinya kalian harus membicarakan hal yang penting. Luna, aku akanmenghubungimu, aku minta nomor ponselmu saja" Ucap Nanda sambil menyerahkan ponselnya ke ;una. Dan Luna menerima ponsel tersebut lalu mengetikkan nomornya. Setelah selesai, iya mengembalikan ponsel Nanda. Luna tidak peduli dengan tatapan tajam dari Dewa yang seakanmengulitinya hidup-hidup. Belum sempat Luna mengatakan selamat tinggal pada Nanda, Dewa sudah menarik tangannya dan membawanyamendekat ke arah mobil. Dewa menyuruh Luna masuk ke dalam mobil dengan memaksa. Sedangkan Dewa pun ikut masuk ke dalam mobil melalui pintu yang sama. Dewa menyuruh sopir untuk segera berjalan ketika dirinya sudah berada di dalam.


"Ada banyak hal yang kamu tidak tahu nona muda" Ucap Dewa.


'Aku sangat membanci sikapmu" Luna berkata dengan ketus.


"Aku tidak... ucapan Luna terpotong ketika Dewa langsung berkata.


"Semua yang aku lakukan memang tidak pernah benar Shea" kata Dewa. Setelah itu tak ada lagi ucapan yang keluar. Luna merasa canggung dengna keadaan seperti ini. Iya pun ikut berdiam diri. Namun Luna merasa jika Dewa memperhatikannya. Dan di saat menoleh, Dewa ternyata memandang keluar jendela.

__ADS_1


Saat mereka telah sampai di hotel tempat menginap, Luna segeramengambil tasnya lalu keluar dari mobil. Luna ingin tahu apakah Dewa masih kesal kepadanya. Saat mereka masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, Luna memperhatikan jemari Dewa memencet angka di dinding lift tersebut. Tak lama kemudian, lift berhenti, tepat di lantai presiden suit. Dan saat itu juga, tangan Luna di tarik masuk kedalam ruanngan hotel.


"Apa yang kamu lakukan hari ini jangan sampai kamu lakukan di lain waktu, kalalu kamu tidak ingin melihat sisi burukku" ucap Dewa dengan nadas memburu. Seolah-olah ada sesuatu yang iya tahan supaya tidak terjadi hal hal yang akan membuatnya menyesal.


"Aku tidak tahu kenapa kamu begitu marah. Kita tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan pekerjaan. aku bukan pacar kamu. Jika aku dan Nanda berteman, kamu tidak punya hak untuk melarangnya. Sejak kapan hubungan profesional kita harus masuk ke kehidupan pribadiku. Aku tidak ingin kehidupan pribadiku kamu campuri. Dan aku ingin cepat menyadari kesalahanmu" Ucap Luna dengan penuh percaya diri. Ini adalah pertama kali Luna berani bersikap sepercaya diri seperti ini. Tiba-tiba, apa yang di lakukan oleh Dewa membuatkepercayaan diri Luna menghilang begitu saja. Dewa mendorong tubuh Luna ke dinding dan merentangkan kedua tangannya di atas kedua bahu Luna. Luna bisa mencium bau parfum Dewa yang sangat menenangkan. Saat berada di posisi seperti itu, Luna melihat jika tatapan Dewa saat inin seakan mau memakannya. Luna terdiam dengan apa yang di lakukan Dewa kepadanya.


"Aku ingin kamu mendengarkan aku baik-baik. Sejak kamu bekerja denganku, maka hidupmu adalah milikku. Aku memiliki hak atas dirimu. Jika aku berkata kamu tidak boleh berbicara dengan Nanda, maka kamu tidak boleh. Apa sudha jelas apa yang aku katakan? " Tanya Dewa sambil berteriak. Dan di saat yang bersamaan, Dewa menatap Luna dengan begitu intens. Apa yang di lihat Luna dari tatapan mata itu adalah jika Dewa mengetahui sebuah rahasia. Dan pandangan itu benar-benar membuat Luna jika Dewa sedang berbicara adengean dirinya. Luna mendengar nafas Dewa yang begitu cepat.


"Ya, aku sudah jelas dengan apa yang kamu katakan. Tapi apakah aku boleh tahu kenapa ? " Tanya Luna tanpa melanjutkan kalimatnya. Luna takut akan semakin membuat Dewa marah.


"Karena kamu ingin tahu apa alasanku, aku akan memberitaumu. Orang yang kamu saebut sahabat itu adalah orang yang sangat berbahaya. Aku tahu bagaimana dia dan bisnis apa saja yang sedang dia geluti dankamu tidak tahu. Aku tidak memaksamu untuk percaya dengan apa yang aku katakan" ucap Dewa dengan mudahnya sambil melepaskan tangannya dari atas bahu Luna. Namun karena penasaran, Luna ingin sekali menanyakan apa bisnis yang di jalani oleh Nanda. Namun Luna mengurungkannya karena takut akan membuat Dewa marah lagi. Dan apa yang baru saja di katakan oleh Dewa benaer-benar membuat Luna tak bisa berkata-kata. Lun amenjadi sadar akan sesuatu. Bahwa di hari pertama iya bekerja untuk Dewa, berarti dia sudah menyerahkan hidupnya kepada lelaki itu. Dan Dewa punya hak atas hidupnya


Setelah Dewa melepaskan satu tangannya, Luna segera melepaskan tangan satunya lagi. Iya langsung menuju ke kamar mandi karena merasa air matanya sudah tak dapat di bendung lagi. Iya masuk ke kamar mandi dan menangis sepuasnya di sana. Hampir 15 menit berlalu, Luna keluar dari kamar mandi dan mendapati Dewa yang sedang sibuk dengan laptopnya. Luna pun mendekatinya.

__ADS_1


"Di mana aku akan menginap, aku minta kunci kamarku" Ucap Luna kepada Dewa.


"Kamu tidur di sini di kamar sebelah. Jangan tidur terlalu lama karena malam ini kita akan menghadiri pesta" Ucap Dewa yang masih sibuk dengan laptopnya. Luna segera berjalan untuk mencari kamar tersebut. Setelah melihatnya, iya masuk. Saat sudah berada di dalam kamar tersebut, Luna melihat barang-barang yang tadi iya bawa sudah berada di dalam lemari. Luna berfikir jika barangnya di bawakan oleh sopir yang tadi. Setalah membersihkan diri, Luna segera merebahkan diri untuk tidur sebelum iya harus bekerja lagi.


__ADS_2