
"Aku merindukan kalian semua, Apakah kalian merindukan aku juga? dari raut wajah kalian, aku rasa tidak." kata Evan dengan senyum palsu di bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini." kata Luna dengan nada dingin.
"Halo keponakanku yang cantik, Apakah kamu merindukan Paman kesayanganmu ini? " kata Evan, ia melangkah maju untuk mendekati Luna. tapi sebelum ia bisa mendekat ke arah Luna, Dewa sudah melangkah terlebih dahulu di depan Luna Menghadang lelaki yang disebut Paman itu.
"Jangan pernah berpikir untuk melangkah mendekat ke arahnya. " kata Dewa dengan suara yang terdengar sangat benci. Luna pun melangkah ke samping dewa untuk menenangkan suaminya sebelum dia meledakkan kepala Evan.
"Whaaaah... Aku rasa tidak ada salahnya aku mendekati keponakan kesayanganku ini." Kata Evan yang terdengar seperti sungguhan.
"Bicaralah sendiri sama tembok sana. kita berdua tahu apa yang kamu katakan itu bohong." kata Luna dengan mata memelototi Evan.
"Apa yang kamu lakukan di sini, aku merasa tidak pernah mengundangmu." kata Dewa.
"Aku tidak butuh undangan untuk datang ke acara ini. lagi pula aku ini juga bagian dari keluarga." jawab Evan dengan senyum jahatnya.
"Kamu bukan keluarga kami, Kamu adalah monster." kata Luna dengan suara serak menahan amarah. Luna tidak percaya kalau Evan berani mengatakan jika dirinya adalah keluarga Setelah semua yang dia lakukan kepada Luna dan keluarganya.
"Kamu itu manusia yang sangat menjijikkan, Aku harap aku bisa meledakkan isi kepalamu itu." kata Luna dengan sangat Ketus.
"Evan, Apa yang kamu lakukan di dekat putriku." kata-kata Luna dengan suara penuh kebencian dan menahan amarah.
"Waah, Aku senang kita bisa berjumpa lagi kakak." kata Evan dengan seringnya di wajahnya.
"Aku tidak bisa mengatakan hal yang sama seperti yang telah aku katakan, adik. Apa yang kamu lakukan di sini." Ucap Papa Luna sambil menekankan kata-katanya.
"Aku berpikir kalau aku harus mampir dan menyapa keluargaku." jawab Evan lagi.
"Kamu tidak diundang ke sini, jadi pergilah dari sini sekarang juga." kata Papa Luna.
"Ahaaa... itu bukan cara yang baik untuk memperlakukan adikmu ini kakak." jawab Evan lagi.
"Buang saja semua omong kosongmu itu, beritahu kamu kenapa kamu ada di sini." kata Luna yang sudah bisa mendengar suara yang membosankan dan menjengkelkan itu.
__ADS_1
"Waaah, malam ini keponakanku yang cantik ini sangat bersemangat. Tapi karena kamu harus tahu suatu hal, jadi aku akan memberitahumu. aku datang ke sini untuk memberitahu kalian untuk mundur dan tidak mengklaim diri kalian sebagai ketua. kalau kalian menuruti kemauanku, Aku tidak akan membunuh kamu dan keluargamu." kata Evan yang akhirnya Terdengar sangat serius.
"Kalau kamu punya otak pasti kamu sangat manusiawi untuk bisa berpikir kami akan menerima tawaranmu itu." kata Luna dan menatap tajam ke arah lelaki bernama Evan.
"Hei anak kemarin sore, jaga lidahmu dalam berucap. Aku ini masih pamanmu. dan kamu harus menunjukkan rasa hormatmu itu kepadaku."
"Aku akan memberi kalian waktu 3 hari untuk membuat keputusan dari permintaanku tadi." ucap Evan kembali berkata.
"Seperti yang baru saja dikatakan oleh putriku tadi. kamu pasti gila karena berpikir kita semua akan menerima tawaran kamu." kata Papa Luna dengan tegas.
"Kamu boleh mengatakan apapun yang ingin kamu katakan. Tapi setelah 3 hari, kita semua akan tahu siapa yang benar-benar gila. Untuk saat ini, Selamat tinggal keluargaku. Jangan terlalu merindukan aku ya." kata Evan sebelum keluar dari hotel tersebut dengan dua anak buah yang mengikuti di belakangnya.
"Dasar bajingan. Untuk apa dia harus mengancam kita. kalau saja seandainya aku bisa meledakkan isi otaknya itu." kata Luna dengan amarah yang sudah mengalir di nadinya.
"Tenang sayang. aku tahu betapa kamu ingin menghancurkan dia. Bahkan aku pun juga sangat ingin melakukan hal yang sama denganmu. tapi kita harus menunggu persetujuan dari atasan terlebih dahulu. kalau tidak, menyingkirkannya hanya akan sia-sia saja." kata Dewa sambil memeluk Luna.
"Aku tahu cintaku. Kamu benar. Aku tidak boleh berpikir terlalu tidak rasional. Aku perlu tenang agar kita bisa memikirkan rencana untuk menyingkirkannya." Kata Luna sambil memeluk suaminya kembali.
"Sejak dia mencoba membunuhmu, berapa lama kita harus menunggu samapi mendapat persetujuan pa?" tanya Luna.
"Baiklah pa. Kita harus bertindak secepatnya." Kata Luna.
"Oke... Karena hari sudah semakin malam, dan banyak kegiatan serta hal yang terjadi hari ini, papa yakin kita semua butuh istirahat... Ayo kita semua istirahat." Kata papa Luna sebelum keluar dari aula hotel tempat pesta. Akhirnya mereka semua membubarkan diri dan berjalan ke tempatnya masing-masing untuk beristirahat.
"Kamu luar biasa malam ini, my Lovely wife. You are queen in my heart." kata Dewa sambil tersenyum pada Luna sebelum mereka keluar dari aula.
"Aku belajar dari suhu yang terbaik," kata Luna tersenyum sambil mengedip pada Dewa.
DUA MINGGU KEMUDIAN
Dua minggu telah berlalu, dan mereka semua belum mendengar atau melihat apapun yang di lakukan Evan. Luna cukup yakin saja kalau Evan tahu kalau Keluarga Luna tidak akan pernah menerima tawarannya. Tapi kabar baiknya adalah pihak Luna sudah mendapatkan persetujuan untuk menyingkirkan Evan. Sekarang mereka bisa melakukan apapun kepada Evan. Dan Papa Luna akan mengambil kembali kursinya sebagai pimpinan. Jika Papa Luna menyingkirkan Evan sebelum mendapatkan persetujuan, posisi pimpinan akan jatuh ke Nanda, meskipun Nanda bilang dia tidak akan mengambilnya.
Luna dan keluarganya berangkat ke Jakarta dua hari lagi. Evan meninggalkan Surabaya begitu dia tahu kalau keluarga Luna sudah mendapatkan untuk menyingkirkannya. jadi Luna pun dan keluarganya harus pergi ke Jakarta untuk menyusul b******* itu.
__ADS_1
Untuk urusan restoran yang baru saja dibangunkan dewa untuk Luna saat ini berjalan dengan baik. Luna telah mempekerjakan seorang koki terbaik dari kota untuk membantu menjalankan bisnis restoran tersebut. dan saat ini, Luna sedang membuat pizza untuk Safira. Safira kali ini makan lebih banyak dari biasanya karena perutnya yang sudah terlihat membesar. David pun juga mengatakan kepada Luna kalau morning sickness yang dialami oleh Safira semakin parah, tapi meskipun begitu, anak dalam kandungan Safira baik-baik saja. di saat yang bersamaan, peluk Luna yang sedang menguleni adonan mendengar ponselnya berdiri. Ia pun cepat-cepat mencuci tangannya dan mengeringkan dengan handuk yang berada di dapur lalu mengangkat telepon.
"Halo sayangku... Apa kabar? " Kata Luna saat iya sudah menggeser layar ponselnya.
"Halo cintaku... Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? " Kata Dewa.
"Alhamdulillah, sama seperti kemarin yang selalu merindukanmu, hehe..." Luna bercanda.
"Sayang, bagaimana pekerjaanmu? " Tanya Dewa.
"Pekerjaanku baik-baik saja." Luna menjawab.
"Apa kamu sibuk nanti malam?" tanya Dewa lagi.
"Aku ngga pernah sibuk kalau sudah berurusan denganmu sayang." Jawab Luna dengan manja.
"Oke bagus... Aku punya rencana, Apa kamu bisa datang ke apartemenku dan kita bisa masak sekaligus makan malam bersama? Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu." kata Dewa.
"Tentu saja sayang. Jam berapa kamu nanti pulang kerja? " Tanya Luna.
"Aku pulang kerja jam 05.00 hari ini." jawab Dewa.
"Oke... Aku akan kesana." Jawab Luna.
"Baiklah sayang...sampai jumpa nanti. Aku ingin bicara denganmu nanti." Kata Dewa dari seberang telepon.
"Baiklah..." Jawab Luna, setelah itu iya pun mematikan panggilan tersebut.
Beberapa jam telah berlalu setelah Dewa menghubungi Luna. saat ini Luna sudah tiba di rumah Dewa beberapa jam yang lalu. mereka sedang melakukan makan malam yang disiapkan secara bersama. Dewa belum mengatakan apa-apa tentang permintaannya tadi siang. Luna berharap kalau apa yang akan dikatakan Dewa bukanlah hal yang buruk.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," kata Dewa, Iya meraih tangan Luna.
"Kamu bisa tanya apa saja sayangku." Jawab Luna dengan berdebar.
__ADS_1
"Aku ingin tahu apakah..." kata Dewa lalu berhenti dan menarik napas dalam-dalam. Luna benar-benar ingin tahu apa yang ingin Dewa katakan sehingga membuatnya sangat gugup seperti itu.
"Apa pun yang akan kamu ceritakan padaku sayang, aku akan mendengarkannya." kata Luna, seakan mendorong suaminya itu untuk mengatakan apa pun yang ingin di sampaikan. Luna berkata sambil memegang erat tangan suaminya yang terasa hangat.