
Luna berjalan masuk ke kamar mamanya setelah ia menunjukkan kepada dewa kamar tamu alias kamarnya sendiri. Namun Dewa tidak perlu tahu yang sebenarnya.
"Ya ampun aku lupa ngambil baju tidur sebelum Dewa masuk tadi. Kalau begitu aku harus kembali ke kamar untuk mengambilnya lagi." Luna akhirnya kembali ke kamarnya dan mengetuk pintu.
"Masuk" jawab Dewa dari dalam. Luna segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Namun saat ia masuk, ia melihat Dewa yang hanya menggunakan celana pendeknya saja.
"Kenapa dia terlihat sangat sexy? Aku bisa betah berdiri di depan pintu ini sepanjang malam kalau melihat tubuhnya yang seperti ini. Bagaimana rasanya ya kalau tanganku berada di dadanya. Menyentuh dadanya pasti Akan terasa sangat menyenangkan. tubuhnya sangat sixpack dan aku tidak bisa mengungkapkan keindahan itu dengan kata-kata" Luna termangu berdiam diri di depan pintu sambil memandang Dewa dengan penuh kekaguman.
"Wah aku nggak pernah tahu ya kalau seorang wanita bisa melongo terlalu lama saat memandangku." kata Dewa dengan senyum menyeringai di wajah tampannya itu. Dan di saat Dewa berkata seperti itu, barulah Luna tersadar. Luna merasa malu pada dirinya sendiri saat ini. Luna yakin kalau Dewa tahu kalau dirinya sudah lama memandang tubuh itu. Pasti Dewa juga akan mengira kalau Luna menyukainya.
"Percaya diri sekali Anda tuan. Mana ada aku melihat anda" kata Luna tidak membenarkan apa yang Dewa ucapkan. Iya menghentikan aksi ke GR nanya Dewa.
"Tidak usah mengelak lagi. Kamu pikir aku tidak melihat kamu dari tadi." jawab Dewa yang sudah melihat dari awal Luna berada di depan pintu. Luna lebih memilih untuk diam daripada harus terus mempermalukan dirinya sendiri. Luna mengingat-ingat Mengapa dirinya bisa ada di depan pintu tersebut. Luna bertanya-tanya pada dirinya sendiri di dalam hati. Mengapa ia bisa berada di sana. Dia melihat sekeliling dan langsung teringat tujuannya datang ke sini tadi untuk apa.
"Kalau aku boleh tahu apa yang sedang kamu cari? " tanya Dewa.
__ADS_1
"Aku ke sini mau ngambil baju tidurku." jawab Luna. Mungkin ia tidak ingat bahwa sebelumnya ia mengatakan kepada dewa kalau itu adalah kamar kamu.
"Kamu tadi bilang kalau ini adalah kamar tamu. Apa kamu menyimpan baju tidurmu di kamar tamu? " kata Dewa sambil tersenyum manis di wajahnya. Dewa sudah tahu bahwa kamar yang ditempatinya itu adalah milik Luna.
"Sebenarnya aku berbohong kepada kamu. Ini bukan kamar tamu tapi Ini kamarku. Sedangkan aku tidur di kamar mamaku. Maaf kalau aku berbohong, aku berpikir kalau kamu tidak akan nyaman begitu tahu yang kamu tempati adalah kamarku" Luna Berkata sambil tersenyum nyengir.
"Tidak apa-apa Shea. Kamu tidak perlu meminta maaf tentang hal ini. Mengetahui kalau ini adalah kamarmu membuatku merasa lebih nyaman." kata Dewa dengan senyum indah di wajahnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku ikut senang mendengar apa yang kamu katakan. Kalau begitu aku akan mengambil baju tidurku dan kembali ke kamarku sendiri." Luna berjalan mendekati lemari dan mengambil baju tidurnya. Iya merasa sungkan saat Dewa melihat baju tidur seperti apa yang akan ia pakai.
"Duh kok ngga bisa tidur sih? " gumam Luna. Iya hanya berguling ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidur. Memang iya tidak bisa tidur karena mengetahui kalau bosnya, Dewa, lelaki tampan yang saat ini sedang tidur di kamar sebelahnya. Mungkin karena Luna merasa tertarik dengan lelaki itu. Saat dia melihat jam yang tergantung di dinding, ternyata sudah sangat larut malam, yaitu jam setengah dua dini hari.
"Huff... Ngga bisa tidur. Aku mau buat susu aja dulu. Siapa tahu nanti bisa tidur." akhirnya Luna pun keluar dari kamarnya menuju ke dapur.
Saat sudah berada di dapur, Luna menyalakan kompor untuk merebus air terlebih dahulu. Sambil menunggu air mendidih, Luna duduk di kursi. Akhir-akhir ini Luna sering membeli susu untuk diminum di malam hari. Setelah kembali dari Jakarta beberapa waktu yang lalu, Luna sering mengalami mimpi yang aneh.
__ADS_1
Di dalam mimpinya, Luna melihat dirinya yang masih berusia sekitar 5 sampai 6 tahun bersama dengan seorang lelaki yang berumur 10 tahun. Saat itu lelaki dalam mimpi Luna mengucapkan selamat tinggal dalam bahasa Sunda saat dirinya menaiki pesawat bersama mamanya. Luna merasa aneh dengan mimpi yang ia alami. Iya merasa mimpinya itu adalah sesuatu yang nyata. Sesuatu yang pernah menjadi kenangan di dalam hidupnya, namun entah itu kapan. Luna tidak bisa mengingat kapan kenangan itu terjadi. Hal yang paling membuat Luna takut adalah ketika dalam mimpi itu Luna berteriak memanggil papa dan Aa'. Luna hanya ingin tahu apakah mimpinya itu benar-benar nyata pernah dialaminya atau hanya sekedar Bunga Tidur saja.
"Kalau misalnya Mimpi Ini ada sebuah petunjuk. Itu berarti aku punya seorang kakak laki-laki. dan Papaku pasti orang Sunda." mencoba mengingat-ingat mimpi yang sering ia alami berulang-ulang kali. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dan hal yang paling mengesankan untuk Luna saat ketika ia berkeliling Jakarta adalah Luna merasa sangat mengenal tempat-tempat yang ia kunjungi. Luna merasa bahwa dirinya pernah ke tempat itu. namun sayangnya, Luna tidak bisa mengingat apapun.
"Nanti sajalah aku tanyakan ke Mama. Mungkin mama bisa menjelaskan mengapa aku mengalami mimpi seperti ini" gumam Luna dalam hati. Tiba-tiba lamunannya tersadar ketika ia melihat seseorang menuruni tangga dan berjalan menuju ke dapur. Seorang lelaki yang menggunakan celana pendek serta mengenakan baju lengan panjang. Yang tidak lain adalah dewa. Luna merasa ingin tertawa saat melihat Dewa menggunakan jasnya. Mungkin Dewa menggunakan jas itu karena tidak ingin keluar dengan bertelanjang dada. Luna pun juga tidak memiliki baju ataupun kaos yang pas untuk Dewa.
"Kenapa kamu bangun di tengah malam seperti ini?" tanya Dewa yang telah berada di dekat Luna. Luna tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari tubuh sixpack Dewa.
"Aku nggak bisa tidur. Dan biasanya kalau aku nggak bisa tidur aku membuat susu terlebih dahulu supaya lebih cepat tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur malam-malam seperti ini? " tanya Luna.
"Aku mendengar sesuatu, jadi aku ke sini untuk memastikan bahwa suara itu bukan berasal dari orang asing. Tapi kamu harus istirahat sebelum Pagi Shea." jawab Dewa sambil terus melihat ke sekeliling dapur. Mungkin saja Dewa sedang memeriksa Apakah ada orang lain di sini selain dirinya.
"Luna, karena ternyata hanya ada kamu di sini, aku akan kembali tidur. Kamu jangan lama-lama di sini. kamu harus tidur Sebelum pagi menjelang. Kalau tidak kamu akan ngantuk besok pagi" kata Dewa sambil berjalan keluar dari dapur. Membuat Luna sangat terkejut. yang Luna tahu, Dewa tidak pernah bersikap peduli kepadanya. Namun kali ini sikapnya benar-benar berbeda. Dewa membuat Luna merasa penting dalam hidup Dewa. Dan tiba-tiba saja perasaan itu hilang ketika Dewa bersikap seperti seorang b**i*g*n. Dan kenyataan bahwa saat ini Dewa ada di rumah Luna untuk menjaganya terasa sangat tidak nyata. Luna merasa tidak percaya. Dan sulit untuk Luna untuk terus Membenci Dia atas semua hal buruk yang telah Dewa lakukan. Semua hal-hal kecil yang Dewa tunjukkan, memberi pesan bahwa Dewa peduli kepada Luna membuat. Luna merasa istimewa dan dicintai. Sesuatu yang belum pernah Luna rasakan dari seorang pria kecuali Nanda. Yaitu tali persaudaraan yang begitu sulit sangat berbeda dengan apa yang Luna rasakan untuk Dewa.
Luna mengambil susu yang telah Ia buat tadi dan berjalan kembali ke kamarnya. setelah meminum satu gelas hingga habis, Luna mencoba untuk memejamkan mata kembali. Luna berdoa semoga saja ia tidak terlambat bangun. Karena kalau sampai ia terlambat bangun, maka Dewa tidak segan-segan akan memarahinya nanti kalau di kantor
__ADS_1