Pesona CEO Menyebalkan

Pesona CEO Menyebalkan
Bertemu Nanda


__ADS_3

"Saya belum pernah melihat pesawat sebagus dan sebesar ini. Dulu pernah saya ke bandara dan naik pesawat ketika saya masih kecil. Saat aku dan mama ku pergi ke rumah kakek dan nenekku di Bandung. Tapi pesawat itu tidak sebesar ini" Gumam Luna sendirian.


"Bagus sekali, apakah pesawat ini milik anda tuan? " tanya Luna kepada Dewa. dan Dewa pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Pesawat ini adalah salah satu dari 5 pesawat yang aku miliki." Jawab Dewa sambil tersenyum ke arah Luna.


"Ayo kita masuk! "Ajak Dewa kepada Luna, Iya berjalan di depan dan Luna mengikutinya dari belakang.


"Saya rasa, ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang anda" Ucap Luna.


"Ada banyak hal tentang aku yang tidak kamu ketahui, dan aku tidak akan memberitahu kamu. Dan tolong jangan menatap ke sembarang arah. Perhatikan jalan menuju ke dalam pesawat agar kita bisa segera memulai perjalanan ini" Kata Dewa, seolah bagi Dewa adalah hal yang biasa seseorang memiliki 5 pesawat pribadi.


Luna duduk di sheat yang dekat dengan jendela. Iya segera memasang sabuk pengaman di saat Dewa berkata bahwa mereka sudah terlambat dan harus segera berangkat. Dan semua itu membuat Luna tak punya waktu untuk melihat-lihat. Setelah pesawat lepas landas, Luna membenarkan duduknya agar lebih nyaman. Begitu ya sudah merasakan nyaman, Luna mengambil novel yang tadi ia baca dan melanjutkan membacanya.


" Kamu belum melanjutkan cerita yang kamu ceritakan di mobil tadi" ucap Dewa kepada Luna yang memegang novel tersebut.


" Tadi aku bercerita sampai pada di saat mereka akan..." kalimat Luna terhenti ketika ia menyadari apa yang akan ia katakan akan membuat dirinya malu. Luna berhenti mengatakan kalimat tersebut karena ia merasa canggung untuk menceritakannya. Apalagi kepada bosnya sendiri dan Bosnya itu adalah seorang laki-laki dewasa.

__ADS_1


" Mereka akan apa? Sepertinya novel yang kamu baca itu ceritanya sangat menarik. Aku akan sangat senang kalau kamu mau menceritakan secara keseluruhan isi dari novel tersebut" ucap Dewa. Luna berpikir bagaimana ia dapat mengatakan cerita tersebut ke dewa tanpa harus menyebutkan kata-kata yang tidak seharusnya ia ucapkan. Namun Luna berubah pikiran. bagaimanapun juga mereka sudah sama-sama dewasa.


" Mereka akan melakukan sebuah pertemuan pertama" ucap Luna dengan cepat. Namun Dewa masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Luna.


" Maksud kamu mereka akan berkencan? "tanya Dewa kembali.


" Bukan " Jawab Luna sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


" Bicaralah yang jelas agar aku paham apa yang kamu ceritakan" Dewa menyuruh Luna untuk mengatakan yang sebenarnya.


" Oh seperti itu. Kalau kamu sudah selesai membaca novel tersebut, ceritakan cerita selanjutnya apa yang terjadi pada laki-laki tersebut" kata Dewa sambil menatap Luna seolah-olah Luna benar-benar aneh membaca sebuah novel yang didalamnya berisi cerita dewasa. Dewa langsung mengambil laptop dan mengerjakan pekerjaannya di pesawat seolah-olah ia tidak mengerti apapun.


Setelah membaca lebih dari 4 BAB, mata Luna terasa begitu berat. Iya memutuskan untuk mengistirahatkan matanya sebelum pesawat yang ditumpanginya mendarat di Jakarta. Luna memejamkan matanya dan akhirnya ia pun tertidur lelap di dalam pesawat tersebut.


Satu jam lebih pesawat berada di udara, saat Luna membuka matanya, dia melihat dirinya sudah tidak berada di dalam kursinya lagi. Melainkan berada di dalam sebuah kamar dan dirinya tidur di atas tempat tidur.


" Ya Tuhan... Di mana aku?" gumam Luna pada dirinya sendiri yang masih bingung karena baru bangun tidur. Luna melihat sekelilingnya, setelah ia melihat sebuah pintu. Ia keluar dari kamar tersebut. Namun ternyata Luna salah membuka pintu. Ternyata yang ia buka adalah pintu kamar mandi. Di saat Luna melihat satu pintu lagi, Iya segera membukanya. Luna merasa jika saat ini dirinya masih berada di dalam pesawat. Setibanya di luar kamar tersebut, Luna melihat Dewa yang sedang sibuk dengan layar laptopnya. Tiba-tiba terlintas bayangan saat Luna diangkat menuju ke ruangan tersebut.

__ADS_1


"Benar-benar memalukan" Gumam Luna pada dirinya sendiri. namun Ia berpikir setidaknya ia tidak sakit pinggang karena kelamaan tidur sambil duduk.


"Terus, siapa yang mengangkatku keluar darj pesawat? Semoga saja bukan Kumon Luna kembali di dalam hatinya.


" Luna Kamu sudah bangun? Baguslah kalau begitu, sekarang ke sinilah dan duduk karena kita akan mendarat 10 menit lagi" ucap Dewa pada Luna. Luna pun segera mendekat ke arah Dewa lalu duduk di kursi yang tadi ditempatinya. setelah merasa nyaman Ia pun memasang sabuk pengaman.


" Dasar laki-laki batu... Bisa-bisanya dia langsung menyuruhku untuk duduk kembali setelah aku bangun tidur. Bukannya menanyakan bagaimana tidurku. Atau menanyakan Aku lapar atau tidak. eh malah nyuruh duduk lagi. manusia macam apa sih dia itu. Iya aku lupa, dia kan iblis yang berbentuk manusia. Mana Mungkin dia bisa baik kepada manusia selain kepada sesamanya" gumam Luna dalam hati dengan perasaan yang sangat kesal.


"Siaall... Aku kira dia sudah menjadi manusia yang baik. Ternyata masih sama saja" gumam Luna lagi namun hanya di dalam hatinya. Luna benar-benar mengabaikan Dewa yang tidak berperasaan itu. Bahkan saat ini Luna menganggap bahwa Dewa tidak ada di sampingnya. Iya berdiam diri. Hingga ia merasakan pesawat mendarat di tanah ibu kota Jakarta.


Saat ini Luna dan Dewa Sedang berada di dalam mobil perjalanan menuju ke hotel tempat Iya dan Dewa akan menginap.


" Kita harus Mampir ke kantor di perusahaan terlebih dahulu. Kita tidak bisa langsung menuju ke hotel saat ini. Kemungkinan besok kita baru akan ke sana" ucap Dewa kepada Luna. Dewa yang sudah sejak kemarin mengatur meeting dengan rekan bisnis yang ada di sana. ia mengorbankan Luna yang harus menunggu selama berjam-jam. hampir 2 jam telah berlalu. Luna mendengarkan suara orang-orang yang berbicara sedang keluar dari ruangan yang tadi dimasuki oleh Dewa. Dan di saat yang bersamaan, Luna melihat seseorang yang sangat ia kenali. seseorang yang sudah seperti saudaranya sendiri.


"Nanda" ucap Luna memanggil seorang lelaki yang bernama Nanda tersebut. hingga akhirnya ia pun berlari mendekati Nanda sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Luna langsung memeluk laki-laki tersebut.


"Nanda... Aku kangen banget sana kamu" ucap Luna mengungkapkan betapa rasa rindu menyiksanya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2