Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Kabar Gembira


__ADS_3

Setelah Luna selesai memakai bajunya, dia berjalan ke bawah. Iya melihat Dewa yang sedang sibuk dengan laptopnya. perlahan Luna pun menghampirinya.


"Dewa... Ada yang ingin aku tanyakan ke kamu." Ucap Luna sambil duduk di samping Dewa.


" Iya mau tanya apa sayang?" tanya Dewa sambil menutup laptopnya dan melihat ke arah istrinya.


"Kamu tidak berubah pikiran kan. Hari ini kamu sudah berjanji kalau kita mau ke rumah sakit untuk menjenguk Angga. Kamu mau kan minta maaf sama dia?" ucap Luna kepada dewa.


"Baiklah sayang, kalau itu yang kamu inginkan aku menurut saja. Kapan kita akan ke rumah sakit? " tanya Dewa kembali.


"Daripada kita menunda-nunda lebih baik kita segera saja ke rumah sakit." Luna pun bersemangat mendengar apa yang dikatakan oleh suami sirinya itu.


"Oh iya, apa kamu bisa mengantar aku pulang tetlebih dahulu? Aku ingin ganti baju yang nyaman. Setelah itu nanti kita ke rumah sakit untuk menjenguk Angga." tanya Luna kembali kepada dewa. Dewa pun mengangguk. Dewa segera berdiri sambil memegang tangan Luna dan berjalan menuju ke arah pintu. Mereka berangkat ke rumah Luna terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit.


Dewa telah mengantarkan Luna sampai ke rumahnya. Mereka berdua berjalan bersama ke arah pintu. Dalam perjalanan tersebut Luna mengambil kunci yang beredar di dalam tasnya untuk membuka pintu rumah. Setelah pintu terbuka, Luna dan Dewa pun masuk.


"Anggaplah Ini rumahmu sendiri. Aku mau ke belakang terlebih dahulu. Nggak akan lama." kata Luna sambil berjalan menuju ke dapur. Karena Luna sudah tahu jika mamanya pasti berada di dapur Jika saat-saat seperti ini. Saat Luna menoleh kembali, melihat Dewa yang sudah duduk di ruang tamu.


"Mama aku pulang" kata Luna sambil berjalan ke dapur


"Sayang... Mama tadi dengar kamu masuk." kata mama Luna sambil memakan sarapannya


" Oh ya mah, semalam..." Luna menghentikan kalimatnya.


"Kenapa? " Tanya Mama Luna. "Lanjutkan ceritanya." Mama Luna menyuruh putrinya.


"Jadi... Semalam Luna...." Ucapnnya kembali terhenti ketika sang mama menyela.


"Baju siapa yang Anda pakai? Kedodoran sekali." kata Mama Luna sambil bangkit dari kursi tempat duduknya. Dia memutar tubuh Luna agar bisa melihat dengan detail.


" Itu yang akan kujelaskan pada mama." kata Luna sambil menghentikan mamanya memutarkan badannya. Ia berkata dengan buru-buru supaya mamanya tidak berpikiran buruk terhadapnya.


"Kamu tenang dulu dong Sayang. Kalau kamu sudah tenang baru kamu bisa menjelaskan kepada Mama. Mama nggak akan marah sama kamu." kata Mama Luna menunggu agar putrinya tersebut benar-benar tenang dan bisa memberitahukan kepada dirinya Apa yang terjadi. Mama Luna pun berjalan ke arah ruang tamu. sedangkan Luna masih berada di dapur mematung.


"Siapa itu? " gumam Mama Luna saat melihat seseorang di ruang tamu.


"Dewa Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mama Luna saat dia melihat Dewa yang duduk di ruang tamu.


"Mama lihat kan dia kan? ini yang mau Luna ceritakan ke Mama." sebelum Dewa berbicara apapun, Luna sudah berbicara terlebih dahulu. Iya berjalan ke arah Dewa dan langsung memegang tangannya. Mungkin ini akan cukup untuk memberitahu mamanya apa yang ingin iya katakan tadi.

__ADS_1


"Akhirnya... Hal ini terjadi juga" kata Mama Luna dengan senyum lebar di wajahnya.


“Akhirnya? Apa maksud mama?” kata Lunq sedikit bingung.


"Oh, tidak apa-apa sayang." kata Mama Luna sambil tersenyum pada Dewa.


"Mah, Mana ada sesuatu yang akan mama katakan? Dewa, tunggu sebentar ya. Aku akan segera ke sini lagi." kata Luna sambil menarik mamanya kembali ke dapur untuk berbicara.


"Mama, katakan yang sebenarnya. Kenapa mama tidak kaget? " Tanya Luna.


"Seperti yang pernah mama katakan, dia menyukaimu, tapi cara menunjukkannya berbeda." Kata mama Luna.


"Tapi setidaknya mama harus terkejut." Ucap Luna. Mamanya hanya tersenyum.


“Mamaaa...” kata Luna dengan sedikit merengek seperti anak kecil.


"Kenapa harus terkejut? Padahal mama sudah menunggu hal ini selama bertahun-tahun."


"Terserah." kata Luna sambil tersenyum pada mamanya.


"Mama mau ngasih tau sesuatu juga. Kemarin mama sudah menemui seseorang." Ucap mama Luna.


"Alhamdulillah... Aku sangat bahagia mendengar berita ini." Ucap Luna.


"Terima kasih sayang... Jangan khawatir suatu hari nanti mama akan mengajak kamu untuk bertemu dengannya." kata Mama sambil tersenyum. Luna belum tahu siapa lelaki yang sudah mencuri hati mamanya itu. Yang pasti, lelaki itu kelihatannya sudah membuat mamanya bahagia.


"Ngga masalah ma. Kapanpun asalkan mama mengenalkan dia kepada Luna." ucap Luna dengan tersenyum sambil berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya yang terus berdering sejak tadi.


Luna mengeluarkan ponselnya dari tas dan memeriksa siapa yang menghubunginya sebelum menjawab. Luna melihat yang menghubunginya adalah Safira.


" Halo Safira... Bagaimana keadaan kamu. kemarin Dewa sudah mengatakan kepadaku Apa yang terjadi sama kamu. kamu baik-baik saja kan?" tanya Luna.


"Luna... Aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu kemarin malam. Kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja. Oh iya, tapi Dewa menjemputmu kan?" Tanya Safira.


"Tidak... Kenapa malah kamu yang minta maaf. Ini kejadian tidak di sengaja. Dewa menjemputmu, dan ada sesuatu yang terjadi semalam. Aku ngga sabar untuk ngasih tahu kamu Nanti kalau sudah ketemu. Jangan pernah merasa bersalah. Yang penting kamu baik-baik saja." ucap Luna kepada Safira.


" Aku berharap Dewa tidak melakukan sesuatu yang buruk kepadamu. Karena kalau sampai dia melakukan hal buruk, itu karena aku yang telah menyuruhnya untuk menjemput kamu." kata Safira.


" Nggak dia nggak ngelakuin hal buruk kok sama aku. Aku nanti akan memberitahu kamu kalau kita sudah ketemu. kamu nginep di hotel mana?" tanya Luna.

__ADS_1


" Beruntung sekali Dewa selalu mendapatkan pembelaan dari kamu. aku nginep di hotelnya Dewa." jawab Safira lagi.


" Baiklah kalau begitu. sampai jumpa nanti malam ya aku akan ke sana." Luna pun mengakhiri panggilan tersebut.


Luna yang sejak tadi berbicara di telepon dengan Safira menyadari jika selama itu juga Dewa menatapnya.


" Kenapa kamu melihatku seperti itu? " katanya Luna sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali.


" Nggak apa-apa. Aku nggak pernah bosan melihat wajah cantikmu." kata Dewa kepada Luna sambil tersenyum. mendengar apa yang dikatakan lelaki di depannya tersebut membuat Luna merasa terus dipuji. Iya sudah yakin jika pipinya saat ini sudah semerah tomat.


Luna tersenyum karena pujian Dewa tadi. Luna langsung berjalan ke arah lelaki tersebut dan mencium pipinya.


" Terima kasih setelah mengagumiku dengan caramu." ucap Luna sesaat setelah mencium pipi suami sirinya itu. Dewa pun tersenyum lebar mendengar apa yang istrinya katakan.


" Apa nanti sore kamu bisa mengantarkan aku ke hotelmu? Aku punya rencana untuk bertemu dengan adikmu. Karena kemarin kita tidak bisa.? kata Luna sambil berdiri tegak dan langsung duduk di samping Dewa.


" Tentu saja kenapa tidak. Aku pikir aku akan mengantarkan kamu ke hotel setelah kita melihat Angga di rumah sakit." jawab Dewa dengan senyum indah di wajahnya. dan senyum itulah yang selalu membuat Luna Mabuk Kepayang.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan ganti baju dulu kamu tunggu sebentar ya." kata Luna sambil berdiri dan berjalan ke lantai atas untuk mengganti pakaiannya.


Setelah 5 menit ke Luna izin masuk ke dalam kamarnya, Luna kembali turun ke lantai bawah. Dan saat sudah berada di bawah, Iya melihat Dewa dan mamanya yang sedang berbicara. Saat Luna melihat mereka berdua, Dewa dan Mamanya pun berhenti berbicara. hal tersebut sedikit aneh untuk Luna. Tapi Luna berpikir untuk terserah saja.


" Ayo kita pergi. Mama sampai jumpa lagi ya." pamit Luna kepada mamanya.


"Baiklah... Mari nyonya Shea." Kata Dewa sambil bangkit dari duduknya.


"Iya sayang." Jawab Mama Luna untuk putrinya.


"Oh iya Kenapa kamu memanggilku nyonya? " Kata mama Luna.


"Maaf. Kalau begitu mari tante Safina." Dewa pun mengulangi kalimatnya.


"Memanggilku nyonya membuat aku terlihat lebih tua saja." kata Mama Luna.


"Mohon maaf jika saya membuat tante merasa seperti itu." Dewa pun akhirnya minta maaf.


"Tidak apa-apa sih sebenarnya." jawab Mama Luna sambil tersenyum.


"Baiklah... Ma, Luna pergi dulu ya." ucap Luna sambil menarik tangan dewa dan berjalan ke pintu depan. dua muda-mudi itu akhirnya berangkat meninggalkan sang Mama di rumah.

__ADS_1


__ADS_2