Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Tamu tak di undang


__ADS_3

"Ya ampun Nanda... Aku tidak bisa membayangkan semua hal buruk yang telah kamu alami." kata Luna yang berjalan ke arah sepupunya tersebut dan langsung memeluknya.


"Jangan khawaatir." Kata Nanda sambil membalas memeluk Luna.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi mamamu atas keberaniannya. Tapi aku berjanji padamu, aku akan menemukan papamu dan membuatnya membayar semua yang telah dia lakukan jika itu adalah keinginanmu." Kata papa Luna kepada Nanda.


"Tidak apa-apa tuan, aku ingin melakukannya sendiri," kata Nanada sambil tersenyum.


"Baiklah nak. Sekarang, kamu bisa memanggilku paman, bagaimanapun juga kamu adalah keluarga kita," kata papa Luma sambil menepuk punggung keponakannya. 


"Tapi kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa dari dulu? " kata Luna heran, kenapa Nanda baru angkat bicara sekarang .


"Oh, aku mengerti. Tapi bisakah aku menanyakan sesuatu?" kata Luna kemudian. 


"Itu karena saat aku melarikan diri ke Jakarta, aku bertemu dengan kakek dari papa, yang juga kakek dari mama. Dia menerimaku dan melatihku untuk menjalankan kerajaan bisnisnya. Dia memberitahuku tentang keadaanmu, jadi aku merasa aku tidak bisa memberitahumu saat itu. Aku benar-benar bisa bersikap seperti saudara ketika kita bertemu di universitas. Aku tidak ingin mengembalikan kenangan buruk yang mungkin akan memperburuk keadaanmu. Tapi ketika aku tahu ingatanmu sudah kembali, aku berencana untuk memberitahumu lebih dulu hari ini, tapi sesuatu yang tak terduga terjadi." Kata Nanda.


"Oh begitu," Sahut Luna.


"Lalu kenapa Dewa membencimu?" Tanya Luna lagi.


"Aku bisa menjawabnya sayang," kata Dewa dari arah belakang.


"Aku membenci Nanda karena tahu siapa papanya. Aku tidak tahu kalau ternyata dia tidak seperti papanya. Aku minta maaf karena menilaimu tanpa mengetahui siapa kamu sebenarnya." kata Dewa. Iya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda minta maaf.


"Tidak apa-apa, sekarang semuanya sudah berlalu," kata Nanda sambil menjabat tangan Dewa kembali. Melihat sahabat sekaligus sepupu dan suaminya menjadi berbaikan, membuat Luna sangat bahagia. 

__ADS_1


"Baiklah kita harus kembali sebelum orang-orang menyadari kita telah pergi dalam waktu lama." kata Dewa.


" Baiklah, aku akan menyusulmu nanti. Aku masih ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Nanda." Kata Luna.


"Baiklah sayang," kata Dewa sambil mencubit pipi Luna sebelum berjalan keluar bersama orang tua Luna.


David, Safira, dan Dina tetap di tempat itu menunggu Nanda dan Luna.


"Aku sangat senang ternyata kita bersaudara." kata Luna sambil memeluk Nanda.


"Kamu mau membunuhku kah nona? " Kata Nanda yang sedang berusaha melepaskan pelukan Luna yang sangat erat sambil tertawa.


"Hahaha... Iya.." Jawab Luna tertawa sambil melepaskan pelukannya yang sangat erat.


"Meskipun kamu sudah menjelaskan bagaimana hubungan kita sebagai saudara, tapi aku masih penasaran kenapa Dina bisa menangis." ucap Luna.


"Oh begitu." Gumam Luna.


"Kenapa kamu biasa saja saat mendengar kata baku tembak? " Tanya Dina sambil menatap ke arah Luna dan Nanda.


" Biasa saja. Karena memang seperti itu lah kehidupan di dunia Mafia. Dan sayangnya, aku di lahirkan di dalam kehidupan itu." Jawab Luna mencoba menjelaskan kepada Dina mengapa iya tidak terkejud.


"Oh seperti itu. Tapi tetap saja Luna hal itu benar-benar menakutkan." kata Dina.


"Kamu akan terbiasa nantinya walaupun memerlukan waktu yang lama." jawab Luna.

__ADS_1


"Aku sih berharap seperti itu." Kata Dina.


"Oh iya, aku punya satu pertanyaan lagi untuk kamu Nanda." Kata Luna.


"Kamu masih manggil aku Nanda? "kata Nanda sambil mengangkat alisnya dan menatap Luna dengan senyum serongai di bibirnya.


"Maaf tuan Feri Mahendra Adshea." Kata Luna sambil tertawa.


"Luna..." Panggil Nanda.


"Iya tuan..." Jawab Luna dengan tertawa.


"Bisakah kamu berhenti tertawa? Dan apa tadi yang mau kamu tanyakan? " Tanya Nanda.


"Siapa papamu? " Tanya Luna kemudian.


"Papaku..." Nanda tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Karena di saat yang bersamaan mereka mendengar suara tembakan.


Aktifitas mereka terhenti beberapa saat. Mereka semua keluar dari ruangan itu untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Dewa muncul di samping Luna dan menyerahkan sebuah pistol. Mereka semua berjalan ke depan aula hotel untuk melihat siapa yang berani menganggu acara malam ini.


Ketika Luna sudah berada di luar, Luna melihat siapa yang saat ini berdiri di depannya itu. Luna tidak terlalu terkejut karena dia sudah menduga sebelumnya.


"Halo keluargaku." Kata Lelaki bernama Evan itu dengan seringain jahat di bibirnya.


"Itu papaku." Kata Nanda di samping Luna.

__ADS_1


"Ya Tuhan, benarkah ini? " Gumam Luna terkejut dengan kejadian ini.


__ADS_2