
Karena semalam Dewa tidak bisa mengantarkan Luna pulang, pagi-pagi sekali Dewa langsung mengantarkan Luna kembali ke rumahnya sebelum berangkat bekerja. Dewa berjanji kepada Luna jika sore hari nanti mereka akan memeriksa pembangunan restoran.
"Nanti sore sepulang kerja kita lihat pembangunan restoran di hotel." kata Dewa sambil menurunkan Luna di depan rumahnya. Ia tidak bisa mampir karena buru-buru harus segera ke kantor.
Setelah Dewa pergi, Luna masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dalam dapur. Luna langsung duduk di meja makan dan memeriksa ada makanan apa di sana. Saat tangannya melambai ingin mengambil makanan yang berada di meja, Luna teringat akan suatu hal. Tangan itu pun turun lagi.
"Kadang-kadang aku merasa yang terjadi dalam hidupku saat ini tidak nyata." Luna membayangkan kembali hal indah yang telah Ia lalui bersama dewa. Satu-satunya lelaki dalam hidupnya yang tidak pernah Iya pikirkan sebelumnya akan membuat Luna merasa bahagia. Seorang pria yang mencoba mewujudkan mimpi Luna.
Kepribadian Dewa yang ia lihat benar-benar membuat Luna tidak bisa untuk tidak jatuh cinta kepadanya. Luna tahu, bahwa ia memiliki perasaan yang sangat besar kepada Dewa. Bahkan ia tidak bisa menjelaskan perasaan tersebut dengan kata-kata.
"Apa aku mencintai Dewa? Aku ini aneh sekali, diriku sendiri pun tidak pernah tahu jawaban dari pertanyaanku itu. tapi, pasti nanti aku akan bisa mengerti dengan hatiku sendiri suatu hari nanti." Gumam Luna dalam lamunanya. Sesaat kemudian, Luna tersadar karena sang mama memanggilnya.
"Sayaang... Sayang... Luna..." Panggil mama Luna sambil melambaikan tangannya di depan wajah sang putri.
"Maaf mah.. Tadi mama bilang apa? " kata Luna sambil terkejut dan terbangun dari lamunannya.
"Mama tadi nanya Bagaimana perjalanan kamu sama Dewa? " kata Mama Luna sambil menyiapkan sarapan.
"Oh... perjalanan Luna terasa sangat istimewa. Satu minggu yang sudah Luna lewati bersama dewa benar-benar membuat Luna bahagia. Dewa membawa Luna pergi ke tempat-tempat indah yang berada di Pulau pribadi miliknya itu. Dia bahkan membelikan Luna banyak pakaian baru hingga lemari Luna tidak muat lagi. Dewa mengajak Luna untuk melakukan banyak hal yang sangat menyenangkan yang belum pernah Luna lakukan. Bisa melihat sisi lain dari sikap Dewa yang sebelumnya belum pernah Luna lihat. Dia melakukan banyak hal yang tidak biasa. Dan apa yang telah dilakukan Dewa sulit untuk membuat aku tidak jatuh cinta kepadanya." Cerita Luna sambil menutupi wajahnya dengan rambut setelah ia menyelesaikan kalimatnya.
"Bagus... Mama sangat senang karena Dewa bisa membuatmu bahagia. Tapi ada satu pertanyaan di hati Mama. Apakah kamu Mencintainya? "Tanya Mama Luna sambil tersenyum.
"Ma... Aku hanya bilang aku jatuh cinta kepadanya dan aku tidak bilang kalau aku mencintainya. " ucap Luna sambil menyembunyikan pipinya yang merona.
"Terserah Apa yang kamu katakan sayang. Mamah hanya berharap dia bisa menjadi suami yang bisa membahagiakan kamu. " kata Mama Luna sambil tersenyum lagi.
"Jangan terkejut. Mama sudah tahu semuanya. Dewa sudah memberitahu mama, tapi dia bilang dia akan segera meresmikan pernikahan kalian. Dan untuk sementara ini Dewa ingin menyelesaikan sesuatu." Ucap Mama Luna yang membuat Luna semakin merona.
"Oh iya ma, Luna mau ta..." belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, dering ponselnya sudah memotong terlebih dahulu.
"Mah nanti aku mau tanya sesuatu. Tapi setelah aku mengangkat panggilan ini ya." Kata Luna sambil berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya.
Luna berjalan ke ruang tamu dan mengeluarkan ponselnya dari tas. Dia melihat Siapa orang yang telah menelponnya. Setelah ia tahu ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo... Kangen aku ya? " Ucap Luna tanpa basa-basi.
"Shea, aku akan selalu merindukanmu di saat kamu ngga ada disisiku. " jawab Dewa dari seberang telepon.
" I miss you too. Bagaimana keadaanmu di kantor hari ini? " katanya Luna dengan semangat.
"Itulah sebabnya Aku menelpon kamu. Aku tahu peraturan kantor yang saat ini tidak membolehkan kamu bekerja di perusahaan lagi. Tapi aku belum bisa mencari penggantimu pagi ini, Aku membutuhkan bantuanmu. Apa kamu tidak keberatan kalau aku memintamu untuk kembali bekerja sampai aku bisa mendapatkan penggantimu. " kata Dewa.
"Aku tidak keberatan Dewa. Aku akan sampai di sana satu jam lagi. " jawab
"Terima kasih sayang. Aku menunggumu. Jangan lama-lama ya." Kata Dewa sambil menutup panggilannya.
Setelah menyelesaikan sarapannya pada, Luna pun berjalan ke lantai atas menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap. Sambil berganti baju, Luna memesan taksi online. Setelah ia menyelesaikan Ganti bajunya, Ia pun berjalan turun ke bawah. Iya berjalan mendekati sang mama. Luna ingin memberitahu mamanya kalau ia akan ke kantor untuk membantu Dewa selama penggantinya belum didapatkan. Sedangkan di luar, taksi online yang dipesan karena sudah tiba.
"Mah aku mau ke kantor terlebih dahulu. Mungkin aku nanti pulang agak malam. " teriak Luna dari ruang tamu. Luna mengambil tasnya dan segera pergi. Setelah berada di luar rumah, Luna segera masuk ke dalam taksi yang dipesannya tadi. Ia langsung menuju ke kantor Dewa.
__ADS_1
Setelah sampai di kantor, Luna segera turun dari taksi tersebut. Iya langsung naik dan menuju ke ruangan Dewa dan mengetuk pintu saat sudah di depan pintu.
"Masuk" kata Dewa dari dalam ruangan. Kapan segera masuk. Saat sudah berada di dalam ruangan, Iya melihat Dewa yang sedang berjibaku dengan banyak kertas yang berada di atas mejanya.
"Shea, Apakah itu kamu? " kata Dewa yang masih tidak mengangkat kepalanya untuk menatap Luna yang baru datang.
"Iya ini aku." jawab Luna sambil duduk di salah satu kursi yang berada di depan meja Dewa.
" Syukurlah kamu sudah datang. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku melihatmu." kata Dewa sambil bangkit dari duduknya untuk memeluk dan mencium kening Luna.
"Aku juga senang bertemu denganmu." kata Luna sambil duduk kembali.
"Sayang, tolong aku, aku membutuhkan kamu untuk membantu merencanakan pesta dansa yang akan diadakan di hotel nanti hari Sabtu untuk menyambut kedatangan teman papa." Kata Dewa.
"Aku akan melakukannya." Jawab Luna.
" Ini semua catatan yang kamu perlukan, dan sopir sudah menunggumu di bawah." kata Dewa sambil menyodorkan kertas berisi daftar barang-barang yang dia perlukan untuk pesta Dansa.
"Kalau begitu lebih baik aku mulai sekarang." kata Luna sambil berdiri.
"Terima kasih sayang" Ucap Dewa.
"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Ini semua tetap pekerjaanku meskipun kamu sudah memberiku pekerjaan yang aku impikan." Kata Luna tersenyum pada Dewa.
"Aku bahagia karena telah bisa mewujudkan impianmu." kata Dewa sambil balas tersenyum ke arah Luna.
"Dan aku sangat berterima kasih untuk itu semua." kata Luna sambil berjalan kearah pintu.
"Oke... Ngga masalah. Aku pergi dulu." Kata Luna hampir membuka pintu.
"Apa kamu mau pergi gitu aja? " kata Dewa sambil berjalan ke arah Luna di depan pintu.
"Apa aku melupakan sesuatu? " kata Luna menatap Dewa dengan bingung.
"Apa ya? " tanya Luna lagi.
" Kamu tidak menciumku sebagai ucapan selamat tinggal." kata Dewa dengan seringai di wajahnya.
"Kamu serius." Kata Luna. Iya tersenyum pada Dewa dan langsung mengecup pipi Dewa.
"Hanya itu saja? Bukankah aku berhak mendapatkan yang lebih dari itu?" kata Dewa terlihat seperti sedang berusaha keras untuk terlihat lebih garang saat ini.
Luna pun berbalik untuk mencium Dewa lagi tepat di pipinya dan mencoba untuk membuat suaminya semakin merajuk. Luna sangat tahu jika bukan itu yang di inginkan oleh Dewa. Tapi tiba-tina Dewa mencium bibir Luna, yang membuat Luna tersenyum.
"Apa kamu bahagia? " Kata Luna masih dengan tersenyum seperti remaja yang dilanda cinta.
"Sangat bahagia..." Jawab Dewa.
"Bye," kata Luna. Akhirnya Luna berjalan keluar dari ruangan Dewa. Iya naik lift langsung ke bawah dan melangkah keluar. Saat sudah di luar, iya bertemu dengan seorang sopir yang sudah menunggunya.
__ADS_1
Drrtt... Drrtt... Drttt
Ponsel Luna berdering, Luna langsung mengangkatnya karena yang menghubunginya adalah Dewa.
"Iya Dewa..." Ucap Luna setelah menjawab.
"Sayang... Nanti akan ada beberapa orang yang akan membantumu. Aku percayakan semuanya kepadamu. Kalau misalnya mereka bertanya, kamu jawab saja ya." Kata Dewa.
"Iya, Aku akan melakukan semua yang kamu minta." Jawa Luna.
"Makasih sayang..." Kata-kata itu sangat membuat Luna semakin tersipu.
"Hati-hati ya. Aku mau lanjut kerja dulu." Ucap Dewa lagi. Sebelum Luna menjawab kalimat itu, Dewa sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Tak lama setelah menempuh padatnya jalanan di kota, Luna telah sampai di aula hotel. Iya mulai bekerja sesuai dengan rencana yang sudah si atur. Luna memastikan memilih semuanya sesuai dengan kesukaan Dewa.
Semua persiapan telah selesai. Dekorasi panggung, hidangan seperti makanan dan minuman yang harus di sediakan. Dan masih banyak lagi. Semuanya benar-benar berlangsung lebih dari 5 jam. Dan masih banyak lagi.
"Akhirnya selesai. Tapi untuk denah tempat duduk bagaimana ya? " Gumam Luna bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku tanya aja ya sama Dewa? " Luna langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dewa.
"Kok ngga di angkat sih." Ucap Luna. Iya pun mencoba untuk menghubungi suaminya lagi. Namun belum sempat hal itu terjadi, 1 pesan dari Dewa masuk.
"Aku sedang rapat sayang... Nanti dulu ya." Luna membaca pesan dari Dewa.
"Ya sudah lah... Karena Dewa sedang rapat, besok lagi aja." Gumam Luna. Luna tidak ingin membuat suaminya kelelahan sampai stres memikirkan pekerjaan.
Karena semuanya sudah siap, luna menunggu Dewa di ruang kantor hotel untuk menjemput dirinya. Mungkin karena lelah, merasakan kantuk yang tiba-tiba menyerang matanya.
"Semoga aku ngga ketiduran sebelum Dewa Datang." Gumam luna yang sedang duduk di sofa. Beberapa saat kemudian, Luna benar-benar tertidur karena sudah tak tahan untuk membuka matanya.
Luna tak sadar berapa lama iya tidur. Namun saat ini, iya membuka matanya karena merasa lelahnya sudah hilang.
"Di mana aku? " Tanya Luna. Iya merasa sesuatu yang berat menindih perutnya. Setelah di lihat, ternyata adalah lengan Dewa yang sedang memeluk erat di bagian perutnya. Luna juga melihat baju yang iya pakai sudah di ganti dengan sebuah kaos milik Dewa.
"Dewa, bagaimana aku bisa sampai di sini? " Kata Luna sambil membalik badannya menghadap ke arah Dewa. Iya pun membangunkan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Aku yang membawamu ke sini." Jawab Dewa dengan mata terpejam serta tangan yang semakin erat memeluk Luna.
"Gimana caranya? Terakhir kali yang aku ingat, aku sedang nunggu kamu di ruangan kantor hotel? " Tanya Luna lagi.
"Kamu ketiduran di sofa. Jadi aku menggendongmu saja ke mobil. Aku membawamu pulang ke rumah ini karena lebih dekat dari pada harus mengantarkan kamu pulang ke rumah mama." Jawab Dewa.
"Jangan tanya kenapa aku ngga bangunin kamu, Aku ngga tega karena kamu kelihatan capek banget. Aku ngga tega ganggu tidur kamu." Dewa masih berkata dengan mata terpejam.
"Aku juga sudah menelepon mama dan memberitahu kalau kamu bersamaku. Jadi, sekarang tidurlah lagi Shea" kata Dewa masih belum membuka matanya.
"Baiklah. Selamat malam dan terima kasih." kata Luna sambil berbaring di atas tempat tidur untuk melanjutkan mimpi.
__ADS_1
"Sama-sama. Selamat malam sayang." Kata Dewa lagi.