
Luna berpamitan kepada dewa untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam rumah. Sambil masuk ke dalam rumah Luna ingat akan sesuatu.
"Aku harus menanyakan tentang mimpi ini sama mama. Mungkin saja mimpi itu benar-benar ada maknanya." Gumam Luna sambil berjalan.
"Mama aku pulang." kata Luna saat ia masuk ke dalam rumah.
"Mama di dapur sayang." jawab Mama Luna.
"Mama sedang apa?" tanya Luna sambil duduk di kursi meja makan.
"Biasa, sedangg menyiapkan makan malam." jawab Mama Luna dengan sibuk.
"Oh iya, tadi mama kirim chat ke Luna kalau ada hal penting yang mau dibicarakan." kata Luna ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh mamanya.
"Kamu tahu kan sayang? Kalau mama ingin mengadakan pertemuan dengan calon papamu. Kamu selalu bertanya kapan mama bisa mempertemukan kalian berdua kan? " kata Mama Luna memberitahu putrinya tanpa basa-basi lagi.
"Iya, Sudah hampir dua minggu sejak aku menanyakan hal ini ke mama." jawab Luna.
"Kita akan makan malam di rumahnya hari ini." Mama Luna menoleh ke arah putrinya dan menjawab.
"Mama serius? " tanya Luna.
"Akhirnya aku akan bertemu dengan laki-laki yang telah membuat Mama bahagia akhir-akhir ini." kata Luna sambil tersenyum.
"Iya... Dan sekarang kamu Bersiaplah acara malam ini. Mama akan menyiapkan camilan sore untuk kita sebelum kita pergi ke sana." ucap Mama Luna.
"Baiklah..." kata Luna sambil berjalan keluar dari dapur. Luna langsung menuju ke tangga. Dan di saat itu pula bel pintu berbunyi. Luna kembali lagi jalan ke arah pintu dan membukanya.
"Nanda... Ini benar-benar kamu. Ayo masuk." kata Luna.
Nanda pun akhirnya melangkahkan kaki setelah Luna mengizinkannya untuk masuk.
"Aku sangat senang kamu datang ke sini. Kenapa kamu tidak mengabari terlebih dahulu sebelum datang. Jangan bilang kalau ini adalah kejutan." kata Luna dengan ekspresi bahagia yang tak terlukiskan.
"Iya...Aku memang ingin memberimu kejutan. Dan aku berhasil kan."
"Oh Iya aku pernah ke perusahaan tempat kamu kerja minggu lalu Karena aku tahu kamu kerja di perusahaan Dewa. Tapi sekretaris Dewa bilang kalau kamu tidak ada. Jadi aku memutuskan untuk datang saja ke rumah ini karena kamu bilang akan kembali satu minggu lagi. Bagaimana kabarmu?" kata Nanda sambil tersenyum kepada Luna.
__ADS_1
"Aku baik- baik saja dan aku ingin meminta maaf atas apa yang terjadi saat kita ketemu waktu itu. Aku minta maaf atas sikap Dewa." Kata Luna.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf karena kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Aku tidak marah kok." Jawab Nanda.
"Padahal aku memang harus meminta maaf atas apa yang telah terjadi." kata Luna kemudian.
"Oke. kalau begitu, sekarang ceritakan bagaimana hidupmu selama ini. Apa yang harus aku ketahui darimu sebagai adik perempuanku? " Kata Nanda sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... Saat ini hidupku sudah baik. Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan juga aku sudah bertemu dengan seseorang." kata Luna sambil tersenyum.
"Aku tidak salah dengar kan? Kamu bertemu seseorang." Ucap Nanda.
"Nanda... Aku tidak seperti kamu yang tidak pernah serius dengan wanita manapun. Kalau kamu akan mudah tergoda dengan semua wanita yang menghampirimu. Kalau aku tidak. Tapi apa kamu sudah menemukan orang yang tepat untukmu? " Tanya Luna. Nanda mengangguk.
"Kata-katamu membuat aku merasa kalau aku ini sudah tidur dengan semua wanita di dunia." kata Nanda sambil tersenyum.
"Tapi tunggu dulu. Kamu serius? Tapi kamu benar-benar yakin kan sama yang satu ini." tanya Luna kembali.
"Iya, aku ketemu dengannya minggu lalu. namanya Dina." jawab Nanda dengan mata berseri-seri.
"Kamu serius? Kamu ketemu sama dia minggu lalu. Berarti saat kamu datang untuk mencari aku ke perusahaan Dewa, dan Dina yang kamu maksud adalah sekretaris Dewa." kata Luna menatap ke arah Nanda dengan ekspresi tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Dia adalah temanku. Jadi lebih baik kamu berusaha untuk tidak menghancurkan hatinya. Karena kalau kamu Sampai berani menyakitinya, aku akan menghancurkan kepalamu." kata Luna mencoba mengatakan itu supaya Nanda tidak menyakiti hati Dina. Dan apa yang diucapkan oleh Luna tersebut terdengar seperti sebuah ancaman.
"Hiii... Aku takut." Jawab Nanda sambil tertawa.
"Aku serius Nan. Jangan pernah menyakiti Dina." Luna kembali berucap sambil memukul lengan Nanda bercanda.
"Haha, aku sangat takut," katanya sambil menertawakan usahaku untuk mengancamnya.
"Baiklah... Aku berjanji tidak akan menyakiti Dina."
"Ya Tuhan, Nyonya Safina. Saya tidak tahu kalau anda ada di sini." ucap Nanda saat ia melihat Mama Luna yang sudah berada di dekatnya. Ia pun segera berdiri dan menyapa Ibu dari sahabatnya tersebut.
"Aku baik. Bagaimana kabarmu nak? " Tanya Mama Luna kepada Nanda.
"Alhamdulillah baik nyonya." Jawab Nanda.
__ADS_1
"Berapa kali aku harus bilang kepadamu untuk tidak bersikap formal dan memanggilku dengan sebutan itu." kata mama Luna lagi.
"Maafkan saya tante." Nanda pun mengangguk dan iya kembali duduk.
"Nona Aluna... Apakah kamu tidak ingin mempersiapkan apa yang akan kamu pakai untuk makan malam nanti." kata Mama Luna menatap putrinya yang masih duduk santai di sofa.
"Ya Tuhan... Kau lupa. Ya sudah... Aku ke kamar dulu ya. Tunggu dulu di sini." Luna pun segera berdiri dan berjalan cepat menuju ke tangga. Iya segera masuk ke kamar dan memilih-milih baju yang akan dikenakannya di hari yang menurutnya spesial itu.
Beberapa saat telah berlalu dan Luna telah menemukan baju yang akan dikenakannya untuk menghadiri undangan makan malam bersama sang mama. Saat ini mereka sedang menikmati camilan bersama. Mereka benar-benar menceritakan semua kejadian yang tidak mereka lewati bersama antara satu sama lain.
"Ternyata kamu benar-benar serius dengan Dina. Aku sangat senang mendengar berita ini. Karena kalau aku lihat, kamu benar-benar tertarik kepada Dina dari cara kamu menceritakan. Lebih dari satu jam loh Nanda." kata Luna mencoba menggoda sahabatnya tersebut. Nanda pun hanya tersenyum malu-malu.
"Aku belum pernah melihat kamu seserius ini sama wanita manapun sebelumnya." kata Luna lagi.
Karena hari sudah semakin malam, akhirnya Nanda pun berpamitan untuk pulang. Luna dan Mamanya pun bersiap untuk pergi makan malam. Iya mengenakan sebuah gaun berwarna hitam. setelah merias wajahnya dengan tipis, Luna pun turun dari tangga.
Setelah semuanya siap, Luna dan Mamanya pun pergi ke tempat yang akan dituju. Di depan sudah ada sebuah mobil Sopir dari orang yang dimaksud Mama Luna itu untuk menjemput mereka berdua. Mama Luna terlihat sangat cantik dengan baju lengan panjang berwarna biru laut dengan hiasan manik-manik.
Hampir 20 menit dalam perjalanan, Luna dan Mamanya telah tiba di sebuah rumah. Sebuah rumah yang terlihat sangat megah di mata Luna. Rumah berlantai 2 dengan hiasan tanaman bunga yang begitu banyak. Setelah berada di depan pintu, Luna dan Mamanya pun memencet bel. Tak lama kemudian seorang gadis yang umurnya tidak jauh dari Luna membukakan pintu. Gadis itu tersenyum saat ia melihat Mama Luna, seolah-olah ia telah mengenal mamanya.
"Selamat malam Nyonya Safina. " kata gadis itu sambil berjalan mundur beberapa langkah agar Luna dan Mamanya bisa masuk.
"Selamat malam Fani. Bagaimana kabarmu? "Tanya mama Luna sambil masuk ke dalam rumah.
"Saya baik baik saja nyonya. Tuan sudah menunggu anda di ruang tamu." Ucap Fani.
"Baiklah. Terima kasih." Jawab mama Luna. Mereka pun langsung berjalan menuju ke ruang kamu. Saat Luna sudah berada di ruang tamu, iya benar-benar terkesimal dengan desain dalam rumah tersebut. Ia melihat semua yang terpajang di sana benar-benar sangat indah. Di dalam ruang tamu tersebut terdapat 4 lampu gantung seperti yang ada di pintu masuk. Ada sebuah desain unik yang tertera di sekitar lampu gantung itu.
Luna melihat seorang lelaki yang kemungkinan besar Ia adalah kekasih dari sang mama sedang berdiri di dekat piano membelakangi mereka berdua dan berbicara melalui telepon. laki-laki paruh baya tersebut mengucapkan selamat tinggal kepada orang di seberang telepon begitu dia menyadari kehadiran Luna dan Mamanya. Dia langsung berbalik dan menghadap ke arah Luna.
"Dia terlihat sangat familiar, tapi aku tidak tahu di mana dan kapan aku mengenalnya." Gumam Luna dalam hati.
"Aluna..." Ucap lelaki tersebut. Dan panggilannya mampu mengembalikan sesuatu yang hilang di dalam diri Luna. Tiba-tiba saja ia merasa pusing dan sebuah ingatan terlintas di pikirannya. Luna tiba-tiba saja mengingat semuanya saat ia masih kecil hanya dengan satu tatapan dari orang tersebut.
"Apa... Aku ingat semuanya." Gumam Luna. tiba-tiba saja Luna meneteskan air mata. Dan disaat yang bersamaan, orang yang dimaksud oleh Mama Luna sebagai kekasihnya tersebut datang ke arah nya dan memeluk Luna dengan erat.
"Kalian masih hidup? Aku sangat merindukanmu." Suara Luna benar-benar tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
"Papa... Kakak."Kata Luna dengan air mata berlinang. Luna langsung memeluk papa dan kakak laki-lakinya dengan erat. Air mata Kerinduan pun tumpah tak tertahankan lagi. Luna benar-benar merasa syok dengan kejadian ini. Dia tidak menyangka semuanya akan masih bisa bertahan hidup sampai saat ini.