
"Aku merasa sangat ngantuk sayang. Aku tidak percaya kita akan bepergian sepagi ini." kata Luna dengan sangat nyaman di dalam mobil.
"Jangan khawatir, kamu bisa istirahat di pesawat nanti." Kata Dewa.
"Iya, kurasa memang begitu." Jawab Luna.
Luna dan Dewa telah tiba di bandara setelah beberapa menit berkendara dan keluar dari mobil. Saat itu iya melihat Nanda dan Dina yang sudah menunggu di depan pesawat, dengan lengan William memeluknya. Dina terlihat sangat mengantuk karena kelelahan. Luna dan Dewa berjalan mendekati Nanda dan Dina.
"Nanda, Dina..." Panggil Luna.
"Luna." Dina dan Nanda membalas sapaan Luna. Karena mereka semua sudah lengkap akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat.
Saat pesawat sudah lepas landas, karena merasa ngantuk yang tidak tertahankan. dia pun segera berjalan ke arah tempat tidur dalam pesawat.
"Huh, ngantuk banget." Luna pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sudah beberapa jam tidur, Luna bangun dan melihat ke sekelilingnya. Iya berjalan keluar untuk melihat Dewa dan Nanda. saat sudah berada di luar, Luna melihat Manda dan Dewa yang sedang tertawa. Hal itu membuat hatinya menghangat seketika. karena suami dan sahabatnya telah menjadi teman yang rukun.
"Selamat pagi semuanya. "kata Luna sambil duduk di samping Dewa.
"Pagi sayangku "Kata Dewa sambik mengecup pipi Luna.
"Di mana Dina? " Tanya Luna yang menyadari Dina tidaja da di sana.
"Masih tidur mungkin." Kata Nanda.
"Kamu harus bangunin dia, dia harus saraoan." Kata Luna.
"Oke, aku bangunin dia dulu." Kata Nanda sambil berjalan ke ruangan lain di dalam pesawat. Beberapa menit kemudian Nanda dan Dina keluar dari ruangan, dan Dina terlihat lelah. Entah kenapa dia terlihat begitu lelah.
"Selamat pagi Lun, selamat pagi Tuan Dewa." sapa Dina dan langsung duduk.
__ADS_1
Selamat pagi Dina, dan kamu bisa manggil namaku saja, kami tidak sedang di kantor," kata Dewa.
"Baiklah bos, maaf Dewa," kata Dina.
Akhirnya, setelah beberapa jam mendarat, Merwka semua tiba Di Jakarta. Luna dan Dewa menurunkan Nanda dan Dina di sebuah hotel sebelum pergi ke rumah Dewa yang berada di Jakarta.
"Dewa, kenapa kita harus mengibap di hotel terakhir kali kita di sini, padahal kamu punya rumah di sini," kata Luna saat dalam perjalanan menuju ke rumah Dewa.
"Saat itu rumahku sedang direnovasi," kata Dewa.
"Oh, gitu ya" Jawab Luna. Saat dalam perjalanan ke rumah Dewa, Luna dan Deww mendapat telepon untuk bertemu di sebuah tempat. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Mereka berdua putar balik. Dan saat itu juga Luna menghubungi Nanda dan mengirim alamat di tempat pertemuan. Mereka semua tiba hampir pada waktu yang bersamaan.
Di sebuah ruangan, Mereka semua menunggu asisten papa Luna datang dan menjelaskan semua yang terjadi. Seorang pria yang sepertinya bisa membunuh sepuluh orang hanya dengan satu pukulan berjalan di belakang papa Luna.
"Selamat siang semuanya," kata orang-orang bertubuh besar itu.
"Dua hari yang lalu, pangkalan senjata kita dibom. Kita kehilangan semua koleksi senjata kita," kata pria itu tanpa menunggu siapa pun menjawab salamnya.
"Aku bisa mendapatkan senjata dari luar negeri. Aku akan mengusahakan untuk mengirimkannya secepat mungkin, tapi semuanya akan memakan sedikit waktu karena kita akan mengirimkan dalam jumlah banyak sekaligus," kata Nanda.
"Luar biasa Nanda, terima kasih," kata Luna, iya senyum sambil.mengucapkan terima kasih.
" Sama-sama." Kata Nanda.
Setelah 2 jam berlalu, mereka mendiskusikan bagaimana bisa mendapatkan senjata di Jakarta secepat mungkin. Mereka juga membicarakan hal penting lainnya.
Setelah pertemuan itu, Luna berjalan keluar untuk mencari udara segar. Saat dia sedang berjalan ia melihat Dina yang sedang duduk. Luna pun berjalan ke arah Dina dan duduk di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Iya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Bagaimana rasanya? " Tanya Dina.
"Aku ngga tahu apa yang kamu maksud." Kata Luna.
__ADS_1
"Apa mungkin begini, Bagaimana mungkin kamu hidup dengan rasa takut yang berlebihan. Bayangkan saja kalau saat kamu bangun dan dia tidak ada di sana. Bgaimana cara menghadapi rasa takut yang berlebihan, begitu kan?" kata Luna mencoba menebak apa yang dikatakan oleh Dina.
"Kurasa hanya itu yang bisa kulakukan," kata Dina sambil menarik napas dalam-dalam.
"Baiklah, cukup sudah bicara sedihnya hari ini. Kalau kamu tidak sibuk, besok aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi beberapa tempat di sekitar Jakarta. " Kata Luna.
"Tentu, kenapa tidak, jam berapa? " tanya Dina.
"Aku lelah dan begitu sampai di rumah aku akan tidur seperti tidak ada hari esok." kata Luna sambil tersenyum.
"Aku pun sama untuk hal yang satu itu," kata Dina sambil tersenyum.
"Untuk hal apa?" Tanya Luna kembali. "Terima kasih," kata Dina setelah beberapa saat tidak mengatakan apa-apa.
"Saran mu sangat bagus." Jawab Dina.
"Oh, itu bukan apa-apa sih, kamu tidak perlu berterima kasih padaku." Kata Luna sambil tersenyum. Dina seperti akan mengatakan hal lain. tiba-tiba saja Nanda memanggilnya.
"Sayang, Aku sudah mencarimu kemana-mana," kata Nanda sambil berjalan ke arah Luna dan Dina.
"Aku baru saja ngga ketemu sama kamu." Kata Dina.
"Meskipun gitu aku sudah merindukanmu." Kata Nanda sambil memeluk Dina.
"Aku juga merindukanmu," kata Dina, berbalik menghadap ke arah Nanda.
"Bye Luna," ucap mereka berdua.
"Sampai jumpa besok, Aku merasa tidak dibutuhkan di sini," kata Luna sambil tersenyum dan berjalan menjauh dari pasangan yang sedang di mabuj cinta itu.
" Bye." kata Luna, iya berjalan kembali ke dalam gedung, Saat sudah sampai di dalam, Luna bertemu Dewa, akhirnya mereka pun pulang. Tapi sebelumnya mereka berhenti di sebuah rumah makan. Setelah selesai, Mereka pun pulang, saat sudah tiba di rumah, Luna langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Seolah-olah kasur adalah bagian dari hiduonya. Luna pun perlahan masuk ke dunia ajaib dalam mimpi.
__ADS_1