
Setelah berlatih beberapa jam, Luna dan Papanya memutuskan untuk pulang. Papa Luna mengajari putrinya untuk memegang semua jenis senjata yang ada. Tubuh Luna berdiri dengan tegap memegang senjata api dalam latihan tersebut. Luna gampang sekali untuk mengingat bagaimana semua itu dia pelajari.
Luna dan papanya tiba di rumah pukul 06.00 sore. Luna langsung naik ke atas untuk bersiap-siap makan malam bersama dewa dan sahabatnya.
"Dewa, tolong kirimi aku alamat di mana restoran yang akan aku tuju nanti." Sebelum Luna masuk ke dalam kamar, ia menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada dewa.
Setelah Luna selesai membersihkan dirinya, ia segera memilih baju yang cocok untuk digunakan malam ini. Setelah menemukan sebuah baju dengan leher V, ia segera memakainya. Setelah selesai Ia pun merias wajahnya dengan tipis dan menyemprotkan parfum sebelum berjalan Turun ke bawah untuk berangkat.
Luna berjalan untuk mencari taksi tapi sayangnya Luna tidak melihat ada taksi di sana ia pun mencoba untuk memesan taksi secara online. Tapi sayangnya dilihat dari aplikasi pemesanan taksi online tersebut akan datang dalam waktu 15 menit lagi.
"Dewa akan membunuhku. Aku tahu dia sangat membenci keterlambatan." Gumam Luna resah. Luna pun berinisiatif untuk mengirimkan pesan kepada dewa kalau dia agak Datang Terlambat.
Setelah menaiki taksi beberapa waktu, Luna pun telah tiba di restoran yang dimaksud oleh Dewa. Ia melihat jam di ponselnya sebelum masuk ke dalam restoran.
"Untungnya aku hanya terlambat 10 menit." gumma Luna. Tiba-tiba seorang lelaki ke tempat di mana Dewa dan Ferdi berada. Begitu sudah tidak ada di dalam, Luna melihat Dewa dan Ferdi yang sedang duduk dengan seorang wanita yang kelihatannya seumuran dengan Luna.
Dewa langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah mana ketika dia melihat Luna yang mendekati arahnya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang mana dan berpikir di telinga istrinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlambat? Apa terjadi sesuatu di jalan?" tanya Dewa terdengar khawatir.
"Maaf aku terlambat. Tidak ada yang terjadi kok. Hanya saja aku kesulitan untuk mendapatkan taksi. " jawab Luna yang juga berbisik di telinga Dewa.
"Ngga apa-apa. Yang penting kamu sudah di sini sekarang dengan selamat." kata Dewa sambil menarik lengan Luna dan mengajaknya duduk di kursi.
"Hai Aluna." kata Ferdi berdiri untuk menyalami Luna sebelum gadis itu duduk.
"Halo Ferdi, maaf aku terlambat." kata Luna sambil membalas uluran tangan Ferdi kembali.
Tidak apa-apa, aku ingin kamu bertemu dengan istriku " kata Ferdi memperkenalkan Luna kepada wanita yang duduk di sampingnya.
Halo, saya Aluna. Senang bertemu denganmu juga” kata Luna sambil balas memeluk wanita di depannyanya kembali sebelum duduk. Setelah saling menyapa, Luna sangat terkejut, David sang kakak dan Safira tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka untuk makan malam. Dewa, David dan Ferdi sudah berteman selama bertahun-tahun, tetapi yang paling lama adalah Dewa dan Ferdi. Mereka telah berteman sejak lahir.
Setelah cukup terkejut dan kembali dalam kesadarannya kembali, mereka semua memesan makanan. Mereka menikmati makan malam dengan obrolan-obrolan yang terdengar asyik bagi para lelaki. Sedangkan untuk para wanita, Luna dan Safira sudah benar-brnar akrab dengan Riana. Riana adalah seorang wanita cantik. Dia telah menikah dengan Ferdi 2 tahun terakhir. Mereka semua sangat menikamti makan malam.bersama ini. Hingga akhirnya semuanya telah selesai. Satu persatu mulai meninggalkan tempat itu.
"Luna... Nanti tolong beritahu mama dan papa ya. Kalau aku ngga pulang. Aku mau pulang ke rumah Safira. Kamu hati-hati. Dewa, jaga adikku. Pastikan kamu mengantarkan dia dengan selamat." Kata David.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Kamu juga harus menjaga adikku. Jangan sampai dia lecet sedikitpun." Balas Dewa.
"Oke..." Alhirnya mereka pun berpisah di tempat parkir.
Di dalam mobil, Dewa mengantarkan Luna untuk kembali ke rumah papanya. Pernikahan mereka belum bisa di publikasikan karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan. Hingga akhirnya mereka memilih untuk merahasiakan semua ini hingga waktu yang tepat.
"Oh iya, bagaimana tadi latihannya? " Tanya Dewa tiba-tiba di dalam mobil sambil mengemudi. Dewa mencuri-curi pandang ke arah Luna.
"Awalnya terasa sulit sekali. Karena memang aku sudah lama tidak memegang benda itu. Tapi saat papa ngasih tahu aku bagaimana caranya, aku langsung bisa. Hari ini papa mnegajariku dasar-dasar dalam menembak. Jadi di sana hanya beberapa jam saja. Besok aku harus memastikan sudah bisa melakukannya dengan baik." Kata Luna memberitahu Dewa.
"Semangat sayang." Kata Dewa sambil mengusap rambut Luna.
"Oke. Oh iya, sebelum kamu berangkat kerja besok pagi, kamu mampir ya ke rumah. Aku capek banget ini mau mampir ke rumah kamu sayang. Ini aja mungkin aku mau ke rumah papa aja." Kata Dewa.
"Iya, besok pagi aku akan ke sana." Balas Luna.
"Baiklah...Kita sudah sampai. Bye sayang. Hati-hati ya." Kata Luna memiringkan tubuhnya untuk mencium Dewa.
__ADS_1
"Iya, selamat malam Sayangku. Hati-hatk ya." Ucap Dewa. Luna pun menutup pintu setelah iya keluar dari mobil Dewa. Iya melambaikan tangan ke suami sirinya itu lalu berjalan masuk ke rumahnya. Setelah di pastikan Luna masuk dengan selamat, Dewa pun menjalankan mobilnya dengan perlahan meninggalkan halaman rumah Luna.