
Keesokan paginya, Luna bangun lebih awal dan langsung pergi ke hotel Dewa yang akan digunakan untuk tempat pesta nanti malam. iya harus memastikan semuanya sudah siap dan tidak ada kekurangan apapun. Setelah itu ia pun kembali ke rumah. Luna harus kembali ke rumah Papanya karena tadi Papanya bilang kalau ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Semoga saja Ini bukan sesuatu yang aku khawatirkan selama ini." gumam Luna sambil berjalan menuju ke mobilnya. Luna pun mengendarai mobilnya dengan hati-hati, saat di tengah jalan ia mampir ke sebuah restoran untuk membeli makanan.
Luna melangkah masuk ke dalam rumah.
"Papa! Mama! Aku pulang." Kata Luna sambil berjalan menuju dapur.
" Bagaimana harimu sayang? " kata Mama sambil mencium pipi Luna.
"Baik ma, alhamdulillah. Ini aku membawa makanan tadi pas pulang," kata Luna sambil meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.
"Bagus." Kata mama Luna.
"Bagaimana kabar jagoan papa ini? " Kata papa Luna.
"Aku baik pa, bagaimana hari papa sendiri? " kata Luna sambil mengambil piring untuk makan.
"Menyenangkan." Jawab papa Luna.
"Papa tadi bilang ada yang mau dibicarain, apa tentang acara malam ini?" Kata Luna sambil berjalan ke ruang tamu dengan piring yang berisi makanan.
"Iyaa, papa ingin tanya, apa kamu tahu kenapa pamanmu selalu berusaha untuk membunuh dirimu meskipun dia tahu papa tidak mati saat itu? " Tanya papa Luna. Luna menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, dan papa ingin memberi kamu ini" kata Papa Luna sambil menyerahkan senjata berwarna emasnya kepada Luna.
"Ya Tuhan! Papa, terima kasih, terima kasih," kata Luna sambil memeluk papanya. Iya teringat saat dirinya masih kecil dulu. Betapa Luna sangat menyukai pistol emas milik Papanya tersebut.
"Sama-sama." Setelah Luna melepaskan pelukan ke papanya. Dan di saat yang bersamaan, bel pintu berbunyi. Luna segera berjalan ke arah pintu dan berharap yang datang itu adalah seorang MUA yang tadi di hubunginya.
Luna membuka pintu dan melihat seorang wanita dengan rambut yang sangat hitam dengan tinggi di atas rata-rata.
__ADS_1
"Kamu pasti MUA yang tadi aku tlpon kan? masuklah! " kata Luna sambil membuka pintu dan sedikit menggeser tubuhnya untuk membiarkan wanita tersebut masuk.
"Iya, nama saya Jenita." jawab wanita tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arah Luna.
"Nama saya Aluna. Ayo ikut aku jadi kita bisa mulai." kata Luna sambil membalas uluran tangan wanita tersebut dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Tiga jam kemudian, Jenita telah selesai menata rambut dan merias wajah Aluna. saat ia sedang mengenakan High heels-nya. Luna mendengar sebuah ketukan yang berasal dari luar kamarnya. Ia pun bergegas membuka pintu. Dan disaat itu pula Luna melihat Dewa yang sudah berdiri di depan kamarnya. Lelaki tersebut tampak lebih seksi dari sebelumnya karena jas yang digunakannya terlihat benar-benar elegan. Mereka berdua saling menatap, entah berapa lama. Hingga suara Safira tiba-tiba menyadarkan mereka.
"Hmm.. Hmmm..." Safira berdehem.
"Emmm, Dewa." Kata Luna.
"Aluna, kamu sangat cantik," Kata Dewa dengan mata tak berhenti memandang ke arah istrinya itu. Tampilannya benar-benar berbeda kali ini. Sorot mata itu menunjukkan betapa besar rasa kagumnya kepada Luna.
"Terima kasih," Jawab Luna. Tiba-tiba aaja pipinya terasa panas. Luna yakin kalau saat ini pipinya sudah memerah.
"Aku ngga pernah bosan mendengar kamu berkata seperti itu" kata Luna.
"Aku hanya ingin memberikan ini." Jawab Dewa sambil memberikan Luna sebuah kotak.
"Apa ini? " Tanya Luna sambil membukanya. Luna melihat satu set perhiasan yang sangat indah.
"Dewa, ini bagus banget." Kata Luna. Iya pun langsung memeluk dan mencium Dewa.
"Tolong pakaikan ya." kata Luna sambil menyerahkan satu pasang gelang untuk di pakaikan ke pergelangan tangan kanannya.
"Terima kasih banyak, aku sangat menyukainya," kata Luna sambil mencium pipi suaminya lagi. Luna terlihat cantik dengan perhiasan yang di berikan Dewa tadi.
Setelah memakai semuanya, Luna dan Dewa pun berangkat menuju ke hotel. Mereka tiba tepat waktu sebelum pesta di mulai. Saat mereka berdua berjalan, semua pandangan tertuju ke arahnya. Sebelum ini, Luna pasti akan terus bersembunyi di belakang Dewa. Tapi karena ini adalah awal tang baru, Luna sudah tidak merasa takut lagi. Dia berjalan di samping Dewa dengan kepala terangkat tinggi.Berjalan bersama untuk berkeliling dan menyapa beberapa orang sebelum acara utama dimulai.
Satu jam kemudian Papa Luna naik ke atas panggung dan memberikan sambutan. Pidatonya berisi tentang kepulangannya dan mendapatkan kembali kursinya sebagai Pimpinan.
__ADS_1
Setelah selesai, Luna berkeliling untuk mencari udara segar bersama Safira. Mereka berjalan menuju ke balkon. Saat berada di sana, Luna dan Safira melihat Dina dan menenggelamkan kepala di antara kedua kakinya.
"Hei Dina," Panggil Luna sambil berjalan dan duduk di samping temannya itu, berharap semuanya baik-baik saja.
"Hei," kata Dina dengan nada sedih sambil melambai ke Safira dan Luna. Safira dan Luna pun saling memandang, dan mereka berdua tahu ada yang tidak beres.
"Dina, ada apa? ” tanya Luna terdengar sangat khawatir.
"Tidak apa-apa," kata Dina sambil mencoba memaksakan senyum palsu yang lebar di bibirnya, tapi bahkan seorang anak kecil pun dapat melihat kebohongannya.
"Dina, jelas ada yang tidak beres, tapi kamu tidak perlu memberi tahu kami jika kamu tidak mau," kata Luna dengan senyuman yang bisa menenangkan.
"Aku takut Lun, aku takut aku akan kehilangan dia," Kata Dina.
"Dia siapa? " kata Luna bertanya - tanya siapa yang sedang Dina bicarakan.
"Ada apa? " kata Luna masih bingung.
"Nanda." Kata Dina sambil menangis kembali.
"Kamu ngga tahu? " Kata Dina sambil menatap Luna dengan bingung.
"Apa sebenarnya yang kamu bicarakan, aku ngga ngerti." kata Luna mencoba meminta kejelasan.
"Dia adalah..." Kalimat Dina terhenti begitu saja Saat tiba-tiba seseorang berkata.
"Aku bisa menjelaskan." Kata Nanda yang baru saja datang entah dari mana.
"Oke... Aku akan meminta penjelasanmu." Kata Luna dengan duduk.
"Tidak di sini Luna. Dan juga tidak hanya kalian yang harus mendengar penjelasan ini. Aku ingin menjelaskan kepada semua orang. Bisa ngga kamu manggil semua orang. Maksudku, paling tidak dua keluarga. Aku akan mencari tempat supaya kita bisa berbicara dengan nyaman. Karena ini adalah hal yang pribadi dan sangat penting." Kata Nanda dengan serius.
__ADS_1
"Oke... Aku akan segera kembali." Kata Luna berniat untuk memanggil orang-orang yang di maksud Nanda sambil meraih tangan Safira. Iya merasa ada sesuatu yang mereka semua tidak tahu.