
Luna terbangun ketika ada cahaya matahari yang menyinari wajahnya. Iya sangat senang karena hari ini adalah hari Sabtu. Jadi Luna akan meliburkan diri dari semua pekerjaan. Ia memeriksa ponselnya untuk melihat jam berapa saat ini. Setelah ia mengetahui bahwa saat ini masih jam 09.00, Iya Pun merebahkan tubuhnya kembali dan bermalas-malasan. Kemarin Nyonya Lisa berkata bahwa akan menjemput Luna pada jam 01.00 siang untuk berkeliling kota Jakarta. Jadi masih ada banyak waktu untuk memanjakan diri.
Setelah beberapa saat Luna keluar dari kamarnya, Iya langsung menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Luna meletakkan ponselnya setelah iya memutar musik untu hiburan di saat Memasak. Luna menggerakkan badannya seolah-olah sedang menari. Ketia iya berbalik, iya terkejut dengan apa yang baru saja di lihat di depannya. Dewa yang sedang bertelanjang dada duduk kursi meja makan di dapur sambil minum air. Sepertinya sudah kebiasaannya suka bertelanjang Dada.
"Demi Tuhan... Apakah dia tidak tahu kalau dia itu seksi. Dan tidak seharusnya dia memamerkan tubuh seksinya. Aku tidak boleh membiarkan diriku melihat terlalu lama... Tidak boleh" Gumam Luna dalam hati saat tahu Dewa ada di sana.
" Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kesenanganmu. Aku tidak tahu kalau asisten pribadiku ternyata adalah seorang penari."
"Oh iya, terima kasih untuk semalam." Ucap Dewa.
"Aku bukan penari. Aku hanya tahu caranya menari. Sangat berbeda." Jawab Luna.
"Apakah anda ingin sarapan tuan? " tanya Luna. Setelah mengangguk, Dewa langsung berdiri dari kursi yang di dudukinya dan berjalan ke kamarnya. Membuat Luna meneruskan kekagumannya pada tubuh Indah Dewa yang baru saja di lihatnya.
"Betapa seksinya dia jika terlihat dari depan dengan keringat yang menetes dari tubuhnya." Gumam Luna sangat Lirih.
'Bahkan punggungnya saja terlihat sangat seksi. Ucap Luna lagi.
"Hih, apa yang aku lakukan?" Akhirnya Luna kembali tersadar dengan apa yang dia lakukan. Iya pun kembali melanjutkan memasaknya.
Di meja Makan.
Luna dan Dewa sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Luna memutuskan untuk memecah kesunyian dan ber bicara.
"Mamamu menelepon tadi malam. Dia akan datang nanti jam 1 siang untuk menjemputku. Kita akan berkeliling kota" kata Luna dengan mulut penuh makanan.
"Berbicaralah setelah menelan makananmu" Jawab Dewa.
" Maaf." Kata Luna. Iya memastikan kali ini tidak ada makanan di mulutnya.
"Terserah. Jam berapa kamu akan pulang? Karena kita harus kembali ke Surabaya secepat mungkin. Sesuatu yang penting harus aku lakukan di sana" Jawab Dewa.
" Oh. aku tidak tahu. Tapi aku akan segera pulang. Nanti biar aku tanya mama mamamu kalau beliau sudah datang" Luna menjawab.
Setelah sarapan, Luna menyalakan televis dan melihat tayangan sinetron kesukaannya.
__ADS_1
"Saa.. Saya tidak mendengar anda masuk." ucap Luna yang sedang duduk di sofa menonton Tv. Tidak mendengar ada orang masuk. Iya tadi menunggu kedatangan nyonya Lisa. Karena keasyika nonton, Luna tidak mendengar. Luna segera berdiri dan menyapanya.
"Apa kabar sayang? Apakah kamu sudah siap? Kamu pasti sangat asyik dengan apa yang kamu tonton sampai tidak mendengar aku masuk" Tanya nyonya Lisa.
" Saya baik- baik saja nyonya. Dan saya juga sudah siap. Saya akan mengambil tas saya dulu terus kita bisa berangkat" Jawab Luna dengan nyengir kuda. Merasa malu. Luna pun segera pergi dari sana dan masuk ke kamar untuk mengambil tasnya. Sebelum keluar, iya sekali lagi melihat dirinya dalam cermin. Memeriksa make upnya. Setelah di rasa sudah cukup, Luna berjalan kembali ke luar.
"Adik Dewa sudah dalam perjalanan kesini saat ini, dia bilang mau ikut. Tante harap kamu tidak keberatan ya" Ucap nyonya Lisa.
" Tidak sama sekali nyonya. Saya malahingin bertemu dengannya." Jawab Luna.
"Jangan memanggil nyonya. Panggil saja tante" Ucap Nyonya Lisa. Luna pun mengangguk. Mereka berjalan keluar ruang hotel dan turun dengan lift. Saat mereka sudah sampai ke lobby hotel, mereka duduk dan menunggu adik Dewa datang.
Belum lama setelah duduk, Luna melihat seorang gadis kira-kira seumuran Dia datang. Gadis itu langsung saja memeluk Luna dengan erat. Luna menebak bahwa Gadis itu adalah adiknya Dewa. ketika Luna dan Gadis itu melepaskan pelukannya, Luna melihat wajah gadis tersebut adalah dewa versi perempuan. Matanya yang indah sama seperti mata dewa. Dan Rambutnya yang hitam legam sepinggang. Menurut Luna, tidak ada pria manapun yang tidak jatuh cinta saat ia melihat gadis ini.
"Kamu lebih cantik dari yang mama bilang. Aku sangat senang akhirnya kak Dewa menemukanmu. Aku yakin kita akan menjadi teman setelah pertemuan ini" ucap Gadis itu kepada Luna.
" Saya Aluna, senang bisa bertemu denganmu" ucap Luna sambil mengulurkan tangannya ke arah gadis tersebut.
"Aku Safira, senang juga bertemu dengan gadis yang mencuri hati kakakku" kata Safira dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kalau saja dia tahu itu semua bohong." Gumam Luna dalam hati.
LIMA JAM KEMUDIAN.
Hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidup Luna. Nyonya Lisa dan Safira membawanya ke semua tempat indah di Jakarta. Menurut Luna, mereka berdua adalah orang-orang yang sangat menyenangkan. Saat mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka semakin mengenal satu sama lain. Luna menikmati waktunya bersama mereka.
Saat ini Luna, Safira dan nyonya Lisa sedang duduk di sebuah restoran sebelum mereka mengantarkan Luna kembali ke hotel.
"Aku tahu kamu dan kakakku tidak ada hubungan." Ucap Safira. Gadis itu mengatakan kepada Luna untuk merahasiakan ini dari orang tuanya.
"Kakakku bukan tipe orang yang suka berbohong kepada orang tua, apalagi tentang seorang wanita. Dia pasti sangat tertarik padamu kalau dia bersikap seperti ini, tapi dia belum menyadarinya" kata Safira saat nyonya Lisa sedang ke toilet. Tiba-tiba saja Luna tersedak makanan yang baru saja dia makan. Dengan cepat Safira menyodorkan satu gelas air minum dan Luna langsung menerimanya. Iya meminum air sebelum mengatakan sesuatu.
"Saat itu kita pergi ke pesta, Mamamu mengira kalau kita berkencan, dan kakakmu tidak mengatakan yang sebenarnya. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti kemauannya. Sampai dia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuamu." Kata Luna. Iya merasa jauh lebih baik. sekarang sudah tidak ada lagi beban di dadanya.
"Tidak apa-apa. Aku tahu bagaimana sikap kakakku. Mungkin dia tampak seperti b*******, Tapi saat kamu sudah mengenalnya, kamu akan tahu bahwa dia adalah orang yang sangat luar biasa."
__ADS_1
"Minggu depan aku akan ke Surabaya. Aku akan sangat senang kalau kita bisa bertemu lagi" Ucap Safira.
" Tentu saja, kenapa tidak? Kecuali kalau kakakmu memberiku pekerjaan banyak sehingga aku tidak pumya waktu" Ucap Luna.
"Jangan khawatir. Aku bisa menanganinya. Serahkan saja kepadaku." Ucap Safira. Dan setelah nyonya Lisa kembali, mereka segera menghabiskan makanannya dan pulang menuju ke hotel kembali.
Setelah mereka tiba di hotel, Safira dan Mamanya langsung pulang. Luna langsung masuk ke dalam kamarnya. Luna sedikit kesulitan membawa barang-barangnya. Iya sudah meminta kepada Safira Dan mamanya untuk tidak membelikan apapun. Namun mama Safira tetap saja ingin membelikan sesuatu untuk Luna. Dua wanita beda generasi tersebut tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Luna sama sekali.
setelah meletakkan barang-barang belanjaannya, Luna mengambil ponsel dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Iya memutuskan untuk menghubungi mamanya. Karena sudah lama sekali rasanya sejak ia berangkat dari Surabaya ke Jakarta, dia tidak menghubungi mamanya sama sekali.
"Halo" jawab Mama Luna dari seberang telepon. nafas Mama Luna Terdengar sangat memburu.
"Mama kenapa? " tanya Luna kepada mamanya.
" Mama tidak apa-apa sayang. cuma kecapean aja sedikit. Ini sudah mau istirahat" jawab sang Mama ketika mendengar suara Luna yang begitu khawatir.
" Ya sudah mama segera istirahat Jangan lupa minum obatnya. Besok Luna sudah kembali dari Jakarta. Setelah Luna kembali dari sini Luna akan membawa Mama ke rumah sakit. Mama terdengar tidak baik-baik saja loh" Luna pun mengingatkan kepada sang mama.
" Iya nak... Bagaimana keadaan kamu di sana. Mama harap kamu baik-baik saja saat berada di Jakarta. Bisa Menikmati keindahan kota Jakarta" ucap sang Mama berusaha mengalihkan kekhawatiran sang anak.
"Aku sangat menikmati keindahan kota Jakarta ma." Jawab Luna.
"Bersenang-senanglah nak di sana." Kata mama Luna begitu senang mendengar apa yang dikatakan oleh Luna.
" Ya sudah kalau begitu mah. Luna mau istirahat terlebih dahulu. Ingat ya Ma, jangan terlalu memaksakan diri. Ingat apa yang dikatakan oleh dokter. Dan jangan lupa meminum obatnya" ucap Luna panjang lebar memberitahu mamanya. Setelah itu panggilan pun berakhir.
"Aku akan membayar uang biaya oprasi mama ke rumah sakit sebanyak 75 juta, gaji dari Dewa. Berarti masih kurang 75 juta lagi. Dan itu artinya, aku harus bekerja 1 bulan lagi untuk bisa melunasinya. Akhirnya setelah ini aku akan menjauh dari dewa selamanya." Gumam Luna sendiri.
Setelah beristirahat dan merasa lelahnya sudah hilang, Luna berjalan ke ruang tamu untuk menonton televisi sebelum ia tidur. Tapi sebelumnya ia berjalan ke dapur untuk mencari camilan. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Luna segera kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan sinetron yang disukainya tersebut.
Namun saat ia akan duduk di sofa, ia melihat Dewa yang baru keluar dari kamarnya dengan membawa laptop di tangannya. Tanpa basa-basi Dewa langsung duduk di samping Luna dan terus fokus pada layar laptopnya. Luna pun merasa tidak peduli. Iya melanjutkan Menonton serial TV yang baru saja diputarnya tersebut Dan menganggap bahwa Dewa tidak ada di sampingnya.
"Kamu sangat sexy sayang. Aku tidak pernah ragu untuk menidurimu kapan saja... Kapan saja. Aku sangat mencintamu" Suara di televisi yang di tonton Luna tersebut didengar oleh Dewa yang berada di sampingnya.
" Wow aku tidak pernah mengira kalau kamu adalah tipe wanita yang sangat pemberani Shea" kata Dewa yang berada di samping Luna. Dewa Mengabaikan layar laptopnya lalu memandang ke arah Luna dengan senyum menyeringai ke arah Luna. Luna sangat menyukai senyum di bibir Dewa yang seperti itu. Sehingga Luna menjadi lupa diri. Namun sesaat kemudian ia teringat bahwa sedang ada Dewa di sampingnya. Iya langsung menoleh dengan rasa terkejut.
__ADS_1
" Tidak tidak... ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku... Aku tidak seperti itu. Maksudku, aku tidak seperti yang berada dalam film tersebut... Aku..." Jawab Luna dengan perasaan khawatir. Iya takut jika Dewa akan menganggapnya wanita murahan.
" Tidak usah menjelaskan Sea, aku sudah mengerti apa maksudmu" jawab Dewa sambil menutup laptopnya. Setelah itu ia berdiri. Sebelum ia berjalan menuju kamarnya, dia mengedipkan matanya ke arah Luna. Dengan senyum menyeringai saat ia berjalan masuk ke kamarnya. Luna tidak tahu mengapa Dewa bisa begitu tampan. Sehingga hanya dengan mengedipkan matanya saja, Dewa mampu membuat pipi Luna menjadi merah merona.