Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Tertanggu


__ADS_3

Luna merasa tidurnya terusik dengan kehadiran seseorang yang ia sendiri pun tak tahu siapa. Yang pasti kedatangan orang tersebut di dekatnya membuat Luna benar-benar merasa terganggu. Ia perlahan membuka matanya. Begitu matanya telah terbuka dengan sempurna, Luna melihat Sepasang Mata yang indah dan sangat tajam yang sedang menatap di depan wajahnya. Iya mengumpulkan semua kekuatan untuk bangun, sadar siapa yang sedang menatapnya saat ini. Seorang laki-laki tampan bernama Dewa Andriano.


Saat Luna masih berada di atas ranjang, Dewa memukul pelan kepala Luna agar benar-benar terbangun.


"Kenapa dia suka sekali membangunkanku seperti ini? Dia bisa saja memanggil namaku dengan pelan. tidak harus mendekatkan wajah tampannya di wajahku untuk membangunkan aku kan." Gumam Luna dalam hati. Iya melihat ke luar jendela, terlihat hari masih gelap, Luna merasa bingung mengapa Dewa membangunkannya sepagi ini.


"Kenapa kamu membangunkan aku? Di luar masih gelap." Kata Luna sambil menggosok matanya.


" Kita harus berangkat dalam waktu satu jam ke depan, dan kamu hanya punya waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap. Dalam waktu itu kamu belum siap juga, aku akan meninggalkanmu." kata Dewa sambil berjalan keluar.


Dan setelah membuka matanya dengan lebar, Luma menyadari sesuatu.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku bangun sudah berada di kamar? " Gumam Luna dengan bingung.


"Bagaimana aku bisa berada di kamar? Dewa pasti mengangkatku." Luna masih merasa bingung.


"'Wah... Mungkin karena itu dia marah. Tapi dengan mengangkat aku ke kamar, berarti dia tidak marah. Mungkin aku harus bertanya padanya." Banyak pertanyaan di pikiran Luna tentang Luna.

__ADS_1


"Tidak...Tidak, Aku rasa itu bukan ide yang bagus. Aku harus segera bersiap-siap sebelum Dewa meninggalkanku" Luna segera berjalan ke kamar mandi dan segera bersiap. Setelah selesai mandi. Luna memakai pakaiannya


Luna melihat ke arah dinding, Saat ini sudah jam 5.25 pagi. Berarti sebentar lagi sudah harus berangkat. Dan Luna belum mengepak barang-barangnya. Luna cepat-cepat berjalan ke lemari dan mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Tanpa di sadari, seseorang masuk ke kamarnya. Luna tidak peduli dan tidak melihat sama sekali karena dia sedang berusaha untuk menutup resleting kopernya secepat mungkin. Dengan tambahan beberapa pakaian baru, membuat Luna kesulitan. Tiba-tiba orang yang tadi memasuki ruangan menghampirinya dan membantu saya menutup koper. Luna tidak melihat untuk mengetahui siapa orang itu, karena bau parfum yang semerbak sudah cukup memberi tahu Luna bahwa itu adalah Dewa.


Setelah selesai menutup kopernya, Luna mendongak ke atas untuk berterima kasih kepada Dewa. Tapi, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Luna saat iya bertatapan dengan Dewa. Mata lelaki yang menjadi bosnya itu sangat indah. Luna bisa menatap mata itu setiap hari, tetapi Luna tahu itu tidak mungkin. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat. Kemudian Dewa berdehem dan berdiri tegak dan segera mengambil barang bawaan Luna agar bisa segera berangkat.


"Apa yang aku lakukan, apa yang terjadi? Apa Dewa sudah berubah? Tidak tidak tidak, Aku seharusnya tidak aneh-aneh. Bodohnya aku. Dan apa yang di lakukan Dewa. Dewa mmebawakan koperku." Hati Luna terus bergumam. Luna tak percaya dengan apa yang iya lihat. Dia melihat Dewa sebagai manusia yang berhati emas. Bukan iblis yang berwujud manusia. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Semua hal yang dia lakukan membuat Luna benar-benar tersiksa seperti di neraka.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN


Luna duduk di mobil SUV Dewa dalam perjalanan pulang. Mereka telah tiba di Surabaya beberapa jam yang lalu. Dan Dewa belum mengatakan sepatah kata pun kepada Luna saat mereka meninggalkan Jakarta. Luna bertanya-tanya dalam hati, apakah dia melakukan kesalahan atau mungkin Dewa memang sedang dalam mood yang buruk, sehingga iya terlihat murung.


"Terima kasih" Ucap Luna saat Dewa meletakkan kopernya di depan pintu dan membawa barang Luna yang lain. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Dewa langsung kembali ke mobil setelah menurunkan barang-barang Luna.


"Dasar brengsek, kenapa dia seperti ini? Aku harap dia tidak akan bersikap buruk di tempat kerja besok." Kata Luna kesal. Luna masuk ke dalam rumah lalu berjalan ke atas untuk melihat mamanya. Mama Luna sudah tidur. Setelah itu, Luna berjalan kembali ke bawah untuk mencari sesuatu untuk dimakan atau mungkin memasak terlebih dahulu.


"Waah Beruntung sekali aku. Mama sudah membuat makan malam" Luna langsung memasukkan makanannya ke dalam microwave. Setelah menunggu sebentar, Luna langsung menyantapnya.

__ADS_1


Setelah makan, Luna masuk ke dalam kamarnya dan langsung tidur. Sebelum tidur, Luna berfikir untuk menceritakan perjalanannya ke sang mama.


"Kalau aku bangun nanti, aku akan memberitahu mama tentang perjalananku." Luna pun segera tertidur.


Di saat baru saja akan terpulas dalam dekapan rasa kantuk yang luar biasa. Luna mendengar ponselnya berdering. Luna mengangkat teleponnya dengan rasa kesal. Iya tidak melihat terlebih dahulu siapa orang yang menghubunginya di saat malam seperti inj.


“Apa? ” kata Luna tanpa peduli siapa orang yang sedang menelepon.


"Apakah itu cara menjawab telepon yang tepat untuk berbicara dengan bossmu? " Kata orang di seberang telepon. Tidak membutuhkan waktu lebih dari satu detik untuk Luna bisa mengenali suaranya. Yang menghubunginya tidak lain adalah Dewa.


"Astaggfirullah... Maaf tuan... Saya tidak tahu jika yang menelpon itu Anda." Jawab Luna tergagap.


" Bagaimana mungkin kamu bisa bilang kalau kamu tidak tahu kalau yang menelpon aku? Apa nomor ku tidak kamu simpan di ponselmu?" Terdengar suara dingin Dewa dari telepon.


"Tentu saja saya menyimpan nomor Anda di ponsel tuan. Masalahnya, saya sedang tidur waktu mendengar ponsel saya berdering, saya tidak melihat terlebih dahulu siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Saya merasa kesal karena ada orang yang menelpon malam-malam seperti ini di saat saya baru saja terlelap dari beristirahat. Itu lah sebabnya kenapa suara saya ketus dan terdengar marah. Saya berbanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Saya berjanji" Luna menjelaskan dengan panjang lebar kepada Dewa.


"Besok pagi. Aku membutuhkan kamu di kantor jam enam. Kita harus mempersiapkan semuanya yang diperlukan sebelum rapat." kata Dewa dan langsung menutup sambungan teleponnya sebelum Luna mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Kenapa dia bersikap seperti ini? Aku ingin tahu apa masalahnya. Semoga saja dia tidak sedang dalam suasana hati yang buruk besok di kantor." Gumam Luna sambil meletakkan ponselnya. Iya kembali tertidur karena merasa matanya sangat berat.


__ADS_2