
Berapa lama Luna tidur iya tidak tahu. Tiba-tiba saja iya mendengar seseorang yang membangunkannya dengan menyebut namanya. Saat Luna membuka matanya denga perlahan, iya melihat sepasang mata yang indah sedang menatap dirinya. Setelah Luna menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, Iya mengerutkan kening karena bisa melihat dengan jelas siapa yang saat ini sedang memandangnya. Senyuman di bibir Luna memudar disaat telah menyadari yang memandangnya adalah Dewa. Luna langsung duduk dan melihat ke arah luar.
"Ternyata hari sudah gelap. Berarti iniĀ sudah malam? " Gumam Luna bertanya pada dirinya sendiri.
"Kamu harus sudah bersiap dalam waktu 30 menit. Kita akan segera pergi ke pesta seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak suka keterlambatan" Ucap Dewa sambil berlalu meninggalkan Luna yang masih ada di atas ranjang. Luna pun segera turun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
10 menit Luna menyelesaikan mandinya. Iya langsung mengenakana sebuah dress dengan kerah V. Bukan pakaian formal tapi menurut Luna sangat cocok di gunakan untuk makan malam. Setelah itu iya langsung memoles wajahnya dengan make up. Luna mengoleskan bedak dengan tipis karena dia bukan tipe wanita yang suka berdandan. Dan setelah melihat wajahnya di kaca, iya merasa perlu mempertebal sedikit make upnya agar tidak terlalu terlihat jika dirinya habis menangis. Setelah selesai iya pun keluar dari kamar. Begitu sudah di luar, Luna melihat Dewa.
"Apa kamu sudah siap? " Tanya Dewa begitu melihat Luna yang baru saja keluar dari kamarnya. Iya tidak mengatakan jika Luna terlalu lama, karena Luna keluar tepat sebelum waktu yang di berikan oleh Dewa. Luna menatap Dewa yang tidak seperti biasanya. Iya menggunakan sebuah setelan jas berwarna abu-abu. Sedangkan jam tangan Rolex bertengger indah di lengan kirinya. Luna tak tahu berapa berat emas yang berada dalam jam tangan itu. Tapi Luna merasa jika Dewa terlihat lebih tampan dari biasanya. Luna berharap Dewa akan berubah dan memiliki hati yang baik sebaik tampangnya, supaya iya tak merasakan sakit di saat akan mengaguminya.
"Iya, sudah siap" Jawab Luna. Mereka beruda keluar dari kamar dan turun dari hotel. Begitu sudah sampai di lobby hotel, Luna benar-benar bisa melihat pemandangan indah di luar hotel tersebut. Sebuah pemandangan indah yang belum iya lihat sebelumnya. Tiba-tiba sebuah mobil yang tadi membawa mereka ke sini datang. Luna dan Dewa pun masuk ke dalam mobil tersebut.
Setelah melakukan perjalanan hampir 2 jam, mereka tiba di depan sebuah rumah yang sangat besar, megah dan mewah. Banyak orang yang keluar masuk di rumah tersebut dengan pakaian yang berbeda-beda. Luna merasa percaya diri dengan pakaian yang iya gunakan saat ini. Sambil memandang ke arah rumah megah itu, Dewa ternyata sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, aku tidak ingin membuang banyak waktu. Orang tuaku sudah lama menunggu" Ucap Dewa. Luna tak menjawab dan hanya mematuhi Dewa. Iya tak ingin berdebat seperti tadi siang lagi. Luna mengikuti langkah Dewa yang menurutnya begitu cepat itu. Mereka melewati lorong hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuh pintu yang sangat tinggi berhandle emas. Dewa memutar knop pintu dan memutarnya. Setelah pintu terbuka, luna melihat sebuah aula yang cukup luas. Dan beberapa orang yang sedang menari mengikuti alunan musik.
"Duduklah di sini dan jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali. Apa kamu mengerti?" Ucap dewa yang langsung pergi meninggalkan luna duduk di sana sendirian.
"Baik tuan" jawab Luna
"Brengsek sekali dia, dia pikir dia bisa terus-terusan memaksaku menuruti semua kehndaknya" gumam Luna setelah Dewa pergi.
Karena merasa bosan, Luna mengambil ponsel dan menyalakannya lalu membuka aplikasi game yang ada di hp-nya. Baru beberapa menit Iya memainkan game tersebut, seorang lelaki paruh baya datang menghampirinya. Iya menatap Luna. dan di saat Luna mendongak, ia melihat lelaki itu. Usianya berkisar antara 50-an tahun. Namun pesonanya tidak bisa dianggap remeh. Memasuki usia kepala 5, lelaki tersebut masih terlihat sangat tampan. Tiba-tiba saja Luna teringat kepada dewa saat ia melihat laki-laki tersebut. Luna yang merasa seseorang itu sedang menunggu dirinya untuk berbicara, langsung membungkuk dan menyapanya terlebih dahulu.
" Mohon maaf tuan, Ada yang bisa saya bantu? " tanya Luna dengan penuh kehati-hatian.
" Halo, perkenalkan nama saya Rian Andriano" ucap lelaki yang berada di depan Luna tersebut. Luna segera bangkit dari duduknya dan menghampiri orang tersebut sambil menjabat tangannya. Saat ia mendengar nama akhir yang dimiliki lelaki itu, Luna jadi mengerti dari siapa ketampanan Dewa diturunkan.
__ADS_1
" Selamat malam Tuan, Perkenalkan nama saya Aluna Shea. Senang bertemu dengan anda" balas Luna.
" Tadi saya ke sini datang dengan seseorang. Dan dia bilang saya harus menunggu di sini sampai dia kembali. Namun sampai sekarang dia belum kembali. Mungkin sebenatar lagi." ucap Luna.
"Oh ini dia datang." Di saat luna benar-benar takut harus berbicara apa, Dewa datang.
"Oh jadi lelaki yang beruntung itu adalah putraku." Ucap tuan Ryan begitu ia melihat Dewa. Sejak tadi Luna berharap tidak akan ada sebuah pertanyaan yang tidak pernah diharapkan olehnya. Karena dia bingung harus menjawab apa. Dewa tak memberitahu dirinya sebelumnya.
" Kalau Boleh saya tahu, apa hubunganmu dengan Putraku? " tanya Tuan Ryan kepada Luna. Tiba-tiba saja Dewa mendekat dari arah belakang Papanya.
" Dia teman kencan ku malam ini pah. Tidak adakah orang lain yang harus kau temui malam ini. Sekarang aku sudah ada di sini, Aku akan menemani Luna" belum sempat Luna menjawab pertanyaan dari Tuan Rian, Ryan sudah menjawab terlebih dahulu. Dalam hati Luna bertanya-tanya, Mengapa Dewa selalu mengatakan kepada orang-orang kalau dirinya adalah teman kencannya bukan asisten pribadi.
"Woww... Ini adalah pertama kalinya kamu membawa seorang gadis ke rumah. tunggulah di sini sampai ke sini lagi, papa akan memanggil mamamu terlebih dahulu" ucapan Papa Dewa benar-benar membuat Luna menjadi Harus berpikir dengan keras. Luna melihat Tuan Ryan yang pergi ke kerumunan untuk memanggil seorang wanita yang tidak Luna kenal. Tak lama kemudian Tuan Rian kembali dengan menggandeng seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. Wanita tersebut mungkin berusia 40 sampai 50 tahunan.
__ADS_1