Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Penculikan


__ADS_3

Luna terbangun karena kaget setelah ada air dingin yang mengguyur tubuhnya.


"Apa sih ini? " kata Luna ingin mengusap wajahnya. Tapi tidak bisa karena tangannya diikat ke kursi yang saat ini didudukinya.


"Bagus! Kamu akhirnya bangun juga." kata seorang pria dengan pelan dan suara serak. 


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Luna.


"Karena aku ingin seperti itu," kata lelaki itu dengan seringai di bibirnya. 


"Kamu bajingan," kata Luna akhirnya bisa melihat wajah lelaki di depannya dengan jelas. Lelaki itu memiliki bekas luka di wajah yang membuatnya terlihat menakutkan, tapi tidak cukup menakutkan untuk Luna.


"Di mana Dina?” kata Luna mengingat bukan hanya dirinya saja yang diculik. 


"Aku di sini," kata Dina dari sebelah pojok kiri ruangan.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Luna. 


Aku bai-baik saja, bagaimana dengan kamu? " kata Dina balik bertanya.


"Aku baik-baik saja." jawab Luna.


"Dasar bodoh. Aku ada sini bukan untuk mendengar omong kosong seperti itu, aku tidak peduli jika ada di antara kalian yang sekarat saat ini," lelaki berkata dengan garis kerutan besar di wajahnya. 


"Aku tidak ingat pernah melibatkanmu dalam percakapan ini." jawab Luna.


"Kamu membuatku emosi nona muda." kata lelaki itu sambil melangkah mendekat ke arah Luna. 

__ADS_1


"Mau apa kamu? " Tanya Luna sambil mencondongkan badanya ke belakang.


"Apakah ini terasa menyakitkan? " tanya lelaki tersebut sambil memukul rahang Luna.


"Hanya itu kan yang kamu bisa? " Kata Luna yang saat ini dengan darah yang mulai keluar dari audut bibirnya.


"Sepertinya gadis kecil kita ini sangat bebal dan tidak tahu kapan dan bagaimana harus tutup mulut. " Kata Lelaki tersebut terdengar menghina.


"Hahaha... Kalian tahu kalau aku hanyalah gadis kecil. Kenapa kamu tidak melepaskan tali yang mengikatku ini. Dan kita akan melihat siapa yang lebih pengecut di antara kita." kata Luna.


"Aku akan lebih suka melepaskanmu nanti kalau sudah ada yang datang dan menyaksikan kamu menderita terlebih dahulu." Kata Lelaki tersebut sambil berjalan ke arah pintu.


"Pengecut." teriak Luna. Dan Luna berniat akan kabur di saat lelaki itu sudah keluar dari ruangan yang ditempatinya saat ini.


"Lun, kenapa kamu membuatnya marah. Aku yakin dia akan bisa menghabisi kita tanpa harus berkeringat sedikitpun." kata Dina.


"Oke... Aku rasa apa yang kamu katakan masuk akal juga." kata Dina.


"Iya, aku tahu... Orang tadi bisa menggertak kita karena dia punya senjata. Dari gerak-geriknya, aku tahu kalau dia ngga punya senjata, dia ngga bisa berbuat apa-apa." kata Luna.


"Oke... Jadi kita harus nunggu kapan dia ke sini lagi. Lalu kita akan melakukan rencana yang tadi." kata Dina.


Tiga hari telah berlalu. Dan selama tiga hari itu pula, Luna benar-benar di siksa. Perlakuan buruk mereka benar-benar keterlaluan. Luna di pukuli tanpa ampun. Tapi, Luna masih bersyukur karena mereka tidak menyentuh Dina sama sekali. Lelaki bernama Irawan itu hanya menyiksa Luna. Apalagi dengan keadaan Dina yang sedang hamil. Luna tidak tahu apa yang harus di lakukannya kalau sampai Dina juga di siksa.


Dalam 3 hari ini pula, Evan belum juga menunjukkan batang hidungnya. Luna juga bingung kenapa Dewa ataupun keluarganya belum bisa menyelamatkan mereka berdua. Tapi Luna benar-benar masih percaya kepada dua keluarga tersebut, kalau mereka akan datang. Luna mencoba untuk memejamkan mata.


Di saat yang bersamaan, pintu terbuka dan menampilkan satu persatu orang yang telah Ditunggu oleh Luna.

__ADS_1


"Kamu terlihat begitu tidak baik-baik saja keponakanku yang cantik." Kata Evan dengan seringai jahat di wajahnya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu seolah-olah kamu peduli dengan penampilanku."kata Luna setengah berbisik. Luna merasa sangat lelah dan tubuhnya terasa lemah setelah beberapa hari ini terus-menerus dipukuli.


"Tidak terlalu buruk juga menanyakan hal itu. Kita tetap keluarga setelah semuanya yang terjadi. " kata Evan dengan perlahan.


"Kamu bukan Keluarga untukku." kata Luna.


"Terserah semua yang kamu katakan. Tapi kamu akan tetap menjadi keluargaku. " kata Evan sambil mendekatkan kepalanya ke wajah Luna.


"Aku sangat membencimu." Luna berteriak kepada lelaki di depannya tersebut.


"Tapi aku sangat menyayangimu." kata Evan. Setelah itu, iya bertanya.


"Siapa yang Berani menyentuhnya? "tanya Evan berteriak kepada Irawan yang berdiri di sampingnya.


"Saya tuan." kata Irawan sambil menundukkan kepalanya. 


"Kenapa kamu melakukan itu? " kata Evan sambil melepas jasnya.


"Karena aku ingin dia merasakan sakit yang pernah aku rasakan saat dia membunuh istriku." jawab Irawan.


"Meskipun begitu, Kamu tetap tidak boleh melakukannya. Yang aku ingat, aku tidak pernah memberimu perintah untuk menyentuhnya. " kata Evan sambil membuka panjang lengan bajunya.


"Apakah seperti ini? " kata Evan sambil memukul Irawan dengan keras dan langsung membuat lelaki itu jatuh ke lantai. Tidak berhenti sampai di situ saja. Evan terus memukuli Irawan hingga lelaki itu tidak berdaya. Satu-satunya hal yang menunjukkan kalau Irawan masih hidup adalah gerakan dadanya yang naik turun karena kesulitan untuk bernafas.


"Lain kali ketika aku mengatakan sesuatu, kamu harus menghormatinya," kata paman Luna sambil membersihkan tangannya dengan handuk yang diberikan oleh salah satu anak buahnya. 

__ADS_1


__ADS_2