
Keesokan paginya, Dewa mengantarkan Luna kembali ke hotel untuk menyelesaikan beberapa persiapan pesta kembali.
"Ini nanti acara dansa nya saat kapan lalu musik pengiringnya dari mana ya? " Gumam Luna sendiri. Tiba-tiba saja salah satu orang yang membantu Luna mendekatinya.
"Maaf nyonya.. Untuk pembukaan pesta dansa apakah anda nyonya mau menari dengan tuan Dewa? " Tanya orang tersebut.
"Tolong jangan panggil saya nyonya ya. Nama saya Aluna. Panggilan kamu tadi membuat aku merasa tua. Dan, untuk masalah itu, nanti aku bakal tanyakan sama Dewa terlebih dahulu." Jawab Luna.
"Baiklah... Terima kasih." Setelah itu, orang Tadi meninggalkan Luna setelah berpamitan.
"Kenapa dia nanyain itu ya? Apa memang hubungan ini sudah banyak yang tahu? " Gumam Luna bertanya-tanya pada diri sendiri setelah tidak ada siapapun di dekatnya.
"Tidak masalah sih sebenarnya kalau banyak yang tahu, Aku malah senang kalau semua orang tahu tentang hubunganku dan Dewa."
"Oh iya, Apa mungkin Dewa ingin melakukan pembukaan pesta dengan berdansa denganku? Ini adalah sebuah acara besar." Gumam Luna kembali. Iya teringat saat terakhir kali dia dan dirinya berdansa. Dewa mengatakan itu semua karena terpaksa.
"Tapi selarang Dewa sudah berubah. Aku ngga tahu dia akan keberatan atau ngga dengan rencana ini."
"Kalau pun dia ngga keberatan, aku masih harus belajar menari lagi. Kalau perlu, aku akan ngajak Dewa sekalian untuk belajar juga." Ucap Luna dalam diamnya. Banyak pertanyaan yang mundul di benaknya. Namun tiba-tiba seseorang datang lagi.
"Aluna, Kalau Tuan Andriano sudah mengabari, tolong kamu ganti kabari aku sebelum hari jum'at ya. Kalau misalnya kamu dan tuan Andriano membutuhkan guru tari, aku akan menghubungi kenalanku. Dia minggu ini sedang tidak ada jadwal." ucap lelaki yang tadi sudah bertanya.
"Ngga usah nunggu, aku minta alamatnya saja. Nanti sore aku akan ke sana sama Dewa." Ucap Luna. Lelaki itu memangguk lalu pergi meninggalakn Luna. Iya kembali lagi setelah beberapa saat. Lalu memberikan sebuah balamat kepada Luna.
Setelah Luna mendapatkan alamat guru dansa yang disebutkan oleh orang tadi, Iya kan segera pergi dari hotel dan menuju ke perusahaan Dewa. Sesampainya di perusahaan, karena keadaan masih pagi, orang-orang masih sibuk dengan pekerjaannya. Luna masuk ke ruangan Dina. Dina tidak ada di dalam.
"Kamu di mana Din? " Tanya Luna dalam chatnya.
"Aku sedang rapat." Balas Dina. Akhirnya Luna pun memutuskan untuk menunggu Dewa di ruangannya. Dewa juga bilang kalau dirinya sedang rapat. Akhirnya Luna pun menunggu di ruangan itu sambil membantu Dewa menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah hampir 2 jam, Luna mendengar pintu terbuka dari luar. Tanpa harus mendongak untuk melihat siapa yang datang, Luna sudah tahu jika yang masuk itu adalah Dewa. Dari bau parfumnya saja sudah terlihat. Parfum yang selalu membuat Luna merasa candu.
"Sayang... Kamu mengejutkan aku saja. Kedatanganmu membuat aku benar-benar bahagia." kata Dewa sambil memeluk Luna dari belakang dan langsung mencium pipi istrinya.
"Aku tidak tahu kalau datang ke sini secara diam-diam adalah hal yang buruk." kata Luna.
"Tentu saja tidak dong Sayang, kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau." kata Dewa sembari duduk di kursi belakang meja.
"Kenapa tiba-tiba kesini? " Tanya Dewa sambil menatap istrinya.
__ADS_1
"Ada hal yang membawaku ke sini." kata Luna sambil tersenyum kepada dewa.
"Kenapa kita tidak berdansa juga seperti waktu itu di acara kali ini. Tapi karena aku belum bisa menari dengan baik, Itulah sebabnya aku ke sini untuk mengajak kamu pergi ke sanggar tari untuk belajar. Kalau bisa sore ini sih." Luna sebenarnya sedikit takut untuk mengatakan ini, namun Ia terus berdoa semoga saja Dewa setuju dengan apa yang ia katakan.
"Kita tidak perlu belajar berdansa. Karena seperti yang barusan kamu katakan tadi, kamu tidak bisa dansa... Jadi kita tidak usah berdansa di acara tersebut." ucap Dewa sambil tersenyum menyebalkan.
"Dewa.. Berhentilah menertawakanku, Aku benar-benar ingin berdansa kali ini. Bukan seperti yang waktu itu karena terpaksa kamu menyuruhku. Itulah sebabnya Kenapa kita harus pergi ke sanggar tari sore ini dan besok. Kalau tidak..." Luna menghentikan kalimatnya. ia mencoba untuk membuat Dewa menyetujui idenya. meskipun dia sendiri tidak tahu apa hal yang bisa ia gunakan untuk mengancam suaminya tersebut.
"Kalau tidak apa?" kata Dewa menertawakan Luna yang terlihat begitu menggemaskan.
"Kalau tidak... Tidak boleh mencium, memeluk serta... Tidak boleh melakukan apa-apa." kata Luna secara tiba-tiba. Iya langsung saja teringat dengan apa yang suka dilakukan Dewa saat dekat dengannya.
"Tidak... Jangan pernah melakukan itu, karena itu semua sangat tidak adil untuk untuk aku. Dan aku pun juga tidak bisa diam kalau sudah dekat dengan kamu." kata Dewa merasa terancam.
"Kalau begitu Coba saja kamu nggak menuruti apa yang aku inginkan kali ini." Luna menjawab dan sangat percaya diri sekali Jika ia bisa mewujudkan keinginannya dengan ancaman tersebut.
"Baiklah... Baik. Aku akan menuruti apa maumu." akhirnya Dewa pun menyetujui ajakan Luna untuk belajar dansa.
"Terima kasih, Kamu tidak akan pernah menyesal kali ini." kata Luna sambil berdiri dan langsung memeluk suaminya. Dewa pun segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan siang selesai.
Luna dengan senang hati membantu suaminya untuk menyelesaikan pekerjaan agar ia bisa datang ke tempat latihan dansa lebih awal. Saat jam setengah dua siang, Luna dan Dewa pun berangkat. Tak ada 15 menit perjalanan dari kantor Dewa, Mereka pun telah sampai di sebuah tempat yang akan digunakan untuk berlatih. Dewa dan Luna berjalan ke meja untuk meminta administrasi. Sedangkan wanita yang bertugas sebagai resepsionis itu tersenyum dan berkata dengan ramah kepada mereka berdua.
"Selamat Siang tuan dan Nyonya Andriano." Ucap wanita itu dengan ramah.
"Kenapa kamu mau protes? Kamu tidak suka ada namaku di belakang namamu? " tanya Dewa sambil menatap intens ke mata Luna seolah-olah iya sedang melamun. Dewa terlihat sedikit kecewa karena Luna memprotes masalah nama.
"Dewa... Aku tidak bilang kalau aku tidak suka menggunakan nama belakangmu. hanya saja Aku ingin menjelaskan kepadanya kalau kita ini belum menikah secara resmi." kata Luna berusaha untuk membuat Dewa mengerti.
"Bagaimana kalau kita secepatnya meresmikan pernikahan ini? " kata Dewa dengan senyum lebar di bibirnya.
"Apa yang kamu katakan? jangan terlalu cepat untuk melakukan itu..." kata Luna sambil terbata-bata.
"Kenapa dia bertanya seperti itu. Tolonglah Dewa, jangan bertanya hal seperti ini lagi. Aku bingung mau jawab apa." gumam Luna dalam hatinya. Iya tahu bagaimana perasaan cinta terhadap suaminya tersebut. tapi untuk meresmikan pernikahan ini, Luna belum siap menerima semua konsekuensi menjadi istri Dewa karena Dewa bukanlah orang biasa. Luna tidak tahu harus menjawab apa dari perkataan Dewa yang barusan.
Dan disaat yang bersamaan pula, seseorang keluar dari dalam yang Luna tahu kemungkinan besar orang itu adalah instruktur tari yang akan mengajari mereka berdua. Suara wanita tersebut benar-benar melengking seakan bisa merubuhkan bangunan yang saat ini ditempatinya saat ia tertawa dengan keras.
"Haloo... Perkenalkan nama saya Rania. saya adalah instruktur tari yang akan melatih Anda berdua. Sekarang kalian bisa ikut dengan saya ke ruangan latihan. " kata wanita yang bernama Rania tersebut berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan jalan di mana ruangan mereka akan berlatih. sedangkan Dewa dan Luna mengikutinya di belakang.
Luna dan Dewa naik ke atas dan berjalan masuk ke pintu kedua di lantai itu. Rania pun membuka pintu dan meminta mereka berdua untuk masuk. Luna dan Dewa masuk ke ruangan yang tidak ada siapapun di dalamnya dengan banyak kaca besar yang ditempel di mana-mana.
__ADS_1
" Ini adalah ruangan yang akan kita gunakan untuk 2 hari kedepan. Berhubung acaranya sangat mendadak, kita akan langsung ke intinya saja." kata Rania yang saatnya sudah berada di dekat Dewa.
"Saya akan memberikan contoh dengan Tuan Andriano terlebih dahulu. Kemudian nanti Nyonya Andriano melihat apa yang saya lakukan dan menirukan kalau kita sudah selesai." kata Rania. Iya dan Dewa mendekat untuk berlatih. Rania pun menjelaskan setiap gerakan yang dilakukannya sampai sesuatu aneh terjadi. Luna memperhatikan jarak di antara mereka yang benar-benar sudah tidak ada. dilihatnya Rania yang semakin menempelkan tubuhnya kepada Dewa. Awalnya Luna hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa karena ini memang latihan dansa dan harus melakukan kontak fisik. Tapi gerakan selanjutnya yang dilakukan oleh Rania benar-benar membuat Luna kesal. Karena tidak terima Dewa yang dekat dengan Rania, Luna langsung berdiri dan mendorong tangan Rania untuk menjauh dari tubuh Dewa.
"Lain kali kalau kamu ingin menyentuh milikku pastikan aku tidak ada di dekatnya. Karena kalau kamu melakukannya lagi, Percayalah aku tidak akan hanya akan mematahkan tanganmu. Tapi aku akan melakukan hal yang lebih dari itu yang tidak pernah kamu duga sebelumnya." kata Luna kepada Rania.
"Dewa... Ayo kita pergi. Latihan dansa ini sudah selesai." kata Luna sambil menarik tangan dewa untuk keluar dari ruangan itu. Mereka berdua berjalan keluar dari gedung dan langsung menuju ke mobil.
"Pak, Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini." Luna berkata kepada sopirnya untuk segera pergi sebelum ia berubah pikiran lagi. Dan ia akan melakukan hal yang tidak pernah IA duga sebelumnya kepada Rania.
"Bagaimana Mungkin wanita itu berani-beraninya menyentuh apa yang sudah menjadi milikku. Dia pikir dia itu siapa?" kata Luna berguna sendiri.
"Tenang sayang, tidak apa-apa." kata Dewa yang duduk di samping Lunar lalu tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa kamu juga suka berada di dekat Rania? Bahkan dia menempelkan tubuhnya ke tubuhmu." Kata Luna dengan kesal.
"Apa ini salahku? " kata Dewa dengan senyum yang lebih lebar dari yang tadi. seolah Dewa menyukai kenyataan bahwa Luna marah karena dirinya.
"Kamu terlalu tampan dan siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada ketampananmu itu." kata Luna sambil mengangkat tangan. Tidak peduli dengan apa yang barusan dikatakan, Iya benar-benar merasa kesal saat melihat Dewa dekat dengan wanita lain. Luna menganggap suaminya tersebut sangatlah menarik, dan tidak menutup kemungkinan Rania akan bisa jatuh cinta kepadanya. Ini baru pertama kalinya Luna melakukan hal seperti itu, biasanya Luna tidak pernah merasa seperti ini.
"Jadi, hanya karena aku tampan aku yang salah? " tanya Dewa Sambil tertawa.
"Iya... karena aku juga tidak mau berbagi dengan siapapun apa yang sudah menjadi milikku. kamu Itu milikku, dan hanya milikku. tidak ada orang yang boleh menyentuhmu kecuali aku." kata Luna yang terus meluapkan kemarahannya. memberanikan diri mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.
"Iya, aku memang milikmu seorang. Jadi kamu jangan cemburu lagi ya sayang." kata Dewa sambil menarik Luna ke dalam pelukannya Sambil tertawa pelan.
"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka membagi apa yang telah menjadi milikku." kata Luna yang akhirnya menyadari bahwa dirinya sedang cemburu jika Dewa dekat dengan wanita lain. Meskipun ia tidak mengakui hal tersebut kepada dewa.
"Terserah apapun yang ingin kamu lakukan Yang penting membuatmu bahagia sayang. Dan asal kamu tahu, kamu adalah wanita yang sangat luar biasa sekali dibandingkan dengan wanita-wanita yang berada di luar sana." kata Dewa sambil mencium kening Luna.
"Terima kasih, aku berusaha menjaga semua yang sudah menjadi milikku." kata Luna sambil tertawa saat iya teringat akan tingkahnya di ruangan dansa tadi.
Di saat mereka berdua saling terdiam, ponsel Luna tiba-tiba berdering. Dua pesan masuk ke dalam ponselnya. Satu pesan dari mamanya dan satu lagi dari Safira. Luna bergegas membuka pesan yang dari mamanya.
'Luna, kamu pulang jangan sampai terlambat ya. Ada hal penting yang harus Mama bicarakan dengan kamu.' setelah selesai membaca pesan tersebut, Luna jadi berpikir apa yang terjadi sehingga mamanya ingin berbicara.
"Apa terjadi sesuatu ya? " gumam Luna.
"Ini Luna sedang dalam perjalanan pulang ma." Balas Luna. Luna menutup pesan dari mamanya dan saat ini ia membuka pesan dari Safira
__ADS_1
"Luna, aku ada di Surabaya saat ini sama suamiku.' Pesan yang dikirimkan oleh Safira. Luna merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Safira. Ia pun juga ingin tahu suami dari saudara iparnya itu.
"Oke... Pokoknya kita harus bertemu lagi. Bagaimana kalau kita bertemu di restoran bersama-sama. Kita bertiga, eh bukan, kita berempat. Aku akan mengajak Dewa." Balas Luna kepada Safira. Iya pun langsung mengirimkan pesan tersebut.