Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Ingatan yang kembali.


__ADS_3

Setelah Luna meletakkan ponselnya, mamanya berbicara. 


"Dewa mengundangku untuk makan malam malam ini mah." kata Luna.


"Baiklah, tapi mama ingin menanyakan sebenarnya sesuatu sebelum kamu naik ke atas untuk ganti baju tadi. Sebenarnya kamu mimpi apa sampai kamu membutuhkan Dewa untuk datang jauh - jauh ke sini? " Kata mama Luna sambil menatap Luna dengan rasa ingin tahu di matanya.


"Mama, Luna ingat semuanya. Dan semua ingatan itu terlalu berat untuk Luna tanggung sendiri. Dan saya merasa ingin membagi cerita dengan seseorang. Jadi aku ingin menelepon Dewa, tapi Dewa malah tidak mengizinkan aku berbicara sepatah katapun. Dia mematikan panggilan dan tiba-tiba saja dia sudah ada di sini dalam waktu kurang dari 10 menit." Kata Luna.


"Mama sangat menyesali semuanya karena kamu harus mengingat semuanya dalam waktu sekejab. Aku yakin itu terlalu berat untuk kamu terima sayang, tapi mama berjanji akan ada saatnua kamu akan merasa lebih baik." Kata Mama sambil memegang tangan Luna. Luna merasakan sedikti kehangatan.


"Aku merasa sedikit lebih baik setelah Dewa membantu aku tadi malam. Dia adalah alasanku bisa bangun pagi ini sambil tersenyum." kata Luna sambil tersenyum mengingat semua kata kata penyemangat Dewa kepadanya.


"Aku tidak heran dia melakukan semua yang terbaik untukmu, dia terlihat sangat mencintaimu, sayang." Kata mam Luna.


"Aku tidak tahu tentang hal itu ma. " kata Luna.


"Mengapa kamu mengatakan itu nak? " Tanya Dewa.

__ADS_1


"Karena mungkin adalah lelaki yang paling mengesankan yang pernah aku temui. tapi dia belum memberi tahu aku tentang semua itu. Aku khawatir kalau dia mungkin tidak mencintaiku." kata Luna.


"Jangan khawatir sayang. Kalau dilihat dari caranya memperlakukanmu, dia sangat mencintaimu. Dan ketika dia sudah menyadarinya, dia akan memberitahumu pada waktu yang tepat nanti. Jadi jangan jangan terlalu memikirkannya." Kata mama Luna menenangkan hati putrinya.


"Baiklah kalau begitu ma, tapi kalau boleh Luna tahu, kapan mama tahu kalau mama mencintai Papa? " kata Luna. Tiba-tiba saja Luna melihat ke  Papa di pintu masuk dapur. Papa Luna memberi isyarat kepada putrinya untuk tidak memberi tahu mamanya kalau dia ada di sini.  Mama Luna menghadap ke putrinha, Iya tidak menyadari kedatangan suaminya.  


"Sangat mudah untuk tahu kapan mama merasa menyukai papamu. ​​ tahu kan kalau Papa dan Mama dulu itu dijodohkan. Mama merasa pernikahan karena perjodohan ini sangatlah tidak mudah. Tapi papamu itu sangat luar biasa. Ketika pertama kali kita menikah pada, Mama benar-benar tidak menyukainya. Bahkan kita hampir tidak pernah berbicara atau menyapa satu sama lain. Aku melihat papamu sebagai lelaki yang sangat luar biasa. Saat itu, pertama kali aku melihat papamu membantuku menyelesaikan masalah. Dia melakukannya dengan tulus walaupun dia tidak mengenal.mama dengan baik. Saat itu juga mama tahu kalau aku merasa jatuh cinta padanya. Sejak hari itu pulang aku mulai memandang ayahmu dari sisi yang berbeda. Saat itu Mama masih belum menyadari kalau mama sudah mulai menyukai papamu. Mama tahunnya waktu mama hamil kakakmu. Ekspresi papamu saat mendengar berita kehamilan Mama itu benar-benar membuat mama merasa yakin kalau mama sudah jatuh cinta kepadanya. Tidak membiarkan Sesuatu terjadi kepada Mama. Dia sangat memperhatikan mama melebihi apapun. " Mama Luna bercerita sambil tersenyum mengingat kisah cintanya sewaktu muda dulu. Mama Luna tersenyum sumringah saat ia mengingat kenangan saat ia menyadari rasa cintanya Sudah tumbuh di hati untuk sang suami. Sedangkan Papa Luna yang berada di belakang mamanya, mendekat dan langsung mencium pipi istrinya.


"Bukankah cinta kita itu adalah kisah yang sangat luar biasa. " kata Papa Luna.


"Sudah cukup lama sayang." Kata Papa Luna kembali mencium pipi istrinya.


"Oh iya, kamu sudah siap sayang? " tanya papa Luna kepada putrinya.


"Iya sudah pa." Jawab Luna.


"Oke, Papa mau ganti baju dulu ya. Setelah itu kita bisa berangkat. " Papa Luna pun beranjak dari dapur dan mengganti bajunya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, papa Luna sudah kembali dengan mengenakan pakaian yang mirip dengan Luna. Mereka pun berangkat. Mereka menaiki mobil dengan papa Luna yang mengemudi.


"Bagaimana kabarmu sayang dengan semua ingatan yang sudah kembali?" Tanya papa Luna sambil fokus pada kemudinya.


"Sangat sulit pa. Tapi dengan bantuan Dewa, aku merasa lebih baik." Jawab Luna.


"Aku senang mendengar dan mengetahui kalau lelaki idamanmu itu adalah Dewa, yang papa tahu, kamu berada di tangan yang tepat. Dewa adalah orang baik." kata papa Luna sambil tersenyum.


"Luna senang karena papa merestui hubunganku dengannya." kata Luna sambil tertawa. 


"Aku tidak mengatakan itu" kata Papa menatap Luna dengan tatapan bercanda.


"Aku tahu umurku ini sudah 22 tahun. Tapi aku akan selalu menjadi gadis kecil papa." Kata Luna.


"Benar sekali." kata papa Luna sambil mengacak-acak rambut putrinya. Mereka melanjutkan perjalanan ke lapangan tenpat akan berlatih menembak.


Luna dan Papanya telah tiba di lapangan tempat ia akan belajar menembak. Mereka berdua mengambil senjata yang akan digunakan dan pindah ke tempat di mana latihan itu akan dimulai. Luna telah berdiri dan siap untuk membidikkan senjata apinya. Dalam latihan tersebut, Luna melepaskan beberapa bidikan. Namun semuanya melesat dan tidak mengenai sasaran dengan tepat. Akhirnya Papa Luna pun turun tangan dan mengajari putrinya cara menembak yang baik. Dan begitu papa Luna mulai berbicara, semua ingatan Luna tentang pelatihan di dunia mafia itu muncul kembali. Hal itu membuat bidikan Luna jauh lebih mudah. Dan beberapa kali membidik, tembakan Luna selalu mengenai sasaran.

__ADS_1


__ADS_2