
"Apa? Kamu... Aku ngga salah baca kan? " Tanya Luna ta menyangka. Iya seakan tak percaya dengan tulisan yang tertulis di atas kertas yang baru saja di bacanya tersebut. Luna memandang ke arah Dewa.
"Iya.. Kamu adalah istriku. Aku sudah menikahimu secara siri beberapa hari setelah kamu melamar kerja. Maka dari itu aku ngga mau kamu di sentuh orang lain. Maafkan aku telah bertindak buruk. Berperilaku tak menyenangkan. Tapi aku punya alasan tersendiri." Jawab Dewa. Luna merasa tak tahu harus berbuat apa. Ternyata, sudah sebulan lebih iya menjadi istri Dewa.
"Maafkan aku baru memberitahumu. Aku tahu papamu ngga ada. Jadi wali nikah aku serahkan kepada wali hakim." Tutur Dewa lagi. Luna semakin tak bisa berkata-kata. Dewa memeluk Luna erat.
Besok paginya.
Luna bangun dengan senyum di bibirnya. Iya tidak percaya bisa tidur di ranjang yang sama dengan Dewa Andriano. Setelah percakapan semalam, mereka memutuskan untuk memulai hidup Baru dengan perlahan. Luna sangat bersyukur Dewa bersikap layaknya pria terhormat dalam mengekspresikan cintanya.
"Aku masih harus belajar untuk memaafkan Dewa atas semua yang telah dia lakukan padaku." Gumam Luna. Dan semalam Luna sudah meminta kepada dewa untuk tidak bersikap seenaknya kepada orang yang mendekatinya. Karena pernikahan mereka masih belum ada yang mengetahui Kecuali mereka berdua. Luna juga meminta kepada dewa untuk pergi ke rumah sakit dan meminta maaf kepada Angga atas perilakunya semalam. Saat dia melewati sebuah cermin besar, Luna melihat dirinya dari pantulan cermin tersebut. Iya tersenyum melihat apa yang ia pakai pagi ini. Sebuah kemeja milik seorang lelaki berwarna hitam dengan celana Boxer. Karena tidak ingin terlalu lama berada di depan cermin itu, Luna segera berjalan menuju ke dapur.
30 menit telah berlalu. Dan Luna telah menyelesaikan masaknya. Iya membuat nasi goreng spesial serta jus jeruk. Di saat sedang menuangkan jus ke dalam gelas, Luna merasakan ada seseorang yang datang. Setelah ia berbalik, ia melihat Dewa yang duduk di meja makan sambil menatap Intens ke arah Luna.
"Selamat pagi sayang." ucap Dewa sambil menatap Luna dengan matanya yang indah.
"Bagaimana tidurmu malam ini? Aku harap kamu tidur dengan nyenyak." kata Luna sambil meletakkan sepiring nasi berisi nasi goreng dan satu gelas jus jeruk di depan Dewa. Luna pun menggeser satu kursi di samping Dewa dan duduk di sampingnya. Luna mengambil sarapannya tepat di depannya.
"Gimana aku nggak tidur nyenyak, kalau Istriku yang cantik semalam suntuk tidur di pelukanku." kata Dewa sambil memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Luna merasa pagi ini benar-benar berbeda.
"Oh gitu ya. Aku ingin tahu dong siapa wanita itu? Sepertinya dia spesial banget buat kamu." Luna Berkata sambil tersenyum dan juga menyanggah sarapannya.
"Yang pasti wanita itu adalah nona cantik yang sangat pandai memasak." kata Dewa masih dengan senyum indahnya.
__ADS_1
"Oh jadi aku istrimu yang cantik ya?" kata Luna seolah bertingkah seperti tidak tahu bahwa yang sedang dibicarakan dewa adalah dirinya. Dewa pun hanya membalas ucapan Luna dengan senyuman.
Di saat yang bersamaan, Luna mendengar ponselnya yang ia letakkan di ruang tamu berdering. Setelah meminta izin kepada dewa, Luna berjalan ke ruang tamu dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo ma... Mama Menelpon aku karena pasti Mama khawatir ya. Jangan khawatir ya Mah aku baik-baik saja kok. Semalam aku menginap di rumah teman." jawab Luna sebelum mamanya mengatakan apapun ditelepon tersebut.
"Itu kamu tahu Luna. Lain kali kalau kamu mau menginap di rumah teman, kamu harus mengabari Mama terlebih dahulu. Mama sangat khawatir Sayang. Tapi alhamdulillah kalau kamu tidak apa-apa. Kalau boleh Mama tahu, Siapa temanmu ini? " tanya Mama Luna dari seberang telepon.
" Dia teman kerjaku mah. " jawab Luna.
" Oh baiklah kalau begitu... Mama ingin bertemu dengannya kapan-kapan ya." sama Luna pun mengatakan.
" Oke mah... Nanti aku akan cepat pulang." kecap Luna setelah itu panggilan pun berakhir.
" Halo Dina, ini aku Luna." kata Luna dengan ponselnya setelah panggilannya terjawab.
"Iya aku tahu. Aku menyimpan nomor kamu. Di mana kamu? Aku harap kamu baik-baik saja. Dan pak bos tidak melakukan apa pun untuk menyakitimu kan? " Kata Dina dengan suara penuh kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, Ngga perlu khawatir sama aku. Aku ingin tanya, apakah kamu tahu keadaan Angga. Aku ingin bertemu dengannya." ucap Luna bertanya.
"Angga Alhamdulillah baik-baik saja. Aku akan mengirimikan alamat rumah sakit tempat dia di rawat. Jadi kamu bisa menjengukya." Kata Dina.
"Terima kasih banyak. Aku ngga tahu kalau dia sampai di rawat. Sampai jumpa, nanti aku akan menelponmu lagi." kata Luna. Iya mengakhiri teleponnya setelah mengucapkan selamat tinggal juga.
__ADS_1
Setelah Luna menyelesaikan sarapannya, Iya berjalan masuk ke kamar dewa untuk mencari lelaki itu. Niat Luna adalah untuk mandi terlebih dahulu sebelum ia pulang ke rumah mamanya. Tapi saat berada di dalam kamar, mulut Luna seolah-olah terkunci saat ia melihat Dewa yang berjalan baru keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk di atas pinggangnya saja. Dengan air bekas mandi yang masih menetes dari rambut ke bahunya.
"Ya Tuhan... dia benar-benar lelaki yang tampan. Dan mulai sekarang aku bisa menatapnya setiap hari." gumam Luna di dalam hatinya.
"Kalau kamu menyukai apa yang kamu lihat, kamu bisa mengabadikannya di ponsel. Dan gambar di ponselmu akan bertahan lebih lama dari apa yang kamu lihat." ucap Dewa dengan seringai di bibirnya dan ia mengeringkan mata ke arah Luna.
"Siapa yang bilang aku suka dengan apa yang aku lihat? Terus kamu berpikir aku butuh foto juga? Aku lebih suka melihatnya secara langsung daripada hanya melihat gambar." kata Luna sambil tersenyum. Yang ada di pikirannya, Kalau kenyataannya itu lebih indah daripada di gambar.
"Kamu tidak perlu berpura-pura sayang. Kita sama-sama tahu apa yang kamu katakan itu bohong." Dewa berkata seoalh menggoda istrinya.
"Terserah! Oh iya, Aku ingin bertanya apakah aku boleh menggunakan kamar mandimu." Tanya Luna saat Dewa berjalan ke lemari. Saya begitu tertegun saat melihat lemari di kamar itu sangat besar.
"Masuklah sayang. Apa perlu aku memandikanmu? " Tanya Dewa sambil mengerlingkan matanya.
"Ah.. Jangan ya. Aku bisa mandi sendiri." Luna langsung berlari ke arah kamar mandi dan langsung mengunci pintu tersebut. Saat sudah berada di dalam, Luna melihat cat dinding kamar mandi itu berwarna putih.
"Apa mungkin Dewa menyukai warna putih? wastafelnya semua warna putih." Luna melihat kamar mandi mewah tersebut. Sebuah bathup berwarna putih besar yang kira-kira muat untuk 3 sampai 5 orang. Karena tidak ingin berlama-lama, Luna segera menyelesaikan mandinya.
Setelah tiga puluh menit, Luna telah selesai mandi. Iya keluar dari kamar mandi dan mencari baju yang dikenakannya tadi malam. Luna tidak membawa baju ganti karena menginap di sini bukanlah suatu kesengajaaan. Jadi, Luna tidak punya pilihan lain selain memakai bajunya yang semalam lagi.
Di saat Luna sedang mencari bajanya itu, Iya melihat sebuah kaos putih dan celana training berwarna abu-abu di atas tempat tidur beserta secarik kertas di sampingnya.
'Pakailah baju ini. Baju yang kemarin kamu pakai sudah kotor. Jangan dipakai kembali.' sebuah pesan yang ditulis oleh Dewa.
__ADS_1
"Waah... Dewa baik sekali." gumam Luna sambil mengambil baju yang telah disiapkan oleh Dewa. Dia segera memakainya.